Apa Itu “Ipuh” di Ulangan 29:18?

Posted on 14/03/2021 | In Do You Know ? | Leave a comment

 Apa Itu “Ipuh” di Ulangan 29:18?

Pengalaman ditolak atau ditinggalkan bagi banyak (atau mungkin semua) orang merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan bagi orang yang ditolak atau ditinggalkan, namun mungkin tidak terlalu menyedihkan bagi orang yang menolak atau meninggalkan. Namun menolak atau meninggalkan Allah bukan sekadar membuat Allah sedih lalu sakit hati, tetapi tindakan tersebut merupakan tindakan berdosa, apalagi setelah menolak Allah, orang tersebut menyembah ilah-ilah lain. Tindakan perpalingan ini diibaratkan seperti “ada akar yang menghasilkan racun atau ipuh” (Ul. 29:18b; TB-LAI). Pertanyannya, apa itu “ipuh”?

Dalam bahasa Ibrani, “ipuh” adalah la`ánâdi mana beberapa Alkitab terjemahan Inggris (JPS, KJV, NASB, NJB, NKJV, YLT) menerjemahkannya, “wormwood.” Beberapa ahli menduga bahwa “ipuh” ini merujuk pada Wormwood yang merupakan tanaman genus artemisia yang dapat tumbuh sebesar semak. Ada beberapa spesies. Artemisia judaica berasal dari Palestina di mana batang utamanya memiliki tunas samping yang ditutupi daun hijau berbulu kecil (Fauna and Flora of the Bible, 198). Getah daunnya memiliki rasa sangat pahit. Hal ini sebagai perlindungan terhadap kerusakan serangga. Tanaman yang sangat pahit rasanya ini dimakan oleh kambing gurun dan daun keringnya digunakan untuk membuat teh yang diminum oleh orang Badui dari Sinai dan Negev (Michael Zohary, Plants of the Bible, 184). Meskipun sangat pahit, tanaman ini tidak beracun. Oleh karena itu, kemungkinan “ipuh” di Ulangan 29:18 merujuk pada “empedu” yang menunjukkan bahwa tanaman yang sangat pahit rasanya ini beracun (Lytton John Musselman, A Dictionary of Bible Plants, 149). Septuaginta (PL dalam bahasa Ibrani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani) menerjemahkan “ipuh” sebagai cholē. Oleh karena itu, BIS menerjemahkan “akar yang menghasilkan racun atau ipuh” sebagai “akar yang tumbuh menjadi tanaman pahit dan beracun.”

“Empedu” (Ibr.: rosh; Yun: cholē) ini merupakan cairan, bukan merupakan produk tumbuhan. Cairan ini mungkin merujuk pada candu poppy (Papaver somniferum), henbane emas (Hyoscyamus aureus dan spesies lain dalam genus tersebut) (henbane: tanaman Eurasia yang kasar dan beracun dari keluarga nightshade, dengan daun berbulu lengket dan bau yang tidak sedap), dan racun hemlock (Conium maculatum) (hemlock: tanaman Eropa yang sangat beracun dari keluarga daun sup, dengan batang berbintik-bintik ungu, daun seperti pakis, bunga putih kecil, dan bau yang tidak sedap). Dari tiga kemungkinan ini, Musselman menyimpulkan bahwa cairan yang paling mungkin merujuk pada racun hemlock di mana racun ini ditemukan di sebagian besar Eropa Barat dan Asia Barat. Racun ini merupakan tanaman tahunan yang tumbuh setinggi 3 meter dan menghasilkan banyak bunga kecil dengan kepala rata di musim semi. Batang tanamannya memiliki bercak ungu dan seluruh tanaman memiliki bau yang berbeda seperti wortel dan peterseli (daun sup). Racun hemlock paling sering ditemukan di area basah seperti pinggiran parit dan saluran irigasi. Di musim panas, benih (secara teknis buah-buahan) diproduksi dan memiliki kemiripan yang berbahaya dengan benih seledri, jintan, dan rempah-rempah terkait dalam keluarga yang sama. Semua bagian tanaman mengandung racun mematikan, coniine, yang merupakan racun sistem saraf pusat, meskipun terpusat di bijinya. Kadar racun di dalam tanaman ini tidak diragukan lagi, sehingga rosh diterjemahkan sebagai “racun” (Yer. 23:15; Am. 6:12b). Kemungkinan kedua dari rosh adalah candu poppy yang sekarang banyak ditanam di Asia Barat. Candu ini menghasilkan berbagai obat yang berkaitan dengan candu (morfin, kodein) dan biji poppy yang digunakan dalam masakan. Ada sedikit bukti tentang penyebaran luas budidaya candu poppy di Timur Tengah kuno. Namun Musselman mengatakan bahwa kemungkinan kedua termasuk kemungkinan yang sangat kecil (Musselman, A Dictionary of Bible Plants, 62-63).

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa “ipuh” merujuk pada empedu yang merupakan cairan yang pahit sekaligus beracun. Dengan kata lain, Allah ingin menyamakan mereka yang menolak-Nya dan berpaling menyembah ilah-ilah lain itu seperti akar yang tumbuh menjadi tumbuhan yang pahit sekaligus beracun.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community