Belajar Penginjilan Dari Yesus (Yohanes 4:3-26)

Belajar Penginjilan Dari Yesus (Yohanes 4:3-26)

Orang-orang Kristen tidak hanya dihidupkan oleh Injil dan dipanggil untuk menghidupi Injil, melainkan juga untuk hidup bagi Injil. Memberitakan Injil adalah salah satu wujud kehidupan yang dipersembahkan bagi Injil. Sayangnya, tidak semua orang Kristen bergairah dalam membagikan Injil.

Banyak dalih dimajukan sebagai pembenaran. Sifat pemalu. Tidak fasih bicara. Tidak tahu caranya. Takut ditolak. Kuatir tidak dapat melaksanakan dengan baik. Dan masih banyak segudang dalih yang lain.

Teks hari ini akan mengajarkan prinsip-prinsip penting dalam pekabaran Injil. Ada dua  bagian besar yang akan kita pelajari: prinsip dan strategi. Prinsip bersifat teoritis (konsep). Strategi bersifat praktis (cara).

 

Prinsip pekabaran Injil

Percakapan antara Yesus dan perempuan Samaria bukan ditulis sebagai buku panduan pekabaran Injil. Ada tujuan teologis lain di balik penulisan kisah ini. Bagaimanapun, beberapa prinsip penting tentang penginjilan tetap dapat ditarik dari cerita yang terkenal ini.

Yang terutama, penginjilan merupakan keharusan. Pemunculan kata “harus” (edei) di ayat 4 cukup mengagetkan. Secara geografis, perjalanan dari Yudea ke Galilea (4:3) tidak harus melewati daerah Samaria. Banyak orang Yahudi justru memilih jalan lain yang agak memutar supaya mereka tidak usah melintasi Samaria.

Kita sebaiknya memahami keharusan ini sebagai keharusan ilahi. Maksudnya, ada rencana Allah yang memang harus digenapi melalui Yesus Kristus. Penafsiran seperti ini juga mendapat dukungan dari konteks. Di ayat 34 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa melakukan kehendak Bapa adalah makanan-Nya. Sesuatu yang harus ada, bukan pilihan. Lalu Dia menerangkan lebih lanjut bahwa kehendak itu berkaitan dengan penuaian jiwa-jiwa yang terhilang (4:35-38).

Yang lebih menarik, keharusan ilahi ini (4:4) muncul sesudah kesuksesan pelayanan Yesus Kristus di Yudea (3:28; 4:1-2). Pelayanan publik di depan banyak orang tidak meniadakan pelayanan pribadi pada seseorang. Yesus bukan hanya secara sengaja menghindari sorotan dari golongan Farisi (4:1; bdk. 1:19-25). Dia juga secara sengaja mendatangi perempuan Samaria.

Berikutnya, penginjilan membutuhkan kepekaan kultural dan personal. Tidak sukar untuk menemukan bahwa percakapan dengan perempuan Samaria (4:3-26) sangat berbeda dengan percakapan dengan Nikodemus (3:1-21). Yang satu perempuan, yang satu laki-laki. Yang satu di siang hari, yang lain di malam hari. Yang satu kepada orang yang tidak terpandang, yang satu kepada pemimpin agama Yahudi. Yang satu orang Samaria, yang satu orang Yahudi. Tidak heran, strategi penginjilan yang dilakukan pun berlainan.

Dalam dunia teologi, strategi seperti ini disebut kontekstualisasi, yaitu bagaimana membagikan Injil dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya dan situasi pendengar. Berita Injil sendiri tidak diubah. Hanya kemasan dan strategi pemberitaan yang disesuaikan. Injil tetap satu dan untuk semua orang. Namun, penyampaiannya harus dilakukan secara bijaksana sesuai keadaan seseorang.

 

Strategi pekabaran Injil

Alkitab memberikan beberapa contoh pekabaran Injil. Masing-masing mengajarkan tentang strategi penginjilan yang berbeda-beda. Hari ini kita hanya akan berfokus pada teks kita saja. Ada beberapa strategi penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, kita harus mau melewati batasan-batasan sosial dan kultural (ayat 6-9). Pembacaan yang teliti akan menunjukkan bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus dalam cerita ini sebenarnya tidak lazim. Seorang Yahudi tidak akan mau bercakap-cakap dengan orang Samaria, apalagi meminta air dari dia (4:7, 9). Menurut budaya Yahudi pada waktu itu, menggunakan alat yang sama dengan yang digunakan oleh orang Samaria (timba) akan menjadikan seorang Yahudi najis. Sebagai seorang rabi (bdk. 3:10), Yesus juga tidak akan mau berbinncang-bincang dengan seorang perempuan, apalagi yang bukan dari antara orang Yahudi. Bahkan murid-murid-Nya sendiri merasa heran ketika mereka melihat Yesus bercakap-cakap dengan seorang perempuan (4:27).

Secara umum bangsa Yahudi memang tidak bergaul dengan bangsa Samaria. Akar historis permusuhan ini sudah lama ada. Bangsa Yahudi dari kerajaan Yehudi di selatan, sedangkan Samaria dari kerajaan Israel di utara. Berkali-kali dua bangsa ini saling berperang. Pada waktu dikalahkan oleh bangsa Asyur, kerajaan Israel disebar ke berbagai tempat kekuasaan Asyur, sementara bangsa-bangsa lain ditempatkan di wilayah utara. Tidak terelakkan, perkawinan campur terjadi antar bangsa-bangsa tersebut. Itulah sebabnya orang-orang Samaria dipandang rendah oleh bangsa Yahudi. Ditambah dengan beberapa kali pertikaian yang terjadi beberapa abad sesudah kelahiran Yesus Kristus, pertikaian ini menjadi semakin kuat. Perbedaan teologis di antara mereka (jumlah kitab suci, pusat ibadah, dsb) juga mempertebal kebencian masing-masing.

Kedua, kita harus memanfaatkan situasi konkrit untuk menarik perhatian orang lain pada Injil (ayat 10-15). Pembicaraan tentang air hidup di dekat sebuah sumur merupakan strategi yang jitu. Sangat relevan. Di tengah terik matahari siang dan iklim Palestina yang sangat panas, siapa yang tidak memahami betapa pentingnya air? Semua orang membutuhkan air. Dengan demikian keberadaan sumur (atau sungai) juga menjadi satu elemen kehidupan yang terpenting. Yesus memulai pekabaran Injil dari sana. Dari sesuatu yang sama-sama diketahui. Dari sesuatu yang sama-sama dibutuhkan dan dipentingkan.

Yesus Kristus tidak hanya menyinggung tentang air sumur. Dia memahami betapa pentingnya sumur ini bagi bangsa Samaria. Sumur Yakub lebih dari sekadar sumber air. Sumur ini adalah sumber kebanggaan. Mereka adalah keturunan Yakub (Israel), terlepas dari bagaimana bangsa Yahudi memahami mereka. Tidak heran, perempuan ini langsung membandingkan Yesus dengan Yakub (4:11-12). Jadi, sumur ini memiliki nilai penting yang ganda bagi perempuan Samaria.

Di tengah situasi seperti inilah Yesus mencoba untuk menarik perhatiannya. Dia menjanjikan air walaupun Dia tidak membawa timba (4:11). Bagaimana Dia bisa memberikan air sedangkan Dia sendiri tidak membawa timba dan bahkan baru saja meminta air dari perempuan itu? Air yang Dia janjikan juga jauh lebih menarik daripada air sumur Yakub (4:13-14). Apakah Dia benar-benar lebih besar daripada Yakub?

Ketiga, kita perlu mengungkapkan keberdosaan seseorang secara tepat (ayat 16-19). Momen menimba air mungkin menjadi momen yang paling menyiksa bagi perempuan ini. Dia tidak bergabung dengan perempuan-perempuan lain yang biasa ke sumur pada waktu sore hari. Dia memilih terkena sinar matahari yang terik daripada berkumpul bersama perempuan-perempuan lain. Dia sadar siapa dirinya. Dia tahu bahwa masyarakat sukar untuk menerima dia apa adanya. Itulah sebabnya dia begitu tertarik dengan tawaran Yesus tentang air hidup. Dia tidak perlu lagi pergi ke sumur Yakub (4:15). Momen kesendirian, ketertolakan, dan kepanasan setiap kali mengambil air dari sumur akan segera berlalu.

Perempuan ini tidak menyadari bahwa kasih karunia Allah yang besar dan indah akan terlihat lebih kentara pada saat seseorang menyadari kehinaan dirinya. Mereka yang tidak memahami keindahan kasih karunia tidak akan menginginkannya (4:10). Mereka yang tidak menyadari keberdosaannya tidak akan memahami kasih karunia Allah. Semakin besar pemahaman dan kesadaran kita terhadap keberdosaan diri kita semakin besar pula pemahaman dan kesadaran kita terhadap kasih karunia Allah yang menutupi dosa tersebut.

Itulah sebabnya, Yesus sengaja menunjukkan keberdosaannya. Dia mengungkapkan ini dengan cara yang ajaib, persuasif, dan lembut. Sama seperti Dia mengenal Natanael (1:47-51) dan hati semua orang (3:23-25), demikian pula Dia mengenal perempuan ini. Namun, Dia tidak langsung menanyai perempuan ini tentang suaminya atau langsung menegur perempuan itu. Dia meminta perempuan ini untuk memanggil suaminya. Permintaan ini jelas sangat mengagetkan.

Tatkala perempuan ini mengatakan bahwa dia tidak mempunyai suami, Yesus mengapresiasi jawaban itu. Dua kali Yesus menimpali: “Tepat katamu” (4:17) dan “engkau berkata benar” (4:18). Namun, justru di balik “kebenaran” inilah terkuak kehidupan yang tidak benar. Perempuan ini tinggal serumah dengan laki-laki yang bukan suaminya. Dia juga sebelumnya sudah memiliki lima suami. Kemungkinan besar dia berkali-kali mengalami kawin-cerai.

Keempat, kita sebaiknya menghindari perbedaan yang tidak esensial (ayat 20-24). Sesudah mengakui Yesus sebagai seorang nabi gara-gara bisa mengetahui kehidupan pribadinya, perempuan Samaria itu langsung menggeser topik ke arah pusat ibadah (4:20). Tidak terlalu jelas apakah dia sengaja menghindari dari perbincangan tentang suaminya ataukah dia memang secara tulus ingin menyakan  isu teologis ini kepada Yesus sebagai seorang nabi. Apapun alasannya, topik ini merupakan isu yang sangat sensitif. Pertikaian tentang pusat ibadah sudah berlangsung berabad-abad. Pada saat bangsa Yehuda hendak membangun kembali Yerusalem dan bait Allah, mereka menolak bantuan dari bangsa Samaria. Bangsa Yahudi bahkan pernah menghancurkan pusat ibadah bangsa Samaria di Gunung Gerizim.

Yesus Kristus memilih untuk tidak terjebak pada persoalan ini. Yang paling penting dalam ibadah bukanlah tempat, melainkan cara. Bapa menghendaki penyembah-penyembah di dalam roh dan kebenaran (4:23-24). Artinya, ibadah tidak dibatasi oleh tempat tertentu, karena Yesus Kristus adalah bait Allah yang sejati (1:14 “diam” = lit. “bertabernakel”; 2:20-22). Dia adalah kebenaran yang sejati (14:6).

Kelima, kita menyatakan Injil dengan jelas (ayat 25-26). Perkataan Yesus tentang penyembahan dalam roh dan kebenaran mungkin masih membingungkan bagi perempuan Samaria. Karena itu dia segera menimpali dengan pengharapan tentang Mesias versi Samaria. Bangsa Samaria memang menantikan kedatangan Taheb yang bertugas mengajarkan kehendak Allah kepada mereka (4:25; bdk. Ul. 18:15-18). Mungkin Pribadi inilah yang akan membuat segala sesuatu menjadi jelas.

Sebagai respons, Yesus langsung menyatakan diri-Nya sebagai Mesias (4:26). Perempuan itu tidak perlu menunggu lebih lama. Yesus adalah satu-satunya yang pernah melihat Bapa dan satu-satunya yang menyatakan Bapa kepada manusia (1:18), sehingga siapa saja yang melihat Yesus berarti sudah melihat Bapa (14:8-9). Dia adalah tetapi sekaligus lebih besar daripada Taheb yang dinanti-nantikan oleh bangsa Samaria. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :