Mengapa Orang Benar Menderita? (Mazmur 73:21-28)

Mengapa Orang Benar Menderita? (Mazmur 73:21-28)

Pertanyaan dalam judul di atas bersentuhan dengan banyak aspek: filosofis, theologis, maupun praktis. Secara filosofis kita menggumulkan apakah keberadaan kejahatan (dosa dan penderitaan) bertentangan dengan keberadaan Allah? Secara theologis kita bergulat dengan kebaikan dan keadilan Allah. Apakah Dia benar-benar baik dan adil? Secara praktis kita semua pernah menjalani penderitaan yang sedemikian berat dan sukar untuk dimengerti.

Mazmur 73 merupakan salah satu teks yang secara khusus menyinggung tentang pergumulan tersebut. Asaf, sebagai penulis mazmur, berusaha untuk bersikap jujur dengan kenyataan dan TUHAN. Sebuah pergumuan yang riil dan menyesakkan dada.

Walaupun judul khotbah hari ini lebih ke arah “mengapa?”, tetapi fokus pembahasan sengaja diletakkan pada “bagaimana?”. Alasan-alasan di balik penderitaan tentu saja tetap akan diuraikan, namun bukan sebagai materi utama. Kita lebih menyoroti bagaimana orang benar seharusnya menyikapi penderitaan dalam hidupnya.

Pergumulan yang menyesakkan (ayat 1-12)

Penderitaan tidak pernah menyenangkan. Bahkan ketika seseorang paham alasan-alasan di balik penderitaannya, belum tentu hal itu meringankan perasaannya. Penderitaan sebagai hukuman, misalnya, tetap sukar untuk diterima dengan lapang dada.

Situasi akan menjadi lebih rumit apabila penderitaan itu terjadi seolah-olah tanpa alasan dan tujuan. Inilah yang sering menimpa orang benar. Inilah yang terjadi pada Asaf.

Dia meyakini bahwa TUHAN baik kepada umat-Nya yang tulus hati (73:1). Dalam kehidupan Asaf, prinsip theologis ini tampaknya tidak berlaku. Dia justru melihat kemujuran orang fasik (73:4-11). Akibatnya, hati yang tulus (73:1) mulai dikuasai oleh rasa cemburu (73:3, lit. “iri hati”). Bagaimana kenyataan di ayat 4-11 ini dapat diselaraskan dengan pola kerja Allah di ayat 1?

Jika kita menempatkan diri pada posisi Asaf, kita dapat memahami pergumulannya dengan lebih baik. Sikap yang ditunjukkan Asaf adalah wajar, walaupun hal itu tetap tidak benar. Sebagai seorang Israel yang taat kepada TUHAN dan perjanjian-Nya, Asaf meyakini ajaran Hukum Taurat tentang berkat dan kutuk: taat mendatangkan berkat, dosa mendatangkan celaka (Ul. 30). Allah membuat perbedaan antara orang benar dan orang fasik (misalnya Mzm. 1:6; 37:7; 75:11). Persoalannya, keadaan Asaf justru terbalik dengan firman Tuhan ini. Dia mengalami banyak penderitaan (Mzm. 73:14), sementara orang-orang fasik menikmati kehidupan yang menyenangkan (Mzm. 73:4-11).

Bukan hanya itu, orang-orang fasik malah mengumbar kejahatan mereka (73:8). Mereka tidak segan-segan menantang siapa saja, termasuk TUHAN (73:9). Tidak heran, banyak orang bergabung ke dalam kefasikan mereka (73:10) dan mencobai TUHAN (73:11). Di manakah Allah? Di manakah keadilan-Nya?

Menghadapi penderitaan dengan benar (ayat 21-28)

Diukur dari aspek manapun – filosofis, theologis, maupun praktis - pergumulan Asaf tidaklah mudah. Dimengerti saja sudah sukar (73:16), apalagi diterima dan dijalani. Semakin coba dipahami semakin menusuk hati.

Puji Tuhan! Misteri ini bukan tanpa jawaban. Titik balik dalam pergumulan Asaf terjadi di hadirat Allah (73:17 “sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah”). Keterangan tempat ini tampaknya memang memegang peranan sentral dalam pergumulan Asaf. Titik balik terjadi di sana. Titik akhir pun ada di sana (73:28 “aku suka dekat dengan Allah”). Asaf belajar untuk melihat realita kehidupan dalam terang hadirat TUHAN. Perspektif dari atas, bukan dari bawah. Tidak berfokus pada persoalan, tetapi pada TUHAN.

Hal ini berbeda dengan kebiasaan sebagian orang. Ketika persoalan datang menerpa, mereka justru menjauhkan diri dari Allah. Mereka membiarkan kekecewaan, kebingungan, dan ketakutan menarik diri mereka semakin jauh dari Allah. Dengan demikian mereka semakin menjauhkan diri dari jawaban yang mereka sedang perlukan.

Jawaban TUHAN kepada Asaf terlalu panjang untuk diuraikan satu per satu. Dalam khotbah kali ini kita hanya menyoroti perubahan sikap Asaf sesudah dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah di tempat kudus-Nya. Sikap seperti apa yang ditunjukkannya sesudah perjumpaan tersebut?

Pertama, membiasakan diri untuk hidup dengan pertanyaan-pertanyaan (ayat 21-22). Betapa dalamnya pertanyaan dalam diri Asaf disiratkan oleh penggunaan kata “hati” (lēbāb) dan “buah pinggang (kilyâ, lit. “ginjal”). Secara figuratif dua kata ini memang kadangkala muncul bersamaan sebagai rujukan untuk bagian terdalam dalam diri manusia (Yer. 11:20). Secara khusus kata kilyâ dikontraskan dengan bagian tubuh eksternal (Yer. 12:2; ibadah yang cuma di bibir belaka dikontraskan dengan yang di kilyâ).

Selain menunjukkan kedalaman pergumulan, Mazmur 73:21 juga menyiratkan pergulatan yang hampir mematikan. Kata kilyâ beberapa kali dikaitkan dengan panah (Ay. 16:13; Rat. 3:13). Dalam konteks peperangan, serangan anak panah ke ginjal dipandang sangat menyakitkan dan mematikan. Seperti itulah perasaan Asaf tatkala merenungkan keadaannya.

Gambaran selanjutnya di 73:22 semakin mempertegas betapa beratnya pergumulan Asaf. Kali ini dia menyamakan ketidaktahuannya dengan kebodohan binatang. Kata “dungu” kadangkala memang dikenakan pada hewan (Mzm. 49:11, 13). Dalam ketidakmengertiannya, Asaf tetap bersama dengan TUHAN (73:22b). Ketidakadaan jawaban dari TUHAN tidak berarti ketidakadaan TUHAN. Asaf belajar untuk hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum/tidak terjawab.

Kedua, meyakini penyertaan Allah yang sempurna (ayat 23-24). Kebersamaan Asaf dengan TUHAN di ayat 21-22 ternyata tidak ditentukan oleh upaya Asaf saja. Dia memang memilih untuk tetap dekat dengan Allah (73:23a, lit. “tetapi aku terus-menerus bersama Engkau”). Namun, hal itu bisa berlangsung karena TUHAN yang aktif di dalam prosesnya. TUHAN selalu sebagai subjek (“Engkau...Engkau...Engkau...”). Allah memegang tangan kanannya (73:23b). Allah menuntun dia dengan nasihatnya (73:24a). Allah mengangkat dia dalam kemuliaan (73:24b, lit. “Engkau akan menerima aku kepada kemuliaan”).

Kebenaran ini patut dicamkan. Pada saat di dalam penderitaan yang berat, kita seringkali merasa ditinggalkan sendirian oleh Allah. Dia tidak mempedulikan kita. Kita sudah mencoba mendekatkan diri kepada-Nya tetapi Dia terlihat jauh.

Perasaan ini ternyata menipu. TUHAN selalu aktif dalam seluruh proses pergumulan. Dia bekerja di belakang layar. Kita mungkin tidak memahami hal ini, tetapi hal itu bukan halangan untuk meyakini janji ini.

Ketiga, menjadikan TUHAN sebagai harta satu-satunya (ayat 25-26). Tatkala Asaf kehilangan segala sesuatu yang menyenangkan dalam hidupnya, dia diajar oleh TUHAN untuk mengetahui harta yang sesungguhnya, yaitu TUHAN. Dia baru menyadari betapa dia selama ini sudah memberhalakan berkat-berkat TUHAN. Ketika semua itu lenyap, dia merasa kehilangan semuanya. Ini menjadi sinyal bahaya dalam kerohaniannya. Melalui penyertaan dan tuntunan TUHAN (73:23-24), Asaf akhirnya menemukan TUHAN dalam arti yang sesungguhnya; sebagai harta satu-satunya yang berharga. Dia menginginkan Allah lebih daripada yang lain. Tidak ada yang ia ingini kecuali Allah saja (73:25). Dia mengutamakan Allah lebih daripada dirinya sendiri. Sekalipun semua dalam dirinya hancur dan lenyap, Allah tetap menjadi tempat perlindungan dan bagian yang terbaik (73:26).

Tatkala Allah menetapkan kita untuk kehilangan sesuatu (bahkan segalanya!) Dia sebenarnya sedang menuntun kita untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Kita menemukan Dia di dalam kehilangan kita. Kehilangan menjadi keuntungan.

Keempat, mengubah penilaian kita tentang apa yang baik (ayat 27-28). Bagian awal dari ayat 28 secara hurufiah berbunyi: “Tetapi bagiku, adalah baik untuk dekat dengan Allah” (kontra LAI:TB “Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah”). Dari sini terlihat bahwa Mazmur 73 diawali dan diakhiri dengan kata “baik”. Asaf bergumul tentang kebaikan Tuhan. Sekarang dia menemukan kebaikan yang sejati.

Apakah keadaan Asaf berubah? Tidak! Mazmur 73 tidak memberi petunjuk apapun tentang keadaan Asaf yang membaik.

Yang berubah bukan keadaan Asaf, tetapi pemahamannya tentang kebaikan Allah. Sebelumnya dia mengindentikkan kebaikan TUHAN dengan segala pemberian dan kesenangan hidup. Sekarang dia benar-benar memahami apa yang baik, yaitu dekat dengan Allah. Dia bukanlah orang fasik yang jauh dari Allah, dan pasti akan dibinasakan (73:27). Dia adalah orang benar yang menyukai hadirat TUHAN (73:28). Di tengah bahaya dia menjadikan Allah sebagai tempat perlindungan (ayat 28a). Sesudah semuanya lewat, dia akan keluar dengan aman untuk menceritakan segala perbuatan TUHAN (ayat 28b). Masa penantian yang mendebarkan bersama TUHAN itulah yang Asaf sebut kebaikan. Adalah baik untuk mendekat pada TUHAN! Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :