Hidup Yang Berpusat Pada Injil (Galatia 2:19-20)

Hidup Yang Berpusat Pada Injil (Galatia 2:19-20)

Hidup yang berpusat pada Injil. Kalimat ini begitu mudah untuk diucapkan dan diajarkan. Sayangnya, tidak banyak orang Kristen yang benar-benar menghidupinya. Bagi mereka, Injil hanyalah jaket keselamatan yang bisa dilepaskan begitu mereka sudah berada dalam keadaan aman.

Benarkah orang-orang Kristen hanya membutuhkan Injil di fase awal kerohanian mereka? Benarkah Injil terlalu sederhana bagi orang Kristen yang sudah dewasa? Melalui teks hari ini, kita akan melihat bahwa Injil bukan hanya aksesoris dalam kehidupan, melainkan motor yang menggerakkan setiap aspek kehidupan.

 

Gaya hidup yang bertabrakan dengan Injil

Apa yang ditulis oleh Paulus di 2:19-20 tidak boleh dipahami lepas dari konteksnya. Paulus tidak sedang mengajarkan Injil sebagai sebuah konsep abstrak yang berdiri sendiri dan terpisah dari kenyataan. Sebaliknya, teks hari ini merupakan respons terhadap situasi yang konkrit di tengah-tengah jemaat. Ada gaya hidup tertentu yang tidak sejalan dengan Injil Yesus Kristus.

Kemunafikan adalah salah satunya (2:11-14). Seorang yang munafik adalah seorang yang bertindak tidak selaras dengan apa yang dia yakini sebagai kebenaran. Kata kunci yang mewakili sikap ini adalah “tidak selaras” dan “tidak konsisten”.  Salah satu motivasi paling dominan di baliknya adalah keinginan yang tidak benar dan tidak wajar untuk diterima oleh dan menyenangkan orang lain.

Ini merupakan kesalahan yang serius. Dalam beberapa riset di Amerika diungkapkan bahwa “munafik” merupakan pandangan populer terhadap orang-orang Kristen. Para pemimpin rohani pun tidak bebas dari kesalahan ini. Di ayat 11-14 kita melihat Petrus (Kefas) dan Barnabas jatuh ke dalam godaan ini. Kehadiran rombongan Yahudi-Kristen dari Yerusalem yang masih ketat memegang adat-istiadat Yahudi telah memberikan tekanan yang begitu besar bagi keduanya.      

Gaya hidup lain yang perlu diwaspadai adalah legalisme (2:16). Agama dilihat sebagai kumpulan aturan spiritual bagi kehidupan yang bermoral. Yang ditekankan adalah ketaatan pada deretan peraturan relijius yang begitu banyak dan detil. Semakin taat berarti semakin saleh. Ketaatan menentukan seberapa besar kasih Allah kepada orang tersebut. Ini adalah keagamaan yang legalistik.

Legalisme relijius seperti inilah yang sedang dikritik oleh Paulus di Surat Galatia. Ada orang-orang tertentu yang mengajarkan bahwa sunat dan ketaatan pada Hukum Taurat merupakan syarat keselamatan. Iman kepada Yesus Kristus tidaklah cukup.

Pandangan semacam ini jelas berbahaya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Mereka yang menganut legalisme akan merasa diri aman dari hukuman Allah. Mereka menganggap diri lebih baik daripada banyak orang, padahal kebaikan manusia tidak pernah memadai di hadapan Allah yang kebaikan dan kesucian-Nya sempurna. Tidak ada seorang pun yang mampu menaati seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan dari Allah. Bahkan kita semua bersalah dalam banyak hal.

Kebalikan dari legalisme relijius adalah gaya hidup antinomian (2:17-18). Istilah ini berasal dari dua kata Yunani: anti (melawan/kebalikan) dan nomos (hukum). Antinomianisme mengajarkan bahwa orang-orang Kristen sudah dibebaskan dari tuntutan Hukum Taurat dan menikmati kebebasan penuh di dalam Kristus. Mereka boleh melakukan apapun, dan itu tidak akan membahayakan keselamatan mereka.

Paham seperti ini seringkali dijadikan fitnahan terhadap Paulus. Penekanannya pada konsep anugerah telah disalahpahami oleh sebagian orang sebagai dorongan untuk kehidupan yang sembarangan di dalam dosa. Dosa yang dia lakukan cenderung dikaitkan oleh orang lain dengan ajarannya tentang anugerah. Pendeknya, anugerah dilihat sebagai musuh yang membahayakan kekudusan. 

 

Gaya hidup yang berpusat pada Injil (ayat 19-20)

Di tengah kesalahan dan kesalahpahaman di atas, Paulus berusaha untuk menjelaskan peranan sentral Injil Yesus Kristus bagi setiap orang Kristen. Keterangan ini sekaligus berfungsi sebagai bantahan terhadap para pemfitnah dan kritikan terhadap para pengajar sesat Yahudi yang legalistik. Perbuatan baik memang tidak mungkin menyelamatkan, namun orang yang sudah diselamatkan tidak mungkin mengabaikan perbuatan baik.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimanakah gaya hidup yang berpusat pada Injil Yesus Kristus?

Pertama, hidup yang diperuntukkan bagi Allah (ayat 19). Ada kesamaan ajaran antara Paulus dan pemimpin Yahudi yang legalistik: keduanya sama-sama meyakini bahwa hidup adalah untuk Allah. Paulus tidak menampik pandangan ini. Ia bahkan menegaskan bahwa tujuan dari kematiannya oleh dan untuk Taurat adalah “supaya aku hidup untuk Allah”.

Perbedaan di antara keduanya terletak pada peranan Hukum Taurat dalam memberikan kehidupan bagi Allah. Golongan legalistik Yahudi meyakini bahwa kehidupan kekal bisa diperoleh melalui ketaatan kepada Taurat. Paulus berpikiran sebaliknya. Melalui Hukum Taurat dia justru mengalami kematian (ayat 19a lit. “sebab melalui Hukum Taurat aku telah mati untuk Taurat”). Artinya, dia tidak lagi hidup di bawah tuntutan Hukum Taurat yang justru meletakkan dia di bawah murka Allah. Kini dia tidak lagi berupaya memenuhi tuntutan-tuntutan Taurat tersebut supaya dia bisa hidup bagi Allah (NLT “For when I tried to keep the law, it condemned me. So I died to the law -- I stopped trying to meet all its requirements -- so that I might live for God”).

Jadi, apa artinya hidup bagi Allah di sini? Hidup bagi Allah ternyata bukan tentang melakukan praktek-praktek kesalehan untuk membuat Allah terkesan dengan kebaikan kita, melainkan mengakui dan mensyukuri kebaikan-kebaikan Allah bagi kita. Tanpa didorong oleh kesadaran dan pengakuan terhadap kebaikan Allah bagi kita, semua kebaikan yang kita lakukan bagi Dia justru melukai hati-Nya. Kita tidak hidup bagi Dia, tidak peduli seberapa besar usaha kita untuk menyenangkan Dia. Hanya kebaikan yang responsif terhadap kebaikan Allah yang benar-benar merupakan kebaikan di mata Allah.

Kedua, hidup yang dikuasai oleh Kristus (ayat 19b-20). Para ahli ALkitab berbeda pendapat tentang posisi frasa “Aku telah disalibkan dengan Kristus”. Beberapa meletakkannya di akhir ayat 19 (NRSV/ESV), yang lain di awal ayat 20 (KJV/ASV/NASB/NIV). Naskah asli maupun salinan kuno memang tidak menggunakan penomeran pasal atau ayat.

Di antara dua pilihan ini, yang terakhir tampaknya lebih tepat. Jika ini diambil, maka ada kesejajaran antara ayat 19a dan ayat 19a-20a: mati untuk Taurat supaya hidup bagi Allah dikontraskan dengan mati bersama Kristus dan hidup bagi Dia. Kesejajaran ini sekaligus menyiratkan keterkaitan: hidup bagi Allah di poin sebelumnya tidak boleh dipisahkan dari kebersamaan kita dalam kematian Kristus.

Frasa “telah disalibkan dengan Kristus” perlu dipahami dengan tepat. Beberapa orang hanya melihat ini sebagai sebuah ungkapan teologis yang abstrak. Yang lain mencoba melakukan perbuatan tertentu sebagai bukti bahwa mereka disalibkan bersama dengan Kristus (misalnya: menderita bagi Dia atau bahkan menyalibkan diri mereka secara hurufiah). Ini semua keliru. Yang dimaksud oleh Paulus di sini adalah ini: walaupun yang disalibkan di Golgota adalah Kristus, tetapi Allah memperhitungkan hal itu pada kita. Kristus menjalani kehidupan yang benar secara sempurna, sehingga kegagalan kita dalam menaati seluruh perintah Allah telah dihisapkan ke dalam Dia. Kristus juga mati di atas kayu salib untuk menanggung hukuman akibat kegagalan kita, sehingga kita tidak perlu lagi dihukum karena kegagalan tersebut. Jadi, “disalibkan bersama Kristus” bukan tentang apa yang kita perbuat, melainkan apa yang Kristus perbuat bagi kita.

Apakah ini berarti bahwa kita boleh berbuat dosa semaunya? Tentu saja tidak! Kristus bukan hanya menghidupkan kita, tetapi juga terus-menerus hidup di dalam kita. Dia yang mengontrol dan mengarahkan hidup kita.

Kontrol Kristus dalam kehidupan kita tidak meniadakan kebebasan kita. Berkali-kali Paulus berkata di ayat ini: “aku hidup”. Kita tidak pasif. Kita bukan boneka. Keselamatan di dalam Kristus bukan perbudakan baru bagi kita. Di dalam Kristus kita justru menikmati kebebasan yang penuh (Yoh. 8:36 “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka”).

Kunci untuk memahami poin di atas terletak pada bagian akhir ayat 20: “hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”. Dalam teks Yunani, kata “dalam iman” (en pistei) di letakkan di awal 20b untuk penekanan. Kehidupan yang dikontrol oleh Kristus didasarkan pada iman kepada-Nya, bukan prestasi, pencapaian, maupun upaya-upaya kesalehan manusia. Kesalehan hanyalah ekspresi dari iman.

Bagaimanapun, ini bukan iman yang sembarangan. Bukan Kristus yang sembarangan. Objek iman yang benar adalah Kristus yang mengasihi dan berkurban bagi kita (ayat 20b; lihat juga Ef. 5:2, 25). Bukan sekadar Kristus yang membuat mujizat atau mencurahkan berkat. Tanpa iman yang benar, semua kesalehan justru membahayakan. Kita merasa diri sudah cukup baik tanpa Kristus. Tanpa iman yang benar, kesalehan tidak lebih daripada sekadar kesalahan. Karya penebusan Kristuslah yang seharusnya menjadi dorongan satu-satunya di balik kesalehan kita. Seluruh aktivitas kehidupan kita diletakkan pada satu poros: kasih Kristus kepada kita. Dengan terus-menerus mengingat karya penebusan Kristus dan membiarkan kasih ilahi itu menguasai pikiran, perasaan, dan kehendak kita, kita telah dikontrol oleh Kristus.

Bagaimana dengan Anda selama ini? Apakah imanmu yang benar sudah menghasilkan kehidupan yang benar? Atau sudahkah kehidupanmu yang benar diletakkan pada iman yang benar? Kiranya kasih Kristus yang tiada taranya terus-menerus mengontrol dan mengarahkan seluruh kehidupan kita pada kemuliaan Bapa oleh kekuatan Roh Kudus. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :