Apa yang harus saya lakukan jika pasangan tidak merasa dipanggil?

Posted on 26/01/2014 | In Mission | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/ Apa yang harus saya lakukan jika pasangan tidak merasa dipanggil?

Lanjutan dari  warta tanggal  19 Januari 2014

Ilustrasi alkitabiah dan historis mengenai panggilan suami istri

Kebanyakan kritik yang mewajibkan panggilan yang sama, lebih suka mendukung argument mereka dengan menyebutkan tidak adanya panduan Alkitab untuk hal itu. Sementara Alkitab tidak berbicara secara langsung untuk berbagi panggilan misi, tetapi Alkitab memberikan nasihat yang kita butuhkan untuk hidup dalam kerukunan dengan keluarga kita. Ada banyak prinsip Alkitab yang dapat kita terapkan pada persoalan berbagi panggilan dalam pernikahan(Amos 3:3; Pengkotbat 4:9-12; 2 Korintus 6:14)

 

Prinsip-prinsip Alkitab dalam ayat-ayat ini dan banyak lainnya, mengatakan nilai dari kesepakatan. Tidak ada satupun yang berbicara secara langsung untuk masalah suami istri dalam hal mengartikulasikan panggilan misi, namun ayat-ayat itu memang berbicara tentang nilai dari kesepatakan untuk kedamaian dan kerukunan, yang seharusnya tercermin dalam wajah, perkataan dan rumah tangga kita. Tujuan hidup yang umum ini adalah kesaksian yang penuh kuasa tentang anugrah, damai sejahtera dan kuasa dari Kristus, yang akan menjadi sebuah penyampaian kotbah dan teladan hidup kepada sekelompok suku bangsa yang menjadi target kita. Pasangan yang penuh semangat melayani dalam panggilan, mereka adalah kesaksian Kristen yang jauh lebih positif dari pada pasangan yang stress, terpecah belah dan menderita akibat panggilan yang saling bertolak belakang.

 

Menerapkan prinsip-prinsip alkitabiah untuk panggilan suami istri

Meskipun hampir semua lembaga misi meminta baik suami maupun istri berbagi panggilan misi, hanya satu atau dua lembaga di dunia yang sesungguhnya akan mengirim pulang pasangan –pasangan dari orientasi misi, apabila mereka menemukan seorang istri atau suami tidak dapat secara jujur memberi kesaksian yang mendalam untuk panggilan misi. Lembaga-lembaga yang lainpun tidak begitu keras dan cukup fleksibel untuk mempertimbangkan pasangan-pasangan atas dasar kasus per kasus. Ini biasanya karena ukuran dan jumlah misionaris yang lebih kecil, yang memampukan mereka untuk mengabdikan waktu yang diperlukan, untuk menguji pengecualian-pengecualian yang memungkinkan dan keadaan-keadaan yang meringankan.

 

Banyak lembaga juga akan menerima pernyataan tentang panggilan mis yang kurang jelas dari salah satu suami/istri. Dalam hal ini, baik suami ataupun istri masih harus memiliki panggilan yang tulus dari Allah, hanya tidak niscaya pangilan yang sama. Sebagai contoh, sang suami mungkin berkata bahwa Allah telah memanggil dia untuk menanam jemaat-jemaat dan melatih para pemimpin di antara orang-orang Quechua di Bolivia. Dia mungkin memiliki banyak argument yang meyakinkan dalam misi ini. Namun demikian, ketika lembaga itu mewawancarai istrinya, dia mungkin dengan tulus dan sederhana merespon, “Saya percaya bahwa Allah telah memanggil saya untuk menjadi seorang istri dan ibu yang saleh dan tunduk. Saya dapat melakukannya di mana saja di dunia. Suami saya adalah kepala rohani dalam rumah tangga kami dan dia percaya Allah telah memanggil kami ke Bolivia. Saya dapat pergi dengan sukacita dalam hati saya dan kemauan yang sempurna untuk menjadi istri misionaris, di mana saya akan melayani Allah dengan mengasihi suami, anak-anak dan orang-orang yang Dia panggil untuk kami layani.” Beberapa lembaga misi akan merangkul pasangan ini dan melihat panggilan misi keluarga ini sudah cukup. Lembaga yang lain mungkin melihatnya sebagai kasih dan ketundukan yang alkitabiah, tetapi itu mungkin akan menjadi penyataan panggilan misi yang kurang jelas dari pada yang lebih mereka sukai atau terima. Faktanya, sejumlah lembaga akan menolak penunjukkan pasangan ini melalui lembaga mereka.

Bersambung………………

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community