Apakah Lukas 2:1-2 bisa dipercaya secara historis?

Posted on 20/12/2015 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Lukas-2-1-2-bisa-dipercaya-secara-historis.jpg Apakah Lukas 2:1-2 bisa dipercaya secara historis?

Dalam teks ini disebutkan bahwa sensus yang dijalani oleh Yusuf (dan Maria) merupakan sensus yang pertama kali diadakan pada waktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Lukas juga menambahkan bahwa pendaftaran penduduk ini merupakan bagian dari sensus global yang dilakukan Kaisar Agustus di seluruh kekaisaran Romawi. Dua keterangan historis ini menyisakan persoalan yang rumit, karena sekilas bertabrakan dengan data historis yang diperoleh dari berbagai sumber kuno di luar Alkitab.

Sejauh data yang bisa ditemukan, tidak ada catatan historis yang menyatakan bahwa Kaisar Agustus pernah melakukan sensus yang bersifat global. Lebih jauh, Yosefus, seorang penulis sejarah Yahudi pada abad ke-1 M, mencatat sensus pertama pada zaman Kirenius terjadi pada tahun 6 M. Ia juga secara khusus menyinggung ini sebagai sebuah inovasi yang menimbulkan kerusuhan, sehingga menyiratkan bahwa sensus ini adalah yang pertama pada zaman Kirenius. Jika ini benar, kita menghadapi sebuah persoalan historis yang serius. Yesus lahir sekitar tahun 6 SM (beberapa tahun sebelum kematian Herodes Agung pada Maret atau April tahun 4 SM), sehingga tidak mungkin sensus dilakukan pada tahun 6 M.

Untuk menjernihkan persoalan di atas, kita pertama-tama perlu mengerti bahwa berdasarkan data historis yang tersedia, Kaisar Agustus beberapa kali mengadakan sensus di berbagai tempat. Sebagai tambahan dari sensus-sensus itu, beberapa sensus yang periodik juga dilakukan. Tidak tertutup kemungkinan bahwa dia juga memerintahkan hal yang sama di Palestina. Jika ini diterima, keterangan “menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia” (Lukas 2:1) sebaiknya dipahami sebagai sebuah rujukan terhadap sebuah proses yang masih terus berlangsung pada masa itu. Sensus di Palestina hanyalah salah satu bagian dari program sensus tersebut. Dugaan ini tidak berlebihan, sebab pemerintah Romawi memang sangat aktif dalam mendata seluruh penduduknya.

Poin berikutnya yang perlu dijelaskan adalah ide tentang inovasi dalam sensus Kirenius pada tahun 6 M. Apakah catatan Yosefus ini berarti bahwa sensus pertama di zaman Kirenius terjadi pada tahun 6 M? Pembacaan yang lebih teliti menunjukkan bahwa yang inovatif dalam sensus Kirenius di tahun 6 M terletak pada cara melakukan sensus itu, bukan pada sensus itu sendiri. Jika dilakukan dengan apresiasi terhadap budaya Yahudi, kerusuhan serupa mungkin tidak akan terjadi. Kerusuhan ini juga bisa jadi dipicu bukan oleh sensus yang diadakan, namun oleh figur Herodes Arkhealus yang memang tidak disukai oleh orang-orang Yahudi. Sebagai tambahan, ketidakadaan keterangan dari Yosefus tentang sensus-sensus lain pada zaman Kirenius bukanlah suatu persoalan yang serius. Pada waktu ia membahas beberapa peristiwa historis di tempat lain dalam tulisannya, ia juga tidak menyebutkan beberapa sensus yang terkait dengan peristiwa itu. Jadi, ketidakadaan catatan historis bukan berarti bahwa ketidakadaan peristiwanya. Mungkin saja Yosefus mengenal sensus lain oleh Kirenius, tetapi ia tidak merasa perlu untuk menyebutkan hal itu.         

Pemunculan kata “pertama” (prōtē) di catatan Lukas (2:2) sangat mungkin menyiratkan bahwa Lukas mengetahui sensus lain sesudah sensus di 2:2 atau kelanjutan dari sensus di 2:2. Secara khusus ia bahkan menyebutkan nama Yudas dari Galilea sebagai pemimpin pemberontakan pada waktu sensus Kirenius di tahun 6 M (Kis 5:37). Rujukan yang sama tentang pemberontakan ini juga ada dalam tulisan Yosefus. Berdasarkan catatan ini, kita sebaiknya memahami sensus Kirenius dalam catatan Yosefus sebagai sensus kedua atau kelanjutan dari sensus yang dicatat oleh Lukas. Jadi, tidak tertutup kemungkinan memang ada sensus pada zaman Herodes Agung.

Persoalannya, apakah sensus yang awal itu bisa dikaitkan dengan Kirenius? Beberapa orang menggunakan sebuah inskripsi kuno yang dikenal dengan nama Lapis Tiburtinus sebagai bukti bahwa Kirenius menjadi wali negeri di Siria sebanyak dua kali. Strategi ini kurang bisa dipercaya, karena nama Kirenius tidak ditemukan dalam inskripsi yang rusak tersebut. Keterangan bahwa ada seorang wali negeri Siria yang pernah memegang jabatan dalam dua periode bisa merujuk pada siapa saja (walaupun Kirenius tetap sebagai salah satu kandidat).

Alternatif lain adalah menafsirkan gelar hēgemoneuontos secara lebih luas: bukan sebagai wali negeri, tetapi administrator. Maksudnya, Kirenius dahulu hanyalah sebagai pelaksana sensus pada tahun 6 SM. Hal ini didukung oleh kiprah Kirenius yang sangat luas dan cukup lama dalam kekaisaran Romawi. Jadi, sensus yang dicatat Lukas di Injil Lukas 2:2 adalah sensus ke-1 yang ditangani oleh Kirenius, sedangkan yang dicatat oleh Yosefus dan Lukas di Kisah Para Rasul 5:37 adalah yang ke-2. Pada waktu sensus ke-1 Kirenius hanya sebagai administrator, waktu sensus yang ke-2 ia sebagai wali negeri.

Solusi yang lebih kuat adalah mengasumsikan bahwa sensus dimulai sejak zaman wali negeri Varus di tahun 6 SM, tetapi proses dan hasilnya baru selesai pada zaman wali negeri Kirenius. Kirenius menyelesaikan dan memanfaatkan hasilnya untuk pajak. Banyak orang lantas mengaitkan sensus panjang ini dengan nama Kirenius. Dugaan ini tidak mengada-ada, mengingat sebuah sensus kuno biasanya memang memakan waktu bertahun-tahun. Penyelesaian sensus memerlukan ketrampilan administratif dan otoritas yang handal.

Terlepas dari solusi mana yang diambil, tuduhan bahwa Lukas melakukan kekeliruan historis di Injil Lukas 2:2 adalah penilaian yang prematur. Beberapa cara harmonisasi yang masuk akal bisa ditempuh. Hanya praduga teologis yang negatif terhadap otoritas Alkitab yang membuat persoalan historis di Injil Lukas 2:1-2 terlihat begitu serius, rumit, dan tidak terselesaikan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community