Actions Speak Louder Than Words (Matius 21:28-32)

Posted on 31/05/2015 | In Teaching | Leave a comment

https://i0.wp.com/rec.or.id/images/article/dosomething.jpg Actions Speak Louder Than Words (Matius 21:28-32)

Saya suka nonton film action. Biasanya mendekati akhir adalah klimaks dari sebuah film. Saya juga paling suka nonton film sendiri tanpa istri karena istri saya suka sekali bertanya ketika sedang nonton film disaat yg menegangkan, dia bertanya sesuatu hal yg bt saya seharusnya kalau dia perhatikan film dari awal maka dia akan mengerti. Perumpamaan yg kita baca tadi memiliki konteks yg mirip-mirip dengan cerita saya barusan. Mari kita lihat konteks ketika itu

Ini adalah saat yg krusial. Pasal 20 Yesus memberitahu tentang kematiannya untuk ketiga kalinya Yesus dan murid-murid dalam perjalanan menuju Yerusalem, ini minggu yg sangat mencengangkan di surga. Cerita tentang Anak Allah di bumi sudah hampir selesai, danYesus tahu itu, Dia tahu ini adalah saat terakhirnya.

Dan disaat saat yg mencengangkan dan menentukan itu masih ada sekelompok orang yg bertanya tentang hal yg sangat tidak masuk akal. Pertanyaan yang keluar dari hati yang kotor. Darimana kuasa-Mu berasal?

Dan pertanyaan mereka dijawab Tuhan dengan sebuah pertanyaan yang tidak bisa mereka jawab, bukan karena mereka tidak tahu jawabannya, tapi mereka takut akan konsekuensi yang akan mereka terima jika mereka jawab. Jika katakan kuasa Yohanes dari surga, maka seharusnya mereka juga percaya bahwa Kuasa Yesus juga dari surga karena inti dari pengajaran Yohanes adalah Yesus Sang Mesias dan Yohanes hanya mempersiapkan jalan buat Sang Raja. Jika katakan dari manusia, maka mereka takut karena yang percaya Yohanes adalah nabi sangat banyak. Setelah itu Yesus memborbardir mereka dengan perumpamaan-perumpamaan. Perhatikan awal dari ketiga perumpamaan itu :

  1. What do you think? Perumpamaan tentang dua anak-anak.
  2. Hear another parable. Tuan rumah yang mempunyai kebun dan menyewakannya.
  3. And again Jesus spoke.. Pesta pernikahan

Perumpamaan 1-3 itu bagai cermin untuk mereka. Ya, Yesus memberikan anggota sanhedrin yang terhormat itu sebuah cermin. hari ini kita focus pada cermin/perumpamaan yang pertama yang hanya ada dalam Injil Matius, yang jika kita mau ringkas perumpamaan yang sangat sederhana ini maka Yakobus melakukannya dengan sangat baik, “tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”(Yak.1:22).

Pada jaman Athanasius dan Arius, mereka menafsirkan perumpamaan dengan sangat alegoris, dua anak ini ditafsir sebagai non yahudi dan yahudi. Namun sejak jaman reformasi, Luther dan Calvin lebih menyorot pada maksud dari perumpamaan itu dilihat dari konteksnya, dan jelas disini Yesus memakai kata anak untuk membandingkan dua kelompok orang berdosa bangsa Israel yang mana dua-duanya sungguh dikasihi dan diberikan begitu banyak kesempatan untuk bertobat. Jadi dua anak ini merepresentasikan dua kelompok orang berdosa. Dan kita lihat Tuhan lebih berkenan pada yang pertama. perumpamaan ini menunjukan bahwa:

Allah memanggil kita untuk kerja, dan waktunya adalah sekarang, dan kerjanya di kebun anggur (ay.28).

Lb: Dua orang anak yang dua-duanya disuruh untuk bekerja. Dan ditulis jelas keterangan waktunya,dan ditulis kerjanya dimana.kerja hari ini di kebun anggur.

Lb: salah satu penyakit orang Kristen adalah menunda. Banyak dari kita tahu bahwa kita harus melayani, jadi berkat buat banyak orang, namun penyakitnya adalah suka menunda. Nanti saja melayani Tuhan,kalo sdh tua. Nanti saja memberi kalau tabungan sudah banyak. Catat ini, anda tidak akan pernah melayani atau memberi jika memiliki mental seperti ini.

Ill: Billy Graham dalam bukunya just the way I am menulis kisah pada suatu acara sarapan, presiden Kennedy memintanya untuk ke gedung putih karena ingin membahas sesuatu, namun karena hari itu agak kurang enak badan maka ia menolak dengan halus dan mengatakan bahwa masih ada lain hari untuk bertemu. Tanpa disangka itulah terakhir ia bertemu Kennedy karena setelah itu sang presiden meninggal.

Saya pernah besuk seorang kakek dirumahsakit, ia mengatakan nanti jika sudah sembuh ia akan melayani Tuhan. Seorang bapak dalam persekutuan di rumah saya bersaksi bahwa ia menyerahkan salah satu anaknya untuk melayani Tuhan, belakangan saya tahu anaknya memiliki keterbelakangan mental.

Saya tidak bermaksud orang yg sudah tua atau yang memiliki kekurangan tidak boleh melayani, maksud saya adalah layanilah Tuhan sekarang, memberi buat pekerjaanNya sekarang. Berilah buat Tuhan masa2 terbaik dalam hidupmu, masa mudamu,persembahkan itu buat Tuhan.

Bekerjalah dan jadilah berkat di ladangmu masing-masing, di keluarga, sekolah, atau tempat kerja kita. Saya sering membayangkan Gereja Tuhan melakukan pengutusan buat anak-anak muda yang mau masuk kuliah atau bekerja. Mengutus mereka ke dalam kebun anggur yang sudah disiapkan Bapa bagi mereka.

Allah tidak suka lips service, Allah suka aksi (ay.31)

Lb: dua anak ini mendengar perintah yang sama dari bapa yangg sama. Yang pertama diperintah bilang iya, tapi abis itu tidak dilakukan. Yg kedua bilang tidak, kurang ajar, ga pake alesan, pokoknya ga mau.tapi ujung-ujungnya menyesal dan melakukan apa yg disuruh

Lb: saya tidak katakan bahwa apa yang kita katakan kepada Tuhan atau pujian yang keluar dari hati anda tidak ada nilainya. Yang ingin saya katakan adalah setelah kita dengar Tuhan bicara, lalu kita bilang ya, harus diikuti dengan tindakan/aksi. Teologi tanpa teopraksi adalah sebuah kesiasiaan dan tidak ada artinya dihadapan Tuhan

Hal ini juga mengajarkan kita kebenaran penting: Mendengar dan berkata iya Tuhan, tidak sama dengan melakukan.

Lb.Ada kesamaan dari kedua anak ini..Bapanya sama dan dua-duanya mendengar perintah yg sama. Mereka mendengar perintah yg sama dari sumber yg sama,  namun responnya yg berbeda.Tuhan tidak perduli seberapa banyak kita mendengar, atau kita mengerti. Yang Tuhan peduli adalah seberapa banyak kita melakukan apa yg telah kita dengar dan mengerti

Mengapa kita mendengar namun tidak melakukan?

Karena kekuatiran dunia dan tipu daya kekayaan dan keinginan2 lain

Perumpamaan ttg penabur benih (Mark 4:1-20). Perumpamaan yang mirip dengan perumpamaan yang kita bahas. Yang nabur sama, yang ditabur (Firman Tuhan) sama, hasilnya beda.

Dua kelompok pertama...belum lahir baru . Dua kelompok terakhir...sdh lahir baru

Mungkin ada yg tidak setuju dengan ini, namun apapun tafsirannya, saya hanya ingin menyoroti yg ketiga...Orang yg mendengar ajaran Tuhan, namun karena semak duri menjadi tidak berbuah. Semak duri kata Yesus sangat jelas, tidak usah ditafsirkan lagi, yaitu kekuatiran dunia,tipu daya kekayaan, dan keinginan2 akan hal lain.

-Ini org2 yg sudah mendengar FT yg baik dari kecil sampai sekarang tidak berbuah,tidak berubah..yg pelit tetap pelit, yg pemarah ttp pemarah, dari dulu sampai sekarang SETIA, setia jd jemaat yg duduk manis n do nothing

-Ini adalah orang Kristen yang hidupnya tidak jadi suratan Kristus, namun jadi hambatan orang lain datang kepada Kristus. Kristus mati, dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru namun kita justru jadi batu sandungan buat orang lain. Ketika berbisnis, ketika bekerja, ketika sekolah, fokusnya bukan Kristus, namun uang. Mahatma Gandhi: dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tdk akan cukup untuk satu manusia yg serakah

Ini orang2 yang hidupnya penuh dengan kekuatiran dan ketika menghadapi masalah maka bukannya datang pada Tuhan namun mengandalkan segala cara untuk keluar dari masalah. Ini adalah orang-orang yang hidupnya tidak pernah merasa cukup, akibatnya tidak pernah bersyukur. Di Gereja nyanyi Christ is enough for me, namun ketika keluar orang2 sekitar selalu mendengar keluhan, umpatan, fitnah.

Bagaimana Orang lain mau percaya Kristus jika hidup semua orang Kristen seperti ini. Itulah mengapa Gandhi berkata: I like your Christ, I do not like your Christians. Your Christians are so unlike your Christ.” Jangan jadi orang Kristen omdo, omong doank

Mengapa mereka tidak melakukan karena sikap hati mereka yang salah ketika mendengar Firman Tuhan

Salah satu alasan mengapa imam2 dan tua2 disandingkan dengan perempuan sundal dan pemungut cukai dan kelompok 1 sulit bertobat adalah mereka merasa lebih benar dibanding yg lain. Kelompok 1 adalah org2 yg suka pekerjaannya dilihat orang, pakai jubah dan tali sembahyang yg panjang, gila hormat, dan suka dipanggil rabbi, diakhir mereka akan bilang segala kemuliaan bagi Allah, padahal bagi dua, setengah buat Allah, setengah buat mereka (Mat.23:5-7). Mereka menganggap golongan 1 adalah orang buangan dan penghianat bangsa. Antek2 Romawi. Sedangkan kelompok 1 sadar bahwa mereka adalah orang berdosa. Kesadaran akan dosa adalah awal dari pertobatan.

Sikap hati kita ketika mendengarkan kebenaran sangat penting. menghampiri takhta Allah dengan kesadaran bahwa kita adalah orang berdosa yang butuh Allah dan Firman-Nya sangatlah penting. Jika tidak maka kita dalam bahaya jatuh sama seperti kelompok 1. Ini sama dengan orang2 digereja ketika dengar kotbah dipikiran mereka langsung berpikir, ini cocok untuk suami/istri/anak/saudara/majelis/pendeta saya. Inilah mengapa dari sekolah minggu sampai sekarang tidak berubah. Alasannya diajarin nyanyi dari kecil Tuhan Yesus tidak berubah. Catat, setiap Firman yang keluar dari mimbar atau dari perenungan anda pribadi adalah untuk kita, pribadi. ...Begitu berharganya anda dan saya dimata Tuhan sehingga Dia tidak rela melihat kita tidak bertumbuh serupa dengan Dia. Max Lucado menulis satu kalimat yg indah, Dia mengasihi kita apa adanya, namun Dia tidak rela melihat kita terus menerus apa adanya. Dia ingin kita bertumbuh menjadi serupa dengan Yesus.

Gereja ini diberikan Tuhan berkat luar biasa. Kebenaran2 yang indah melimpah keluar dari mimbar ini. Dan kebenaran itu bukan untuk orang yang ada disebelah saudara atau orang dirumah saudara. Kebenaran itu untuk anda supaya anda jadi teladan diluar sana. Supaya suami-suami/istri-istri/ayah-ayah/ibu-ibu lain diluar sana melihat bahwa ada Kristus dihidupmu. Supaya orang-orang ditempatmu bekerja sungguh tertarik mengenal Kristus, karena caramu memimpin dan bekerja penuh kelemahlembutan dan kejujuran yang mencerminkan Kristus. Supaya anak-anak kita melihat bahwa orangtuanya berintegritas, apa yang dikatakan sama dengan apa yang dilakukan yang membuat mereka datang pada Kristus dengan semangat dan sukacita. Hidup saudara akan jadi Injil yang kelima, bukan injil yang tertulis yang ada dalam Alkitab, namun menjadi Injil yang tidak tertulis, namun terbuka dan dilihat oleh orang-orang di sekitar anda.

Definisi penginjilan dari Norman Geisler: Penginjilan adalah suatu usaha dari umat percaya untuk menjadikan orang lain mengambil satu langkah mendekat pada Kristus. Apakah hidup kita menjadikan orang lain mendekat, atau justru menjauh?

Allah yang berdaulat memberikan pilihan (28-30).

Lb: Alkitab penuh dengan pilihan, Jalan lebar-sempit,bangun dgn batu atau pasir. Mau pikir hal2 yang di atas atau di bawah. Hari ini pilihannya adalah mau jadi anak yang hanya ngomong, atau anak yang mengerjakan apa yang diperintahkan.

Manusia diciptakan Tuhan dgn kemampuan dan kebebasan untuk memilih. Bukan kebebasan yg manusia sekarang pahami. Bebas yang terbatas, bebas yg dibatasi oleh kebebasan Allah. Jika Allah bebas, kebebasanNya tidak merusak, karena naturnya adalah baik dan sempurna. Namun jika manusia bebas mutlak, maka kebebasannya pasti merusak karena sifat2 dosa yang masih bergerilya dalam hatinya. Bebas yang dimaksud Alkitab adalah kebebasan sejati untuk orang Kristen adalah bebas untuk melakukan kehendak Allah. Bebas untuk memilih,hidup sebagai hamba hawa nafsu dunia,atau hamba Allah (1.Pet.2:16). Ketika pilihan itu datang, kita bebas untuk memilih,mau taat atau tidak. Tanpa Kristus tidak ada pilihan, dengan Kristus, pilihan untuk taat itu tersedia. Hal ini bukanlah bukti bahwa Allah tidak berkuasa penuh, NO. Ini adalah satu pemahaman terhadap sifat Allah yang indah, yaitu Allah ingin ketika manusia memilih utk taat pada FT maka ia taat dgn kesadaran penuh dan hati yg ikhlas dan rela,apapun resikonya..Saya tidak berani mengatakan jika anda taat maka berkat2 duniawi akan melimpah, anda akan tambah sukses dan kaya. Namun saya juga tidak bisa mengatakan ketika anda taat Allah tidak mungkin memberkati kita dengan materi. Hal yang ingin saya sampaikan adalah kita harus paham bahwa ada harga yang harus dibayar ketika kita memilih tidak taat, atau ketika kita memilih taat pada Tuhan.

Satu kebenaran yang umum, hidup ini penuh dengan resiko. Anda dan saya pergi dari rumah ke gereja ada resiko, bukan hanya naik pesawat, naek bis ada resiko atau kereta atau mbil pribadi juga ada resiko. Banyak orang yang berani ambil resiko, main saham. Ada orang yang tidak suka resiko, asuransinya banyak. Apapun jenis orangnya, satu hal tetap sama, hidup ini penuh dengan resiko. Ketaatanpun ada resiko, namun ketika ada harga yang harus dibayar, itu sangat worthed,sangat layak.

Mahal itu relative,jika itu berguna maka harga yang dibayarkan menjadi layak, worthed to pay. Iphone itu mahal, jika buat anak SMA itu tidak layak, namun buat orang-orang Tibet, itu layak dibeli karena ada keyboard huruf Tibet yang paling baik.

Taat pada Tuhan itu juga mahal, namun itu worthed, itu layak, seberapa besar harga yang harus kita bayar untuk sebuah ketaatan, bahkan jika itu menuntut nyawa kita, itu tetap layak. Jim Elliot mungkin dianggap gagal dan kematiannya dianggap sia-sia, namun pengorbannya dan teman-temannya buat suku Indian di Ekuador itu sangat worthed. Kematian mereka layak, karena itu adalah akibat ketaatan mereka terhadap sang empunya hidup.

Tuhan memberikan manusia pilihan, dan ketika kita memilih untuk taat, maka Dia ingin kita taat dengan hati yang ikhlas dan pemahaman, bahwa ada harga yang harus dibayar. Namun Dia ingin kita juga tahu, bahwa harga yang kita bayar itu sepandan, layak, karena Tuhan sudah bayar harga kita terlebih dahulu dan apa yang kita lakukan itu nilainya kekal, bukan fana.

Penutup

Sebulan ini saya percaya bahwa setiap hamba Tuhan yg berdiri di mimbar ini telah mencari Tuhan dan hatiNya untuk dibagikan kepada jemaat ditempat ini..dan says sungguh percaya bahwa Tuhan telah bicara pada setiap jemaat tanpa terkecuali. Kebenaran yang indah itu bukan hanya untuk didengar dan kita perbincangkan, namun untuk kita kerjakan. Misi adalah isi hati Tuhan. Dan Dia mau kita terlibat di dalamnya. Habakuk 1:5 Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah,jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai, jika diceritakan”. Dia sedang bekerja, dan buat kita anak-anak-Nya, pilihannya Cuma dua. Ikut kerja, atau hanya jadi penonton.

https://i0.wp.com/rec.or.id/wp-content/uploads/2020/12/logo.png logo writter

Reformed Exodus Community