Eksposisi Amos 1:3-5

Eksposisi Amos 1:3-5

Dalam setiap hati manusia ada dorongan keadilan. Kita ingin berteriak ketika keadilan diinjak-injak. Kita bertanya-tanya kapan sang pembuat kezoliman akan mendapatkan penghakiman dan hukuman.

Dorongan semacam ini bukan hanya wajar, tetapi sudah menjadi bagian integral dari hakikat kemanusiaan. Sebagai gambar Allah, manusia mencerminkan Allah. Jika Allah adalah Pribadi yang adil, tidak mengherankan apabila Dia meletakkan benih keadilan ke dalam hati manusia.

Benarkah Allah itu adil? Mengapa kadangkala kita mendapati orang benar dikalahkan oleh orang fasik? Mengapa seringkali kejahatan begitu merajalela dan menjadi begitu biasa?

Teks  hari ini akan menunjukkan bahwa Allah tidak pernah diam ketika orang menginjak-injak keadilan. Dia bertindak. Pasti bertindak.

 

Tujuh ucapan penghukuman

Karena teks hari ini merupakan pendahuluan dari 7 (tujuh) seri ucapan penghukuman terhadap bangsa-bangsa (1:3-2:11), kita sebaiknya lebih dulu melihat 2:3-5 dari perspektif yang lebih luas. Ada banyak pelajaran rohani yang dapat dipetik dari kesamaan pola yang ada di 7 seri ucapan penghukuman tersebut.

Keadilan Allah mencakup seluruh bumi. Salah satu kesamaan kecil yang mungkin mudah terlewatkan adalah jangkauan keadilan ilahi. Allah tidak hanya berurusan dengan umat-Nya. Ucapan penghukuman ditujukan pada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Ada Aram/Siria (Damsyik), Filistin, Tirus, Edom, Amon, dan Moab. Kejahatan mereka juga disebut dengan istilah “pelanggaran” (pesha’). Penggunaan istilah ini cukup menarik, karena menyiratkan bahwa dosa/kejahatan mereka menabrak aturan-aturan ilahi tertentu, yaitu hukum moral yang Allah taruh di dalam hati setiap manusia (Rm. 2:12-14). Tidak heran, keadilan Allah juga mencakup semua orang di segala tempat dan abad.

Keadilan Allah tidak memandang muka. Tidak semua objek penghukuman adalah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Berada di posisi terakhir adalah Israel. Dalam konteks ini, nama “Israel” merujuk pada bangsa Yehuda di wilayah selatan. Walaupun sebagai umat TUHAN, mereka tetap patut mendapatkan hukuman. Hukuman ini lebih ke arah disiplin.

Keadilan Allah bersifat pasti. Pendahuluan di setiap seri ucapan penghukuman disampaikan melalui gaya sastra tertentu, yaitu kenaikan angka (“ada 3, bahkan 4”; bdk. Amsal 6, 30). Makna yang disiratkan adalah ini: jumlah yang pertama sebenarnya sudah cukup, jumlah berikutnya bersifat menegaskan. Dalam konteks Amos 1:3-2:11, 3 dosa saja sebenarnya sudah cukup untuk dihukum. Dosa ke-4 benar-benar menunjukkan betapa kejam dan bebalnya mereka. Dengan kata lain, Allah memiliki alasan yang lebih daripada cukup untuk penghukuman-Nya. Tidak heran, pendahuluan semacam ini diikuti oleh frasa “Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku” (1:3, 6, 9, 11, 13; 2:1, 4).

 

Ucapan penghukuman atas Aram (Damsyik, 1:3-5)

Apa dituliskan di sini tidak mungkin dapat dipahami dengan baik tanpa mengetahui latar belakang historis dan politis dari peristiwa yang dirujuk. Hubungan Aram (yang beribu kota di Damsyik) dengan Israel memang tidak berjalan mulus. Gesekan berkali-kali terjadi. Hal ini memang bisa dipahami karena kedua negara ini bertetangga. Siria ada di sebelah utara Israel.  

Nubuat Amos di sini berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Siria pada zaman Raja Yoahas (2Raj. 13). Raja ini bertindak fasik sehingga menyebabkan seluruh bangsa Israel mengambil tindakan yang sama (13:1-2). Sebagai respon terhadap hal ini, TUHAN mengirim pasukan Siria untuk mengalahkan dan menjajah mereka. Pasukan ini dipimpin oleh Raja Hazael dan Benhadad (13:3).

Melalui peristiwa ini kita belajar bahwa TUHAN bisa memakai siapa saja untuk melaksanakan rencana-Nya. Dia menggunakan Aram untuk mendisiplin umat Israel. Pada akhirnya Dia bahkan mengirim bangsa Asyur untuk menghancurkan Israel. Hal yang sama Dia lakukan atas bangsa Yehuda. Mereka dikalahkan dan dibuang ke Babel. Jadi, sekali lagi, TUHAN tidak menutup mata terhadap dosa. Dia bisa memakai siapa saja untuk melaksanakan penghukuman-Nya.

Jika bangsa Aram memang dikirim oleh TUHAN, mengapa mereka pada akhirnya juga mendapatkan hukuman? Bukankah hukuman itu terlihat tidak adil bagi mereka?

Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah “sama sekali tidak!”. Bangsa Aram dihukum bukan karena mereka melaksanakan rencana TUHAN. Mereka dihukum bukan karena menjajah Israel. Mereka dihukum karena melakukan kekerasan, bahkan sangat berlebihan kepada Israel.

Kejahatan Aram diungkapkan secara figuratif di Amos 1:3: “Oleh karena mereka telah mengirik Gilead dengan eretan pengirik dari besi”. Kota Gilead yang terletak di daerah utara Israel memang berdekatan letaknya dengan wilayah Aram. Tidak heran jika peperangan seringkali terjadi di sana.

Apa yang dilakukan oleh tentara Aram kepada bangsa Israel yang bermukim di Gilead digambarkan seperti pengirikan gandum dengan eretan pengirik besi. Orang-orang kuno pada waktu itu tidak akan mengalami kesulitan untuk menangkap makna yang dimaksud. Alat pengirik berguna untuk mengayak gandum atau biji-bijian yang lain. Alat ini biasanya terdiri dari bahan kayu (untuk di atas) dan besi yang bergigi tajam (untuk di bawah). Bentuknya cukup beragam. Cara penggunaan juga tidak selalu sama. Yang penting dari figurasi ini adalah ketajaman gigi-gigi logam yang digunakan. Begitu tajamnya sampai bisa memisahkan biji dari pembungkusnya.

Tentara Aram jelas tidak menggunakan alat pengirik dalam peperangan. Namun, apa yang mereka lakukan terhadap penduduk Gilead dapat disamakan dengan apa yang dilakukan oleh pengirik pada bijian-bijian itu. Seberapa parahkah kejahatan mereka? Nabi Elia sudah memberikan gambarannya sebelum hal itu terjadi. Di 2 Raja-raja 8:11-12 Elia sampai menangis ketika mendapatkan penglihatan itu. Dia berkata kepada Hazael: “Sebab aku tahu bagaimana malapetaka yang akan kaulakukan kepada orang Israel: kotanya yang berkubu akan kaucampakkan ke dalam api, terunanya akan kaubunuh dengan pedang, bayinya akan kauremukkan dan perempuannya yang mengandung akan kaubelah” (ayat 12b). Pembunuhan terhadap wanita-wanita hamil dan bayi mereka merupakan kebiasaan kuno yang bertujuan untuk melenyapkan seluruh suku/bangsa. Sangat brutal dan sadis. Sama seperti kulit gandum terkelupas oleh pengirik, demikian pula perut para wanita hamil dirobek oleh pedang Aram.

TUHAN sudah menetapkan hukumannya. Bangsa Aram akan mengalami kekalahan telak dalam peperangan. Mereka bukan hanya akan kalah dalah pertempuran, tetapi musuh-musuh mereka akan merangsek terus sampai ke pintu gerbang Damsyik dan istana raja (1:4-5). Pintu gerbang kota sebagai pertahanan terakhir akan dibobol juga. Bahkan istana sebagai simbol kekuatan dan perlindungan akan diluluh-lantakkan oleh api.

Bukan hanya itu, seluruh penduduknya juga akan dibinasakan. Ungkapan “Bikeat-Awen” dan “Bet-Eden” sebaiknya dipahami secara figuratif. Yang pertama berarti “lembah kefasikan”, sedangkan yang kedua berarti “rumah kesenangan”. Dengan kata lain, bangsa Aram yang menyukai kefasikan dan kepuasan hawa nafsu akan dihukum oleh TUHAN. Bukan hanya penduduknya, melainkan para pimpinannya juga (pemegang tongkat kekuasaan).

Yang masih sisa di dalam kota akan dibuang ke Kir. Pembuangan ke Kir ini sangat ironis. Sebelumnya bangsa Aram sudah pernah dibuang ke sana. TUHAN membebaskan mereka dari sana (9:7). Sebagai hukuman TUHAN, mereka kini harus berada di tempat itu lagi.

Ancaman hukuman dari Amos ini akhirnya digenapi oleh TUHAN. Dia memakai bangsa Asyur untuk menggenapi rencana ini (2Raj. 16:9 “Maka raja Asyur mendengarkan permintaannya dan maju melawan Damsyik, merebutnya dan mengangkut penduduknya tertawan ke Kir, tetapi Rezin dibunuhnya”). Bangsa Aram yang kejam diserahkan TUHAN ke dalam tangan bangsa Asyur yang jauh lebih kejam daripada mereka. Berbagai catatan kuno dan artifak menunjukkan betapa kejamnya bangsa Asyur. Kalau ada satu bangsa yang terkenal karena kesadisannya, tempat teratas layak diduduki oleh bangsa Asyur. Mereka bahkan sangat mengagung-agungkan kekejaman tesebut.

Jadi, kembali pada renungan di awal, Allah tidak tinggal diam ketika keadilan diinjak-injak. Dia adalah Allah yang kudus dan adil. Dia tidak berkompromi dengan dosa.

Bukti tertinggi dari keadilan-Nya adalah kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, Melalui penebusan Kristus, Allah menunjukkan kebenaran dan keadilan-Nya (Rm. 3:21-26). Di kayu salib itulah semua sifat Allah – kasih, kekudusan, kekuasaan, keadilan – disatukan.

Semua ini dilakukan supaya kita tidak perlu menanggung hukuman-Nya. Tidak terbayangkan bagaimana jadinya jika Kristus tidak mati menanggung kesalahan kita. Hukuman neraka jauh lebih serius daripada hukuman yang dialami bangsa Aram. Puji Tuhan! Allah sudah menyelesaikannya bagi kita. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :