Apakah Alkitab Mengajarkan Toleransi Religius?

Posted on 01/08/2021 | In QnA | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/08/Apakah-Alkitab-Mengajarkan-Toleransi-Religius.jpg Apakah Alkitab Mengajarkan Toleransi Religius?

Istilah “toleransi” tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Sebagai penduduk Indonesia kita sudah terbiasa dengan kemajemukan religius. Negara kita kaya dengan berbagai agama dan aliran kepercayaan yang ada.

Ternyata tidak semua orang memahami arti toleransi dengan benar. Bagi beberapa orang, toleransi berarti menerima semua pandangan sebagai kebenaran. Perbedaan antar agama diabaikan. Atas nama kerukunan, ajaran semua agama dianggap sama. Bagi sebagian yang lain, semua ajaran agama perlu digabungkan. Nasihat untuk mengambil hal-hal positif di semua agama dan menggabungkannya menjadi satu pemikiran terdengar sangat toleran dan penuh kebijaksanaan.

Sikap di atas jelas sulit untuk dibenarkan. Ajaran agama-agama bukan hanya berlainan, tetapi saling bertentangan. Pertentangan ini bahkan pada tingkat yang paling fundamental. Sebagai contoh, pokok iman Kristen adalah pengakuan kepada Yesus sebagai Tuhan yang mati di atas kayu salib dan bangkit dari antara orang-orang mati (Rm. 10:9-10). Tiga elemen penting dalam pengakuan ini – ke-Tuhanan, kematian dan kebangkitan Kristus – ditolak secara tegas di agama Islam. Menganggap semua agama sama merupakan pemikiran tidak rasional dan tidak sesuai kenyataan. Menggabungkan semua ajaran juga mustahil untuk dilakukan. Mengakui bahwa agama-agama memang berbeda (bahkan bertentangan) merupakan sikap yang benar.

Apakah ini berarti bahwa kita menolak toleransi? Sama sekali tidak! Kita harus belajar untuk menerima dan merengkuh perbedaan. Justru di tengah perbedaan itulah kasih kita diuji. Perbedaan bukan alasan untuk pertikaian.

Salah satu contoh dalam Alkitab tentang toleransi adalah perumpamaan tentang Orang Samaria Yang Baik Hati (Luk. 10:25-37). Penyebutan imam, Lewi dan orang Samaria dalam perumpamaan ini jelas mengandung elemen rasial dan religius. Jika isu yang disinggung hanya perbedaan etnis, Yesus hanya perlu menampilkan seorang Yahudi biasa dan seorang Samaria. Fakta bahwa dua figur penting dalam Yudaisme disebutkan dalam kisah ini menyiratkan bahwa kisah ini sarat dengan unsur religius.

Akhir dari perumpamaan ini meunjukkan bahwa perbedaan agama seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk memberikan pertolongan. Kemanusiaan mengalahkan keagamaan. Kita harus menolong siapa saja yang membutuhkan pertolongan.

Toleransi juga ditunjukkan melalui jawaban Yesus kepada ahli Taurat. Sebagaimana kita ketahui, perumpamaan di atas merupakan respons Yesus terhadap pertanyaan ahli Taurat yang sedang mencobai Dia (10:25). Walaupun niat ahli Taurat buruk, jawaban Yesus terkesan tidak ofensif. Yesus memilih untuk mendirikan pijakan bersama, yaitu Hukum Taurat (10:26-28). Dia bahkan mengiyakan jawaban ahli Taurat. Segala kebenaran adalah kebenaran Allah.

Semua penjelasan di atas tidak boleh dipahami sebagai penolakan terhadap keunikan kekristenan. Kekristenan memang berbeda dengan yang lain. Yesus juga menegaskan hal ini di satu perikop tepat sebelum perumpamaan ini (10:21-24). Di bagian ini Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorangpun yang bisa mengenal Bapa (Allah yang benar) tanpa melalui Anak (Yesus Kristus). Finalitas Kristus ditegaskan di sana. Tidak ada kompromi.

Jawaban Yesus kepada ahli Taurat juga tidak sepenuhnya berupa persetujuan. Ada serangan dalam jawaban itu, walaupun tidak secara frontal. Jawaban Yesus disikapi oleh hali Taurat dengan “membela diri” (10:29). Jika Yesus sepenuhnya setuju dengan dia, untuk apa dia perlu membela diri? Keterangan ini menyiratkan bahwa Yesus sedang menyalahkan ahli Taurat. Secara lebih khusus, Yesus sedang mengkritisi pemahaman populer tentang “sesamamu manusia” yang dibatasi pada sesama umat pilihan (baca: bangsa Yahudi). Melalui perumpamaan yang diberikan Yesus ingin mengoreksi kekeliruan ini.

Jadi, apakah Alkitab mengajarkan toleransi? Tentu saja. Hanya saja, konsep toleransi yang diajarkan mungkin tidak sesuai dengan keinginan kelompok pluralis religius yang mencoba mengaburkan keunikan Kristus hanya demi penerimaan dan kerukunan. Yesus memberikan contoh yang baik bahwa kita bisa tetap memegang dan meyakini keunikan kita tanpa harus bertikai dengan penganut agama lain. Sebaliknya, perbedaan agama jangan sampai meghalangi kita untuk mengulurkan tangan memberikan bantuan kepada siapa saja yang membutuhkan. Itulah toleransi yang sejati. Soli Deo Gloria.

Photo by Emmanuel Phaeton on Unsplash
https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community