Apa Yang Salah Dengan Gambaran Tradisional Tentang Orang Majus?

Posted on 20/12/2020 | In QnA | Leave a comment

 Apa Yang Salah Dengan Gambaran Tradisional Tentang Orang Majus?

Kisah tentang orang-orang majus dari timur menjadi salah satu kisah drama Natal favorit. Entah dimulai dari mana, banyak drama menampilkan tiga orang majus dari timur. Mereka biasanya datang bersamaan dengan para gembala. Mereka memberikan persembahan emas, kemenyan dan mur kepada bayi Yesus yang masih terbaring di dalam palungan. Di beberapa penampilan, orang-orang majus bahkan disebut sebagai para raja dari timur: Arab/Etiopia, Persia dan India. Begitulah yang biasanya ditampilkan dalam banyak pertunjukan Natal.

Apakah kisah di atas benar? Seberapa besar yang didasarkan pada Alkitab dan seberapa besar yang dilandaskan pada tradisi?

Gambaran populer di atas memiliki sejarah yang cukup panjang. Dalam tradisi gereja-gereja Timur jumlah orang majus adalah dua belas. Dalam tradisi Barat jumlah mereka hanya tiga. Mulai abad ke-8 Masehi dikembangkan nama-nama mereka: Bithisarea (Balthasar), Melichior (Melchior) dan Gathaspa (Gaspar/Caspar). Jumlah tiga ini kemungkinan didasarkan pada jumlah persembahan mereka: emas, kemenyan dan mur.

Alkitab sendiri tidak memberikan keterangan apapun tentang jumlah mereka. Lagipula emas, kemenyan dan mur lebih menunjukkan jenis daripada jumlah persembahan. Jika dikaitkan dengan situasi perjalanan kuno, jumlah orang majus kemungkinan memang lebih dari tiga. Mengapa demikian? Ditilik dari jenis persembahan yang dibawa, orang-orang majus tergolong sangat kaya. Nah, perjalanan kuno dulu jauh lebih berbahaya daripada sekarang. Banyak penyamun di sepanjang jalan. Untuk memastikan keamanan, banyak orang memilih untuk pergi berbarengan dalam jumlah yang besar, terutama jika barang-barang yang dibawa memang sangat berharga.

Sehubungan dengan waktu kedatangan, mereka tidak mungkin sempat bertemu dengan para gembala. Rombongan gembala datang segera sesudah mendapatkan kabar tentang kelahiran Yesus dari para malaikat. Mereka mendapati bayi Yesus sedang dibungkus dengan kain lampin dan berada di dalam palungan (Luk. 2:12, 16). Rombongan orang majus datang jauh lebih kemudian. Mereka mengikuti bintang cemerlang sebagai panduan. Mereka memerlukan waktu perjalanan yang panjang dari timur ke Betlehem. Berdasarkan perintah Herodes untuk membunuh bayi-bayi di bawah usia dua tahun (Mat. 2:16), kita dapat menebak bahwa Yesus pada saat itu bukan lagi sebagai bayi yang terbaring di palungan. Dia sudah bertumbuh menjadi anak kecil yang sudah bisa berjalan dan bermain.

Yang terakhir, orang-orang majus kemungkinan besar bukanlah para raja, apalagi dari tiga negara yang berbeda. Sukar dibayangkan bagaimana para raja rela meninggalkan kerajaan hanya untuk menemui bayi Yesus. Lebih sukar lagi untuk menyatukan tiga raja yang berbeda dengan tujuan yang sama. Jika mereka memang raja-raja, mereka tidak akan mau meninggalkan kerajaan mereka terlalu lama.

Penyelidikan tentang arti kata “majus” (magoi) juga tidak mengarah pada posisi mereka sebagai raja. Kata ini lebih berkaitan dengan orang bijaksana, imam dalam agama kuno tertentu, ahli tafsir mimpi atau ahli sihir. Tidak ada dukungan yang memadai bahwa magoi merujuk pada para raja.

Terlepas dari kesimpangsiuran tradisi seputar orang-orang majus, kita tetap dapat mendapatkan banyak pelajaran berharga dari mereka. Sejak awal kedatangan Kristus sudah menarik orang non-Yahudi (Mat. 2:1-12). Tidak kebetulan jika kitab yang sama diakhiri dengan perintah untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus (Mat. 28:19-20). Sebagaimana orang-orang majus rela membayar harga untuk menjumpai dan menyembah Yesus, demikian pula kita. Petunjuk yang dimiliki mereka sangat terbatas. Perjalanan mereka juga lama dan berbahaya. Keadaan mayoritas kita jauh lebih baik daripada mereka. Jika mereka berani membayar harganya, mengapa kita berdiam diri saja? Sebuah pertanyaan yan patut untuk direnungkan. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community