Apakah Keberadaan Gereja Suku Menyiratkan Rasisme?

Posted on 18/04/2021 | In QnA | Leave a comment

 Apakah Keberadaan Gereja Suku Menyiratkan Rasisme?

Beberapa dekade terakhir ini isu rasisme kembali menjadi perbincangan hangat di berbagai tempat. Isu ini menjadi keprihatinan banyak orang di berbagai area kehidupan. Rasisme dengan mudah ditemukan pada pertandingan olah raga, perkantoran, bahkan gereja.

Sehubungan dengan persoalan ini, beberapa orang sempat bertanya kepada saya mengenai keberadaan beberapa gereja suku di Indonesia. Apakah yang dilakukan oleh gereja-gereja semacam itu merupakan sebuah bentuk rasisme?

Hal pertama yang perlu kita ingat adalah motivasi awal di balik pembentukan gereja suku. Ide awal biasanya berkaitan dengan upaya untuk menjangkau suku tertentu secara lebih intensional dan intensif. Mereka menawarkan ibadah dan komunitas yang relevan, sesuai dengan kultur suku yang bersangkutan.

Pada dirinya sendiri upaya ini patut diapresiasi. Dalam dunia teologi atau misi, upaya ini seringkali disebut “kontekstualisasi.” Injil memang perlu dipresentasikan sesuai kultur pendengarnya (1Kor. 9:19-23). Melalui kontekstualisasi kita dapat menyingkirkan halangan-halangan kultural yang ada.

Walaupun dimulai dengan motivasi yang mulia seperti di atas, gereja-gereja suku bisa saja terjebak pada rasisme jika mereka tidak berhati-hati. Berikut ini adalah beberapa kriteria yang perlu diperhatikan sebagai pengingat sekaligus batasan guna menghindari rasisme.

Pertama, gereja suku tidak boleh menunjukkan superioritas suku. Tidak dapat dipungkiri, hampir setiap suku memiliki tendensi menganggap diri lebih baik daripada suku lain. Paling tidak, mereka sangat rawan terhadap ethnosentrisme, yaitu memandang suku lain dari perspektif sukunya sendiri. Hasil cara pandang seperti ini lebih sering negatif daripada positif.

Kedua, gereja suku tidak boleh mengembangkan stigma negatif terhadap suku lain. Poin ini sebenarnya masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Ethnosentrisme membuat seseorang sukar memandang suku lain secara objektif. Dia lebih suka memercayai apa yang ditangkap berdasarkan perspektif atau pengalaman mereka sendiri. Dia juga mudah tergoda untuk memahami suku lain berdasarkan opini populer tentang suku itu, yang belum tentu mewakili semua penduduk suku itu.

Ketiga, gereja suku perlu memasukkan unsur budaya lain dalam ibadah atau aktivitas mereka. Bila perlu, gereja bisa mengundang pembicara dari suku lain untuk membagikan cara pandang yang berbeda tentang beberapa hal. Langkah ini sangat diperlukan untuk mengikis ethnosentrisme. Manfaat lain adalah mengondisikan jemaat untuk mau belajar dari suku yang berbeda-beda.

Keempat, gereja suku perlu menyuarakan anti rasisme secara jelas dan berulang-ulang. Mengubah kebiasaan bukanlah usaha yang mudah. Setiap orang merupakan produk budaya. Karena itu gereja perlu mengulang-ulang berita yang sama. Keberdosaan dan keberhargaan semua suku di dalam Kristus perlu dikhotbahkan dan dibicarakan secara intensional dan intensif. Hanya dengan membiasakan hal-hal baru yang positif kita akan mampu mengikis hal-hal lama yang negatif.

Terakhir, gereja suku perlu melakukan penjangkauan terhadap suku lain. Menjadikan gereja suku sebagai tujuan akhir (hasil) merupakan perlawanan terhadap Amanat Agung (Mat. 28:19-20). Sebagaimana Injil tersebar ke seluruh bumi dari Yerusalem (Kis. 1:8), demikian pula seyogyanya setiap suku yang sudah diubahkan oleh Injil terus membawa berita itu kepada suku-suku yang lain. Penjangkauan ini tentu saja tidak boleh dilakukan dengan sikap superior. Sebaliknya, setiap pemberita Injil mengumpamakan penginjilan seperti seorang gelandangan yang memberitahu temannya yang lain di mana mendapatkan roti. Solidaritas, bukan superioritas. Soli Deo Gloria.

Photo by Jeremiah Higgins on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community