Kesombongan (Lukas 18:9-14)

Kesombongan (Lukas 18:9-14)

Keterkaitan antara bagian ini (18:9-14) dengan perumpamaan sebelumnya (18:1-8) terletak pada beberapa poin. Keduanya sama-sama menyinggung tentang doa. Selain itu, dua tokoh yang mendapat pembelaan ilahi dalam kisah ini sama-sama berasal dari kelompok marjinal dalam budaya Yahudi, yaitu janda dan pemungut cukai.

Selain kesamaan, perumpamaan di 18:9-14 juga menyediakan penjelasan terhadap bagian sebelumnya. Mengapa janda di ayat 1-8 dibenarkan oleh Allah? Iman seperti apa yang dia miliki di hadapan Allah? Jawabannya ada di ayat 9-14. Iman yang sejati bersandar total pada kemurahhatian Allah. Iman seperti inilah yang dicari oleh Anak Manusia pada waktu Dia datang kembali kelak (18:8b “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”).

Kebalikan dari persandaran yang total kepada Allah adalah kesombongan. Mengandalkan diri sendiri. Menganggap kebaikan diri sebagai alasan untuk memperoleh posisi tawar-menawar (bargaining position) di hadapan Allah. Jadi, pilihan yang ada bukan: bersandar total atau sebagian, melainkan bersandar total pada Allah atau menyombongkan diri sendiri.

 

Kesombongan relijius (ayat 9-12)

Kesombongan bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja, dan di area apa saja. Yang paling ironis, kesombongan terjadi pada figur relijius yang memegahkan kesalehannya. Bukankah seorang yang rohani seharusnya rendah hati? Bukankah tokoh relijius yang seyogyanya paling memahami tentang kesalehan yang sejati? Sekali lagi, tidak seorang pun kebal terhadap kesombongan.

Kesombongan relijius yang ditunjukkan oleh orang Farisi dalam kisah ini mengambil dua bentuk: mengandalkan kebenaran diri sendiri dan memandang rendah orang lain (ayat 9). Dua hal ini saling berkaitan erat. Sulit memiliki yang satu tanpa memiliki yang lainnya.

Pertama, mengandalkan kebenaran diri sendiri (ayat 9a). Terjemahan “menganggap dirinya benar” (ayat 9a, LAI:TB) kurang begitu tegas. Kata dasar peithō bisa berarti “meyakinkan” (16:31) atau “mengandalkan” (11:22). Hampir semua versi Inggris mengambil arti yang kedua (KJV/ASV/NASB/RSV/ESV; kontra NIV “confident”). Dari doa yang dipanjatkan oleh orang Farisi terlihat bahwa dia bukan sekadar meyakini kebenarannya sendiri, melainkan memegahkan kebenaran itu di hadapan Allah dan orang lain. Ini bukan sekadar menganggap diri benar (kontra LAI:TB) tetapi menyombongkan kebenaran diri.

Yang ironis, kesombongan ini justru diletakkan pada hal-hal yang relijius dan terjadi dalam konteks aktivitas relijius pula. Berdoa di bait Allah biasanya dilakukan secara personal (waktu sangat fleksibel) atau komunal (pukul 9 pagi atau 3 sore, lihat Kis. 2:15; 3:1). Kita tidak dapat memastikan apakah kisah di 18:9-14 terjadi pada saat doa pribadi atau komunal. Walaupun demikian, inti yang disampaikan tetap sama: kesombongan relijius bisa terjadi dalam konteks aktivitas relijius.

Bukan hanya itu. Bagian awal dari doa Si Farisi sangat mengecoh. Dia memulai dengan ucapan syukur kepada Allah, tetapi selebihnya adalah tentang dirinya sendiri. Kata “aku” muncul tidak kurang dari lima kali dalam isi doanya. Hal ini sangat ganjil. Bukankah ucapan syukur seharusnya berbicara tentang apa yang Allah lakukan bagi kita?

Walaupun ganjil, kesalahan seperti ini cukup lazim. Doa telah dijadikan ajang pamer diri. Ucapan syukur kepada Allah dimanipulasi untuk menunjukkan kelebihan diri sendiri. Bukankah hal yang sama mudah kita temukan pada unggahan-unggahan di media sosial orang-orang Kristen? Prestasi anak atau diri sendiri ditonjolkan tetapi disamarkan dengan ucapan syukur kepada Allah? Pencapaian diletakkan di tempat teratas dan diperindah dengan ungkapan-ungkapan yang sekilas terdengar sangat rohani? Walaupun kritikan ini mungkin tidak boleh disematkan pada semua orang yang mengunggah hal-hal seperti itu, tetapi sulit menyangkali bahwa kesombongan berbalut jargon relijius memang sudah semakin membudaya di tengah-tengah kita.

Sebagian dari kita mungkin dengan cepat mendeteksi kesalahan dalam doa orang Farisi ini. Kita tidak habis pikir mengapa dia melakukan kebodohan seperti itu. Bagaimanapun, jika kita berada dalam posisi dia, kita mungkin akan bertindak lebih konyol lagi. Menurut ukuran kultural-relijius pada waktu itu di Israel, orang Farisi tersebut memang memiliki banyak alasan untuk sombong (paling tidak dari kacamata dia dan opini populer waktu itu).

Di satu sisi dia tidak melakukan kesalahan atau kejahatan seperti orang-orang yang lain (ayat 11). Dia tidak melanggar perintah dalam Alkitab. Di sisi lain dia melakukan hal yang melebihi standar spiritual yang umum (ayat 12). Hukum Taurat hanya memerintahkan puasa wajib sebanyak sekali dalam setahun, yaitu pada saat Hari Raya Pendamaian (Im. 16:29-31; Bil. 29:7). Ada beberapa puasa tambahan yang dicatat dalam Alkitab, tetapi hal itu hanya dilakukan dalam situasi-situasi khusus saja (2Sam. 12:21-22; 1Raj. 21:27; Neh. 1:4; Zak. 8:19). Berpuasa secara rutin dua kalid alam seminggu jelas bukan pencapaian yang biasa. Dibutuhkan kemauan yang besar dan kedisiplinan. Jika puasa yang dilakukan memang melebihi standar sehingga dijadikan dasar untuk bermegah, kita juga sebaiknya melihat pemberian persepuluhan yang dia lakukan dengan cara yang sama. Maksudnya, orang Farisi ini memberikan persepuluhan yang melebihi standar juga (bdk. Im. 27:30-32; Bil. 18:21-24; Ul. 14:22-27). Jika demikian, frasa “sepersepuluh dari segala penghasilanku” seharusnya dimengerti bukan hanya sebagai rujukan pada penghasilan tetapi juga apa yang dimakan oleh orang Farisi itu. Dia memberikan apa yang sebenarnya tidak dituntut dalam Hukum Taurat (11:42; Mat. 23:23).

Bentuk kesombongan yang kedua adalah memandang rendah orang lain (ayat 9b). Kata dasar exoutheneō (LAI:TB “memandang rendah”) mungkin tidak hanya berbicara tentang anggapan, melainkan tindakan verbal. Kata yang sama dikenakan pada Herodes dan pasukannya yang menista Yesus selama proses pengadilan (23:11). Arti yang sama kita temukan dalam doa orang Farisi di 18:11-12.

Secara opini publik, orang Farisi memang mempunyai alasan untuk menempatkan diri di atas pemungut cukai. Para pemungut cukai dipandang rendah dan penuh kebencian oleh masyarakat. Mereka dianggap sebagai antek penjajah dan menyengsarakan bangsa Yahudi. Di sisi lain, golongan Farisi merupakan pemimpin masyarakat, baik secara politis (yang terpilih sebagai perwakilan Farisi di Sanhedrin) maupun relijius (pemuka agama). Jadi, secara status sosial saja, orang-orang Farisi memang memiliki keuntungan daripada para pemungut cukai.

Keuntungan secara sosial ini dianggap berlaku juga secara spiritual. Mereka menilai diri mereka di hadapan Allah lebih tinggi daripada para pemungut cukai. Semua kebaikan dipaparkan untuk membuat Allah terkesan, padahal yang diinginkan Allah justru mereka terkesan dengan semua kebaikan-Nya.

Mereka telah salah menggunakan ukuran. Kelebihan di hadapan orang lain (secara sosial) tidak berlaku di hadapan Allah (secara spiritual). Di mata Allah, semua kebaikan manusia hanyalah seperti kain kotor (Yes. 64:6). Hal ini bisa dipahami. Tuntutan Allah bersifat komprehensif dan mutlak. Setiap orang wajib memelihara seluruh isi Taurat (Gal. 3:10). Kegagalan menaati salah satu saja dari perintah-perintah tersebut berarti pelanggaran terhadap keseluruhan Taurat (Yak. 2:10). Jika diukur dengan kriteria seperti ini, orang Farisi sama sekali tidak memiliki kelebihan maupun keuntungan dibandingkan dengan pemungut cukai.

 

Persandaran pada kemurahan Allah (ayat 13-14)

Memiliki kebenaran tidaklah salah. Menyadari bahwa kita benar di hadapan Allah juga tidak selalu salah. Bukankah Yesus sendiri mengungkapkan bahwa si pemungut cukai pulang dalam posisi dibenarkan oleh Allah (ayat 14a)? Yang penting kita tahu darimana dan bagaimana kita bisa mempunyai kebenaran itu. Kebenaran bukan sesuatu yang kita raih (earned), tetapi kita terima (given). Kita pasif, Allah yang aktif.

Menariknya, kebenaran ilahi disediakan bagi mereka yang menyadari bahwa dirinya tidak benar. Ini adalah paradoks ilahi yang indah. Siapa saja yang menyadari kehinaannya di hadapan Allah akan dimuliakan. Sebaliknya siapa saja yang memegahkan diri di hadapan Allah akan direndahkan.

Si pemungut cukai menyadari dengan benar bahwa dia tidak benar. Dia berdiri jauh-jauh. Yang dimaksud mungkin adalah menjauhkan diri dari posisi ruang kudus atau maha kudus. Dia mungkin berada di bagian terluar sebelum area doa buat orang-orang non-Yahudi. Dia merasa tidak layak untuk menjumpai Allah yang kudus.

Dalam doanya dia bahkan tidak berani menengadahkan wajah ke langit. Dia tahu diri. Dia adalah orang yang berdosa. Kesedihannya terhadap dosa-dosa yang dia telah lakukan diungkapkan melalui pemukulan dada. Berbeda dengan budaya lain yang memaknai pemukulan dada sebagai simbol kesombongan, dalam budaya Yahudi tindakan ini menyiratkan kepedihan yang mendalam (23:48).

Isi doanya sangat singkat dan sederhana: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”. Yang dia minta hanyalah kemurahan Allah. Tidak ada dalih yang dia ucapkan untuk membenarkan atau membela diri. Tidak ada alasan yang dia kemukakan untuk mendapatkan kemurahan Allah. Hanya sebuah permohonan yang tulus. Permohonan yang lahir dari ketidaklayakan diri di hadapan Allah. Sikap seperti inilah yang dicari oleh Allah.

Dalam konteks kita sekarang, kita sepatutnya menunjukkan sikap yang sama. Kebenaran yang kita miliki di dalam Kristus adalah anugerah, bukan upah (Rm. 3:21-4:8). Anugerah ini kita terima melalui iman yang sejati: menyadari kehinaan, ketidaklayakan, dan ketidakmampuan kita untuk mendirikan kebenaran sendiri di hadapan Allah.

Bukan hanya dalam hal-hal yang terlihat “relijius” saja, tetapi dalam seluruh aspek kehidupan kita pun harus menunjukkan persandaran yang tulus pada anugerah Allah. Semua yang kita miliki bukanlah pencapaian kita, melainkan pemberian dari Allah. Tidak ada yang kita miliki yang tidak kita terima dari Allah (1Kor. 4:7). Sudah sepantasnya kita menjaga hati kita untuk tetap rendah di hadapan Allah. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :