Mengingat Semua Kebaikan Tuhan (Mazmur 103:1-5)

Mengingat Semua Kebaikan Tuhan (Mazmur 103:1-5)

Mazmur 103 (terutama ayat 1-5) termasuk salah satu teks Alkitab yang paling terkenal dan terindah. Daud memulai dan mengakhiri mazmur ini dengan ungkapan yang sama, yaitu “Pujilah TUHAN, hai jiwaku” (ayat 1, 22). Progresivitas cakupan dalam mazmur ini terlihat cukup jelas: dari pujian pribadi (ayat 1-5), pujian nasional (ayat 6-18), sampai seruan kepada para penghuni surga untuk memuji TUHAN (ayat 19-22). Seluruh bagian terfokus pada dan menerangkan “segala kebaikan TUHAN” (ayat 2).

Sehubungan dengan ayat 1-5 secara khusus, para pembaca dengan mudah dapat menangkap struktur yang ada. Ayat 1-2 merupakan ajakan pada diri sendiri untuk memuji TUHAN. Ayat 3-5 berisi serangkaian anak kalimat partisip yang berfungsi untuk menerangkan perbuatan-perbuatan TUHAN. Jadi, ayat 1-2 menjelaskan “bagaimana”, sedangkan ayat 3-5 “mengapa”.

Bagaimana kita memuji TUHAN (ayat 1-2)?

Meminjam sebuah istilah populer, bagian ini disebut “self-talk” (pembicaraan pada diri sendiri). Dalam taraf tertentu semua orang pernah melakukan self-talk, baik yang diucapkan secara verbal maupun sebatas pergulatan di pikiran. Ada banyak hal positif yang bisa dihasilkan (jikalau kebiasaan ini dilakukan dengan makna yang benar dan cara yang benar pula). Jadi, self-talk pada dirinya sendiri bersifat netral, bisa membangun, bisa pula merusak.

Apa yang dilakukan oleh Daud di ayat 1-2 jelas termasuk yang membangun. Melalui bagian ini kita akan belajar beberapa poin penting tentang memuji TUHAN. Poin-poin ini seharusnya saling berkaitan erat, namun ada baiknya kita memikirkannya satu per satu.

Yang terutama, memuji TUHAN tidak terjadi secara natural dan spontan. Daud mengajak jiwa dan batinnya sendiri untuk memuji TUHAN. Mengapa dia perlu melakukan hal ini? Karena ada momen-momen tertentu dalam hidup seseorang ketika pujian tidak keluar secara natural dan spontan. Memuji TUHAN menjadi sesuatu yang sukar untuk dilakukan. Itulah pengalaman kita. Pengalaman setiap umat TUHAN.

Manusia adalah ciptaan yang bergantung sepenuhnya kepada Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara. Fakta ini seharusnya sudah memadai sebagai alasan untuk memuji Dia di segala waktu dan keadaan. Memuji TUHAN seharusnya terjadi secara natural dan spontan. Dalam kenyataan, dosa membuat kita enggan memuji TUHAN. Kemelut hidup merampas hasrat kita untuk memuliakan Dia. Kesibukan menjauhkan kita dari kenikmatan bersama dengan TUHAN dalam hadirat-Nya.

Poin lain yang penting adalah ini: memuji TUHAN tidak terpisahkan dari kebaikan-kebaikan-Nya. Kata “memuji TUHAN” di teks ini secara hurufiah berarti “memberkati TUHAN” (versi Inggris “bless the Lord”). Dalam Alkitab, memberkati Allah berarti mengakui bahwa segala sesuatu yang membuat hidup kita bermakna dan indah berasal dari Dia. Kita merespons semua pemberian yang baik tersebut dengan mengeluarkan perkataan-perkataan yang baik bagi Dia. Itulah sebabnya tatkala kita enggan memuji TUHAN, kita perlu mendorong diri sendiri untuk mengingat semua kebaikan-Nya (ayat 2b).

Tidak sulit untuk mengimani kebenaran ini. Kita cenderung mengeluhkan hal-hal yang belum ada di tangan kita daripada mensyukuri apa yang sudah ada dalam genggaman. Sebuah penderitaan seringkali kita anggap sudah cukup untuk menyalahkan Tuhan, tetapi ribuan kebaikan-Nya seolah-olah tak pernah memadai untuk memuji Dia. Pengalaman bangsa Israel di padang gurun menjadi saksi historis tak terbantahkan. Kelepasan secara ajaib dari tanah Mesir seolah tak bernilai apa-apa ketika sebuah kesukaran hidup ada di depan mata. Keluhan dan omelan, bukan pujian, dengan mudah keluar dari mulut mereka. Penyesalan dan kekecewaan, bukan pujian, menjadi respons yang dipandang wajar. Betapa kita mudah melupakan segala kebaikan-Nya!

Yang paling parah, sebagian umat Tuhan justru memanipulasi Allah melalui pujian. Kebaikan Allah bukan menjadi alasan untuk memuji Dia, melainkan pujian kepada-Nya dimanfaatkan untuk mendapatkan kebaikan-Nya. Allah dimanipulasi, bukan dipuji.

Yang ketiga, memuji TUHAN bersifat holistik. Menyeluruh. Ini tentang segenap keberadaan kita.

Menyeluruh berarti luar-dalam.  Daud menggugah jiwa dan seluruh batinnya untuk memuliakan Allah. Ini bukan sekadar aktivitas bibir. Lebih daripada alunan nada dan rangkaian kata. Pujian dimulai dari hati, dan merembesi segenap diri. Apalah artinya bibir yang memuliakan Allah kalau hatinya jauh dari Dia (Mat. 15:8)?

Menyeluruh juga berarti jiwa-pikiran. Walaupun Daud di ayat 1-2 mengajak jiwa dan seluruh batinnya untuk memuji TUHAN, bukan berarti pujian hanya merupakan aktivitas hati atau perasaan. Daud menambahkan: “Pujilah TUHAN hai jiwaku, janganlah lupakan segala kebaikan-Nya” (ayat 2). Untuk mengingat sesuatu jelas dibutuhkan aktivitas pikiran. Bahkan tatkala jiwa dan batin kita enggan memuji TUHAN, dorongan terbesar datang dari pikiran. Pikiran yang mengingat semua peristiwa dan pengalaman bersama dengan Tuhan. Tidak ada alasan untuk memisahkan hati dan pikiran seolah-olah keduanya merupakan musuh bebuyutan. Kedewasaan pikiran dan perasaan sangat diperlukan dalam menghadirkan pujian yang memperkenankan hati Tuhan.

Mengapa kita memuji Tuhan (ayat 3-5)?

Seperti sudah disinggung di depan, bagian ini merupakan anak kalimat partisip yang menerangkan TUHAN dan segala kebaikan-Nya. Dengan mengingat semua ini, kita akan memiliki alasan yang melimpah untuk memuji Allah. Kebaikan apa saja yang TUHAN sudah perbuat dalam hidup kita?

Pengampunan (ayat 3a). Bukan kebetulan jika pengampunan ada di daftar teratas. Pengampunan adalah kebutuhan kita yang terbesar. Mengapa demikian? Karena persoalan terbesar dalam kehidupan adalah kejahatan dan pelanggaran. Semua ini sudah dibereskan oleh Kristus di atas kayu salib dengan jalan menjadi dosa bagi kita, sebagaimana diberitakan oleh Paulus: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:21). Jadi, menerima pengampunan berarti menerima pemenuhan atas kebutuhan kita yang terbesar.

Pengampunan juga merupakan kebutuhan kita yang terus-menerus. Walaupun dosa-dosa kita sudah dibereskan di kayu salib oleh Yesus Kristus, bukan berarti kita sudah kebal terhadap dosa. Status dan kuasa dosa dalam diri kita sudah dipatahkan, tetapi kita tetap bergumul dengan natur yang berdosa. Kita membutuhkan pengampunan setiap saat. Tidak ada seorang pun yang terlalu angkuh untuk tidak membutuhkan pengampunan (1Yoh. 1:8, 10). Itulah sebabnya, di tempat lain Daud berkata: “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya” (Rm. 4:6-7).

Kesembuhan (ayat 3b). Beberapa penafsir menduga bahwa penyakit di ayat 3b disebabkan oleh dosa di ayat 3a. Ketika dosa – sebagai penyebab penyakit – sudah dibereskan, maka penyakit itu juga diselesaikan.

Terlepas dari benar atau tidaknya penafsiran ini, Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa dosa pertama yang dilakukan oleh Adam dan Hawa telah merusak seluruh elemen kehidupan. Tidak ada satu pun di dunia ini yang bebas dari dampak buruk dosa. Tubuh kita pun tidak dikecualikan. Kelemahan dan kesakitan dengan mudah menyusup ke dalam badan.

Dalam perspektif pemikiran Ibrani yang sangat menekankan kedaulatan Allah yang mutlak, setiap kesembuhan berasal dari Allah. Entah seseorang sembuh secara mujizat, dengan sendirinya melalui istirahat, atau menggunakan obat, semua melibatkan campur tangan Allah. Dia mengontrol setiap bagian tubuh kita, bahkan bagian-bagian yang tersembunyi sekalipun (Mzm. 139:13-16).

Kelepasan dari kubur (ayat 4a). Kematian merupakan musuh yang paling menakutkan. Musuh ini tak terkalahkan. Tidak peduli seberapa hebat teknologi medis dan penemuan obat, tidak ada seorang pun yang kebal terhadap kematian. Tidak peduli seberapa berhati-hati kita sudah menjauhinya, kematian tetap memaksa datang, bahkan dengan cara yang tidak terduga. Kita bisa mati kapan saja. Begitu banyak bahaya di sekitar kita. Hanya kemurahan Tuhan saja yang membuat kita dapat bertahan. Yakobus dengan bijaksana berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan melakukan ini dan itu” (Yak. 4:15).

Daud adalah salah seorang yang paling sering berdekatan dengan maut. Sebagai tentara dan panglima perang, nyawanya selalu berada dalam bahaya. Di luar medan peperangan pun dia tidak aman. Saul berkali-kali mencoba mencabut nyawanya. Bahkan Absalom anaknya, menginginkan kematiannya. Menjadi seorang pelarian sudah biasa bagi Daud. Dia paling paham betapa besar sukacita dilepaskan dari maut.

Sekarang kita bahkan bisa lebih bersyukur lagi. Kematian adalah keuntungan, karena menjadi jalan menuju kebersamaan dan kebahagiaan kekal bersama Tuhan (Flp. 1:20-22). Tidak ada alasan lagi untuk takut terhadap sengat maut (1Kor. 15:55-57).

Kasih setia dan rahmat TUHAN (ayat 4b). Kata “memahkotai” di sini merujuk pada persiapan pesta perkawinan rajani (Kid. 3:11). Artinya, TUHAN tidak sekadar memberikan, tetapi melimpahi. Bukan sesuatu yang biasa, melainkan luar biasa.

Istilah “kasih setia” (hesed) merujuk pada kasih-perjanjian (covenantal love). Allah yang penuh kasih memilih untuk berpegang erat pada perjanjian-Nya, terlepas dari ketidaksetiaan umat-Nya. Bukankah pengalaman hidup kita membuktikan bahwa “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.” (2Tim. 2:13)?

Istilah “rahmat” (rahamim) lebih mengarah pada belas-kasihan TUHAN atas orang yang berdosa atau membutuhkan. Yang ditekankan di sini adalah kepapaan, kehinaan, dan keberdosaan kita. Semua ini tidak menghalangi Dia untuk tetap mengasihi kita.

Ayat 9-14 menguraikan dua aspek kasih di atas dengan sangat gamblang.  “Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.

Kepuasan yang memberi kekuatan (ayat 5). TUHAN menciptakan manusia sebagai makhluk yang bergantung. Kita diberi berbagai keinginan dan kebutuhan. Semua hasrat ini menunggu pemenuhannya. Akan ada kekosongan jiwa jika salah satu hasrat ini dibiarkan menganga.

Puji TUHAN! Allah sendiri menjadi penggenapan yang penuh dari seluruh hasrat kita. Hanya Dia saja yang kita inginkan; Dia saja bagian kita satu-satunya (Mzm. 73:25-26). Dia telah menganugerahkan kehidupan yang utuh kepada kita di dalam Kristus.

Kepuasan hidup pada akhirnya akan menyuntikkan kekuatan yang baru bagi kita. Hal ini digambarkan dengan “masa muda” dan “burung rajawali”. Dalam Alkitab, rajawali merupakan bimbol kekuatan. Lebih tepatnya, kekuatan yang dibarui (Yes. 40:31). Tantangan hidup dan pengalaman pahit tidak melemahkan, tetapi justru memberikan kekuatan yang baru. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :