Kirmizi: Apakah Itu?

Kirmizi: Apakah Itu?

Alkitab banyak mencatat tentang keberadaan sebuah kata bernama KIRMIZI.  Salah satu kalimat yang terkenal adalah, “Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes. 1:18). Jadi apakah kirmizi itu? Kirmiizi adalah sebuatan untuk jenis warna merah tertentu.

Kata Ibrani untuk ‘kirmizi’ adalah shani; beberapa kali kata shani ini muncul bersamaan dengan kata tola’at, yang secara literal berarti ‘ulat’ (Kel. 25:4; 26:1, 31,36; 27:16; 28:6,8,15,33; Bil 4:8, dll). Kebanyakan gabungan kata Ibrani tola’at shani diterjemahkan dengan ‘kain kirmizi’ sedangkan bahasa Inggrisnya menerjemahkannya dengan ‘scarlet yarn atau crimson‘.  Ada yang mengatakan istilah shani muncul dari keberadaan seekor ulat (coccus ilicis). Biasanya ulat betina meletakkan telur-telurnya di kulit pohon dan ular betina itu menempatkan dirinya di dekat telur-telur tersebut sebagai bentuk perlindungan. Ketika telur-telur tersebut mulai memakan tubuh ulat betina, makan tubuh ulat betina itu mengeluarkan darah yang menetesi dan menodai pohon tersebut. Jika waktunya bagi telur tersebut berubah menjadi seekor kumbang, maka darah yang keluar bisa dipergunakan sebagai pewarna pakaian. Kemungkinan kain yang dipakai untuk pembuatan kemah suci (Tabernakel) ataupun untuk jubah para  imam mempergunakan pewarna tersebut.

Kemah Suci itu haruslah kaubuat dari sepuluh tenda dari lenan halus yang dipintal benangnya dan dari kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi (tola’at shani ); dengan ada kerubnya, buatan ahli tenun, haruslah kaubuat semuanya itu (Kel. 26:1)

Inilah pakaian yang harus dibuat mereka: tutup dada, baju efod, gamis, kemeja yang ada raginya, serban dan ikat pinggang. Demikianlah mereka harus membuat pakaian kudus bagi Harun, abangmu, dan bagi anak-anaknya, supaya ia memegang jabatan imam bagi-Ku. Untuk itu haruslah mereka mengambil emas, kain ungu tua dan kain ungu muda, kain kirmizi (tola’at shani) dan lenan halus (Kel. 28:4-5)

Pewarna dari darah ulat itu seringkali dipakai untuk acara-acara seremonial, utamanya yang berhubungan dengan darah. Ketika pentahiran terhadap orang yang sakit kusta (Ima 14), salah satu alat yang dipergunakan sebagai medianya adalah kain kirmizi (ay. 4,6). Begitu pula yang dilakukan ketika terjadinya upacara penyucian (Bil. 19:6), kain kirmizi termasuk di dalamnya (ay. 6).

Di dunia kuno, benang yang berwarna kirmizi ini biasanya dipergunakan untuk menandai anak kembar yang lahir pertama. Contoh di Alkitab paling jelas tentang hal itu adalah kisah kelahiran Perez dan Zerah (Kej. 38).

Dan ketika ia (Tamar) bersalin, seorang dari anak itu mengeluarkan tangannya, lalu dipegang oleh bidan, diikatnya dengan benang kirmizi (shani) serta berkata: "Inilah yang lebih dahulu keluar." Ketika anak itu menarik tangannya kembali, keluarlah saudaranya laki-laki, dan bidan itu berkata: "Alangkah kuatnya engkau menembus ke luar," maka anak itu dinamai Peres. Sesudah itu keluarlah saudaranya laki-laki yang tangannya telah berikat benang kirmizi (shani) itu, lalu kepadanya diberi nama Zerah (Kej. 38:28-30)

Warna kirmizi ini juga menjadi warna yang melambangkan kekuasaan, kemakmuran dan kemewahan di dunia kuno. Pertama kali pewarna kirmizi ini disebutkan pada abad ke-8 dengan nama Armenian Red dan hal itu tercatat dalam tulisan-tulisan orang Asyur dan Persia. Pewarna tersebut diimpor dari Persia menuju ke Roma. Selama era kekaisaran Roma, warna kirmizi menempati posisi kedua setelah warna ungu sebagai warna yang dipakai oleh para Kaisar. Para tentara Roma menggunakan baju berwarna kirmizi dan orang-orang yang memiliki pangkat yang tinggi merujuk pada sebutan coccinati ‘ people of red’.

Injil Matius mencatat bahwa ketika Yesus ditangkap oleh tentara Pontius Pilatus, mereka  mengenakan baju ungu (LAI) kepada Yesus (27:28). Bahasa Yunani mencatat bukan baju ungu melainkan baju berwarna kirmizi  kokkinos.  Kali ini pemakaian baju berwarna kirmizi bukan untuk menghargai Yesus sebagai raja melainkan justru untuk mengejek Yesus (ay. 29).

Bagikan artikel ini :