Eksposisi 1 Korintus 15:29-32

Eksposisi 1 Korintus 15:29-32

Bagian ini mirip dengan 15:13-19. Paulus menjelaskan kebangkitan secara negatif: seandainya Kristus TIDAK dibangkitkan atau TIDAK ADA kebangkitan orang mati. Kalau di ayat 13-19 dia lebih banyak menerangkan tentang konsekuensi buruk yang akan terjadi seandainya hal itu benar. Di ayat 29-32 dia lebih menyoroti kesia-siaan pengorbanan yang dilakukan atas dasar kebangkitan apabila Kristus ternyata tidak dibangkitkan.

Melalui ayat 29-32 Paulus ingin mengajarkan bahwa kebangkitan Kristus (yang pada akhirnya menjamin kebangkitan orang percaya) lebih daripada sekadar sebuah konsep. Kebenaran ini memiliki implikasi praktis yang tidak sedikit. Banyak hal yang dipraktikkan di dalam kehidupan maupun pelayanan sangat bergantung pada fakta dan makna kebangkitan Kristus.

Jikalau Kristus tidak dibangkitkan, semua praktik tersebut akan menjadi sia-sia belaka. Tidak ada alasan untuk melakukannya. Semua tidak lebih daripada kebodohan dan ketidakkonsistenan. Sebaliknya, karena kebangkitan Kristus dan kebangkitan orang mati adalah benar, semua itu layak untuk tetap diperjuangkan dan dilakukan.

Ada tiga hal yang akan menjadi percuma apabila Kristus tidak dibangkitkan: baptisan bagi orang mati, pengorbanan dalam pelayanan, dan kehidupan yang bermoral.

Baptisan bagi orang mati (ayat 29)

Ungkapan “orang-orang yang dibaptis bagi orang mati” (hoi baptizomenoi hyper tōn nekrōn) muncul tanpa keterangan tambahan. Paulus tampaknya mengasumsikan jemaat Korintus sudah cukup akrab dengan ungkapan ini. Dia sekadar menggunakan hal tersebut sebagai bagian dari argumentasinya.

Apa yang sudah jelas bagi jemaat di Korintus ternyata sangat kabur bagi kita sekarang. Tidak heran, banyak orang berseberangan pendapat tentang hal ini. Sebagian penafsir mengambil hyper tōn nekrōn (LAI:TB “bagi orang mati”) secara hurufiah dengan arti “mewakili orang mati”. Maksudnya, beberapa jemaat di Korintus mungkin telah dipengaruhi oleh sejenis konsep magis tentang dunia roh yang beredar pada waktu itu. Nasib orang yang sudah meninggal dunia dipercayai masih dapat dipengaruhi dan ditentukan oleh mereka yang masih hidup. Beberapa orang sengaja memberi diri dibaptis untuk kepentingan orang lain yang sudah meninggal dunia.

Walaupun usulan ini lebih hurufiah dan konsep magis yang diasumsikan memang beredar di budaya Yunani-Romawi kuno, tetapi pandangan ini tampaknya tidak terlalu kuat. Dalam theologi Paulus, keselamatan setiap orang ditentukan oleh keputusan orang tersebut terhadap berita injil (Rm. 10:9-10). Paulus tidak mungkin memanfaatkan pandangan yang keliru ini sebagai argumen. Bagian Alkitab lain juga menegaskan bahwa manusia hanya sekali, sesudah itu akan diadili (Ibr. 9:27). Keselamatan tidak dapat diwakilkan.

Ada dua alternatif lain yang lebih baik. Sebagian penafsir menerjemahkan hyper tōn nekrōn dengan “demi orang mati” atau “karena mempertimbangkan orang mati”. Maksudnya, ada orang yang akhirnya mengambil keputusan untuk dibaptis lantaran ia ingin bersama-sama dengan orang yang dia kasihi yang sudah lebih dahulu meninggal dunia di dalam Kristus. Beberapa meminta dibaptis gara-gara ingin memenuhi harapan terakhir dari orang yang mereka kasihi sebelum orang itu dipanggil pulang oleh Bapa di surga. Mereka ingin sama-sama berada di surga.

Solusi lain adalah memahami frasa hoi baptizomenoi hyper tōn nekrōn secara figuratif. Frasa ini tidak lain adalah sebuah ungkapan populer untuk kematian rohani yang disimbolkan di dalam baptisan. Kematian yang dibicarakan di sini merujuk pada kematian tubuh (kedagingan). Maksudnya, orang yang mengambil keputusan untuk dibaptis berarti bertekad untuk mematikan manusia lama dalam dirinya. Dia juga sekaligus meyakini kebangkitan yang dilandaskan pada kebangkitan Kristus.

Alternatif terakhir ini mendapat dukungan dari semua pemimpin Kristen abad permulaan, terutama di daerah Timur. John Chrysostom adalah salah satunya. Konsep di dalam pandangan ini juga selaras dengan theologi Paulus yang mengajarkan baptisan sebagai simbol “kematian dan kebangkitan bersama dengan Kristus” (Rm. 6:4; Kol. 2:12).

Usulan manapun yang diambil, poin yang ingin disampaikan oleh Paulus cukup jelas. Frasa hoi baptizomenoi hyper tōn nekrōn mengasumsikan bahwa orang yang terlibat dalam ritual ini pasti meyakini kebangkitan, baik kebangkitan Kristus maupun orang mati. Jika jemaat Korintus juga mempraktikkan hal ini, sangat tidak masuk akal apabila mereka menolak kebangkitan. Dalam hal ini Paulus ingin menunjukkan ketidakkonsistenan tindakan mereka.

Pengorbanan dalam pelayanan (ayat 30-32a)

Hal kedua yang akan menjadi sia-sia apabila Kristus tidak dibangkitkan adalah pengorbanan di dalam pelayanan Paulus. Betapa berat dan susahnya pelayanan Paulus sudah tidak perlu untuk diragukan lagi. Dia bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri (9:6; Kis. 20:34-35). Berbagai hinaan, cemoohan, kesengsaraan, dan kesulitan dia alami dalam tugas kerasulannya (4:9-13). Bahkan sekadar membaca kisah pelayanannya pun sudah cukup menyesakkan hati kita (bdk. 2Kor. 11:23-28).

Di antara semua bentuk kesusahan tersebut, Paulus di 1 Korintus 15:30-32a hanya berfokus pada bahaya kematian. Walaupun dia setiap hari berada dalam bahaya maut (ayat 30), dia secara khusus menyinggung tentang pergumulan melawan binatang buas di Efesus (ayat 32a). Ungkapan ini jelas bersifat figuratif. Jika dia sungguh-sungguh melawan binatang-binatang buas di arena, dia pasti tidak akan bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup, kecuali ada mujizat dari Tuhan. Sangat mungkin Paulus memikirkan musuh-musuh tertentu di Efesus yang sangat menentang dia (16:8-9; 2Tim. 4:16-17). Peristiwa ini tampaknya sangat terkenal (atau, paling tidak, diketahui oleh jemaat Korintus) atau benar-benar nyaris merampas jiwa Paulus sehingga di antara semua bahaya maut dia secara khusus membicarakan hal ini.

Yang menarik dari pernyataan Paulus di ayat 30-32a adalah penggunaan kata kerja present tense apothnēskō di ayat 31 (LAI:TB “aku berhadapan dengan maut”). Hampir semua versi Inggris secara tepat menerjemahkan “aku mati”, bukan sekadar berhadapan dengan maut. Kematian ini mengandung makna figuratif. Melalui iman di dalam Kristus, Paulus sudah mengalami persekutuan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Pengalaman ini terjadi setiap hari. Dia tidak perlu takut terhadap kematian yang bisa terjadi kapan pun dalam pelayanannya, karena setiap hari dia sudah dikuburkan dan dibangkitkan bersama Kristus. Seandainya Kristus tidak mati dan dibangkitkan, Paulus tidak memiliki alasan apapun untuk berada dalam bahaya maut setiap saat (ayat 30).

Dasar moralitas (ayat 32b)

Ini adalah hal terakhir yang akan menjadi sia-sia seandainya tidak ada kebangkitan orang mati. Paulus berkata: “Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Dengan kata lain, dasar moralitas Kristiani akan lenyap.

Perkataan Paulus ini mencerminkan opini yang sangat populer, baik di dalam budaya Yahudi maupun Yunani-Romawi. Para penulis Alkitab pernah menyinggung tentang hal ini (Yes. 22:13; 56:12; Luk. 12:19-20). Rujukan tentang ungkapan ini dalam literatur Yunani-Romawi juga cukup melimpah.

Dengan keyakinan bahwa tidak ada kehidupan sesudah kematian, sangat wajar apabila banyak orang berupaya untuk menikmati kehidupan sekarang. Apapun akan dilakukan demi mengejar kesenangan. Live – Love – Laugh (Hidup – Mencintai – Tertawa) bahkan sudah menjadi semangat zaman sekarang juga. Hidup Cuma sekali, karena itu harus dinikmati.

Tidak demikian halnya dengan orang-orang Kristen. Kita mempercayai kehidupan kekal selepas kematian. Perspektif hidup pada kekekalan ini juga seyogyanya mempengaruhi cara kita hidup. Kita tahu bahwa jerih-payah bagi Tuhan selama kita ada di dunia ini tidak akan sia-sia (15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”).

Pandangan ini tentu saja bukan berarti bahwa orang-orang yang menolak kebangkitan Kristus akan selalu hidup dalam kesenangan duniawi. Sebagian dari mereka bahkan memiliki etika hidup yang menonjol. Moralitas mereka didirikan di atas dasar yang lain, misalnya norma kultural, kemanusiaan, dan sebagainya.

Persoalannya, dasar seperti itu jika diteliti secara logis akan terlihat rapuh. Semua moralitas yang diceraikan dari Allah dan kekekalan tidak akan sanggup untuk bertahan secara rasional. Untuk apa mereka perlu memelihara norma kultural? Untuk apa mereka merasa perlu menghargai nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah kesadaran tentang dua hal ini menunjukkan bahwa ada pondasi moralitas lain yang lebih mendasar? Bukankah lebih masuk akal untuk mempercayai hukum moral syang diberikan Allah secara universal kepada semua manusia, tidak peduli budaya dan waktu hidup mereka (Rm. 2:14-15)?

Bagi kita, kebangkitan Kristus dan kehidupan kekal kelak, merupakan sauh yang kuat bagi moralitas di tengah dunia yang terus-menerus bergoncang. Kita tidak berkeberatan untuk menderita bagi Kristus dan orang lain. Kita menikmati kehidupan dengan cara yang berbeda, yaitu menggenapkan rencana ilahi dalam hidup ini. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :