Siapakah Koresh? (Bagian 2)

Siapakah Koresh? (Bagian 2)

(Lanjutan tgl 24 Februari 2019)

Bagaimana efek pergantian dominansi dari Babel ke Persia bagi bangsa Yehuda yang ada di pembuangan?

Dalam sejarah dunia secara umum dan Israel secara khusus, salah satu peristiwa penting selama pemerintahan Koresh adalah penaklukannya atas Babel. Babel, negara adi daya di dunia saat itu, diambil alih kekuasaannya oleh Koresh. Kondisi ini memiliki 2 signifikansi. Pertama, dengan kekalahan Babel, maka Koresh dari Persia dapat berkuasa atas rute perdagangan di teritori Babel yang memang luas. Kedua, kekalahan Babel oleh Koresh dari Persia memicunya mengeluarkan sebuah piagam, yang terkenal dengan Cyrus Cylinder, yang mencatat tentang bagaimana gambaran kekalahan Babel atas Persia, sekaligus berisi catatan pandangan Koresh tentang hak-hak negara dan bangsa yang berada di bawah kekuasaannya. Koresh menjanjikan kemerdekaan beragama dan ibadah bagi kelompok orang berbeda yang hidup di bawah kekuasaannya. Sekaligus Cyrus Cylinder menganugerahkan ijin kepada orang-orang yang dipindahkan ke Babel sebagai tawanan perang untuk kembali ke tanah air dimana mereka berasal. Salah satu kelompok yang mendapatkan anugerah dari Koresh adalah bangsa Yehuda yang ada di pembuangan di Babel . Beginiah yang terjadi dan diucapkan Koresh:

Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini: "Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang yang tertinggal, di manapun ia ada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah yang ada di Yerusalem." (Ezr 1:1-4)

Namun mengapa Koresh dapat memiliki pemikiran semacam itu?

Koresh berbeda dari raja-raja pada jamannya dalam hal memilih gaya pemerintahannya. Dia mengadopsi toleransi  dan respek pada agama, tradisi dan adat istiadat orang lain sebagai pondasi kebijaksanaan pemerintahannya. Akibatnya, orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya justru menaruh respek dan hormat kepadanya. Hampir seluruh daerah kekuasaannya mengalami keamanan dengan kebijaksanaan yang dijalankannya. Setelah dia menaklukkan Babel, Koresh tidak mendeklarasikan dirinya sebagai Sang Penakluk, melainkan sebagai Pembebas dan Penerus sah dari raja sebelumnya. Koresh tidak memaksa orang-orang untuk mengikuti agamanya, sebaliknya dia melakukan langkah-langkah yang sangat supportif, seperti mengijinkan orang Yehuda kembali ke Yerusalem dan justru membantu mereka merekonstruksi Bait Suci yang ada di Yerusalem. Salah satu kutipan ucapan Koresh yang terkenal hingga sekarang adalah “Whenever you can, act as a liberator. Freedom, dignity, wealth–these three together constitute the greatest happiness of humanity. If you bequeath all three to your people, their love for you will never die.”

Toleransi yang dijalankan Koresh juga mempengaruhi anaknya, Cambyses II. Setelah dia berhasil menaklukkan Mesir, Cambyses juga menghornati dewa-dewa lokal orang Mesir. Darius Agung yang juga merupakan penerus tanta Koresh, mempergunakan agama sebagai alat politik untuk memperkokoh  kuasa kerajaannya. Dia menghormati dewa para petinggi di bawahnya (bdg. Daniel 6:19-21) meskipun dia sendiri menyatakan sebagai pengikut Ahura Mazda (agama Zoroantrisme, orang Persia). Sebuah tulisan di dalam bahasa Elam yang ditemukan di Persepolis menunjukkan bahwa Darius mengijinkan penganut berbagai agama di daerah kekuasaannya untuk menyembah dewa nenek moyang mereka dan dia bahkan memberikan banyak persembahan dari harta kekayaannya. Pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem juga diselesaikan pada tahun ke-6 dari masa pemerintahan Darius (Ezra 6:15). Artahsasta (Artaxerxes), pengganti Darius juga melakukan hal yang serupa. Bukan hanya mengijinkan bahwa pengikut agama lain untuk tetap beribadah menurut keyakinan mereka, tetapi dia juga malah mendorong mereka untuk melakukannya. Bandingkan Ezra 7.

Kebesaran Koresh sangat terkenal. Pada tahun 1992, dia dinobatkan di posisi 87 dari 100 sebagai “the 100: A ranking of the most influential persons in history” (Michael H. Hart)

NK_P

Bagikan artikel ini :