Apakah Bunuh Diri Pasti Masuk Neraka? (Bagian 3)

Posted on 19/05/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-bunuh-diri-pasti-masuk-neraka.jpg Apakah Bunuh Diri Pasti Masuk Neraka? (Bagian 3)

(Lanjutan tgl 12 Mei 2019)

Elia pernah putus asa dan meminta Tuhan untuk mengambil nyawanya (1Raj. 19:5). Yeremia menyesali kelahirannya (Yer. 20). .  Elia Dan Yeremia sempat putus asa dan menyesali kelahirannya (Yer. 20:14-15). Paulus sempat putus asa juga dengan hidupnya (2Kor. 1:8).

Apakah penjelasan di atas berarti orang Kristen diperbolehkan untuk mengambil nyawanya sendiri? Tentu saja tidak. Bunuh diri adalah dosa yang sangat serius. Si pelaku tidak menghargai keistimewaan manusia sebagai gambar Allah (bdk. Kej. 9:6). Dia juga mengambil hak prerogatif Allah untuk mengambil nyawanya seseorang (bdk. Yoh. 10:18). Yang paling parah, dia tidak menghargai karya Kristus di atas kayu salib. Kristus rela mati supaya kita memiliki hidup (Yoh. 10:10), mengapa si pelaku bunuh diri justru melakukan sebaliknya? Pengalaman hampir semua orang Kristen adalah ini: mereka menang melawan ketakutan dan keputusasaan. Bunuh diri adalah dosa besar dan bukan tipikal pilihan dari orang-orang yang sudah percaya dan mempercayakan diri kepada Kristus.

Artikel hanya ingin mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan seringkali lebih rumit daripada yang kita bayangkan. Manusia begitu berdosa dan rapuh. Masing-masing kita bergumul dengan kelemahan masing-masing. Begitu pula dengan mereka yang mengalami kelemahan kepribadian dan/atau mental atau kondisi kejiwaan tertentu. Kekuatiran dan kecemasan lebih mudah menghinggapi dan menguasai mereka daripada orang-orang lain. Mereka membutuhkan belas-kasihan, bukan penghakiman. Sekali lagi, saya tidak mengatakan bahwa bunuh diri diperbolehkan. Sama sekali tidak.

Akhir kata, saya ingin menutup artikel ini dengan sebuah pengalaman pribadi. Sekitar tahun 2000, saya menghadiri ibadah penghiburan di Amerika. Anak salah satu pendeta dan dosen di seminari merenggut nyawanya sendiri. Ketika pertama kali mendengar berita ini, reaksi spontan saya cenderung negatif. Bagaimana mungkin seorang anak pendeta bunuh diri? Apakah ayahnya tidak membimbing kerohanian anak itu dengan baik? Semua kesan negatif ini seketika sirna tatkala di tengah-tengah ibadah dibacakan catatan bunuh diri yang ditulis anak itu sesaat sebelum dia merenggut nyawanya. Yang saya masih bisa ingat hanyalah beberapa penggalan dari catatan itu, yang kurang lebih berbunyi demikian: "Tuhan, Engkau tahu bahwa aku sangat mengasihi Engkau, tetapi aku selalu gagal menaati-Mu. Aku tidak ingin melukai hati-Mu lagi". Sekali lagi, kisah ini bukan dimaksudkan sebagai pembenaran bagi tindakan bunuh diri. Tapi, biarlah kisah ini menjadi sebuah ajakan bagi kita semua untuk menilai tindakan ini dengan kebijaksanaan dan belas-kasihan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community