Aku Datang Untuk Menggenapi Hukum Taurat (Matius 5:17-19)

Posted on 06/12/2020 | In Teaching | Ditulis oleh Pdt. Yakub Tri Handoko | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2021/02/Aku-Datang-Untuk-Menggenapi-Hukum-Taurat-Matius-5-17-19.jpg Aku Datang Untuk Menggenapi Hukum Taurat (Matius 5:17-19)

Sebuah perjalanan jauh pasti memiliki tujuan yang besar. Seseorang tidak akan menghabiskan waktu, tenaga dan biaya yang besar hanya untuk sebuah keperluan yang kecil. Demikian pula dengan kedatangan Kristus ke dalam dunia.

Kedatangan Kristus membawa beragam misi yang sangat penting. Semua misi itu saling berkaitan. Salah satunya adalah untuk menggenapi Hukum Taurat.

Melalui teks hari ini kita akan melihat bahwa Yesus bukan hanya meneguhkan isi kitab suci tetapi sekaligus menggenapinya.Mengapa Yesus perlu meneguhkan otoritas kitab suci dalam pelayanannya? Bagaiman Dia menggenapi Hukum Taurat?

 

Yesus dan kitab suci

Bentuk negatif “jangan kamu menyangka” di ayat 17 menyiratkan sebuah antisipasi terhadap kesalahpahaman. Orang lain mungkin telah memikirkan yang keliru tentang pelayanan Yesus. Berita yang konsisten tentang kedatangan kerajaan Allah (4:23-25) maupun Delapan Ucapan Bahagia yang agung (5:1-12) sebagai nilai-nilai kerajaan bisa saja dianggap sebagai pembatal dan pengganti Hukum Taurat maupun kitab suci secara keseluruhan. Yesus mungkin dipandang sebagai seorang nabi yang membawa ajaran baru.

Bahkan sesudah memberitakan kerajaan Allah dan nilai-nilai di dalamnya, Kristus menyatakan dengan tegas identitas orang-orang percaya sebagai garam dunia dan terang dunia (3:13-16). Mereka harus menunjukkan perbuatan baik mereka di hadapan semua orang. Pertanyaannya, apakah perbuatan baik itu tetap dilandaskan pada kitab suci?

Dengan jelas dan tegas Yesus mengatakan bahwa Dia tidak bermaksud untuk membatalkan maupun meniadakan kitab suci. Bagi orang-orang Yahudi, penegasan ini sangat penting. Salah satu pembeda antara nabi Allah dan nabi palsu terletak pada loyalitas terhadap kitab suci. Tidak peduli seberapa hebat tindakan seorang nabi, jika dia mengajak umat Israel untuk melanggar kitab suci, nabi itu adalah nabi palsu (Ul. 13:1-5).

Lebih lanjut, Yesus meneguhkan otoritas kitab suci sebagai firman Allah yang kekal. Apa yang dikatakan oleh Allah pasti akan digenapi (5:18). Tidak ada bagian terkecilpun yang akan lenyap. Bagaimana mungkin seseorang datang sebagai nabi tanpa menghormati kitab suci? Bagaimana mungkin seseorang dapat dikatakan menghormati kitab suci jika dia menganggap kitab suci dapat diubah-ubah?

Berita tentang kedatangan kerajaan Allah beserta nilai-nilai kerajaan yang agung itu (4:23-5:12) tidak membatalkan atau meniadakan apa yang sudah difirmankan. Sebaliknya, sikap seseorang terhadap Hukum Taurat akan mempengaruhi posisinya dalam kerajaan Allah. Ada konsekuensi serius bagi siapa saja yang berani menghilangkan bagian terkecil dari kitab suci (5:19). Jadi, Yesus tidak mengusung sebuah agama yang baru. Ajaran-Nya selaras dengan kitab suci.

 

Yesus menggenapi Hukum Taurat

Meneguhkan otoritas adalah satu hal. Menggenapinya adalah hal yang berbeda. Yesus Kristus melakukan keduanya terhadap Hukum Taurat.

Bagaimana Kristus menggenapi Hukum Taurat?

Pertama, Dia menggenapi tuntutan Hukum Taurat (ayat 19). Salah satu syarat untuk masuk ke dalam kerajaan sorga adalah ketaatan yang mutlak pada Taurat. Tidak boleh ada bagian sekecil apapun yang diabaikan, dibatalkan atau dilanggar. Setiap bagian terkecil harus ditaati secara sempurna. Tambahan kata “segala” dalam terjemahan LAI:TB (5:19b) dengan tepat mengekspresikan tuntutan yang sangat komprehensif ini.

Untuk menegaskan betapa beratnya tuntutan ini, Yesus menambahkan: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (5:20). Sekilas perkataan ini sangat menakutkan. Kita tahu bersama betapa telitinya orang-orang Farisi dan ahli Taurat dalam menaati perintah-perintah Allah. Mereka bahkan menambahkan aturan-aturan detil pada perintah kitab suci. Jika ketaatan orang Kristen harus melampaui patokan ketaatan Farisi dan ahli Taurat, siapa yang bisa masuk ke dalam kerajaan surga? Tidak ada!

Apakah itu berarti bahwa tidak ada harapan yang tersisa bagi orang-orang Kristen? Tidak juga. Kristus melakukan apa yang tidak sanggup kita lakukan.

Kata “hidup keagamaan” (5:20) sebenarnya berarti “kebenaran” (dikaiosynē, lihat semua versi Inggris). Nah, Matius sebelumnya sudah menginformasikan bahwa Kristus datang untuk menggenapkan seluruh kebenaran. Ketika Yohanes Pembaptis sungkan untuk membaptiskan Dia, Kristus berkata: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak (dikaiosynē) Allah” (3:15). Dengan dasar kesempurnaan karya Kristuslah kita dapat memiliki kebenaran yang melampaui orang-orang Farisi dan ahli Taurat.

Kedua, Dia menanggung kutukan Hukum Taurat. Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, baptisan yang diterima oleh Yesus merupakan “tanda pertobatan” (3:11). Baptisan ini disertai dengan pengakuan dosa (3:6 “Lalu sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan”). Yesus tentu saja tidak membutuhkan baptisan ini. Itulah sebabnya Yohanes Pembaptis enggan membaptis Dia. Kesediaan Yesus untuk dibaptis menyiratkan kerelaan-Nya untuk menanggung dosa-dosa manusia.

Puncak dari kerelaan ini adalah kayu salib. Dia yang tidak berdosa telah dijadikan berdosa karena kita supaya kita memperoleh pembenaran dari Allah (2Kor. 5:21). Di atas kayu salib Kristus menanggung kutukan Taurat, sebagaimana tertulis: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’” (Gal. 3:13). Dengan sangat jelas Paulus berkata: “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh” (Rm. 8:3-4).

Ketiga, Dia menggenapi seluruh kitab suci (ayat 18). Ketika mendengar ungkapan “Kristus menggenapi kitab suci” banyak orang memikirkan puluhan nubuat mesianis dalam Perjanjian Lama yang digenapi oleh Kristus atau berbagai ritual kurban yang digenapi dalam penebusan Kristus. Injil Matius termasuk salah satu kitab yang sangat menekankan penggenapan nubuat mesianis. Pengantar pengutipan “Hal itu terjadi supaya genaplah yang dikatakan oleh nabi” menjadi ciri khas kitab ini (1:22; 2:15, 23; 8:17; 21:4).

Walaupun penggenapan-penggenapan seperti ini tidak salah, tetapi juga tidak lengkap. Apa yang diucapkan oleh Yesus di 5:18 bersifat komprehensif, bukan hanya dibatasi pada nubuat mesianis maupun ritual pengurbanan. Setiap bagian kitab suci – bahkan yang terkecil sekalipun - digenapi oleh Kristus (ayat 18b “satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”).

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa seluruh kitab suci (baca: Perjanjian Lama) mengarah pada Kristus. Melalui kitab-kitab tersebut umat Allah dituntun pada keselamatan di dalam Kristus. Dalam 2 Timotius 3:15 Paulus berkata kepada Timotius: “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”

Keempat, Dia mengungkapkan arti yang sesungguhnya dari Hukum Taurat. Apa yang dijelaskan oleh Kristus di 5:17-20 perlu dipahami dari perspektif penjelasannya di 5:21-48. Kristus tidak membatalkan Hukum Taurat. Dia menerangkan arti yang esensial dari setiap perintah Allah: pembunuhan adalah masalah kepahitan dalam hati (5:21-26), perzinahan bukan hanya kontak secara fisik tetapi pikiran dan hati yang kotor (5:27-32), sumpah berbicara tentang integritas perkataan (5:33-37), peringatan “mata ganti mata, gigi ganti gigi” mengajarkan kasih kepada sesama (5:38-42), mengasihi sesama manusia mencakup musuh-musuh kita (5:43-47).

Penjelasan di atas sekaligus mengingatkan manusia bahwa ketaatan kepada perintah Allah tidak semudah yang dipikirkan. Apa yang diucapkan Yesus membuat perintah-perintah itu menjadi lebih jelas, tetapi tidak lebih mudah. Akar persoalan terletak pada hati (5:21-32). Penambahan aturan tidak akan menyelesaikan. Selama kondisi hati yang tercemar tidak dibereskan, segala kejahatan akan terus bermunculan (15:18-19). Lagipula, siapa yang bisa berbicara benar selama hidupnya (5:33-37; Yak. 3:2)? Siapa yang selalu ingin memberi lebih pada sesamanya (5:38-42)? Siapa yang dengan mudah mengasihi musuh-musuhnya (5:43-47)? Sangat tidak mudah, bukan?

Jika semua itu tidak cukup, Kristus menambahkan di akhir pasal ini tentang tuntutan Allah supaya manusia menjadi sempurna seperti Dia (5:48). Siapa yang bisa menaati perintah ini? Tidak ada! Hanya Yesus yang mampu melakukannya. Dengan ketaatan itulah Dia menggenapkan seluruh tuntutan Allah dalam kitab suci. Kebenaran menjadi milik kita; dosa kita menjadi milik-Nya. Betapa besar kasih-Nya kepada kita! Soli Deo Gloria.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Pdt. Yakub Tri Handoko

Reformed Exodus Community