Created for God"s glory(Yesaya 43:1-7)

Created for God

Pertanyaan tentang tujuan hidup (‘Why are we here on earth?’) merupakan salah satu pertanyaan klasik dalam dunia filsafat. Manusia yang cerdas pasti menyadari keberadaan tujuan di balik keberadaan alam semesta dan diri kita. ‘Why is there something rather than nothing?’ merupakan pertanyaan filosofis lain yang bukan hanya menantang orang untuk memikirkan tujuan hidup, tetapi juga mendesak mereka untuk mengakui bahwa ada tujuan di balik kehidupan. Aristotle, salah satu filsuf Yunani yang terbesar, pernah berujar: ‘Unexamined life is not worth living’.

Sudahkah kita menilai dan menguji kehidupan kita? Bagaimana seharusnya kita mengetahui tujuan hidup kita? Mari kita belajar bersama-sama dari Yesaya 43:1-7. Walaupun teks ini berbicara tentang tujuan penciptaan bangsa Israel sebagai umat Allah, tetapi prinsip teologis di dalamnya tetap relevan untuk tujuan hidup kita secara umum.

Pendahuluan penting

Ada dua pengamatan penting yang perlu kita ketahui sebelum kita meneliti setiap bagian secara lebih mendetil. Yang pertama adalah struktur teks. Pembacaan yang teliti akan menuntun kita untuk menemukan sebuah pola chiasme (A B C C’ B’ A’). Perhatikan struktur berikut ini:

A Relasi khusus dengan Allah sebagai Pencipta dan Pemilik (ayat 1)

B Janji ilahi: penyertaan (ayat 2)

C Status khusus dan tebusan (ayat 3)

C’ Status khusus dan tebusan (ayat 4)

B’ Janji ilahi: pemulihan (ayat 5-6)

A’ Relasi khusus dengan Allah sebagai Pencipta dan Pemilik (ayat 7)

Struktur chiasme di atas mendorong kita untuk membahas setiap bagian secara paralel supaya keindahan kesejajarannya lebih terlihat jelas.

Pengamatan lain yang penting adalah kontras antara ayat 1-7 dengan bagian sebelumnya. Kata sambung ‘tetapi sekarang’ muncul sekitar 15x di Kitab Yesaya dan hampir selalu menyiratkan sebuah kontras. Yang paling kentara adalah pemunculan kata ‘api’ di 42:25 dan 43:2. Kalau di 42:25 bangsa Yehuda digambarkan sudah dibakar dengan api tapi tetap tidak bertobat, di 43:2 mereka justru dijanjikan penyertaan ilahi apabila mereka melewati api.  Lebih menarik lagi, perubahan dari nuansa penghukuman ke penghiburan tidak ditandai oleh pertobatan dari pihak bangsa Yehuda. Walaupun pasal 42 diakhiri dengan ‘tetapi ia tidak menginsyafinya...tetapi ia tidak memperhatikannya’, pasa 43 tetap dipenuhi dengan kata-kata ilahi yang membawa pengharapan. Hal ini menyiratkan bahwa kelepasan yang dijanjikan di 43:1-7 bersifat anugerah. Pembahasan detil di bagian selanjutnya akan menunjukkan bahwa tidak ada faktor positif sedikit pun pada diri bangsa Yehuda. Semua didasarkan pada ‘siapa Allah’ bagi mereka, bukan sebaliknya.

Di samping dua pengamatan di atas, sebuah isu lain yang perlu diketahui adalah rujukan historis yang disiratkan di 43:1-7. Apakah bagian ini merupakan nubuat (belum terjadi) atau refleksi teologis terhadap sebuah peristiwa (sudah terjadi). Kaum injili cenderung memegang opsi yang pertama, sedangkan kaum liberal pada yang kedua. Terlepas dari pilihan mana yang kita ambil, kita tetap perlu membaca bagian ini dalam terang pembuangan bangsa Yehuda ke Babel (baca 2 Raj 24-25).

Relasi khusus dengan Allah sebagai Pencipta dan Pemilik (ayat 1, 7)

Beberapa kata atau ide yang sama-sama muncul di ayat 1 dan 7 adalah ‘menciptakan’, ‘membentuk’, dan ‘menyebutkan dengan nama’. Yang hanya muncul di salah satu bagian adalah ‘menebus’ (ayat 1), ‘kepunyaan-Ku’ (ayat 1), perintah untuk tidak takut (ayat 1), dan ‘untuk kemuliaan-Ku’ (ayat 7). Dengan menggabungkan semua petunjuk yang ada, kita dapat belajar tentang tiga hal: relasi khusus antara Allah dan bangsa Yehuda, perintah ilahi yang bersumber dari relasi tersebut, dan tujuan dari relasi itu.

Relasi khusus antara Allah dan bangsa Yehuda diungkapkan melalui beberapa sebutan untuk Allah. Ia adalah Pencipta mereka. Baik kata ‘mencipta’ maupun ‘membentuk’ (ayat 1, 7; 44:2) muncul dalam kisah penciptaan (Kej 1:1, 21, 27; 2:3, 4, 7, 8, 19). Sebagaimana Allah tidak mungkin melupakan dunia yang sudah Ia ciptakan, demikian pula Ia tidak akan pernah melupakan umat-Nya (44:21). Sebagai ciptaan Allah, bangsa Israel adalah milik Allah. Pada saat mereka dulu dimiliki oleh bangsa Mesir, Allah tidak tinggal diam. Ia menjadi Penebus mereka (ayat 1; Kel 13:15; 2 Sam 7:23//1 Taw 17:21 ‘membebaskan’ = lit. ‘menebus’). Setelah kembali dimiliki oleh Allah, bangsa Israel ‘dipanggil dengan nama’ (ayat 1, 7). Konsep tentang ‘memanggil nama’ ditemukan beberapa kali dalam Kitab Yesaya; sebagian besar berkaitan dengan ide tentang kepemilikan (43:1 ‘engkau ini kepunyaan-Ku’; 44:5). Walaupun sebutan Allah sebagai Pencipta maupun Penebus sudah menyiratkan kepemilikan, tetapi Allah tetap ingin menjelaskan bahwa kepemilikan ini bersifat personal (‘memanggil engkau dengan namamu’) dan pasti (‘engkau ini kepunyaan-Ku’).

Mengetahui bahwa mereka dimiliki oleh Allah merupakan penghiburan besar bagi bangsa Yehuda yang (akan) ada di pembuangan. Walaupun mereka (akan) menjadi tawanan, sebenarnya bukan bangsa Babel yang memiliki mereka. Mereka tetap menjadi milik Allah. Karena itu, Allah lalu memberikan perintah: “Jangan takut” (43:1, 5; 41:10, 13, 14; 44:1, 8). Pembuangan ke Babel pasti akan menimbulkan kekuatiran tentang identitas bangsa Yehuda: apakah mereka tetap menjadi umat yang unik di mata Allah? Apakah mereka mampu bertahan sebagai sebuah bangsa? Allah mengetahui ketakutan semacam ini dan Ia juga meyakinkan bahwa ketakutan ini tidak diperlukan: pembuangan ke negeri asing tidak akan menghapuskan status mereka sebagai milik Allah, karena Allah adalah Pencipta dan Penebus mereka. Haleluya!

Kesetiaan Allah terhadap umat-Nya bukan hanya memiliki alasan (status Allah sebagai Pencipta dan Penebus), tetapi juga tujuan. Di ayat 7 TUHAN secara eksplisit berkata: “yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku”. Penciptaan dan penebusan umat Allah adalah untuk memberitakan kemasyuran TUHAN (43:21). Para pembaca Kitab Yesaya pasti tidak mungkin lupa bagaimana Allah memanggil nabi Yesaya: Allah memberikan penglihatan yang luar biasa tentang kemuliaan Allah yang memenuhi surga dan bumi, seluruh bait suci, dan seluruh bumi (6:1-5). Salah satu gambaran tentang suasana restorasi eskhatologis adalah adanya kemuliaan TUHAN atas segala bangsa (40:5; 66:18-19). Begitu pentingnya kemuliaan ilahi sampai-sampai TUHAN beberapa kali dengan tegas mengatakan: “Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” (42:8; 48:11).

Kebenaran ini patut dicamkan oleh umat Allah. Mereka (akan) mengalami keterpurukan karena “mereka menantang kemuliaan hadirat-Nya” (3:8), padahal kemuliaan itu merupakan tudung bagi mereka (4:5). Siapa saja yang tidak berpihak pada kemuliaan TUHAN, maka ‘kemuliaan’ mereka akan ditiadakan, baik bangsa Moab (16:14), Israel (17:3-4), Kedar (21:16-17), maupun Libanon (35:2; 60:13). Ajaran tentang kemuliaan Allah sebagai tujuan keberadaan manusia merupakan doktrin yang sangat menggentarkan: apabila hidup kita tidak ditujukan untuk kemuliaan-Nya, maka Ia tidak akan segan-segan untuk merebut kehormatan dalam hidup kita! Sebaliknya, apabila kita mau bertobat dan kembali kepada TUHAN, maka “kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu” (58:8). Kemuliaan TUHAN akan menjaga kita.

Janji ilahi (ayat 2, 5-6)

Larangan “Jangan takut” (ayat 1, 5) bukan hanya bersumber pada fakta bahwa kita dimiliki oleh Pencipta dan Penebus kita (ayat 1, 7), tetapi juga pada janji-janji ilahi yang Allah nyatakan kepada kita. Ada dua hal penting: kelepasan (ayat 2) dan pemulihan (ayat 5-6). Kedua janji ini bersumber pada satu kebenaran yang agung: Allah menyertai kita. Penekanan terhadap ide ini bukan hanya terlihat dari kemunculan di ayat dua bagian tentang janji Allah (ayat 2, 5-6) tetapi juga peletakannya di awal masing-masing bagian (ayat 2a, 5a). Dalam konteks bangsa Yehuda (akan) kehilangan bait Allah (sebagai tempat pertemuan dengan Dia), kehilangan tanah perjanjian, dan dibuang ke negeri orang, kebenaran tentang penyertaan ilahi pasti sangat menghiburkan: di manapun mereka berada, TUHAN tetap beserta mereka! Tatkala Allah menyertai mereka, kehadiran-Nya akan menyelamatkan (Yer 30:10-11).

Yang paling penting bukan ke mana kita pergi, melainkan dengan siapa kita pergi. Baik melewati padang rumput yang hijau dengan airnya yang tenang maupun lembah kekelaman, yang penting adalah “Engkau besertaku...gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang membimbing aku” (Mzm 23:4). Pada waktu TUHAN marah kepada bangsa Israel dan hanya akan mengirimkan malaikat-Nya memimpin mereka ke tanah perjanjian, Musa secara luar biasa berkata: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini” (Kel 33:15, lit. “Jika hadirat-Mu tidak pergi bersama kami, kami tidak mau meninggalkan tempat ini”).

Janji kelepasan (ayat 2). Relasi yang khusus dengan Allah di ayat 1 tidak berarti bahwa umat Allah tidak akan menghadapi bahaya. Mereka tetap akan melewati air dan api. Perbedaannya, mereka akan diberi kekuatan untuk menanggung semuanya itu (Mzm 66:12; 1 Pet 6-7). Sebagian penafsir memahami janji ini secara universal (api dan air mewakili beragam situasi), tetapi yang lain memikirkan rujukan historis yang khusus yang relevan dengan bangsa Israel (kelepasan dari air = melewati Laut Teberau [Kel 15]; kelepasan dari api = pembumihangusan Yerusalem oleh Babel [2 Raj 25:9-10]). Kita sebaiknya memilih opsi yang lebih umum: (1) api dan air muncul bersamaan di Mazmur 66:12 tanpa dikaitkan dengan kelepasan dari Mesir maupun penaklukan oleh Babel; (2) bangsa Israel tidak dilepaskan dari upaya penghancuran dan pembumihangusan oleh Babel.

Janji pemulihan (ayat 5-6). Pada saat suatu rumah terbakar dan penghuninya berhasil keluar dengan selamat, bagaimana perasaan mereka? Walaupun mereka pasti sangat sedih, tetapi ada sedikit perbedaan antara mereka yang memiliki asuransi rumah dan yang tidak  memilikinya. Bagi yang memiliki asuransi, mereka tidak hanya mendapatkan kelepasan tetapi juga kemungkinan untuk memulihkan keadaan mereka. Demikian pula dengan bangsa Yehuda. Allah tidak hanya menjanjikan kelepasan, melainkan juga pemulihan.

Jangkauan pemulihan yang dijanjikan tampaknya sangat global: mencakup seluruh penjuru mata angin (ayat 5-6a) dan dari ujung bumi (ayat 6b). Penyebutan jenis kelamin yang berbeda di ayat 6 mungkin juga dimaksudkan untuk menekankan inklusivitas janji ini. Mengapa TUHAN mau melakukan ini? Karena anak cucu bangsa Yehuda (ayat 5) juga adalah anak laki-laki dan anak perempuan TUHAN sendiri (ayat 6).

Cakupan janji yang universal ini sedikit menimbulkan masalah, karena secara historis tidak semua orang Yehuda di pembuangan mau kembali ke tanah perjanjian. Masih banyak dari antara mereka yang memilih untuk tinggal di perantauan (diaspora). Apakah dengan demikian janji Allah kurang digenapi secara sempurna? Tentu saja tidak! Janji ini harus dilihat secara teologis (bukan semata-mata politis) dan progresif. Bangsa Yehuda diselamatkan supaya mereka menjadi berkat bagi semua bangsa (49:6; 60:1-7), Melalui mereka semua bangsa akan melihat kemuliaan TUHAN (40:5; 66:18-19). Walaupun secara historis tidak semua orang Yehuda kembali dari pembuangan, tetapi melalui yang kembali TUHAN akan memulai mega proyek penjangkauan seluruh bumi. Melalui kebangkitan Kristus dan pertolongan Roh Kudus kita sekarang menyaksikan bagaimana umat Allah sudah lahir di berbagai tempat di seluruh ujung bumi (Kis 1:8; Mat 28:19-20).

Status khusus dan penebusan (ayat 3-4)

Salah satu aspek penebusan sudah disinggung di ayat 1: penebusan menjadikan bangsa Israel sebagai milik Allah. Ayat 3-4 menjelaskan aspek penebusan yang lain: begitu spesialnya posisi bangsa Israel di mata Allah sampai-sampai Allah rela membayar harga tebusan yang mahal. Sebagaimana akan kita lihat bersama setelah ini, posisi yang spesial ini bukan didasarkan pada siapa mereka dan apa yang mereka lakukan, tetapi pada apa yang TUHAN sudah lakukan bagi mereka. Anugerah Allah membuat mereka spesial, bukan sebaliknya!

Alasan penebusan dijelaskan di awal masing-masing bagian: status TUHAN yang khusus bagi bangsa Israel (ayat 3a ‘sebab’) dan status bangsa Israel yang khusus di mata TUHAN (ayat 4a ‘oleh karena’). Secara hurufiah ayat 3a dapat diterjemahkan sebagai berikut: “Sebab Aku TUHAN Allah milikmu, Yang Mahakudus milik Israel, Penyelamatmu” (kontra LAI:TB). Allah bukan hanya TUHAN secara obyektif, tetapi juga secara personal menjadi Allah Israel. Kekudusan-Nya tidak hanya bersifat mutlak dan abstrak, tetapi personal bagi Israel. Keselamatan dari Allah bukan hanya sebuah demonstrasi kuasa, tetapi bukti kasih yang personal bagi Israel. Baik sebutan ‘TUHAN’, ‘Yang Mahakudus’ maupun ‘Penyelamat’ sama-sama mengarahkan ingatan bangsa Yehuda pada masa pembebasan dari Mesir (Kel 3:14; 6:3; Im 11:44-45; Kel 14:30; 15:2).

Cara Allah memposisikan diri-Nya secara khusus dengan Israel membuat mereka terlihat begitu istimewa. Mereka disebut berharga, mulia, dan dikasihi (ayat 4a). Tanpa dikaitkan dengan anugerah Allah, maka tidak ada satu pun yang layak dipuji dari bangsa Israel. TUHAN memilih mereka bukan karena mereka bangsa yang besar dan taat, melainkan karena kesetiaan Allah terhadap janji-Nya kepada nenek moyang mereka (Ul 7:7-9).

Pada waktu ide tentang ‘berharga’, ‘mulia’ dan ‘dikasihi’ dihubungkan dengan tebusan, gambaran yang dimunculkan mengarah pada tradisi pernikahan kuno. Seberapa besar kasih dan penilaian seorang laki-laki kepada calon isterinya seringkali dapat dilihat dari seberapa besar jumlah tebusan (uang/mas kawin) yang diberikan. Semakin banyak materi (uang, perhiasan, ternak) yang diberikan kepada orang tua pihak perempuan menyiratkan seberapa penting seorang perempuan bagi laki-laki tersebut.

Untuk menebus bangsa Israel Allah rela membayar dengan bangsa-bangsa lain (ayat 3b, 4b). Jika dikaitkan dengan konteks pembuangan ke Babel, penebusan di sini pasti mengarah pada pemulangan bangsa Yehuda ke tanah perjanjian melalui keputusan Raja Koresh (44:28; 45:1, 13). Seandainya rujukan historis ini benar, maka penyebutan tiga bangsa (Mesir, Etiopia dan Syeba) di ayat 3b sedikit menimbulkan kesulitan dalam penafsiran. Bangsa Mesir memang selanjutnya ditaklukkan oleh Persia, tetapi hal itu terjadi pada jaman Raja Kambises, anak Koresh. Keterkaitan antara Etiopia dan Syeba dalam proses pemulangan ini juga sulit ditentukan secara pasti.

Berdasarkan penggunaan ungkapan yang lebih umum di ayat 4 (‘manusia’ dan ‘bangsa-bangsa’), kita sebaiknya menafsirkan tebusan secara lebih umum. Yang dipentingkan adalah harga tebusan yang mahal. Walaupun umat Allah adalah bangsa yang kecil dan memberontak, namun Allah rela menebus mereka dengan bayaran yang jauh lebih besar dan banyak. Di bagian selanjutnya dari Kitab Yesaya kita akan menemukan bahwa tebusan yang terbesar yang TUHAN bayar bagi kita adalah kematian Anak-Nya, Mesias Yang Menderita itu (‘The Suffering Messiah’ di Yesaya 53).

Penutup

Jikalau TUHAN adalah Pencipta kita, maka sudah sepatutnya kita hidup bagi Dia. Jikalau Allah rela membayar tebusan yang mahal bagi kita, maka sudah seharusnya kita memuliakan Dia dengan seluruh keberadaan kita. Ketidakmauan dan kegagalan dalam melakukan hal ini menunjukkan penolakan yang tidak logis terhadap status kita sebagai ciptaan dan sekaligus kebebalan hati kita yang tidak mau bersyukur atas harga yang sudah dibayar Kristus di atas kayu salib. Tanpa mengaitkan hidup kita dengan karya penciptaan dan penebusan, kita pasti tidak akan memiliki kehidupan yang penuh arti. Amin. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :