Apakah Kisah Para Rasul 2:36 Mendukung Adopsionisme?

Posted on 21/01/2018 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/Apakah-Kisah-Para-Rasul-2-36-Mendukung-Adopsionisme.jpg Apakah Kisah Para Rasul 2:36 Mendukung Adopsionisme?

Adopsionisme merupakan sebuah paham yang mengajarkan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi pribadi yang ilahi (Anak Allah, Tuhan, dsb.). Pengangkatan ini didasarkan pada kehidupan Yesus yang tanpa dosa. Dia secara sempurna telah menaati kehendak Allah. Sehubungan dengan momen pengangkatan, ada yang mengusulkan ada waktu baptisan, kebangkitan, atau kenaikan-Nya ke surga. Ajaran yang dipegang oleh kelompok Ebionit ini dinyatakan sesat oleh gereja-gereja sejak abad ke-2 Masehi. 

Sampai sekarang ajaran ini tidak benar-benar punah. Walaupun kemasannya berubah dan selalu baru, tetapi pokok pemikirannya sama. Yesus hanyalah manusia biasa, tetapi kemudian menjadi Anak Allah. Hanya saja, sekarang yang dianggap subjek pengangkatan bukanlah Allah, melainkan orang-orang Kristen. Mereka terlalu mendewakan Yesus yang sebenarnya hanya seorang manusia biasa.

Salah satu teks yang sering dipersoalkan oleh pihak-pihak yang mendukung adopsionisme adalah Kisah Para Rasul 2:36. Dalam teks ini dikatakan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus”.

Apakah ayat ini mengarah pada adopsionisme? Benarkah Yesus baru dijadikan Tuhan dan Mesias pada saat kebangkitan-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini dengan tepat, kita perlu memperhatikan tulisan Lukas secara keseluruhan (Injil Lukas dan Kisah Para Rasul) serta konteks khotbah Petrus di Kisah Para Rasul pasal 2.

Jika kita melihat isu ini dari perspektif dua tulisan Lukas yang ada, kita dengan mudah menemukan petunjuk-petunjuk Alkitab yang menentang ajaran adopsionisme. Sejak awal Yesus sudah disebut sebagai Tuhan. Pada waktu Maria hamil dan mengunjungi dia, Elizabet berseru: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” (Luk. 1:43). Begitu pula dengan para malaikat yang memberitakan kabar baik kepada para gembala: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk. 2:11).

Hal yang sama dapat dikatakan untuk gelar Yesus yang kedua, yaitu Mesias. Sejak kelahiran-Nya Yesus sudah disebut Kristus atau Mesias (Luk. 2:11). Sebelum mati, Simoen telah melihat Mesias (Luk. 2:25-28). Orang banyak yang disembuhkan oleh Yesus sudah tahu kalau Dia adalah Mesias (Luk. 4:41). Begitu pula dengan murid-murid-Nya (Luk. 9:20-21).

Jadi, ungkapan “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” sama sekali tidak mengajarkan bahwa Yesus baru menjadi Tuhan maupun Mesias sesudah kebangkitan-Nya. Kalau demikian, apa maksud dari ungkapan ini?

Konteks Kisah Para Rasul 2:22-36 menyediakan petunjuk yang cukup memadai untuk menjawab pertanyaan ini. Dalam khotbah ini Petrus sedang berusaha membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan yang dinanti-nantikan oleh bangsa Israel sejak dahulu. Yang perlu dicatat, pembuktian awal tentang hal ini adalah mujizat-mujizat yang dilakukan oleh Yesus. Petrus menjelaskan sosok Yesus sebagai berikut:  “seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu” (2:22). Mujizat dan tanda ajaib yang Dia lakukan merupakan bukti terhadap status-Nya, bukan sebaliknya.

Bukti lain adalah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga. Peristiwa ini untuk menggenapi beberapa nubuat mesianis yang disampaikan melalui Daud (2:29-35). Daud berbicara tentang figur Mesias yang kekal dan tidak kalah oleh kematian. Seorang Mesias yang akan menempati kedudukan sejajar dengan TUHAN. Semua nubuat ini sudah dinyatakan sebelumnya dalam kitab suci. Kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga bukanlah alasan bagi Dia untuk menjadi Tuhan dan Mesias. Sebaliknya, dua peristiwa ini membuktikan kebenaran status Yesus sebagai Tuhan dan Mesias. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community