Eksposisi 1 Korintus 16:1-4

Eksposisi 1 Korintus 16:1-4

Kata sambung “sekarang tentang” (peri de, semua versi Inggris; LAI:TB “tentang”) menyiratkan sebuah transisi (bdk. 7:1, 25; 8:1; 12:1). Paulus tiba pada bagian atau topik yang baru. Dia tidak lagi menyoal kebangkitan di pasal 15.

Bagian yang baru ini berisi beragam topik. Hal ini cukup wajar, karena pasal 16 adalah pasal terakhir. Sama seperti kebiasaan surat-menyurat kuno, bagian terakhir memang seringkali digunakan untuk memberikan nasihat-nasihat atau petunjuk-petunjuk kecil yang cukup beragam.

Empat ayat yang pertama berbicara tentang pengumpulan bantuan untuk orang-orang kudus (hoi hagioi). Yang dimaksud dengan “orang-orang kudus” di sini adalah orang-orang Yahudi Kristen yang tinggal di Yerusalem (bdk. 16:3 “ke Yerusalem untuk menyampaikan pemberianmu”). Paulus mungkin sengaja menggunakan sebutan hoi hagioi ini untuk menyoroti kesamaan antara orang-orang Kristen di Korintus dan Yerusalem. Walaupun mereka berbeda etnis dan domisili, tetapi mereka adalah berbagi status yang sama, seperti yang diajarkan di awal surat (1:2 “kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita”). Status di dalam Kristus inilah yang menyatukan mereka semua. Jika yang mengantarkan bantuan itu adalah dari kalangan mereka sendiri (ayat 3 “aku akan mengutus orang-orang, yang kamu anggap layak”), kesatuan di dalam Kristus akan menjadi semakin kentara.

Apakah Paulus menggunakan kesamaan status di dalam Kristus tersebut sebagai salah satu alasan mengapa jemaat Korintus perlu melibatkan diri dalam pergumulan orang-orang Yahudi Kristen di Yerusalem? Mungkin saja. Namun, 16:1-4 tidak membahas tentang alasan-alasan semacam itu. Tidak ada keterangan tentang kemiskinan orang-orang kudus di Yerusalem (bdk. 2Kor. 9:12) akibat penganiayaan yang mereka hadapi (1Tes. 2:14). Tidak ada dorongan teologis timbal-balik seperti di Roma 15:27b “jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka”.

Keterbatasan informasi ini mungkin menyiratkan bahwa Paulus di kesempatan yang lain memang sudah menjelaskan semua itu kepada jemaat Korintus. Di 16:1-4 ini Paulus hanya mengingatkan sekaligus memberikan beberapa petunjuk praktis. Tidak ada teguran, kekesalan, atau kemarahan dalam uraiannya. Dengan demikian kita tidak boleh mengasumsikan bahwa jemaat Korintus bermalas-malasan dalam mengumpulkan bantuan, sehingga Paulus perlu mengingatkan mereka kembali. Asumsi seperti ini lebih tepat dikenakan pada 2 Korintus 8-9 daripada 1 Korintus 16:1-4.

Nasihat untuk memberikan bantuan kepada orang lain yang tidak dikenal dan berada di tempat yang jauh merupakan usaha yang cukup menarik. Berbagai riset terkini tentang sosiologi Yunani-Romawi kuno menunjukkan bahwa salah satu alasan utama seseorang mau memberikan bantuan kepada orang lain adalah kehormatan. Masyarakat dan penerima bantuan akan menghormati si pemberi. Statusnya yang positif dalam komunitas akan diperkuat. Tidak demikian halnya dengan orang-orang Kristen. Kehormatan dan pujian bukanlah dorongan di balik pemberian kita.

Dari apa yang dinasihatkan oleh Paulus di 16:1-4 kita dapat belajar beberapa poin penting tentang memberi. Alkitab tidak hanya mendorong umat Tuhan untuk memberikan sesuatu yang benar, tetapi juga memberikannya dengan cara yang benar pula. Bagaimana seseorang memberikan merupakan hal yang penting di mata Tuhan.

Pertama, secara teratur. Paulus menasihatkan jemaat untuk memberikan bantuan pada hari pertama setiap minggunya. Keterangan ini merujuk pada Hari Minggu. Jemaat mula-mula memang terbiasa berkumpul di Hari Minggu untuk memperingati kebangkitan Tuhan sambil memecahkan roti bersama-sama (Kis. 20:7).

Pemberian yang teratur melatih kedisiplinan dan komitmen kita. Tidak hanya memberi pada momen tertentu pada saat tergerak, tetapi menjadikan memberi kepada orang lain sebagai sebuah kebiasaan.

Kedua, secara individual. Para penafsir berbeda pendapat tentang frasa par heautō: Apakah ini merujuk pada rumah masing-masing atau diri mereka masing-masing? Mayoritas penerjemah memilih opsi yang terakhir (LAI:TB “kamu masing-masing”). Kata “rumah” (oikos)  memang tidak muncul di sini. Walaupun demikian, yang dimaksudkan di sini memang pengumpulan secara pribadi di rumah (LAI:TB). Tidak ada petunjuk dalam teks bahwa yang disisihkan tiap minggu ini harus dikumpulkan di suatu tempat tertentu secara bersama-sama.

Pemberian secara individual ini sangat penting untuk diperhatikan. Setiap orang perlu dilibatkan. Jika tidak demikian, yang terlibat hanyalah orang-orang tertentu yang kaya. Ini akan menjadi cobaan yang besar bagi mereka untuk menjadi sombong. Ini juga tidak berbeda dengan kebiasaan komunitas di luar gereja. Kaya bukan alasan untuk sombong, miskin bukan dalih untuk tidak memberi. Bagi jemaat Korintus yang rawan terhadap diskriminasi sosial semacam ini (bdk. 11:17-34), konsep tentang pemberian secara individual menjadi sebuah kebutuhan.

Ketiga, sesuai keadaan masing-masing. Frasa “sesuai dengan apa yang kamu peroleh” sebenarnya kurang begitu tepat Kata kerja yang digunakan (euodōtai) lebih umum dipahami dalam bentuk pasif. Jika ini dipertahankan, yang disiratkan adalah Allah sebagai subjek yang membuat mereka memperoleh sesuatu. Allah telah memberikan kepada tiap orang bagiannya masing-masing. Pada gilirannya, setiap orang memberikan sesuai dengan apa yang Allah sudah percayakan.

Prinsip pemberian seperti ini sangat baik. Tidak ada jumlah tertentu yang ditetapkan. Itu tidak adil bagi jemaat yang kurang kaya. Model pemberian ini tidak akan memberatkan siapapun. Juga tidak akan membuat orang-orang tertentu menjadi sombong. Semua memberi sesuai dengan berkat Tuhan yang diterima. Ini belum bisa disebut sebagai pengorbanan, karena mereka memberikan bukan dari kekurangan mereka (bdk. 2Kor. 8:2-3), melainkan dari keberhasilan mereka.

Keempat, dengan motivasi yang benar. Paulus tidak ingin pengumpulan bantuan baru dilakukan pada saat dia mengunjungi mereka. Ada beragam kemungkinan alasan di balik keputusan ini. Paulus mungkin memikirkan semua alasan itu secara bersamaan. Walaupun demikian, tidak salah untuk menebak bahwa motivasi yang benar merupakan salah satu alasan utama. Jika baru dikumpulkan pada saat Paulus datang, sebagian mungkin memberi secara terpaksa atau gara-gara sungkan. Paulus tidak perlu meminta atau mengemis secara langsung kepada setiap orang, apalagi orang-orang tertentu yang kaya. Sebagian mungkin akan tergoda untuk memberikan jumlah yang besar supaya dilihat dan dipuji oleh Paulus. Intinya, pemberian itu jangan disangkut-pautkan dengan Paulus. Paulus bukanlah alasan untuk memberi.

Terakhir, dengan bertanggung-jawab. Jemaat Korintus dilibatkan dalam pengiriman bantuan ke Yerusalem. Mereka berhak menetapkan siapa yang menjadi utusan (ayat 3). Yang diutus tentu saja adalah orang yang bisa dipercaya oleh banyak orang. Dengan kata lain, mereka tidak hanya memberi, lalu sesudah itu tidak peduli lagi. Mereka juga harus memastikan bahwa bantuan itu diatur dengan cara yang bertanggung-jawab. Tidak boleh sembarangan dikelola.

Dari pihak Paulus sendiri, hal ini juga menunjukkan integritasnya dalam masalah keuangan. Dia tidak mau dituduh sembarangan. Dia tidak mau integritas dan pelayanannya terhalang hanya gara-gara masalah keuangan (bdk. 9:1-18). Bila perlu, dia tidak usah berangkat untuk mengantar bantuan itu. Cukup dengan memberikan surat pengantar bagi para pemimpin gereja di Yerusalem.

Ayat 4 telah ditafsirkan secara beragam oleh para penafsir Alkitab. Pokok perbedaan terletak pada kata axios (LAI:TB “penting”). Jika diterjemahkan penting, Paulus mungkin berpikiran bahwa pengantaran bantuan bukanlah sebuah tugas yang penting bagi dia. Ini hanya akan menjadi opsi terakhir saja. Masih banyak pelayanan lain yang lebih penting. Mayoritas penafsir, bagaimanapun, menolak gagasan ini. Kata ini sebaiknya diterjemahkan “jika dipandang baik”. Bagi Paulus, pemberian bantuan pada orang-orang miskin merupakan pelayanan yang penting (Gal. 2:10). Dia sendiri bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan orang lain (Kis. 20:34-35).

Ungkapan “jika dipandang baik” mungkin berkaitan dengan jumlah bantuan. Jika dana yang terkumpul banyak, maka dibutuhkan lebih banyak orang untuk membawanya. Selain karena masalah berat koin yang harus dibawa, alasan lain adalah keamanan. Perjalanan pada masa itu memang tidak sepi bahaya. Pencurian dan perampokan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Semakin banyak orang berarti semakin bisa membawa banyak uang tanpa terlihat secara mencolok. Semakin banyak orang juga berarti semakin banyak perlindungan bagi uang-uang tersebut.

Apakah memberi kepada orang lain merupakan disiplin rohani yang biasa bagi Saudara? Sudahkah Saudara melakukannya dengan sukarela dan sukacita? Sudahlah Saudara turut memastikan bahwa pemberianmu akan dikelola dengan sebaik-baiknya? Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :