Pondasi Sejak Dini (2 Timotius 3:14-17)

Pondasi Sejak Dini (2 Timotius 3:14-17)

Pondasi bangunan adalah bagian paling penting, namun tidak terlihat dari luar. Bagaimanapun, tidak terlihat bukan berarti tidak bisa dirasakan keberadaannya. Pada saat gempa atau banjir besar terjadi, ketahanan suatu pondasi baru teruji. Bangunan yang tetap teguh dan lurus berdiri pasti didirikan di atas pondasi yang kukuh. 

Begitu pula dengan pengajaran kitab suci dalam rumah. Orang luar seringkali tidak bisa melihat bagaimana salah satu disiplin rohani ini dilakukan. Namun, mereka akan mengetahuinya tatkala anggota keluarga menghadapi berbagai ujian kehidupan. Pengajaran yang sehat dan kuat akan menolong mereka untuk tetap teguh dan kukuh berdiri di tengah hantaman kehidupan.

Itulah yang sedang dibahas oleh Paulus dalam teks kita hari ini. Ada dua tantangan serius yang harus dihadapi oleh Timotius: penganiayaan (3:1-9, 11-12) dan kesesatan (3:13). Keduanya saling berkaitan. Sebagian orang yang dianiaya karena kesalehan mereka telah tergoda untuk merengkuh kesesatan dan kejahatan supaya terhindar dari penderitaan tersebut. Orang-orang ini adalah mereka yang tidak bertahan dalam tekanan kehidupan.

Tidak demikian dengan Timotius. Kata sambung “tetapi” di awal ayat 14 mengontraskan Timotius dengan para penyesat di ayat 13. Dalam teks Yunani kontras ini bahkan terlihat semakin jelas. Kata “kamu” di ayat 14 muncul dua kali (sy mene) sebagai penekanan. Nasihat kepada Timotius supaya dia “tetap berpegang” (LAI:TB; menō, lit. “tetap tinggal”, ASV) dalam pengajaran sangat berbeda dengan tindakan para penyesat yang “bertambah jahat” (LAI:TB; prokoptō, lit. “terus maju”) dalam kejahatan. Orang-orang yang sesat adalah mereka yang tidak puas dan tidak mau tinggal di dalam Alkitab. Mereka ingin melampaui Alkitab. Hasilnya? Ada kemajuan. Namun, bukan dalam kebenaran, melainkan dalam kejahatan.

Berpegang pada kebenaran secara konsisten memang tidak mudah. Ada resiko yang harus ditanggung. Tanpa ragu-ragu Paulus berkata: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (3:12).

Hanya sedikit orang yang bersedia membayar harga demi kebenaran. Timotius adalah salah satunya. Dia mengetahui begitu banyak penganiayaan yang dihadapi  oleh Paulus, karena dia sendiri berkali-kali menyertai Paulus dalam pelayanan (3:11).

Kini Timotius diperhadapkan pada keadaan yang hampir sama. Ada ancaman penganiayaan. Ada bahaya kesesatan. Di tengah situasi seperti ini Paulus memberikan sebuah nasihat: “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini” (3:14a). Secara hurufiah bagian ini dapat diterjemahkan: “Tetapi hendaklah engkau, engkau, terus-meneruslah tinggal di dalam apa yang engkau telah pelajari dan telah percayai”.

Nasihat di atas menyiratkan bahwa Timotius sebelumnya sudah belajar kebenaran dan mempercayai kebenaran itu. Dari ayat-ayat selanjutnya kita akan mengetahui bahwa kebenaran ini diperoleh dari kitab suci (3:15-16). Bukan hanya itu. Dia juga sudah tinggal di dalam kebenaran itu. Paulus hanya mengingatkan dia untuk terus melanjutkan hal tersebut.

Jadi, memiliki kitab suci saja tidaklah cukup. Membacanya dalam ibadah saja juga tidak memadai. Kitab suci perlu dipelajari. Ada kedisiplinan yang dituntut. Sesudah itu, apa yang sudah dipelajari juga perlu untuk dipercayai. Pembacaan kitab suci secara seksama bukan sekadar pemuas rasa ingin tahu atau penambahan pengetahuan. Pembelajaran firman Tuhan seharusnya berujung pada pengokohan iman.

Bagaimana Timotius bisa terus-menerus tinggal dalam kebenaran kitab suci? Paulus mengajarkan dua rahasia. Keduanya dipayungi oleh ide tentang “mengingat” (eidōs, lit. “mengetahui”; semua versi Inggris).

Mengingat siapa yang telah mengajarkan hal itu (ayat 14b)

Timotius mengenal kitab suci sejak kecil (3:15). Dia belajar dari nenek dan ibunya (1:5). Peranan Lois dan Eunike bagi kerohanian Timotius sangat vital, karena ayah Timotius bukanlah seorang Yahudi maupun seorang yang beriman (Kis. 16:1). Dia tidak mengenal kitab suci. Dari nenek dan ibunyalah Timotius belajar kebenaran dan didorong untuk mempercayai kebenaran itu.

Hidup dalam situasi beda budaya seperti ini jelas tidak mudah. Etika Yahudi seringkali sangat berbeda (bahkan bertentangan) dengan etika Yunani-Romawi kuno. Konsep relijius mereka bertabrakan. Praktik hidup pun pasti berlainan. Perjuangan Lois dan Eunike untuk meletakkan pondasi yang kuat bagi kerohanian Timotius perlu untuk selalu diingat dan diapresiasi.

Selain Lois dan Eunika, Timotius juga perlu mengingat Paulus. Ketika Timotius beranjak dewasa, dia mengikuti Paulus dalam pelayanan. Perjalanan misi ini juga merupakan sebuah proses pembelajaran bagi Timotius. Dia sudah berhasil meneladani gurunya, seperti yang dikatakan di 3:10 “Tetapi engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku”.

Apakah mengingat orang yang berjasa bagi kerohanian kita merupakan tindakan yang anthroposentris (berpusat pada manusia)? Sama sekali tidak! Yang dipentingkan tetaplah kebenaran itu sendiri (ayat 14a “apa yang engkau telah pelajari dan percayai”). Apa (kebenaran), bukan siapa (yang mengajar). Mengingat orang lain hanyalah salah satu sarana saja. Mengingat orang-orang yang Tuhan sudah tempatkan untuk membawa kita pada titik yang sekarang seringkali menjadi penyemangat bagi kita untuk tetap bertahan di jalan sukar yang sedang menghadang.

Mengingat manfaat pembelajaran kitab suci (ayat 15-17)

Secara hurufiah bagian ini dimulai dengan “dan bahwa” (kai hoti). Penerjemah LAI:TB dengan bijaksana menolong kita untuk memahami ayat 15 sebagai bagian dari apa yang harus diingat oleh Timotius, dengan cara menambahkan terjemahan “ingatlah juga” (bdk. 3:14b).

Sejak kecil Timotius sudah mengenal kitab suci. Kata “dari kecil” (apo brephous) secara hurufiah bahkan seharusnya diterjemahkan “sejak baru lahir”. Paulus tidak sedang membesar-besarkan hal ini. Kehidupan orang Israel memang sudah bersentuhan dengan kitab suci sejak dini. Setiap bayi laki-laki yang lahir akan mengikuti Brit Milah (perjanjian sunat). Sunat dilakukan pada hari ke-8 dari kelahiran (Flp. 3:5). Pembacaan kitab suci (bagi orang tua yang bisa membaca) atau penerusan tradisi-tradisi tentang perjalanan bangsa Israel dengan TUHAN (bagi orang tua yang tidak bisa membaca) selanjutnya menjadi rutinitas yang tidak terelakkan bagi anak-anak Yahudi (Ul. 6:6-9).

Tidak heran, Timotius mengenal kitab suci. Kata “mengenal” (oida) di sini jelas bukan sekadar mengetahui. Kata kerja perfek oidas di sini menyiratkan tindakan yang sudah dilakukan sejak dahulu dan hasilnya masih berkelanjutan. Dengan kata lain, Timotius bukan hanya mempelajari kebenaran. Dia juga mengalami kebenaran itu. Ada hasil. Ada manfaat.

Pengenalan kitab suci bermanfaat untuk menuntun pada keselamatan yang benar (ayat 15b). “Kitab suci” yang dipikirkan Paulus di sini kemungkinan besar merujuk pada tulisan-tulisan di Perjanjian Lama (PL). Jika ini benar, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa PL tidak bertentangan dengan Injil Yesus Kristus. Sebaliknya, PL merupakan penuntun pada keselamatan di dalam Yesus Kristus. Konklusi ini selaras dengan ajaran Paulus di tempat-tempat lain (misalnya Rm. 1:2-4; 3:21-22). Melalui Hukum Taurat bangsa Yahudi diingatkan betapa banyak dosa dan pelanggaran yang mereka lakukan (Rm. 5:13). Mereka berada dalam kutukan ilahi karena kegagalan dalam melakukan segala sesuatu yang ada Hukum Taurat (Gal. 3:10; Yak. 2:10). Semua ini seyogyanya menyadarkan mereka bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh melalui perbuatan baik. Hanya anugerah Allah di dalam Kristus Yesus merupakan solusi bagi kegagalan manusia (Rm. 5:20-21).

Bagi Timotius yang sudah mengenal kitab suci, berita injil sebenarnya lebh ke arah perubahan paradigma daripada pemberian informasi yang baru. Dia sudah mencapai separuh jalan. Paulus hanya membimbing dia untuk menengok perjalanan di belakang dari perspektif injil dan mengarahkan dia pada perjalanan selanjutnya di dalam Kristus.

Pengenalan kitab suci bermanfaat untuk menuntun pada kesalehan yang benar (ayat 16-17). Keselamatan berdasarkan anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus bukanlah izin untuk berbuat dosa semau kita. Kita tetap perlu menunjukkan kesalehan. Hanya saja, kesalehan ini harus dilakukan dengan konsep dan motivasi yang benar. Kita berbuat baik bukan supaya diselamatkan. Kita berbuat baik karena sudah dselamatkan. Kesalehan adalah bukti keselamatan. Kesalehan adalah wujud ucapan syukur kita kepada Allah.

Perjalanan menuju kesalehan ini tidak mungkin tercapai tanpa kitab suci. Dari pembacaan kitab suci kita memperoleh ajaran, teguran, koreksi, dan didikan (3:16). Melalui firman-Nya dalam kitab suci, Allah berbicara kepada  kita. Dia mengajar, menegur, mengoreksi, dan mendidik kita dalam kebenaran. Dengan demikian pembacaan kitab suci bukan sekadar menambah informasi, tetapi menghasilkan transformasi diri.

Tujuan ultimat dari semua ini adalah kesalehan yang sempurna (ayat 17). Dalam teks Yunani, ide tentang kesempurnaan muncul dua kali di ayat ini. Perhatikan terjemahan hurufiah berikut ini: “supaya manusia kepunyaan Allah menjadi sempurna (artios), disempurnakan (exartizō) untuk setiap perbuatan baik” (bdk. ASV “That the man of God may be complete, furnished completely unto every good work”).

Tujuan di atas jelas tidak mudah. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai titik itu tanpa mengenal kebenaran firman Tuhan dengan baik? Bahkan dengan kebenaran kitab suci pun kita kadangkala lebih memilih untuk tunduk pada kedagingan daripada kebenaran. Di sinilah kita diingatkan sekali lagi bahwa keselamatan tidak mungkin diperoleh melalui perbuatan baik. Pada saat yang sama kita sekaligus diingatkan untuk bersandar terus pada anugerah Allah.

Adalah tugas orang tua (terutama para ayah) untuk mengajarkan Alkitab pada seluruh anggota keluarga. Menyerahkan tugas ini pada gereja dan sekolah Kristen adalah kekeliruan. Sebuah upaya menggeser tanggung-jawab yang tidak bertanggung-jawab. Orang tua yang tidak mau membayar harga bagi pendidikan rohani anak-anak mereka akan membayar harga lebih mahal di kemudian hari untuk kesalahan dan kegagalan anak-anak mereka. Tidak ada harapan di masa depan tanpa kematian dan kebangkitan Kristus Tuhan. Tidak ada jalan yang aman tanpa kebenaran firman Tuhan. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :