Eksposisi Filipi 1:1-2

Eksposisi Filipi 1:1-2

Dalam budaya Yunani-Romawi kuno sebuah surat dimulai dengan identitas penulis dan pembaca, lalu diikuti dengan salam. Paulus juga mengikuti kebiasaan ini. Namun, dia juga melakukan beberapa modifikasi sehingga pendahuluan surat-suratnya sarat dengan nuansa Kristiani. Sebagai contoh, dia mengganti salam “chairein” (lit. “salam”) yang umum dipakai dengan salam lain yang cukup panjang: “Kasih karunia bagi kalian dan damai sejahtera dari Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus” (charis hymin kai eirēnē apo theou patros hēmōn kai kyriou Iēsou Christou).

Modifikasi yang dilakukan tidak selalu sama. Ada beberapa bagian yang khas di masing-masing surat. Para penafsir meyakini bahwa modifikasi yang dilakukan disesuaikan dengan keadaan penerima surat atau isi surat. Tidak terkecuali adalah surat Paulus kepada jemaat di Filipi.

 

Penulis (ayat 1a)

Ada dua nama yang muncul di bagian ini: Paulus dan Timotius. Pemunculan dua atau lebih nama seperti ini cukup lazim dalam tulisan Paulus (1Kor. 1:1; 2Kor. 1:1; 1Tes. 1:1; 1Tes. 2:1; Kol. 1:1; Flm. 1:1). Kebiasaan ini bukan menunjukkan kepenulisan jamak. Penulisnya tetap Paulus, sebagaimana terlihat dari kata ganti orang pertama tunggal di bagian selanjutnya. Misalnya, sesudah menuliskan salam kepada jemaat di Filipi (1:2), Paulus melanjutkan dengan: “Aku mengucap syukur kepada Allahku…” (1:3).

Walaupun bukan sebagai penulis bersama, pemunculan nama-nama tersebut di awal surat memiliki maksud tertentu. Hal yang sama berlaku pada Surat Filipi. Nama Timotius disebut karena dia sangat mungkin sedang bersama-sama dengan Paulus di penjara (bdk. 1:12-13; 2:23 “Dialah yang kuharap untuk kukirimkan dengan segera, sesudah jelas bagiku bagaimana jalannya perkaraku”). Maksudnya, Timotius sedang melayani kebutuhan Paulus di dalam penjara, sama seperti Epafroditus yang diutus oleh jemaat Filipi (2:25).

Timotius sendiri bukanlah orang asing bagi jemaat Filipi. Dia menyertai pelayanan Paulus ke Makedonia dan Akaya (Kis. 16-18). Filipi adalah kota pertama yang dikunjungi oleh Paulus dan Timotius dalam perjalanan ini. Relasi Timotius dan jemaat terjalin begitu baik, sebagaimana terlihat dari ungkapan Paulus tentang Timotius: “Karena tak ada seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh-sungguh memperhatikan kepentinganmu” (2:20).

Penyebutan nama Timotius menyiratkan bahwa Paulus tidak ingin memonopoli perhatian jemaat hanya kepada dirinya saja, walaupun mereka memang sangat mengasihi Paulus (bdk. 1:5-8). Dengan menyebutkan nama Timotius, Paulus sedang membagi perhatian jemaat. Yang mengasihi mereka bukan hanya Paulus, tetapi juga Timotius.

Tujuan lain dari penyebutan nama Timotius berkaitan dengan otoritas kebenaran. Penyebutan ini menempatkan Timotius sebagai saksi atas kebenaran yang sedang dituliskan di surat ini. Relasi yang kuat antara Timotius dan jemaat Filipi menambahkan pengaruh dan otoritas atas isi surat.

Sesudah menyebutkan namanya dan nama Timotius, Paulus lantas menuliskan gelar/sebutan yang dia kenakan, yaitu “hamba” (doulos). Ada beberapa hal menarik dari penyebutan gelar ini. Kita tidak menemukan kata “rasul” (apostolos) yang biasa muncul di awal surat-surat Paulus. Sebutan “rasul” juga tidak muncul di 1-2 Tesalonika dan Filemon. Sebagian besar penafsir meyakini bahwa ketidakmunculan ni berhubungan dengan relasi yang intim antara Paulus dan penerima surat. Paulus merasa tidak perlu untuk menyebutkan atau membela kerasulannya yang sering dipersoalkan sebagian orang. Baik jemaat Filipi, Tesalonika maupun Filemon sangat menerima dan menghargai kerasulan Paulus.

Hal menarik lain adalah bentuk jamak “hamba-hamba” (douloi). Bentuk jamak menunjukkan bahwa Paulus mengenakan sebutan ini pada dirinya dan Timotius. Di tempat lain Paulus juga pernah menyebut Epafras dan Tikhikus sebagai sesama hamba (syndoulos, Kol. 1:7; 4:7). Terlepas dari bagaimana kita memandang sebutan “hamba”, entah secara positif merujuk pada tokoh-tokoh besar di Perjanjian Lama atau secara negatif merujuk pada status budak dalam budaya Yunani-Romawi, bentuk jamak douloi di Filipi 1:1 tetap menyiratkan kebersamaan dan kerendahhatian. Jika maknanya positif, Paulus sedang berbagi keistimewaan itu dengan Timotius. Jika maknanya negatif, Paulus sedang menempatkan dirinya dan Timotius di posisi bawah. Tema kebersamaan dan kerendahhatian ini sangat selaras dengan penekanan dalam surat ini (2:1-8; 4:10).

 

Penerima (ayat 1b)

Surat ini ditujukan kepada semua orang kudus di Filipi beserta dengan para penilik jemaat dan diaken. Sebutan “orang-orang kudus” sangat berkaitan dengan “jemaat” yang biasa muncul di awal surat-surat Paulus (bdk. 1Kor. 1:2). Tambahan “dalam Kristus Yesus” menyiratkan bahwa kekudusan ini merujuk pada status kudus yang diperoleh berdasarkan karya penebusan Kristus. Bukan hasil usaha mereka. Bukan karena kebaikan mereka sendiri. Ini adalah kekudusan secara posisi. Ini anugerah Allah di dalam Kristus.

Yang menarik dari identitas penerima surat adalah pemunculan dua jabatan gerejawi, yaitu para penilik jemaat dan diaken. Di awal surat-suratnya yang lain, Paulus hanya menujukannya pada seluruh jemaat. Selain itu, tidak ada bagian tertentu di dalam tubuh surat yang secara khusus ditujukan pada para penilik jemaat atau diaken.

Ada beragam spekulasi untuk menjelaskan hal ini. Beberapa penafsir menduga surat dari jemaat Filipi yang dikirimkan kepada Paulus melalui Epafroditus memang mencantumkan nama para penilik jemaat dan diaken. Sebagian lagi mengaitkan hal ini dengan bantuan yang diterima oleh Paulus dari jemaat Filipi. Mereka yang berperan besar dalam pemberian ini adalah para penilik jemaat dan diaken, sehingga wajar jika Paulus menyebutkan dua jabatan ini secara khusus. Ada pula yang memahami dua sebutan ini hanya secara fungsional (aktivitas), bukan jebatan resmi dalam gereja.

Tidak mudah menentukan alasan di balik penyebutan dua jabatan gerejawi ini. Yang paling aman, Paulus sangat mungkin sedang mengajarkan kebersamaan. Dia sangaja menyebutkan dua jabatan ini dan meletakkannya pada posisi yang sama dengan semua orang kudus. Hal ini selaras dengan sebutan “hamba” yang dia kenakan untuk dirinya sendiri maupun Timotius. Dengan kata lain, kebersamaan tidak boleh dihalangi dan dibatasi oleh perbedaan jabatan.

 

Salam (ayat 2)

Seperti sudah sempat disinggung di awal, Paulus memberikan sedikit modifikasi pada bagian salam. Dia mengubah chairein (lit. “salam”) menjadi charis (lit. “kasih karunia”). Dia juga menambahkan kata “damai sejahtera” (eirēnē). Dua kata ini – kasih karunia dan damai sejahtera – sangat berkaitan erat.

Kata “kasih karunia” (charis) menempati posisi sangat penting dalam tulisan Paulus. Surat Filipi diawali dan diakhiri dengan salam yang berisikan kasih karunia (1:2; 4:23). Walaupun aspek terpenting yang berkaitan dengan kasih karunia adalah keselamatan (Rm. 3:23-24; Ef. 2:8-9), tetapi Paulus tampaknya tidak membatasi pada hal itu. Bagi Paulus, segala sesuatu tercakup dalam kasih karunia. Kata “kasih karunia” muncul di 1:7, dan merujuk pada pelayanan pemberitaan Injil dengan segala keadaannya (“Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku, oleh karena kamu semua turut mendapat bagian dalam kasih karunia yang diberikan kepadaku, baik pada waktu aku dipenjarakan, maupun pada waktu aku membela dan meneguhkan Berita Injil”). Bahkan setiap orang Kristen berdiri di atas kasih karunia (Rm. 5:2).

Istilah “damai sejahtera” berakar dari konsep Perjanjian Lama tentang šālôm. Kata ini bukan sekadar berarti “ketidakadaan perang”. Bukan pula keadaan yang tenang-tenang saja tanpa persoalan. Maknanya lebih ke arah keutuhan hidup di dalam Tuhan. Damai sejahtera di dalam Tuhan ini melampaui segala pengetahuan (4:7).

Pemunculan Bapa dan Yesus Kristus sebagai sumber kedamaian (1:2) tidaklah mengherankan, karena Allah adalah Allah yang penuh damai sejahtera (4:9). Kedamaian bukan bersumber dari dan ditentukan oleh keadaan. Damai yang sejati muncul dari relasi dengan Bapa yang sudah diperbarui di dalam Kristus Yesus. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :