Apa yang dimaksud “madu hutan” yang merupakan salah satu konsumsi Yohanes Pembaptis di Matius 3:4?

Posted on 07/03/2021 | In Do You Know ? | Leave a comment

 Apa yang dimaksud “madu hutan” yang merupakan salah satu konsumsi Yohanes Pembaptis di Matius 3:4?

Tempat tinggal berkaitan dengan makanan dan minuman. Di mana kita tinggal dan hidup, maka di situlah kita makan dan minum sesuai dengan lingkungan kita. Makanan dan minuman seseorang menunjukkan tempat di mana ia tinggal dan hidup. Jika demikian, maka apa yang dimaksud “madu hutan” yang dikonsumsi oleh Yohanes Pembaptis? Mengapa ia mengonsumsi madu hutan tersebut?

“Madu hutan” yang dikonsumsi oleh Yohanes Pembaptis muncul di Matius 3:4 dan Markus 1:6. Kata Yunani yang dipakai adalah meli argion yang diterjemahkan wild honey (ESV, KJV, NASB, NET, NIV, NKJV, NRSV). Dalam Timaeus, Plato menjelaskan berbagai macam jenis air (hydōr) “disaring melalui tanaman yang tumbuh di tanah dan disebut ‘getah’.” Plato juga menyebutkan meli sebagai satu jenis getah yang termasuk semua getah manis. Theophrastus mengikuti Plato yang menyebut meli di antara jenis getah yang dikeluarkan oleh tanaman. Dengan kata lain, wild honey merupakan air-madu yang berasal dari getah atau getah pohon. Ada beberapa alasannya, yaitu: Pertama, pemeliharaan lebah datang ke Palestina hanya pada akhir periode Hellenistik, berabad-abad kemudian setelah ke Mesir, Mesopotamia, dan Yunani. Kedua, sejumlah besar saksi air-madu menunjukkan bahwa minuman ini umum dan terkenal. Catatan Diodorus (19,94) menunjukkan bahwa warga suku Nabataean bertahan hidup dengan kelompoknya di gurun dengan “madu” dari pohon yang bercampur air (James A. Kelhoffer, “John the Baptist’s “Wild Honey” and “Honey” in Antiquity,” 70-73).

Wild honey yang merupakan air-madu tersebut dihasilkan oleh lebah liar di sarangnya entah di ladang atau alam liar dan disimpan di pohon berlubang atau tempat lain di hutan (Barclay M. Newman dan Philip C. Stine, A Handbook on the Gospel of Matthew, 61 dan Ezra P. Gould, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel according to St. Mark, 8). Madu ini dibedakan dari madu dari sarang lebah yang dipelihara oleh manusia atau dipasarkan oleh peternak lebah (Newman dan Stine, A Handbook on the Gospel of Matthew, 61 dan W. D. Davies dan Dale C. Allison, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to Saint Matthew, 296). Madu dari sarang lebah yang dipelihara oleh manusia ini mungkin termasuk madu bersih yang disebutkan sebagai salah satu produk tanah Kanaan dan di seluruh PL (Kej. 43:11; Kel. 3:8 (‘suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya’); Ul. 32:13; Hak. 14:8; 1Sam. 14:25; Mzm. 81:17; Yeh. 27:17) (Davies dan Allison, A Critical and Exegetical Commentary on the Gospel According to Saint Matthew, 296).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa wild honey merupakan makanan khas yang ditemukan di padang gurun (bdk. 2Mak. 5:27) (Robert H. Stein, Mark, 49). Hal ini sesuai dengan deskripsi Yohanes Pembaptis di Matius 3:1 di mana ia tampil di padang gurun Yudea.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community