Apakah Bunga Badam Itu?

Apakah Bunga Badam Itu?

Bagi telinga orang Indonesia, istilah ‘bunga badam’ merupakan istilah yang asing terdengar. Selain karena jarangnya jenis tanaman ini di Indoensia, jenis tanaman ini memang merupakan tanaman asli India dan Iran. 

Yang menarik adalah, istilah ‘bunga badam’ muncul beberapa kali dalam Alkitab. Berasal dari akar kata sdq, sedeqim atau bunga badam ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan ‘almond (tree)’. Mungkin dengan mendengar almond, utamanya biji almond, bunga badam akan mudah dipahami. Akar kata sdq, sebagai sebuah kata kerja, juga dapat berarti ‘melihat atau terjaga’. Itulah sebuah pemainan kata yang dipakai oleh nabi Yeremia ketika dia menyampaikan Firman Allah dalam 1:11-12:

Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam (saqed)." Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia (soqed) untuk melaksanakan firman-Ku."

Hubungan antara kata kerja sdq yang berarti ‘melihat atau terjaga’ dengan kata benda sedeqim yang berarti ‘bunga badam’, memang memiliki keterkaitan yang sangat erat. Pohon bunga badam merupakan salah satu pohon yang berbunga paling awal di Israel. Sekitar akhir Januari atau awal Februari, banyak bukit di Israel langsung berubah warna menjadi putih. Ibarat bangun dari tidur panjangnya di musim dingin, maka bunga badam mulai berbunga dan memenuhi lereng-lereng bukit dengan warna putihnya. Tidak mengherankan gambaran putihnya bunga badam  dipakai oleh Salomo ketika dia menggambarkan salah satu ciri-ciri usia tua dalam Pengkhotbah 12:5 dengan ‘pohon badam berbunga’ yang diidentikkan dengan rambut yang mulai memutih  .

Selanjutnya, ada hal menarik lain dalam Alkitab tentang bunga badam ini sehubungan dengan keberadaannya di Kemah Suci.  Pertama, pembuatan kaki dian emas (menorah) sebagai salah satu bagian yang ada dalam Ruang Kudus (Ibrani 9:2), mengambil pola bunga badam.

Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu dengan tombol dan kembangnya dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain dengan tombol dan kembangnya ;demikianlah juga kaubuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.

Pada kandil itu sendiri harus ada empat kelopak berupa bunga badam dengan tombolnya dan kembangnya (Kel. 25:33-34).

Tiga kelopak yang berupa bunga badam pada cabang yang satu dengan tombol dan kembangnya dan tiga kelopak yang serupa pada cabang yang lain dengan tombol dan kembangnya ;demikian juga dibuat keenam cabang yang timbul dari kandil itu.

Pada kandil itu sendiri ada empat kelopak berupa bunga badam dengan tombolnya dan kembangnya. (Kel. 37:19-20)

Yang sangat menarik adalah, Allah sendirilah yang mengambil inisiatif mengambil bunga badam sebagai pola pembuatan menorah itu. Dan Menorah telah lama menjadi simbol bangsa, dan negara Yahudi. Namun Allah tidak menjelaskan mengapa Dia memilih bunga badam sebagai pola untuk pembuatan masing-masing cabang pada menorah itu. Ketiadaan alasan yang ditampilkan menyebabkan berbagai penafsiran penggunaan pola bunga badam sebagai pola cabang pada menorah. Ada yang mengatakan karena bunga badam memiliki pola bunga yang paling simetris sehingga jika dibandingkan dengan bunga-bunga lainnya, bunga badam merupakan contoh yang sempurna.  Ada juga yang menafsirkan pemilihan pola bunga badam buat menorah berkaitan dengan berseminya bunga badam ini di awal tahun, yang seolah memberikan terang tersendiri. Hal ini berkaitan dengan fungsi menorah yang memang dimaksudkan untuk memberikan penerangan keada Harun dan anak-anaknya ketika mereka sedang melayani di Ruang Kudus (Kel. 27:20-21).

Kedua, bunga badam menjadi lambang konfirmasi otoritas yang diberikan Tuhan kepada Harun dan orang Lewi sebagai kaum yang kelak akan terus melayani Tuhan (kaum imam). Di tengah pemberontakan yang dipimpin Korah yang mempertanyakan kepemimpinan Harun dan orang Lewi, maka Tuhan’berbicara’ melalui tongkat Harun. Tuhan menyuruh kepada 12 suku Israel memberikan perwakilan tongkat disertai nama masing-masing pemimpin suku.  Tongkat-tingkat itu diletakkan di depan tabut perjanjian. Keesokan harinya tongkat sulu Lewi dengan Harun sebagai pemimpinnya dikatakan, “telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam” (Bil. 17:8).  Dalam hitungan satu malam, tongkat Harun bertunas, mengeluarkan kuntum, berbunga dan berbuah badam. Kembali nama buah badam muncul dalam kasus ini; mengapa harus buah badam? Ada yang mengatakan, kemunculan buah badam salah satunya berkaitan dengan warna putihnya. Di banyak budaya waktu itu, warna putih melambangkan kebaikan, kesucian, otoritas dan keilahian. Baju imam yang akan masuk ke Ruang Maha Kudus pada hari arya pendamaian (Ima 16:4, ‘kemeja lenan yang kudus’ = ‘white linen’).

Kesimpulan dari semua itu adalah memang, buah badam memiliki keunikan khusus. Selain karena merupakan salah satu hasil terbaik Israel (Kej. 43:11), warna putihnya memiliki keunikan tersendiri (bdg. Kej. 30:37).                                                       NK_P

Bagikan artikel ini :