Bagaimana Menyikapi Anak Yang Menyukai Budaya K-Pop? (Bagian 1)

Bagaimana Menyikapi Anak Yang Menyukai Budaya K-Pop? (Bagian 1)

Persoalan di setiap jaman sebenarnya secara esensial sama. Hanya saja, kemasannya berbeda-beda. Apa yang ada sekarang sebenarnya sudah ada sebelumnya. Benarlah yang dikatakan oleh Alkitab: “Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkt. 1:9).

Salah satu tren yang sedang marak sejak beberapa tahun yang lalu adalah budaya K-Pop. Sesuai dengan namanya, istilah “K-Pop” berkaitan dengan musik populer Korea. Beragam elemen musikal dicampurkan ke dalamnya: pop, rock, R & B, musik disko elektronik, dan hip-hop. Namun, ini bukan sekadar tentang musik.

Dewasa ini K-pop sudah menjadi budaya (gaya hidup) di kalangan remaja-pemuda di benua Asia. Mereka disebut K-popers. Ada banyak alasan mengapa mereka menyukai K-pop. Koreografi yang indah dan dinamis. Musik yang bersemangat. Wajah artis yang menawan. Bahkan sebagian Kpopers tidak mengetahui arti lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Mereka hanya hanyut dalam euforia kultur kekinian ini.

Situasi ini telah menimbulkan kekuatiran bagi sebagian orang tua. Kecintaan anak-anak mereka terhadap budaya ini begitu besar. Di mata orang tua, antusiasme ini dipandang berlebihan dan tidak wajar. Sebuah pertanyaan sering muncul di benak pikiran mereka: “Bagaimana menyikapi anak yang menyukai K-pop?”

Banyak hal bisa dan perlu dilakukan. Yang terpenting tentu saja adalah memasuki dunia mereka dengan pikiran terbuka. Terbuka bukan berarti menerima. Terbuka berarti siap melihat dengan perspektif yang lebih objektif (walaupun objektivitas 100% mustahil didapatkan). Tanpa menyelami budaya baru ini, orang tua akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan akses ke dalam diri anak. Anak-anak akan selalu beranggapan bahwa orang tua asal bicara tanpa mengenal dunia mereka.Jadi, suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendalami budaya ini. Jika kita memiliki pengetahuan yang memadai tentang budaya ini, anak-anak lebih mudah mendengarkan masukan kita.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah menyelami pikiran anak. Hal ini sedikit berbeda dengan poin sebelumnya. Kali ini yang disorot adalah cara anak memahami budaya K-pop. Apa yang membuat mereka tertarik? Kebutuhan esensial apa yang mereka merasa dipenuhi melalui K-pop? Ada apa di balik antusiasme yang luar biasa itu?

Pada waktu menelusuri hal ini, orang tua tidak boleh bersikap menghakimi (judgmental). Tahanlah penilaian. Biarkan anak menceritakan apa adanya. Berilah keleluasaan bagi mereka untuk mengeluarkan isi hati dan pikiran mereka. Siapa tahu kesukaan yang berlebihan terhadap K-pop itu justru menolong kita untuk menemukan kekosongan tertentu dalam diri anak. Dari sana kita bisa mencari sebuah pendekatan yang lebih tepat.

Berikutnya orang tua perlu menghargai antusiasme anak-anak. Menghargai tentu saja tidak berarti menyetujui. Menghargai lebih ke arah memahami sesuatu dari perspektif mereka. Jika orang tua menempatkan diri pada usia dan budaya mereka, orang tua mungkin lebih bisa melihat situasi dengan jelas. Bersambung…..

Bagikan artikel ini :