Apakah Injil Solusi Bagi Semua Persoalan?

Posted on 27/06/2021 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/07/Apakah-Injil-Solusi-Bagi-Semua-Persoalan.jpg Apakah Injil Solusi Bagi Semua Persoalan?

Di tengah maraknya gerakan untuk berpusat pada Injil (Gospel-centered Movement), sebagian orang merasa bahwa gerakan ini terlalu menyederhanakan masalah. Semua persoalan dianggap sebagai persoalan spiritual dan harus diselesaikan melalui Injil. Mereka menganggap para penganut gerakan ini tidak memperhitungkan faktor-faktor lain yang juga harus diselesaikan.

Benarkah gerakan berpusat pada Injil terlalu menyederhanakan persoalan? Tentu saja tidak! Ada tiga poin yang saya ingin sampaikan sebagai dukungan bagi klaim ini.

Pertama, persoalan fundamental manusia tetap sama: kejahatan, penderitaan, dan kematian. Di segala tempat dan abad manusia selalu bergumul dengan tiga persoalan ini. Jangankan dihilangkan, dikurangi saja sudah sangat sukar untuk dilakukan. Tidak ada seorangpun yang dapat memberikan solusinya. Jadi, selama persoalan fundamental manusia dari dulu sampai sekarang tetap sama, solusi dari Allah tetap sama, yaitu Injil Yesus Kristus.

Kedua, sumber segala kejahatan adalah hati. Alkitab secara konsisten menyoroti hati manusia sebagai sumber segala persoalan (Yer. 17:9; Mat. 15:19). Jika hati adalah akar persoalan sedangkan manusia tidak mampu menguasai hatinya, solusi bagi kondisi ini harus datang dari Allah. Aturan tidak akan mengubah hati manusia. Hukuman tidak selalu menciutkan hati manusia. Harapan hanya ada pada darah Kristus yang akan menyucikan hati nurani kita (Ibr. 9:14).

Ketiga, solusi fundamental tidak meniadakan solusi lainnya. Sumber segala persoalan adalah dosa (Kej. 3). Hal ini tentu saja tidak berarti bahwa yang perlu diselesaikan hanyalah dosa. Dampak buruk dosa sudah sedemikian merajalela. Transformasi di segala bidang perlu dilakukan. Solusi personal dan struktural (sosial) perlu dijalankan berbarengan. Hanya saja, gerakan berpusat pada Injil meyakini bahwa semua usaha lain tidak akan menyelesaikan akar persoalan. Semua usaha lain mungkin bisa meringankan beberapa gejala, tetapi tidak akan pernah bisa menuntaskan sampai ke akarnya.

Sebagai contoh, seorang yang mengidap tumor otak mungkin akan mengalami berbagai gejala: sakit kepala, pengurangan penglihatan, dan sebagainya. Tidak peduli seberapa banyak obat dan terapi yang dijalani untuk menghilangkan gejala-gejala itu, semua usaha tadi tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan. Gejala yang sama akan muncul kembali.

Demikian pula dengan solusi yang dipikirkan dalam gerakan berpusat pada Injil. Menyelesaikan kejahatan dan penderitaan di dunia jelas bukan hanya melalui pemberitaan Injil. Kita memerlukan perbaikan hukum dan sistem. Kita menantikan transformasi sosial secara struktural. Walaupun demikian, hanya Injil yang mampu menuntaskan persoalan sampai ke akar-akarnya. Hanya Injil Yesus Kristus yang menjamin bahwa suatu ketika ada ada langit dan bumi yang baru di mana tidak ada lagi kejahatan, penderiaan dan kematian. Soli Deo Gloria.

Photo by Aaron Burden on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community