Apakah yang dimaksud dengan "Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku. Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi"

Apakah yang dimaksud dengan

Ungkapan ini muncul di Kidung Agung 1:13-14 dan merupakan bentuk pujian balasan  mempelai wanita kepada kekasihnya. Sebelumnya, yaitu di ay. 9-11, mempelai pria lebih dahulu memuji kekasihnya,

Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku. Moleklah pipimu di tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung-kalung.

Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.

Pujian mempelai pria menggambarkan stuasi yang berjauhan dengan kekasihnya (lih. ay. 7-8), sebaliknya pujian mempelai wanita mengandung kata-kata yang menyiratkan kedekatan dan keintiman yang luar biasa di antara mereka.

 

Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip di antara buah dadaku

Penggambaran kekasih pria seperti ‘sebungkus mur yang terselip di buah dada’ diambil dari kebiasaan wanita Timur Dekat Kuno sana yang terbiasa mengalungkan sebungkus kecil mur (sejenis parfum pada era itu) di lehernya sepanjang tidur malam dengan tujuan agar baunya terus melekat di tubuh wanita tersebut sepanjang keesokan harinya. Dan bagi orang pada era itu, peletakan sebungkus parfum di antara buah dada merupakan sesuatu yang umum sampai pergantian pengunaan parfum yang dikenakan ke seluruh tubuh.

Istilah ‘mur’ beberapa kali muncul di Kidung Agung (3:6; 4:6,14; 5;1,5,13). Di bagian lain, mur memiliki konotasi erotis (Ams. 7:17; Maz. 45:9; Est 2:12). Dalam bagian Alkitab yang lain, mur memainkan peran penting di dalam upacara penyucian imam dan jubah-jubah kudusnya (Kel. 30:23). Mur juga dipakai untuk pengurapan (embalming) dalam Yoh. 19:39. Istilah ‘sebungkus’ merujuk pada satu kantong/ikat, semacam kantong uang (Ayub 14:17; Amsal 7:20).

 

Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi

Istilah ‘bunga pacar’ mungkin dipilih oleh penerjemah LAI untuk mengartikan kata kopher dalam bahasa Ibrani. Kata kopher dalam terjemahan Alkitab bahasa Inggris mayoritas mempergunakan kata henna atau camphire (KJV). Henna ini selama leih dari 6000 tahun telah banyak dipergunakan untuk mewarnai tangan, kaki, kuku maupun rambut. Di Indonesia, salah satu tanaman yang biasa berfungsi hampir sama dnegan henna ini adalah tanaman bunga pacar. Mungkin kesamaan fungsi tersebut yang menyebabkan terjamahan kata ‘bunga pacar’ untuk kopher. Namun jika kita baca kelanjutannya, kemunculan kopher di Kidung Agung bukan karena fungsinya sebagai pewarna melainkan sebagai parfum. Dalam bagian Kidung Ahung yang lain (4:13),bunga pacar disejajarkan dengan narwastu, salah satu parfum pada era itu. 

Kata kopher sendiri merupakan hapax legomena, yaitu istilah yang hanya muncul  sekali atau hanya di satu kitab tertentu, dalam konteks ini hanya di kitab Kidung Ahung (1:14; 4:13; 7:11). Jika Bahasa Indonesia menerjemahkan kata eshkol dengan ‘setangkai’, yang dimaksud setangkai di sini itu paling mudah digambarkan dengan satu gugusan anggur, yang pastinya terdiri dari banyak buah anggur. Jadi buah pacar yang dimaksud di sini bukan hanya satu buah, melainkan merupakan gugusan bunga pacar dalam satu tangkai. Jika kopher sedang berbunga, warnanya putih kekuning-kuningan dengan aroma seperti bunga mawar. Dan ketika bunga pacar itu dikatakan ada di kebun anggur En-Gedi, maka ini menyiratkan sesuatu yang mengesankan. En-Gedi terletak 39 mil ke selatan dari Yerusalem dan terkenal karena banyaknya mata air di sana serta iklim yang tidak ekstrim sepanjang tahun. Dengan kondisi alam yang sedemikian indahnya, maka En-Gedi terkenal karena kesuburan dan keindahan alamnya. Yang menarik juga adalah En-Gedi juga terkenal salah satunya sebagai tempat produksi segala macam parfum.

Kesimpulan: ketika pengantin perempuan memuji kekasihnya ibarat mur dan bunga pacar, dia sedang menggambarkan kekasihnya seperti parfum yang berbau harum.          

NK_P

Bagikan artikel ini :