Bagaimana Proses Kanonisasi Perjanjian Lama?

Bagaimana Proses Kanonisasi Perjanjian Lama?

Perdebatan seputar kanon PL sekarang ini memang kalah gencar daripada kanon PB, tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua topik tentang kanon PL telah menghasilkan konsensus di antara para teolog. Beberapa isu tetap diperdebatkan, sementara isu-isu lain tetap menjadi misteri.

Istilah

Istilah “kanon” berasal dari bahasa Yunani. Kata ini telah mengalami perubahan arti, walaupun arti-arti yang ada tetap berkaitan. Mula-mula kata ini berarti “tongkat”. Karena pada jaman dulu tongkat juga dijadikan sebagai alat pengukur, maka kanon sering dikaitkan dengan ukuran, pedoman atau peraturan. Hasil pengukuran dengan memakai tongkat ini seringkali dikumpulkan menjadi sebuah rangkaian. Dengan demikian kata kanon pun selanjutnya dikaitkan dengan sebuah daftar yang menjadi pedoman atau ukuran.

Dalam diskusi seputar kanonisasi Alkitab, kata kanon juga mengalami perubahan arti seperti di atas. Kanon mula-mula dipakai dalam arti batasan ajaran atau pedoman iman (Gal 6:16). Sejauh data yang tersedia, bapa gereja Athanasius (abad ke-4 M) dari Aleksandria kemungkinan besar adalah orang pertama yang menggunakan kata kanon dalam arti daftar kitab-kitab yang diakui sebagai firman Allah. Dalam tulisannya yang berjudul Decrees of the Synod of Nicaea ia menyebut kitab Gembala Hermas (Shepherd of Herman) tidak termasuk dalam kanon. Walaupun istilah kanon sekarang ini lebih merujuk pada daftar kitab, tetapi makna lain sebagai ukuran atau pedoman iman tetap tidak dihilangkan. Karena kitab-kitab tersebut adalah firman Tuhan, maka semua kitab itu harus dijadikan pedoman iman.

Penjelasan di atas mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman. Orang mungkin akan berpikir bahwa istilah kanon hanya berkaitan dengan kitab-kitab PB. Hal ini tentu saja tidak tepat. Dalam diskusi seputar daftar kitab PL yang diakui sebagai firman Allah, istilah kanon memang jarang digunakan, namun ide tentang “daftar kitab yang otoritatif” sudah ada jauh sebelum jaman PB, namun daftar ini tidak disebut dengan istilah kanon. Pada abad ke-1 M para rabi di Jamnia menyebut kitab-kitab PL yang otoritatif dengan sebutan kitab yang “mencemarkan tangan”. Kenyataannya, kata Yunani kanwn bahkan berasal dari rumpun bahasa Semit qāneh. Sama seperti kanon, kata qāneh mula-mula memiliki arti “tongkat” atau “buluh”. Selanjutnya kata ini juga dipakai dalam arti “timbangan” atau “kaki dian”.Kata qāneh tidak pernah diterjemahkan kanon dalam LXX, walaupun kata kanon tetap muncul 3 kali dengan arti yang berbeda-beda (Yud 13:6 “cagak pembaringan”; 4Mak 7:21 “peraturan filsafat”; Mik 7:4, di ayat ini kata kanon artinya tidak jelas). Philo memakai kata kanon dalam arti “peraturan”, “perintah” atau “hukum”. Josephus memakainya dalam arti “ukuran”. Dari penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa sekalipun kata kanon dalam arti daftar kitab-kitab yang otoritatif baru dipakai pertama kali di abad ke-4 oleh Athanasius, namun ide di balik istilah ini sudah ada sebelumnya.\

Daftar kitab kanonik

Pembacaan PB secara sekilas sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Yesus dan para rasul mengakui otoritas kitab-kitab PL. Mereka menyebut ayat-ayat PL sebagai kitab suci (Luk 4:21). Kata “kitab suci” atau “kitab-kitab suci” dalam PB muncul sebanyak 43 kali. Yesus menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada satu bagian pun dari Taurat yang boleh ditiadakan (Mat 5:18). Segala sesuatu dalam PL harus digenapi (Mat 5:17; Luk 24:27).

Penjelasan di atas membuktikan bahwa pada jaman Yesus sudah ada kitab-kitab tertentu yang diakui sebagai kitab suci. Bagaimanapun, kita tidak bisa mengetahui secara pasti jumlah kitab-kitab yang dikutip oleh Yesus maupun para rasul. Mereka tidak pernah menyebutkan kitab-kitab apa saja yang termasuk kitab suci.

Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa kitab mana yang diakui sebagai firman Tuhan oleh Yesus dan para rasul dapat diketahui dari kutipan yang ada. Artinya, jika suatu kitab dikutip oleh mereka, maka kitab itu pasti adalah firman Tuhan dan layak dimasukkan ke dalam kanon. Pendekatan seperti ini tampaknya sulit dipertahankan. Para rasul beberapa kali mengutip sumber yang non-kanonik, misalnya Paulus mengutip pernyataan seorang filsuf Stoa (Kis 17:28-29). Sebaliknya, beberapa kitab kanonik justru tidak pernah dikutip secara langsung dalam PB, misalnya Hakim-hakim, Ruth, Ester dan Kidung Agung. Ketika penulis PB mengutip suatu sumber maka kita harus memperhatikan cara mereka mengutip sumber itu. Apakah ada indikasi bahwa para penulis mengakui otoritas dari sumber itu (misalnya dengan penyebutan “kitab suci berkata”, “seperti ada tertulis”, dsb.)? Begitu pula ketika mereka tidak mengutip suatu kitab kanonik PL, itu mungkin disebabkan kitab-kitab tersebut memang tidak berkaitan dengan kitab PB yang sedang mereka tulis. Kita tidak bisa menuntut bahwa semua penulis PB harus mengutip seluruh kitab PL.

Karena PB tidak memberi petunjuk yang jelas tentang daftar kitab-kitab kanonik PL, maka kita sebaiknya memulai penyelidikan dari sesuatu yang sudah pasti terlebih dahulu, yaitu pembagian kitab-kitab dalam kanon Ibrani. Orang-orang Yahudi menerima 24 kitab sebagai firman Allah. Semua kitab ini dikelompokkan menjadi TeNaKh: Torah (Taurat), Nebiim (Tulisan Para Nabi) dan Khetubim (Tulisan-tulisan lain).

Ada banyak pertanyaan seputar pembagian di atas. Apakah semua kitab ini diterima secara bersamaan dan dari semula diatur berdasarkan tiga pembagian di atas ataukah pembagian ini mengindikasikan penerimaan yang bersifat bertahap? Mengapa Tawarikh ditempatkan setelah Ezra-Nehemia, padahal secara kronologis seharusnya ada sebelum Ezra-Nehemia? Mengapa sebagian besar kitab sejarah (menurut versi modern) justru dikategorikan sebagai kitab para nabi? Mengapa Kitab Daniel malah digolongkan kitab sejarah? Apakah dasar pengelompokan nabi awal dan yang kemudian? Mengapa Kitab Ruth dikelompokkan dalam jajaran Megilloth? Mengapa Kidung Agung dan Ratapan tidak dikategorikan sebagai kitab puisi dan dengan demikian dimasukkan ke dalam golongan pertama?

Beberapa pertanyaan tersebut dapat dijawab, tetapi sebagian tetap menjadi misteri dan topik perdebatan di antara para teolog. Mari kita mulai dari yang pertama, yaitu sejarah pembagian kanon Ibrani ke dalam TeNaKh. Sebagian teolog yakin bahwa pembagian kanon Ibrani ke dalam tiga kelompok tidak terjadi secara bersamaan. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penerimaan secara non-formal oleh orang-orang Yahudi harus dibedakan dari proses kanonisasi yang formal. Kelompok yang terakhir ini tetap setuju bahwa kitab-kitab itu secara bertahap diterima secara non-formal, namun mereka menduga semua kitab itu pada akhirnya diterima secara resmi dalam suatu peristiwa khusus.

Walaupun kita sulit menentukan pendapat mana yang tepat, tetapi kita masih dapat menelusuri bagaimana suatu kitab diakui otoritasnya (secara formal maupun tidak) oleh orang-orang Yahudi. Tulisan Musa langsung mendapatkan pengakuan dari orang Israel (Kel 24:3). Tulisan Musa dikumpulkan dan disimpan di samping tabut perjanjian (Ul 31:26). Yosua diperintahkan Tuhan untuk menuruti kitab Taurat (Yos 1:8). Pada jaman Raja Yosia ditemukan salinan kitab Taurat dalam rumah Tuhan, yang menyiratkan bahwa tulisan tersebut diakui sebagai firman Allah (2Raj 23:24). Pada jaman pasca pembuangan pun kitab Taurat tetap diakui sebagai firman Tuhan (Ez 7:6, 10).

Di luar kitab Musa, kita tidak dapat memastikan urutan penerimaan kitab-kitab yang lain. Alkitab hanya memberikan petunjuk bahwa beberapa nabi yang lebih kemudian mengakui otoritas pelayanan dari nabi-nabi sebelum mereka (Yer 7:25; Yeh 38:17; Zak 1:4; 7:7). Bagaimanapun, pengakuan ini tidak merujuk secara eksplisit pada tulisan para nabi. Pengakuan ini lebih mengarah pada perkataan lisan daripada tertulis. Satu-satunya petunjuk tentang otoritas tulisan seorang nabi yang diakui oleh nabi lain ada di Daniel 9:2 ketika Daniel mengutip isi dari tulisan Yeremia. Beberapa teks lain bisa merujuk pada pengakuan terhadap ucapan maupun tulisan nabi pada masa sebelumnya, misalnya Yeremia mengutip Mikha (Yer 26:18//Mik 3:12), Mikha mengutip Yesaya atau sebaliknya (Mik 4:1-3; Yes 2:2-4), dsb.

Beberapa bukti tampaknya mengarah pada dugaan bahwa kanon PL sudah final sebelum jaman PB. Pertama, Lukas 24:44. Dalam bagian ini Yesus memakai ungkapan “kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” untuk merujuk pada seluruh PL. Penyebutan ini sangat menarik, karena kitab Mazmur dalam konteks ini kemungkinan besar bukan hanya berdiri sendiri sebagai suatu kitab, tetapi perwakilan dari seluruh kitab Khetubim (Kitab Mazmur merupakan kitab pertama dalam daftar kitab-kitab Kethubim). Walaupun hal ini hanya sebatas dugaan, tetapi dugaan ini tampaknya lebih masuk akal daripada menganggap Kitab Mazmur berdiri sendiri dan dibedakan dari kitab Taurat dan para nabi. Mengapa Yesus harus menyendirikan kitab Mazmur (apalagi jika ungkapan “kitab Taurat dan para nabi” sudah merujuk pada seluruh PL)?

Kedua, Matius 23:35//Lukas 11:51. Dalam ayat ini Yesus merangkum sejarah penganiayaan terhadap orang-orang benar dari jaman Habel sampai Zakharia anak Berekhya. Urutan ini pasti tidak mungkin bersifat kronologis, karena orang benar terakhir  yang dibunuh adalah Nabi Uria (Yer 26:20-23). Penempatan Zakharia bin Berekhya di urutan terakhir sangat mungkin mengikuti urutan kanon Ibrani. Dalam kanon Ibrani kitab terakhir adalah Tawarikh dan di dalam kitab ini dicatat tentang kematian Zakharia bin Berekhya (2Taw 24:20-22).

Ketiga, kitab Yahudi yang lain. Kata pengantar Kitab Sirakh berkali-kali memuat ungkapan “kitab Taurat, para nabi dan kitab-kitab yang lain”. Walaupun sebagian teolog masih memperdebatkan apakah “kitab-kitab yang lain” merujuk pada Kethubim atau tidak, namun konklusi ke arah sana tetap lebih masuk akal. Philo membagi kitab suci menjadi “kitab Taurat, kitab para nabi dan lagu-lagu dan hal-hal lain yang bermanfaat bagi pengetahuan dan kesalehan yang sempurna”. Josephus menyebutkan pembagian kitab suci ke dalam tiga golongan. Golongan terakhir dia sebut sebagai “lagu-lagu dan pedoman tingkah laku”. Cara Philo dan Josephus menyebut bagian yang ketiga tampak sangat sesuai dengan karakteristik kitab-kitab Kethubim. Dengan demikian pengelompokan ke dalam TeNaKh kemungkinan besar memang sudah ada jauh sebelum pernyataan resmi dalam Talmud Babilonia (abad ke-4).

Terhadap pendapat di atas, ada satu argumen yang mungkin diberikan sebagai bantahan, yaitu pemakaian ungkapan “kitab Taurat dan kitab para nabi” (Mat 5:17; 7:12; 11:13; 22:40; Luk 16:16; Yoh 1:45; Kis 13:15; 28:23; Rom 3:21) sebagai salah satu cara yang lazim untuk merujuk pada seluruh PL. Penyebutan seperti ini mungkin menyiratkan bahwa pada jaman Yesus baru ada dua golongan kitab yang diterima dalam kanon. Bagaimanapun, hal ini dapat dijelaskan dengan cara yang lain. Penyebutan “kitab Taurat dan kitab para nabi” mungkin hanya sekadar ungkapan lain untuk 24 kitab (kanon Ibrani) atau 39 kitab (kanon Yunani) PL. Dalam hal ini beberapa nama penulis kitab yang termasuk dalam kategori Kethubim memang disebut sebagai nabi, misalnya Daud (Kis 2:30), Daniel (Mat 24:15), Ayub (Yak 5:10). Para penulis yang memakai ungkapan “kitab Taurat dan kitab para nabi” sebagai rujukan untuk PL tanpa diragukan juga menerima otoritas kitab-kitab Kethubim. Sebagai contoh Yesus mengakui otoritas Mazmur 69:10 (Yoh 2:17), Mazmur 78:24 (Yoh 6:31). Di samping itu, beberapa kitab Khetubim juga sering disebut sebagai “kitab Taurat”, karena ungkapan “kitab Taurat” memang dapat merujuk pada seluruh PL” (Mat 5:18 bdk. ayat 17; Yoh 10:34//Mzm 82:6; 12:34//Mzm 110:4; 15:25//Mzm 35:19; 1Kor 15:4//Mzm 16:8-10).

Terlepas dari isu apakah pembagian TeNaKh memang sudah populer pada jaman PB atau tidak, satu hal yang pasti adalah bahwa seluruh kitab PL yang kita kenal sekarang tampaknya sudah diterima otoritasnya sebagai firman Tuhan pada jaman PB, walaupun ungkapan yang dipakai berbeda-beda. Bagi orang Yahudi cara pembagian kitab suci sendiri mungkin tidak sepenting cakupan dari kitab suci tersebut. Hal ini tampak pada penggunaan ungkapan yang sangat variatif untuk merujuk pada seluruh kitab PL. Cara Josephus membagi kitab suci ke dalam 3 kategori pun sedikit berbeda dengan urutan TeNaKh. Para penerjemah LXX pun memutuskan untuk memakai urutan sendiri yang berbeda dengan TeNaKh. Pembagian LXX inilah yang selanjutnya menjadi dasar pembagian dalam Alkitab versi Latin (Vulgata) dan versi modern lainnya.

Bagikan artikel ini :