Apakah Baptisan Boleh Diulang? (Bagian 1)

Posted on 22/12/2019 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apakah-baptisan-boleh-diulang.jpg Apakah Baptisan Boleh Diulang? (Bagian 1)

Isu ini bisa muncul dalam beragam konteks. Gereja-gereja tertentu tidak menerima baptisan anak maupun baptisan percik, sehingga anggota jemaatnya yang sudah pernah dibaptis anak maupun dibaptis dewasa secara percik diwajibkan untuk dibaptis ulang. Konteks lain adalah perjalanan ziarah ke Israel. Banyak hamba Tuhan melakukan baptisan ulang di Yardenit. Entah sudah berapa ribu orang Kristen yang dibaptis ulang di Israel.

Apakah praktek seperti ini dapat dibenarkan? Apa alasannya?

Alkitab memberikan petunjuk yang cukup banyak dan jelas untuk menyikapi isu ini dengan benar. Penjelasan di bawah ini akan menunjukkan bahwa praktek baptisan ulang adalah tidak Alkitabiah. Terlepas dari manfaat praktis yang mungkin diperoleh – misalnya semangat dan komitmen yang baru – baptisan ulang tetap tidak selaras dengan ajaran Alkitab.

Yang paling penting untuk diingat adalah makna baptisan. Alkitab mengajarkan bahwa baptisan merupakan simbol pertobatan (conversion). Secara lebih spesifik, baptisan menyimbolkan persekutuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-14). Karena pertobatan (dalam arti conversion, bukan repentance) terjadi hanya sekali, baptisan sebagai simbolnya juga seharusnya dilakukan satu kali. Karena Kristus hanya mati sekali untuk selama-lamanya (Rm. 6:10), orang percaya juga hanya sekali mati bagi dosa (Rm. 6:11).

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah ketidakadaan petunjuk dalam Alkitab tentang pengulangan baptisan. Ini bukan argumen dari ketidakadaan (argument from silence). Alkitab mengajarkan dua jenis sakramen: baptisan dan perjamuan kudus. Pada waktu melakukan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya, Tuhan Yesus menyiratkan bahwa perjamuan kudus dapat (baca: seharusnya) dilakukan berulang kali (1Kor. 11:25 “setiap kali kamu meminumnya”). Salah satu tujuan dari sakramen ini adalah memberitakan kematian Tuhan sampai Dia datang (1Kor. 11:26). Berarti sakramen ini dilakukan terus-menerus.

Menariknya, Alkitab tidak pernah mencatat tentang pengulangan baptisan. Satu-satunya yang mengarah ke sana adalah baptisan di Efesus oleh Paulus (Kis. 19:1-5). Namun, teks ini tidak boleh dijadikan dukungan bagi baptisan ulang. Baptisan Yohanes hanyalah baptisan untuk pertobatan yang mengarahkan pada Kristus (Kis. 19:4). Berhenti pada baptisan Yohanes sama saja dengan berhenti di tengah jalan. Orang perlu dibaptis dalam nama Yesus Tuhan (Kis. 19:5). Dalam baptisan anak maupun percik dewasa, unsur iman kepada Kristus sudah tercakup di dalamnya. Dengan demikian baptisan ini tidak perlu diulang.

 

Bersambung…………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community