Apakah Apologetika Masih Relevan dan Diperlukan?

Apakah Apologetika Masih Relevan dan Diperlukan?

Istilah "apologetika" merujuk pada upaya untuk menjelaskan dan membela doktrin-doktrin dasar dalam kekristenan secara intelektual sehingga ajaran-ajaran itu terlihat benar (sesuai dengan realitas), rasional (konsisten dengan logika), dan relevan (sesuai budaya terkini dan menjawab pergulatan eksistensial manusia). Walaupun apologetika sudah menjadi matakuliah pokok di berbagai seminari, beberapa mulai meragukan nilai penting apologetika. Bobot kuliah perlahan dikurangi. Beberapa seminari di luar negeri bahkan meniadakan matakuliah ini sama sekali.

Alasan utama di balik sikap negatif terhadap apologetika ini berhubungan dengan budaya postmodern. Semangat relativisme membuat banyak orang tidak peduli dengan kebenaran. Semua pandangan dianggap benar, tidak peduli apakah pandangan-pandangan itu saling bertentangan. Pernyataan kebenaran dianggap sebagai sebuah bentuk kesombongan. Di tengah situasi seperti ini, sebagian orang bertanya: “Apakah apologetika masih relevan dan diperlukan?”

Bagaimana kita meresponi hal ini? Saya meyakini bahwa apologetika tetap relevan dan diperlukan. Bahkan di tengah kerancuan tentang definisi dan ukuran kebenaran, diskusi tentang kebenaran justru semakin diperlukan.

Pertama, natur manusia sebagai makhluk rasional. Sebagai gambar Allah (Kej. 1:26-27), manusia mencerminkan rasionalitas dalam diri Allah. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghindarkan diri dari logika. Jauh di lubuk hati mereka, manusia peduli dengan kebenaran. Pikiran manusia tidak berkompromi dengan kontradiksi maupun hal-hal yang tidak masuk akal. Rasio manusia selalu membutuhkan penjelasan.

Jika diamati secara lebih seksama, apa yang tidak dipedulikan oleh orang-orang postmodern bukanlah kebenaran. Mereka hanya skeptis dan apatis terhadap kebenaran dalam ranah tertentu. Biasanya pada masalah moralitas dan agama. Untuk area lain, mereka tidak menganut relativisme. Ini bisa dipahami, karena relativisme tidak mungkin dihidupi secara konsisten.

Apologetika bermanfaat untuk menyediakan penjelasan-penjelasan rasional yang dibutuhkan oleh manusia. Apologetika menolong kita untuk berpikir secara koheren (dengan realitas) dan konsisten (dengan logika). Mereka yang menolak apologetika sedang menyangkali hakikat dirinya.

Kedua, natur manusia sebagai makhluk spiritual. Penghembusan nafas ilahi ke dalam hidung manusia (Kej. 2:7) menyimbolkan relasi yang intim antara manusia dan Allah. Dalam diri manusia akan selalu ada kekosongan dan kerinduan untuk mencari yang ilahi.

Sejarah menjadi saksi tak terbantahkan tentang pencarian hakiki ini. Entah berapa banyak ateis yang sudah meramalkan bahwa keyakinan terhadap Allah akan semakin pudar seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Kenyataannya, semakin banyak orang peduli dengan spiritualitas. Memang tidak semua mengadopsi spiritualitas yang benar, tetapi fenomena ini cukup memberikan dukungan bahwa pencarian hakiki kepada Allah akan terus ada. Nah, dalam konteks pergulatan inilah apologetika sangat diperlukan.

Ketiga, pergulatan eksistensial manusia yang universal. Tidak peduli tempat atau abad, semua manusia selalu bergumul dengan beberapa pertanyaan eksistensial: Mengapa aku ada di dunia? Apakah arti hidupku? Bagaimana aku seharusnya mengenali dan menghidupi kebenaran? Kemana aku pergi sesuah kematian?

Tidak ada satu pun yang bisa secara konsisten mengabaikan pertanyaan-pertanyaan ini. Bahkan beberapa orang yang menyangkali pertanyaan-pertanyaan ini ternyata dalam kehidupan sehari-hari tidak benar-benar menerapkan prinsip itu. Mana ada manusia yang ingin hidupnya tanpa makna? Mana ada manusia yang tidak peduli dengan arti hidup? Mereka yang menyangkali dan tidak peduli sekalipun, pada akhirnya mengakui bahwa ketidakadaan arti hidup menghadirkan perasaan kedukaan yang sukar untuk dikalahkan.

Yang terakhir, contoh konkrit dari Alkitab. Situasi postmodern sebenarnya tidak sepenuhnya benar-benar baru. Ingat, tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari (Pkt. 1:9). Dalam taraf tertentu keterbukaan terhadap semua pandangan juga sudah muncul di zaman Alkitab. Sebagai contoh, penduduk Atena sangat mewakili semangat postmodern. Mereka menyukai semua hal yang baru. Mereka terbuka untuk mendengarkan (Kis. 17:21). Beberapa filsuf Yunani kuno bahkan mengecam sikap yang tidak kritis seperti ini. Di tengah situasi ini, Paulus tetap melakukan apologetika. Dia memberitakan keunikan kekristenan di depan penduduk dan para pemikir mereka (Kis. 17:22-32). Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :