Apakah Kita Boleh Mendoakan Binatang?

Posted on 26/07/2020 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Kita-Boleh-Mendoakan-Binatang.jpg Apakah Kita Boleh Mendoakan Binatang?

Beberapa waktu yang lalu muncul sebuah berita yang menarik perhatian. Seorang pemimpin gereja terlihat sedang menumpangkan tangannya atas seekor anjing yang dibawa oleh seseorang. Si empunya anjing ingin agar hewan peliharaannya itu diberkati. Di beberapa aliran kekristenan bahkan diadakan acara khusus untuk pemberkatan binatang.

Bagi sebagian orang Kristen pemandangan seperti ini sekilas terlihat ganjil. Objek penumpangan tangan biasanya adalah manusia. Secara lebih khusus, umat Allah. Pemimpin rohani menumpangkan tangan atas umat Allah.

Bagaimana kita menyikapi kejadian ini? Bolehkan kita memintakan berkat atas binatang?

Jawabannya adalah “iya”. Kita boleh memintakan berkat atas binatang. Alkitab memberikan beberapa dukungan ke arah sana.

Pertama, Allah sendiri memberkati binatang. Pada waktu Dia selesai menciptakan semua binatang laut dan burung, Allah memberkati mereka (Kej. 1:22). Kata Ibrani “memberkati” (bārak) di sini bahkan sama dengan yang digunakan ketika Allah memberkati manusia (Kej. 1:28). Jadi, Allah memberkati binatang dan manusia.

Kedua, manusia diberi mandat untuk menguasai bumi. Salah satu tujuan utama penciptaan manusia adalah supaya manusia menguasai bumi (Kej. 1:26, 28). Sebagai gambar Allah yang mewakili Allah di bumi, manusia diperintahkan untuk mengatur seluruh bumi dengan baik. Ini berarti bahwa manusia harus turut memelihara alam, termasuk binatang. Kuasa atas semua binatang bukan dimaksudkan sebagai dominasi untuk eksploitasi.

Ketiga, Allah memelihara binatang. Setiap binatang dipedulikan oleh Allah. Seekor burung pipit yang tidak berharga dipelihara oleh Allah. Mereka tidak akan jatuh tanpa kehendak-Nya (Luk. 12:6). Dia memberi makan burung di udara (Mat. 6:26) dan semua binatang liar (Mzm. 147:9). Dia melarang manusia untuk memberangus mulut lembu terus-menerus (Ul. 25:4). Dia melarang manusia untuk mengambil induk burung beserta dengan semua anaknya (Ul. 22:6-7). Pendeknya, Dia peduli dengan nasib binatang.

Terakhir, penebusan Kristus memulihkan seluruh ciptaan. Kristus bukan hanya sebagai kepala gereja, tetapi juga kepala seluruh ciptaan (Kol. 1:15-20). Dia akan mendamaikan seluruh ciptaan dengan Bapa (Kol. 1:20). Sekarang semua ciptaan sedang menantikan momen pemulihan itu (Rm. 8:18-25). Ketika nanti langit dan bumi yang baru dihadirkan oleh Allah, di sana juga akan ada binatang-binatang (Yes. 65:17-25).

Semua kebenaran ini seyogyanya mendorong kita sebagai umat Allah untuk mengupayakan kesejahteraan binatang di muka bumi. Mendoakan binatang hanyalah salah satu cara untuk mengupayakan kesejahteraan itu. Sebagaimana kita meminta Allah untuk memberkati seluruh muka bumi, kita juga memohon agar Allah memberkati binatang. Jadi, pada dirinya sendiri, mendoakan dan memintakan berkat untuk binatang tidaklah salah.

Apakah itu berarti bahwa gereja perlu mengadakan ibadah khusus untuk pemberkatan binatang? Apakah itu juga berarti bahwa kita perlu menumpangkan tangan atas binatang? Dua pertanyaan ini lebih berkaitan dengan ekspresi (kemasan) daripada esensi (substansi). Gereja tidak harus mengadakan ibadah seperti itu. Kita tidak harus menumpangkan tangan atas binatang. Yang penting, kita mengupayakan agar semua binatang terpelihara keberadaannya di muka bumi ini. Mendoakan mereka hanyalah salah satu caranya. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community