Eksposisi 1 Korintus 16:12

Eksposisi 1 Korintus 16:12

Setiap kita pasti pernah berselisih. Paling tidak, kita pernah diposisikan dalam situasi seperti itu. Walaupun bukan kita yang memusuhi, pasti ada orang lain yang dengan sukarela menjadikan dirinya sebagai musuh kita. Kita direndahkan. Kita dibandingkan dengan orang lain.

Di tengah situasi seperti ini kita seringkali gagal menjadi pembawa damai. Perkataan kita tidak menyejukkan, malah memanaskan. Kata-kata yang tidak perlu atau tidak bijaksana seringkali keluar dari mulut kita.

Teks kita hari ini akan mengajarkan bagaimana kita sepatutnya menyikapi situasi di atas. Paulus diposisikan oleh sebagian jemaat Korintus sebagai saingan Apolos. Dia sendiri tidak terlalu diterima oleh beberapa jemaat. Yang menarik, tatkala dia harus berbicara tentang Apolos, dia memilih setiap kata dengan bijaksana dan seperlunya.

 

Konteks pembicaraan

Banyak penafsir memandang 16:12-24 sebagai penutup surat. Anggapan ini tidak berlebihan. Kata “tentang” (LAI:TB, peri de, lit. “Sekarang tentang”) memang seringkali digunakan dalam surat ini untuk menandai sebuah topik yang baru: tentang perkawinan (7:1), gadis-gadis (7:25), makanan berhala (8:1), karunia roh (12:1), dan pengumpulan uang (16:1). Lagipula 16:12-24 juga menunjukkan beberapa karakteristik umum dari sebuah penutup surat: keragaman topik, ulasan pendek untuk tiap topik, keterkaitan antar topik tidak terlalu ketat dan kentara, dan salam penutup.  

Yang menarik dari penutup surat ini adalah pemunculan nama Apolos. Ada banyak nama lain yang disinggung di 16:12-24, namun perhatian khusus diberikan kepada Apolos. Namanya muncul paling depan. Bahkan namanya mungkin sengaja dipisahkan dari nama-nama lain (16:15-24) dengan cara menyisipkan nasihat di 16:13-14.

Penyebutan nama Apolos di surat ini bisa saja menjadi isu yang sensitif. Di awal khotbah berseri ini kita sudah belajar bahwa jemaat Korintus mengalami perpecahan (pasal 1-3). Ada yang menempatkan diri sebagai pendukung Paulus, Apolos, atau Kefas (1:12). Paulus mengetahui bahwa sebagian jemaat berusaha membanding-bandingkan dirinya dengan Apolos (3:1-9). Tentu saja ada pro dan kontra dalam hal ini. Yang jelas, tidak semua jemaat menyukai Paulus. Beberapa bahkan berani menghakimi dia (4:1-5).

Apakah pembicaraan tentang Apolos di 16:12 merupakan respons Paulus terhadap pertanyaan yang dikirimkan oleh jemaat Korintus atau sebuah topik yang sengaja disinggung oleh Paulus secara bebas di akhir suratnya? Kita tidak bisa memastikan. Teks tidak menyediakan petunjuk yang cukup. Namun, banyak penafsir cenderung pada dugaan pertama. Sebagian jemaat Korintus mungkin mempertanyakan hal ini. Tidak tertutup kemungkinan pula ada yang berpikiran negatif terhadap Paulus. Dia mungkin dituduh sebagai alasan mengapa Apolos tidak mengunjungi jemaat Korintus lagi. Jika dugaan ini benar, ayat 12 bisa dianggap sebagai penjelasan (atau pembelaan) Paulus terhadap pertanyaan (atau tuduhan) tersebut.

 

Jawaban yang bijaksana

Situasi seperti ini jelas tidak mudah bagi Paulus. Isu yang dibahas sangat sensitif. Jawaban apapun berpotensi untuk disalahpahami. Salah menjawab sedikit saja bisa memperkeruh keadaan. Puji Tuhan! Dalam anugerah Allah melalui pengilhaman Roh Kudus, Paulus mampu memberikan respons yang luar biasa.

Sikap yang sama perlu kita tunjukkan pada saat kita berada di tengah perselisihan atau harus menyinggung orang lain yang dianggap menjadi saingan kita. Nah, apa saja yang perlu kita lakukan dalam situasi seperti ini?

Pertama, menganggap orang lain sebagai saudara. Paulus tidak hanya menyebutkan nama Apolos. Dia menambahkan kata “saudara” (adelphos). Dalam konteks Alkitab dan gereja mula-mula, sebutan “saudara” menyiratkan makna teologis. Bukan sekadar sapaan biasa. Semua orang Kristen adalah anak-anak Allah di dalam Kristus (Yoh. 1:12-13), karena itu semua merupakan saudara dengan Kristus sebagai saudara sulung (Rm. 8:29; Ibr. 1:6).  

Sayangnya, sebutan “saudara” menjadi semakin terbiasa bagi banyak orang Kristen. Saking terbiasanya, sebutan ini semakin kehilangan maknanya. Relasi teologis ini acap kali dilupakan atau diabaikan jika terjadi perselisihan di antara orang-orang Kristen. Perbedaan di permukaan lebih dikedepankan daripada kesamaan di dalam Kristus.

Kedua, mendukung orang lain. Paulus menjelaskan bahwa dia telah berulang kali mendesak Apolos untuk mengunjungi jemaat Korintus lagi. Kata “berulang kali” (polla) bisa mengandung makna kuantitatif (berkali-kali) atau kualitatif (dengan  kesungguhan yang besar). Mayoritas versi Inggris memilih makna kedua (RSV/NRSV/NIV/ESV “strongly”; ASV “much”; KJV “greatly”). Arti manapun yang diambil, kita dapat menyimpulkan bahwa Paulus tidak sekadar menasihati atau mendorong Apolos untuk datang ke Korintus, tetapi dia mendesak dia dengan sangat untuk mengunjungi jemaat Korintus.

Sikap ini patut dihargai. Kedatangan Apolos bisa saja membawa angin segar bagi sebagian jemaat yang tidak menyukai Paulus. Walaupun Apolos pasti akan menentang sikap seperti ini, tetapi kemungkinan ke arah sana tetap terbuka. Para pengagum Apolos dan pembenci Paulus tidak akan segan-segan untuk memanfaatkan kesempatan ini.

Bagaimanapun, Paulus tampaknya tidak kuatir sama sekali. Dia tetap mendesak Apolos untuk pergi ke Korintus. Mengapa dia tidak kuatir? Kita tidak tahu secara pasti. Di mungkin sangat percaya bahwa Apolos mampu bertindak dengan benar dan bijaksana pada saat berada di tengah jemaat Korintus. Dia mungkin yakin bahwa pandangan teologisnya tentang perselisihan di pasal 1-3 sama dengan yang dipegang oleh Apolos.        

Ketiga, memperlakukan semua orang secara sama. Yang didesak oleh Paulus untuk mengunjungi jemaat Korintus bukan hanya Apolos. Dia menambahkan “bersama-sama dengan saudara-saudara lain” (meta tōn adelphōn). Artinya, siapa saja yang mungkin bisa mengunjungi dan memberkati jemaat Korintus didorong untuk datang ke sana. Buktinya, dia mengutus Timotius (16:10-11). Dia juga bergembira atas kedatangan dan pelayanan Stefanus, Fortunatus, dan Akhaikus di Korintus (16:17-18).

Sikap ini sangat mungkin dimaksudkan untuk mengurangi polarisasi ke arah Paulus dan Apolos. Masih banyak pelayan Tuhan lain yang bisa memberkati jemaat. Tidak ada Paulus maupun Apolos seharusnya tidak terlalu masalah. Jemaat tidak boleh terpaku pada orang-orang tertentu saja.

Keempat, mengungkapkan orang lain seperlunya. Penjelasan Paulus tentang ketidakdatangan Apolos ke Korintus terkesan tidak terlalu jelas. Frasa “tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang” mengandung penafsiran dari penerjemah LAI:TB. Dalam teks Yunani, tidak ada petunjuk jelas tentang kehendak siapa yang sedang dimaksud orang Paulus. Secara hurufiah frasa ini berbunyi: “tetapi ini sama sekali bukan kehendak untuk datang sekarang”.

Sebagian penafsir memikirkan kehendak Allah di bagian ini, sedangkan yang lain memahaminya sebagai kehendak Apolos. Opsi pertama didukung oleh bentuk mutlak “kehendak” (tidak diberi penjelasan apapun tentang pemilik kehendak ini), sehingga diasumsikan pemiliknya adalah Allah. Opsi ini juga selaras dengan pernyataan Paulus sebelumnya tentang rencananya (bdk. 16:7b “jika diperkenan Tuhan”). Allah adalah penentu atas rencana manusia. Jika ini benar, ayat 12 merupakan ajakan Paulus kepada jemaat di Korintus untuk berserah pada kehendak Allah.   

Opsi kedua didukung oleh bagian akhir dari ayat 12 “Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang”. Secara hurufiah bagian ini berbunyi: “Dia akan datang jika dia memiliki kesempatan”. Bagian ini lebih jelas merujuk pada kehendak Apolos. Opsi ini juga yang dipilih oleh hampir semua penerjemah.

Sulit menentukan opsi mana yang lebih tepat. Apakah ketidakjelasan ini memang disengaja oleh Paulus? Mungkinkah ini sebagai strategi Paulus untuk tidak melampaui apa yang seharusnya dia katakan?

Paulus juga tidak menerangkan alasan Apolos tidak dapat datang sekarang. Dia mungkin mendengar langsung dari Apolos, tetapi dia tidak merasa perlu untuk mengungkapkan hal itu kepada jemaat Korintus. Apolos mungkin kecewa kepada jemaat Korintus yang sudah menggunakan namanya dalam perselisihan. Dia mungkin tidak mau datang selama perselisihan masih terjadi. Dia mungkin masih memiliki pelayanan di tempat lain yang lebih mendesak. Apapun alasannya, Paulus memilih untuk tidak mengungkapkan hal itu. Dia tidak mau melampaui apa yang seharusnya dia katakan.

Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, terutama dalam situasi perselisihan. Kita kadangkala mengucapkan hal-hal tertentu atau menungkapkan informasi tertentu yang tidak perlu, bahkan berpotensi memperburuk keadaan. Apa yang keluar dari mulut kita harus benar, tetapi apa yang benar tidak harus keluar dari mulut kita.

Apa yang biasanya kita lakukan pada saat berada dalam perselisihan atau persaingan? Sudahkah kita menyikapi situasi tersebut secara bijak? Apakah perkataan kita sudah menyejukkan suasana? Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :