Lebih Dari Sekadar Kebaikan Diri (Yohanes 3:1-8)

Lebih Dari Sekadar Kebaikan Diri (Yohanes 3:1-8)

Kita hidup di tengah zaman yang tidak menganggap dosa sebagai sebuah persoalan yang sangat serius. Benar atau salah ditentukan oleh masing-masing orang, bukan oleh Allah. Beberapa orang memandang istilah “dosa” terlalu negatif untuk dialamatkan pada orang lain. “Adalah berdosa untuk mengatakan orang lain berdosa,” begitu kira-kira pendapat mereka.

Mereka yang gagal melihat keseriusan dosa tentu saja menolak untuk mencari solusi yang radikal terhadap persoalan ini. Dosa bukan persoalan yang perlu dirisaukan. Solusinya pun ada di tengan manusia. Yang penting adalah berbuat baik. Yang penting adalah mengikuti ritual keagamaan. Yang penting memiliki model spiritualitas tertentu.

Benarkah demikian? Marilah kita mengkaji ulang pemikiran di atas berdasarkan percakapan antara Yesus Kristus dengan Nikodemus dalam teks hari ini. Kita akan melihat bahwa kesalehan yang dibangun oleh manusia merupakan sebuah kesalahan. Kesalahan yang sangat menipu diri sendiri. Kesalahan yang bisa memberi kepuasan rohani yang semu. Kesalehan semacam ini justru seringkali lebih berbahaya daripada kesalahan yang kasad mata.

Kebaikan Nikodemus

Jika semua agama membawa setiap penganutnya ke dalam kehidupan kekal yang berbahagia, Nikodemus pasti berada di antrian deretan depan. Jika segala jenis kebaikan relijius memadai untuk menghantar seseorang ke surga, Nikodemus merupakan salah satu orang yang paling pamtas untuk menerimanya. Para pembaca Injil Yohanes yang teliti dengan mudah akan menemukan keistimewaan Nikodemus.

Di kalangan bangsa Yahudi yang terkenal sangat relijius, Nikodemus menempati posisi yang istimewa. Dia adalah pemimpin agama Yahudi dari golongan Farisi. Pada zaman itu bangsa Yahudi mendapatkan perlakuan agak khusus dari pemerintah Romawi dalam hal otonomi. Untuk hal-hal tertentu, mereka bisa memutuskan sendiri perkara-perkara mereka melalui sebuah mahkamah konstitusi yang disebut Sanhedrin. Nah, salah satu elemen penting dalam kelembagaan ini berasal dari golongan Farisi. Tentu saja tidak semua orang Farisi secara otomatis menjadi anggota Sanhedrin. Hanya mereka yang terpilih saja untuk mewakili.

Dari kacamata kultural dan relijius pada zaman itu, semua ini jelas memberi keuntungan bagi Nikodemus. Dia dipandang sebagai seorang yang rohani. Bahkan di antara berbagai kelompok relijius waktu itu, golongan Farisi terkenal sangat militan dan detil dalam menaati Hukum Taurat. Mereka secara sengaja membedakan diri  dari rakyat biasa yang dinilai tidak mengenal Taurat (7:49; bdk. Luk. 18:10-14; Flp. 3:5-6). Mereka terlihat lebih taat daripada golongan Saduki yang hanya berkutat pada ritual di bait Allah dan dipandang dekat dengan para penguasa asing. Jika setiap agama menawarkan jalan yang valid kepada kehidupan kekal yang berbahagia, bukankah Nikodemus pantas mendapatkan akses khusus untuk ke jalan tersebut?

Bukan hanya itu. Bahkan di antara sesama golongan Farisi, Nikodemus tetap terlihat menonjol. Dalam Injil Yohanes dia menjadi satu-satunya orang Farisi yang disebutkan namanya secara eksplisit. Dia menunjukkan sikap kepada Yesus yang jauh lebih positif daripada orang-orang Farisi yang lain.

Walaupun Yesus termasuk orang yang tidak belajar Taurat (7:15), Nikodemus tidak segan-segan untuk mengakui-Nya sebagai sebagai seorang rabi (3:1) sama seperti dirinya (3:10). Dia pun mendatangi Yesus untuk mendengarkan sesuatu dari Dia (bdk. 7:51).

Walaupun Yesus berasal daerah yang tidak tersohor, hal itu tidak menghalangi Nikodemus untuk mengakui Yesus sebagai seorang utusan dari Allah. Hal ini perlu digarisbawahi. Natanael, salah seorang pengikut mula-mula, sempat meragukan Yesus hanya gara-gara Dia berasal dari Nazaret di daerah Galilea (1:45-46). Begitu pula dengan orang-orang Farisi lain yang sok tahu kitab suci dan menegur Nikodemus dengan mengatakan bahwa tidak ada nabi yang berasal dari Galilea (7:52).

Kedatangan Nikodemus pada waktu malam bukan hanya sekadar untuk memperoleh informasi tertentu dari Yesus. Dia bukan seorang yang tidak tahu apa-apa dan membutuhkan informasi tambahan. Dia datang dengan kepekaan dan sebuah pengetahuan relijius yang benar tentang Yesus. Semua mujizat yang dilakukan oleh Yesus ditangkap oleh Nikodemus sebagai petunjuk bahwa Yesus berasal dari Allah (3:2). Hal ini tentu saja tidak salah. Yesus memang berasal dari Allah (3:31; 6:46; 7:29). Apa yang dilakukan-Nya merupakan bukti bahwa Dia diutus oleh Allah (10:25, 37-38; 14:11).

Sayangnya, apa yang benar belum tentu memadai. Kebenaran yang tidak utuh seringkali justru berbahaya. Bisa menipu diri sendiri. Bisa memberi kepuasan dan keamanan yang palsu. Yesus lebih dari sekadar utusan Allah. Dia bukan sekadar rabi. Tidak cukup mengakui Dia sebagai rabi atau nabi. Tidak memadai untuk mengakui Dia sebagai pembuat berbagai mujizat.

Kesalahan Nikodemus

Kesalahan fatal yang dilakukan Nikodemus adalah kegagalannya untuk melihat keseriusan dosa. Dosa merupakan sebuah persoalan fundamental yang membutuhkan solusi radikal. Nikodemus tampaknya gagal mencerna kebenaran ini.

Itulah sebabnya Yesus berbicara tentang perlunya perubahan natur manusia yang berdosa. Dalam ungkapan Yesus, hal ini disebut kelahiran kembali (3:3-8). Siapa saja yang ingin masuk dam melihat Kerajaan Allah patut menjalani proses transformasi radikal ini.

Kegagalan Nikodemus untuk mengerti perkataan Yesus memang sangat konyol, bahkan nyaris sukar untuk diterima dengan akal sehat. Namun, hal itu bukan sumber persoalan. Itu justru merupakan sebuah gejala yang mengarahkan pada persoalan lain yang lebih fundamental: natur yang berdosa.

Natur yang berdosa tidak dapat diatasi dengan ritual relijius. Tidak pula dengan ketaatan atau kebaikan. Bahkan karakter yang baik pun tidak memadai. Persoalan dalam diri manusia ini berada di luar kemampuan manusia untuk menyelesaikannya.

Puji Tuhan! Allah tidak pernah meninggalkan manusia dalam keputusasaan dan tanpa harapan. Tuntutan Yesus kepada Nikodemus memang mustahil dipenuhi oleh Nikodemus, tetapi tidak demikian halnya oleh Allah. Bentuk pasif “dilahirkan kembali” menyiratkan Allah sebagai subjek. Berdasarkan 1:12-13 para pembaca langsung mengetahui bahwa kelahiran ini dilakukan oleh Allah. Ini adalah kelahiran dari atas. Bukan melalui kehendak manusia. Bukan melibatkan upaya manusia. Semua adalah murni pekerjaan Allah.

Dengan demikian, apa yang dikatakan oleh Yesus kepada Nikodemus di 3:3 dan 3:5 bukanlah sebuah perintah yang harus dilakukan. Ini lebih ke arah pernyataan tentang keadaan manusia. Menyadari keadaan yang sebenarnya seringkali lebih penting daripada melakukan sesuatu untuk menyelesaikan keadaan itu. Kesadaran ini seyogyanya  mendorong manusia untuk menyadari kepapaan dan kelemahan dirinya, sehingga dengan demikian mengondisikan dia untuk mencari pertolongan dari Allah saja.

Apa yang menyenangkan Allah seringkali bukanlah pencapaian-pencapaian yang kita lakukan bagi Dia melainkan pengakuan terdalam terhadap ketidakmampuan kita. Terkesan dengan kebaikan Allah pada kita jauh lebih penting daripada membuat Dia terkesan dengan kebaikan kita. Tanpa kekaguman terhadap anugerah-Nya yang menopang kita, tidak ada satupun upaya kita yang menyenangkan hati-Nya. Pendeknya, menyadari dan mengakui ketidakmampuan diri merupakan korban yang berharga di hadapan Allah daripada memamaerkan kemampuan dan segudang keberhasilan kita di hadapan-Nya. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :