Ehud, Si Tangan Kidal

Ehud, Si Tangan Kidal

Ketika mendengar tentang hakim-hakim dalam Alkitab, biasanya nama-nama yang muncul adalah Gideon, Debora atau Simson. Mereka memang beberapa hakim yang muncul di kitab Hakim-hakim dengan narasi yang cukup panjang sehingga mudah untuk diingat oleh pembaca.  Namun sebenarnya ada beberapa hakim lainnya yang menjadi rangkaian kisah dari kitab Hakim-hakim, namun kisah mereka hanya ditampilkan secara singkat sehingga acapkali terlupakan. Salah satunya adalah Ehud (Hakim 3:12-30).

Apakah yang menarik dari singkatnya kisah hakim Ehud? TANGANNYA.  Ada apakah dengan kisah tangan Ehud?

  1. Ehud diperkenalkan dengan latar belakang yang sangat singkat:

Lalu orang Israel berseru kepada TUHAN, maka TUHAN membangkitkan bagi mereka seorang penyelamat yakni Ehud, anak Gera, orang Benyamin, seorang yang kidal (ay. 15)

Ehud adalah anak Gera, orang Benyamin, seorang yang kidal. Siapakah Gera? Tidak dijelaskan siapa itu Gera, hanya saja yang menarik adalah keterangan bahwa Ehud berasal dari suku Benyamin yang dalam bahasa Ibrani berarti ‘son of the right-hand’. Nama Benyamin, si anak tangan kanan, muncul bersamaan dengan keterangan bahwa Ehud justru adalah ‘the left-handed’. Status Ehud yang kidal bukan sekedar pemaparan kondisi fisiknya, tapi hal ini nantinya akan menunjukkan ‘kebaikan’ yang ditimbulkan dari keburukan. Mengapa? Bagi orang yang hidup di dunia Timur Dekat Kuno, tangan kanan melambangkan tangan persahabatan, sedangkan tangan kiri menggambarkan penghinaan. Catatan tentang tangan Ehud berbicara langsung kepada para pembaca bahwa kondisi fisiknya menyampaikan sesuatu yang tidak lazim dan tidak baik untuk orang di era itu.

  1. Peranan tangan bukan hanya berhenti di sana. Ehud juga memiliki tugas untuk mengirimkan upeti kepada Eglon, raja Moab (ay. 15). Bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan tugas ini cukup menarik pula: ‘dengan perantaraan (byada,  tangannya, yaitu tangan Ehud), orang Israel mengirimkan upeti kepada Eglon, raja Moab’. LAI tidak menerjemahkan kata byada, ‘tangannya’ namun langsung menuliskan ‘dengan perantaraannya’.
  2. Cara Ehud mengalahkan musuhnya juga menekankan pentingnya tangan, utamanya peranan tangan kirinya. Dalam ay. 16 dikatakan, ‘dan Ehud membuat pedang yang bermata dua, yang panjangnya hampir sehasta, disandangnyalah itu di bawah pakaiannya, pada pangkal paha kanannya’. Dalam bahasa Ibrani, dijelaskan bahwa ‘Ehud made for himself a sword’ (wayya’as lo ‘ehud khereb). Dengan kata lain, pedang yang dibuat oleh Ehud adalah pedang khusus yang memang hanya cocok untuk kondisi dirinya dan pedang itu diletakkan di pangkal paha kanannya. Kekidalan Ehud juga bermanfaat untuk mengecoh raja Eglon sehingga dia tidak curiga jika Ehud membawa pedang di sebelah kanan (seharusnya di sebelah kiri dengan asumsi tangan yang digunakan adalah tangan kanan).
  3. Pada akhirnya kemenangan bangsa Israel melawan bangsa Moab juga diungkapkan dengan menggunakan kata ‘tangan’. Ketika dikatakan di bagian akhir narasi  bahwa ‘Demikianlah pada hari itu Moab ditundukkan oleh Israel, maka amanlah tanah itu, delapan puluh tahun lamanya’ (3:30), seharusnya kalimatnya tertulis ‘Demikianlah pada hari itu Moab ditundukkan di bawah tangan (yad) Israel’. Terjemahan bahasa Indonesia (LAI) tidak menyertakana kata ‘tangan’.

Dapatlah disimpulkan bahwa penjelasan bahwa seorang hakim Israel yang bernama Ehud, yang diperkenalkan sebagai orang bertangan kidal, bukan sekedar penjelasan tentang kondisi fisiknya. Tangan itulah yang menjadi kunci seluruh kisah Ehud dari sejak awal kemunculannya hingga tindakan heroik yang dia lakukan. Tangan itulah yang berhasil menyelamatkan bangsa Israel dari penindasan yang dilakukan oleh bangsa Moab.

Bagikan artikel ini :