Apakah Alkitab harus dibaca urut dari Kejadian sampai Wahyu?

Posted on 31/05/2015 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/bible-quiet-time-reading-bible.jpg Apakah Alkitab harus dibaca urut dari Kejadian sampai Wahyu?

Para petobat baru atau orang Kristen lama yang tergerak untuk membaca Alkitab dengan serius biasanya menggumulkan pertanyaan ini. Beragam strategi sudah diusulkan. Ada yang membaca tiga pasal sehari secara berurutan mulai dari Kejadian sampai Wahyu. Ada yang tetap tiga pasal sehari, tetapi masing-masing pasal diambil dari Kejadian, Mazmur, dan Matius, lalu terus bergerak ke kitab-kitab selanjutnya. Beberapa orang membaca secara acak, sesuai pilihan masing-masing. Adakah sebuah strategi lain yang lebih baik?

Sebelum menjawab pertanyaan ini ada dua hal yang perlu dipahami. Pertama, seluruh Alkitab perlu dibaca karena setiap kitab adalah firman Allah dan bermanfaat untuk kerohanian kita (2 Tim 3:16). Yang sedang dibicarakan dalam artikel ini bukan “apa saja yang perlu dibaca,” melainkan “bagaimana cara membaca semua itu”.

Kedua, pengertian “lebih baik” dalam konteks ini terutama dikaitkan dengan aspek pemahaman. Roh Kudus bisa saja menguatkan orang-orang Kristen melalui strategi pembacaan yang berbeda. Iman, pengharapan, kasih, dan kekuatan seseorang akan bertumbuh tatkala ia dengan rendah hati mencari kehendak Allah melalui Alkitab, tidak peduli strategi seperti apa yang ia ikuti. Walaupun demikian, pertumbuhan semacam ini tidak berarti bahwa ia semakin mengetahui alur cerita dalam Alkitab atau doktrin-doktrin dasar kekristenan yang diajarkan di Alkitab.

Secara pribadi saya mengusulkan pembacaan rutin Alkitab yang berfokus pada tiga hal: sejarah keselamatan, doktrin-doktrin dasar, dan kesalehan hidup. Dengan mengetahui tiga area ini, orang Kristen akan tertolong untuk memiliki kerangka pemikiran Kristen yang utuh dan konsisten. Kekuatan rohani mereka tidak hanya diperoleh dari “apa yang Tuhan sampaikan kepadaku hari ini”, tetapi juga dari sistem pemikiran Kristen yang solid.

Sejarah keselamatan

Alkitab tidak disusun berdasarkan urutan peristiwa yang dicatat di dalamnya. Sebagai contoh, Kitab Ezra dan Nehemia diletakkan sebelum Ayub, padahal Ayub kemungkinan besar sezaman dengan Musa atau malah sebelumnya. Urutan kitab Perjanjian Lama dalam kanon Ibrani dan Yunani pun berbeda, meskipun jumlah kitab tetap sama. Jadi, kita tidak harus terpaku pada urutan yang ada sekarang.

Untuk memahami bagaimana cara kerja Allah secara progresif di dalam dunia ini, saya mengusulkan untuk memprioritaskan kitab-kitab tertentu yang bersifat cerita, sesuai dengan kronologi peristiwanya. Beberapa kitab tersebut secara berurutan adalah: Kejadian – Ulangan (Keluaran 36 – Imamat 27 untuk sementara boleh diabaikan), Yosua, Hakim-hakim, 1 & 2 Samuel, 1 dan 2 Raja (atau 1 & 2 Tawarikh), Daniel, Ester, Ezra, Nehemia, Kitab-kitab injil, Kisah Para Rasul, dan Kitab Wahyu.

Melalui pembacaan semacam ini seseorang akan tertolong untuk menelusuri cara Allah merealisasikan rencana keselamatan-Nya dari Adam – Nuh – Sem - Abraham – Ishak – Yakub – bangsa Israel (terutama suku Yehuda) – Daud – Yesus. Ia juga akan mampu melihat progresivitas cerita di dalamnya: penciptaan – kehidupan para patriakh – bangsa Israel di Mesir – bangsa Israel di padang gurun – bangsa Israel di tanah perjanjian – transisi dari masa hakim-hakim ke zaman raja-raja – perpecahan kerajaan Israel (utara) dan Yehuda (selatan) sesudah kematian Salomo – keberdosaan bangsa Israel dan Yehuda – hukuman TUHAN atas mereka berupa kekalahan perang dan pembuangan – keadaan bangsa Yehuda di pembuangan Babel – kesetiaan Allah dalam memulangkan mereka ke tanah perjanjian dan membangun Yerusalem lagi – kedatangan Tuhan Yesus ke dunia untuk pemulihan Israel secara rohani – perkembangan gereja pada zaman para rasul – kesudahan segala sesuatu.

Doktrin-doktrin dasar

Memiliki kerangka teologi yang benar dan konsisten sangat diperlukan. Semua orang pasti memiliki kerangka, tetapi tidak semua mempunyai kerangka yang benar dan konsisten. Sebagian besar orang Kristen hanya memahami kekristenan secara sporadis, tanpa bisa mengaitkan satu dengan yang lain.

Untuk menghindari kesalahan tersebut, saya mengusulkan pembacaan Surat Roma. Surat ini memang termasuk yang paling sukar di antara surat-surat kiriman di Perjanjian Baru. Bagaimanapun, surat ini juga termasuk yang paling penting dan mendalam secara doktrinal. Surat ini seumpama miniatur seluruh Alkitab. Hampir semua doktrin penting dikupas dalam surat ini, dari penciptaan (1:18-32) sampai akhir zaman (8:18-39).

Surat Roma mengajarkan keberdosaan semua umat orang (1:18-3:20). Tidak ada satu pun yang bisa memperoleh keselamatan berdasarkan perbuatan baik. Keselamatan adalah anugerah Allah melalui karya penebusan Yesus Kristus yang diterima berdasarkan iman (3:21-4:25). Sesudah dibenarkan berdasarkan iman, orang-orang Kristen memiliki damai sejahtera, pengharapan, dan kemenangan, baik dalam hal penderitaan maupun dosa (5:1-7:25). Kepastian ini diperoleh karena karya Roh Kudus yang menguatkan, mengarahkan, dan menghibur orang-orang Kristen (8:1-30). Kita tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kasih Kristus (8:31-39). Sebagai umat Allah, kita perlu memiliki konsep yang benar tentang bangsa Israel secara jasmani. Apakah umat Allah didasarkan pada etnis (unsur biologis)? Paulus mengupas persoalan ini di Roma 9-11.

Mulai pasal 12-15, Paulus memberikan nasihat-nasihat praktis yang sering dihadapi oleh orang-orang Kristen. Ia pertama-tama memerintahkan mereka untuk mempersembahkan hidup pada Allah dalam kesucian (12:1-2), lalu memberi diri dalam pelayanan kepada orang lain (12:3-8). Semua pelayanan ini harus dilakukan atas dasar kasih yang tulus (12:9-21). Tanggung jawab kepada pemerintah tidak boleh diabaikan (13:1-7). Integritas hidup pun harus dijaga (13:8-14). Dalam interaksi dan perselisihan dengan orang lain, berlaku prinsip: yang kuat menanggung yang lemah (14:1-15:33).

Kesalehan hidup

Seluruh bagian Alkitab bermanfaat untuk menolong orang Kristen hidup di dalam kesalehan. Semua bagian itu sama-sama penting. Walaupun demikian, sebagai sebuah strategi membaca Alkitab, saya mengusulkan untuk mendahulukan beberapa kitab dahulu.

Pertama adalah Mazmur. Kitab ini sangat berguna sebagai teman dalam pergumulan pribadi. Jika kita sendiri tidak kuat, bagaimana kita bisa bertumbuh pesat dalam kesalehan hidup? Kitab Mazmur menyediakan penghiburan, kekuatan, dan teladan dalam penderitaan. Siapa di antara kita yang tidak pernah merasa ditinggalkan oleh Allah? Tidak pernah dikecewakan orang-orang yang dekat dengan kita? Tidak pernah mengalami ketakutan yang luar biasa?

Di samping itu, Kitab Mazmur juga sangat cocok untuk ibadah pribadi kepada Allah. Kitab ini menyediakan puluhan mazmur pujian dan pengagungan yang tidak ada duanya. Jiwa kita akan terus disegarkan apabila kita membacanya setiap hari.

Kedua adalah 1 Korintus. Surat ini membahas beragam persoalan praktis yang sering muncul di dalam gereja atau yang dialami oleh orang-orang Kristen. Perselisihan antar jemaat dikupas di pasal 1-3, ketidakpuasan terhadap pemimpin rohani di pasal 4, percabulan di pasal 5:1-13 dan 6:12-20, sengketa secara legal di pasal 6:1-11, keluarga dan pernikahan di pasal 7, interaksi dengan orang-orang luar yang masih menyembah berhala di pasal 8-10, peraturan tentang ibadah di pasal 11, penggunaan karunia-karunia rohani di pasal 12-14, kebangkitan orang mati di pasal 15, dan bantuan untuk umat Allah di tempat lain di pasal 16.

Ketiga adalah 1 Petrus. Surat ini ditujukan pada orang-orang Kristen di perantauan sebagai kelompok minoritas yang sedang dianiaya. Dalam banyak hal, situasi kekristenan sekarang tidak jauh berbeda. Sebagian menghadapi penganiayaan secara fisik, beberapa mengalami tekanan karena iman, yang lain mendapat serangan gencar dari pola hidup sekularisasi. Bagaimana kita bisa bertahan dalam situasi seperti?

Surat 1 Petrus dimulai dengan pilihan Allah atas kita (1:1-2). Keselamatan yang kita terima bersifat pasti, bahkan di tengah penderitaan sekalipun (1:3-12). Orang Kristen dipanggil untuk hidup di dalam kekudusan di tengah dunia yang rusak (1:13-25). Mereka harus mengingat status mereka yang baru di hadapan Allah (2:1-10). Kesalehan hidup sebagai warga negara, hamba, maupun anggota keluarga justru bisa dipakai Allah untuk menjangkau orang-orang lain yang belum percaya (2:11-3:7). Penderitaan memang tidak terelakkan dalam dunia yang rusak oleh dosa, tetapi hanya penderitaan karena kebenaran yang diperkenan oleh Allah, karena hal itu meneladani Kristus sendiri (3:8-4:19). Kesalehan juga dibutuhkan dalam komunitas internal orang Kristen. Semua elemen gereja perlu mengembangkan kerendahhatian satu sama lain (5:1-11).

Soli Deo Gloria

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community