Apa Saja Kesalahpahaman Umum Tentang Doktrin Tritunggal?

Posted on 27/09/2020 | In QnA | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/apa-saja-kesalahpahaman-umum-tentang-doktrin-tritunggal.jpg Apa Saja Kesalahpahaman Umum Tentang Doktrin Tritunggal?

Salah satu doktrin Kristen yang sukar untuk dipahami adalah konsep tentang Allah Tritunggal. Satu hakikat, tiga pribadi. Satu Allah yang menyatakan diri dalam tiga Pribadi.

Sepanjang sejarah gereja telah muncul berbagai macam ajaran sesat (bidat) yang berkaitan dengan doktrin ini. Bagi sebagian orang doktrin ini tergolong kontroversial. Banyak aspek di dalamnya yang bisa diperdebatkan.

Artikel ini tidak akan menyediakan penjelasan atas doktrin ini. Artikel ini juga tidak bermaksud untuk mengupas doktrin ini secara mendalam. Kita hanya akan melakukan tinjauan umum terhadap sepuluh kesalahpahaman umum seputar doktrin ini, baik yang terjadi di luar maupun di dalam kekristenan.

Pertama, Tritunggal adalah triteisme. Orang-orang di luar kekristenan cenderung memahami Tritunggal dalam arti triteisme (kepercayaan pada tiga Allah). Beberapa bahkan memberi penjelasan lebih detil tentang triteisme ini. Mereka menganggap orang-orang Kristen mengakui tiga Tuhan: Allah, Yesus dan Maria.

Pandangan di atas jelas keliru. Alkitab sangat menekankan keesaan Allah. Kekristenan juga bertumbuh dalam konteks religius Yahudi yang sangat monoteistik. Doktrin Tritunggal bukan penolakan atau revisi terhadap monoteisme, melainkan penjelasan yang lebih genap: bahwa Allah yang esa telah menyatakan diri sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Kedua, Tritunggal adalah keesaan pribadi. Sebagian orang beranggapan bahwa Bapa adalah Anak dan Anak adalah Roh Kudus. Yang membedakan hanyalah waktu dan tugas. Dalam Perjanjian Lama Bapa yang bekerja, sedangkan dalam Perjanjian Baru yang bekerja adalah Anak dan Roh Kudus. Lebih spesifik lagi, Bapa menjadi Yesus untuk karya penebusan. Yesus adalah Roh Kudus yang turun dari sorga.

Kekeliruan ini sudah ditentang sejak abad permulaan oleh bapa-bapa gereja. Yang tunggal bukanlah pribadi Allah, melainkan hakikat-Nya. Perbedaan antar Pribadi terlihat jelas pada saat Pribadi-pribadi itu berkomunikasi atau terlibat dalam relasi. Bapa mengutus Yesus (Apakah masuk akal jika Bapa mengutus diri-Nya sendiri?). Yesus berdoa kepada Bapa-Nya (Apakah masuk akal jika Yesus berdoa pada diri-Nya sendiri?). Bapa dan Anak mengutus Roh Kudus (Apakah itu berarti keduanya mengutus diri mereka sendiri?).

Ketiga, karya masing-masing Pribadi terlalu dipisahkan. Tidak sedikit orang Kristen yang berpendapat bahwa penciptaan hanya berkaitan dengan Bapa, penebusan dengan Anak, dan pengudusan dengan Roh Kudus. Masing-masing memiliki tugas sendiri yang terpisah dari lainnya.

Konsep ini jelas salah. Baik Bapa, Anak maupun Roh Kudus terlibat dalam penciptaan (Kej. 1:1-2; Mzm. 104:30; Yoh. 1:3). Begitu pula dengan karya penebusan. Bapa memilih kita (Ef. 1:5-6) dan mengutus Anak-Nya (1Yoh. 4:10). Anak menyelesaikan karya penebusan (Yoh. 19:30). Roh Kudus mengaplikasikan itu ke dalam hati kita (Rm. 5:5).

Keempat, Tritunggal dianggap hanya teoritis. Bagi sebagian orang doktrin Tritunggal hanya dipandang sebagai bahan perdebatan yang menarik. Terlalu abstrak. Tidak memiliki manfaat praktis.

Kesalahan di atas cukup fatal. Hampir semua hal dalam ciptaan mencerminkan Allah Tritunggal. Ciptaan merefleksikan Pencipta-Nya. Sebagai contoh, kejamakan dan ketunggalan manusia selaras dengan Tritunggal (Kej. 1:26-27; bdk. 2:24). Contoh lain yang jelas adalah keragaman dan kesatuan jemaat. Sebelum Paulus menerangkan keragaman karunia rohani bagi tubuh Kristus (1Kor. 12:7-11) dia menunjukkan bahwa beragam pelayanan berasal dari satu Tuhan, berbagai karunia rohani berasal dari Roh Kudus dan berbagai pekerjaan ajaib berasal dari Bapa (1Kor. 11:4-6). Sebagaimana karunia rohani tidak bisa dipisahkan dari pelayanan dan intervensi ilahi yang ajaib, demikian pula antar Pribadi dalam Tritunggal tidak terpisahkan.

Kelima, Tritunggal dinilai tidak logis. Tidak masuk akal (irrational). Sebagian orang menilai doktrin ini sebagai teka-teki matematika yang ganjil. Ironisnya, beberapa orang Kristen yang mempercayai doktrin ini malah bangga kalau Allah mereka tidak masuk akal.

Untuk menyikapi kekeliruan di atas kita perlu menegaskan bahwa doktrin Tritunggal tidak menyalahi hukum logika. Hakikat dan pribadi memang berbeda, sehingga pada saat yang sama jumlahnya bisa berbeda. Sebagai contoh, kalau saya mengatakan “saya memiliki satu isteri dan dua anak,” kalimat ini sangat logis. Isteri dan anak memang berbeda.

Keenam, doktrin ini berasal dari mitologi Yunani-Romawi. Mereka yang terjebak pada kesalahpahaman ini umumnya menyoal tentang dwi natur Kristus: Allah sejati dan manusia sejati. Mereka menganggap bahwa ide ini sangat mirip dengan mitologi kuno.

Tidak sukar untuk menunjukkan kekeliruan tadi. Perbedaan antara ajaran Alkitab dan mitologi kuno sangat banyak dan fundamental. Salah satu contohnya adalah monoteisme versus politeisme. Kemiripan yang adapun tidak selalu membuktikan keterkaitan (yang satu meminjam yang lain). Seperti yang dikatakan oleh C.S. Lewis (seorang profesor sastra kuno yang dulu adalah seorang ateis), mereka yang menyamakan Alkitab dengan mitologi kuno tidak pernah sungguh-sungguh membaca dan memahami mitologi kuno.

Ketujuh, doktrin ini baru dirumuskan pada abad ke-4 Masehi. Sebagian orang menuduh bahwa doktrin Tritunggal merupakan produk politis. Sejak Kaisar Konstantinus memeluk agama Kristen, kekristenan mulai menunjukkan taringnya. Semua ajaran yang menyimpang disikat. Mereka melakukan konsili-konsili untuk menciptakan doktrin-doktrin baru. Salah satunya adalah doktrin Tritunggal.

Tuduhan semacam ini sebenarnya sangat menggelikan. Para penuduh tergolong buta sejarah. Istilah “Tritunggal” saja sudah muncul dan didiskusikan sejak abad ke-2 Masehi (bapa gereja Tertulianus). Bapa-bapa gereja dari abad ke-2 dan ke-3 beberapa kali menegaskan doktrin ini. Semua itu dilakukan sejak orang-orang Kristen masih dianiaya. Jadi, konsili-konsili gereja di abad ke-4 Masehi hanya meneguhkan apa yang sudah diyakini selama beberapa abad sebelumnya oleh mayoritas gereja. Peneguhan ini dilakukan untuk mengkritisi beragam ajaran sesat pada waktu itu.

Kedelapan, doktrin ini tidak diajarkan secara eksplisit dalam Alkitab. Salah satu serangan populer adalah tantangan “Tunjukkan dalam Alkitab ketika Yesus berkata: Akulah Allah, sembahlah Aku!” Mereka yang melancarkan tuduhan ini menduga bahwa Yesus yang diyakini oleh orang-orang Kristen berbeda dengan Yesus yang ada di Alkitab.

Inti kesalahan dalam tuduhan ini terletak pada batasan “eksplisit.” Jika yang dimaksud eksplisit adalah peredaksian kalimat persis seperti yang diminta, Alkitab memang “tidak eksplisit” menunjukkan keilahian Yesus. Namun, jika batasan eksplisit dilihat dari kultur Yahudi kuno, banyak perkataan dan tindakan Yesus yang sangat eksplisit menunjukkan bahwa diri-Nya adalah Allah. Ketika Dia mengampuni dosa seorang yang lumpuh, orang-orang Yahudi menganggap Dia menghujat Allah. Yesus malah menunjukkan melalui mujizat kesembuhan bahwa Anak Manusia memang berkuasa mengampuni dosa (Mrk. 2:5-10). Ketika Dia mengatakan bahwa “Sebelum Abraham menjadi Aku terus-menerus ada” (terjemahan hurufiah dari Yoh. 8:48), orang-orang Yahudi langsung melempari Dia dengan batu karena dipandang menghujat Allah. Maish banyak contoh lain tentang betapa eksplisitnya Yesus mengungkapkan diri-Nya sebagai Allah (Yoh. 5:18; 10:30).

Kesembilan, istilah “Tritunggal” tidak ditemukan di dalam Alkitab. Tuduhan semacam ini cukup sering dilontarkan oleh para penolak Tritunggal. Hanya gara-gara istilahnya tidak alkitabiah doktrin ini ditolak.

Terhadap sanggahan di atas kita hanya perlu mengingatkan bahwa istilah bukanlah hal yang penting. Yang lebih penting adalah konsep di balik istilah itu. Jadi, fokuskan pada isu apakah konsepnya diajarkan di dalam Alkitab. Di samping itu, kita juga perlu menunjukkan bahwa para penentang itu biasanya juga menggunakan istilah lain yang tidak ada di Alkitab. Sebagai contoh, seorang Saksi Yehuwah menyinggung tentang isu ini tapi dia sendiri berkali-kali menggunakan kata “monoteisme” untuk mengungkapkan keesaan Allah. Bukankah istilah “monoteisme” juga tidak ada di Alkitab (walaupun konsepnya sangat jelas diajarkan)?

Terakhir, doktrin ini dapat diilustrasikan secara sederhana. Beberapa orang berpandangan bahwa doktrin ini mudah untuk diterangkan. Ada banyak ilustrasi yang tersedia untuk menjelaskannya.

Pandangan di atas terbilang naif. Semua ilustrasi pasti defektif (tidak sempurna). Metafora tidak pernah melebihi realitas. Jika yang coba dijelaskan adalah Allah Tritunggal yang tidak ada duanya, ilustrasi jelas tidak ada yang cukup memadai. Memberikan penjabaran jelas lebih baik daripada menyediakan ilustrasi. Kalaupun ilustrasi tetap diberikan, hati-hati dengan keterbatasan yang ada. Jika memang harus menggunakan ilsutrasi, pakailah beberapa sekaligus untuk menerangkan berbagai aspek dalam doktrin Tritunggal. Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community