Eksposisi 1 Korintus 15:24-28

Eksposisi 1 Korintus 15:24-28

Bagian ini menerangkan apa yang terjadi sesudah kedatangan Kristus kedua kali untuk membangkitkan umat kepunyaan-Nya (15:23b). Kristus akan menaklukkan segala musuh dan menyerahkan kerajaan kepada Allah (Bapa). Walaupun Paulus membicarakan tentang akhir zaman, fokus pembahasan tetap pada kebangkitan orang mati. Itulah tema utama di pasal 15. Itulah sebabnya Paulus perlu menegaskan secara khusus bahwa musuh terakhir yang harus ditaklukkan adalah maut (15:26). Jadi, di 15:20-28 Paulus tidak sedang mengulas secara detil tentang apa yang akan terjadi di akhir zaman nanti. Perhatiannya tetap pada isu kebangkitan orang mati.

Kristus: Menaklukkan Segala Sesuatu (ayat 24-26)

Para penafsir Alkitab bersilang pendapat mengenai frasa “kemudian tiba kesudahannya” (ayat 24a). Yang dipersoalkan adalah rentang waktu antara kedatangan Kristus yang kedua kali (15:23b) dan penyerahan kerajaan kepada Bapa (15:24a). Apakah penyerahan ini terjadi pada saat (segera sesudah) kedatangan-Nya yang kedua kali? Apakah ada rentang waktu yang panjang antara kedua peristiwa ini?

Mereka yang memegang alternatif terakhir mengusulkan kerajaan seribu tahun yang futuris (terjadi di masa yang akan datang). Mereka meyakini bahwa sesudah kedatangan Kristus yang kedua kali akan ada kerajaan seribu tahun di muka bumi. Sesudah berakhirnya masa seribu tahun ini barulah Kristus menyerahkan kerajaan kepada Bapa-Nya.

Kita sebaiknya menolak penafsiran di atas. Ayat 25 secara eksplisit menerangkan bahwa Kristus sudah memegang pemerintahan sebagai Raja. Bentuk kata kerja present pada “harus memegang pemerintahan sebagai raja” (dei basileuein) menegaskan hal ini. Artinya, pemerintahan Kristus sudah terjadi sejak kedatangan-Nya yang pertama. Pelayanan-Nya yang disertai berbagai mujizat menunjukkan kerajaan Allah bukan hanya “sudah dekat” (Mat 4:17), melainkan “sudah ada” di tengah-tengah manusia (Mat 12:28). Kematian-Nya untuk mengalahkan penguasa dunia ini (Yoh 12:31; 16:11). Kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga berarti penaklukkan segala kuasa dan pemerintahan (Ef 1:20-23; Kol 1:13; 1 Pet 3:22).

Kebenaran ini sangat menghiburkan. Apa yang ditulis di 1 Korintus 15:24 memang baru terjadi nanti pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali. Namun, kepastian-Nya tidak usah diragukan lagi. Dari dulu sampai sekarang Kristus memerintah dari surga secara aktif.

Perubahan keterangan waktu pada kata kerja “menyerahkan” (paradidō) dan “membinasakan” (katargēsē) juga menyiratkan hal yang sama. Penyerahan kerajaan kepada Bapa memang terjadi pada saat kedatangan-Nya yang kedua kali, tetapi pembinasaan segala pemerintahan, kuasa, dan kekuatan sudah terjadi sebelumnya. Dalam hal ini penerjemah LAI:TB secara tepat menerjemahkan: “bilamana Ia menyerahkan kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan, dan kekuatan”. Itulah sebabnya Dia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sejak dahulu, supaya Dia menaklukkan segala sesuatu di bawah kuasa-Nya.

Beberapa penafsir mempersoalkan subjek dari ayat 25b (LAI:TB “sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya”). Kata “Allah” merupakan penjelasan dari penerjemah LAI:TB. Dalam teks Yunani hanya tertulis: “Dia meletakkan” (lihat hampir semua versi Inggris).

Dalam hal ini kita sebaiknya memikirkan Kristus sebagai subjek. Dari awal ayat 24 sampai ayat 26, Kristus selalu menjadi subjek utama. Dia akan menyerahkan kerajaan kepada Bapa (ayat 24a). Dia menggulingkan segala pemerintah, otoritas, dan kuasa (ayat 24b). Dia memerintah sebagai Raja (ayat 25). Dia menaklukkan maut (ayat 26).

Yang ditaklukkan oleh Kristus adalah segala kerajaan, kekuasaan, dan kekuatan (LAI:TB). Sesuai teks Yunani, ungkapan yang muncul adalah “segala pemerintah dan segala otoritas dan kuasa” (pasan archēn kai pasan exousian kai dynamin). Dalam tulisan Paulus, istilah archē, exousia, dan dynamis berkali-kali muncul sebagai rujukan untuk penguasa dalam dunia roh (Rm 8:38; 1 Kor 2:6, 8). Penyebutan “maut” sebagai salah satu bagian dari deretan musuh ini (1 Kor 15:26) menguatkan dugaan bahwa archē, exousia, dan dynamis memang mengarah pada para penguasa di dunia roh.

Pengulangan kata “semua” (pasan) secara tata bahasa sebenarnya tidak diperlukan. Kata pasan yang pertama sudah cukup untuk memayungi tiga kata yang ada. Pengulangan ini sangat mungkin dimaksudkan sebagai sebuah penegasan. Tidak ada satu pun kuasa yang tidak akan ditaklukkan oleh Kristus.

Terjemahan LAI:TB “membinasakan” sebenarnya tidak terlalu akurat. Kata katargeō mengandung arti “membuat sesuatu menjadi tidak berdampak”. Dalam kaitan dengan pemerintahan, kuasa, dan kekuatan di ayat 24, katargeō lebih mengarah pada penggulingan dari kekuasaan. Semua musuh dalam dunia roh ini tetap ada, tetapi kekuasaan mereka dibuat tumpul. Mereka tidak akan mampu untuk menggagalkan realisasi rencana Allah di dunia.

Musuh terakhir yang perlu disebutkan secara khusus adalah maut (ayat 26). Inilah fokus pembahasan di sini. Bukan hanya semua penguasa dunia roh tidak mungkin menggagalkan keselamatan kita, tetapi maut pun bukan sebagai titik akhir bagi kita. Bentuk present pada kata “dibinasakan” (katargeitai, lit. “dibuat tidak berdampak”) dimaksudkan untuk menekankan kepastiannya. Tindakan itu baru akan terjadi nanti, tetapi kepastiannya sudah ada sejak sekarang.

Berita ini jelas sangat menggembirakan. Sekarang ini kita masih takluk kepada kematian. Tubuh kita masih bisa menjadi lemah dan sakit. Pada waktu kematian pun tubuh kita akan hancur di dalam tanah atau terbakar menjadi abu. Apakah ini berarti bahwa kematian berkuasa atas kita? Sama sekali tidak! Pada kedatangan Kristus yang kedua kali, Dia pasti akan menaklukkan maut, dan kita akan diberi tubuh kebangkitan. 

Allah (Bapa): Meletakkan Segala Sesuatu di Bawah Anak (ayat 27-28)

Dari ayat 24-26 kita mendapati Kristus sebagai subjek utama. Di ayat 27-28 Paulus lebih berfokus pada Allah. Perubahan fokus ini memiliki tiga tujuan: (1) menunjukkan kesatuan karya Kristus dan Allah; (2) menghindari kesalahpahaman bahwa Allah juga turut ditaklukkan di bawah Kristus; (3) meneguhkan totalitas pemerintahan Allah yang berdaulat.

Karya Kristus dan Bapa memang tidak terpisahkan (ayat 27a). Kristus menaklukkan segala sesuatu (15:24-25), karena segala sesuatu memang sudah ditaklukkan oleh Bapa di bawah kaki Kristus (15:27a). Hal ini merupakan penggenapan dari dua nubuat mesianis sekaligus: Mazmur 110:1 (“Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: ‘Duduklah di sebelah kanan-Ku sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu’”) dan Mazmur 8:7 (“Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya”).

Kita tidak mengetahui dengan pasti mengapa Paulus perlu menekankan keterkaitan antara karya Kristus dan Allah di sini. Yang kita ketahui, dalam Surat 1 Korintus Paulus sebelumnya sudah menjelaskan kesetaraan sekaligus perbedaan karya Bapa dan Kristus (8:6). Satu Allah adalah Bapa, satu Tuhan adalah Kristus. Segala sesuatu ada dari Allah tetapi oleh Kristus. Kita hidup untuk Allah, tetapi karena Kristus.

Bapa tidak termasuk yang ditaklukkan oleh Kristus (ayat 27b-28a). Untuk menghindari kebingungan atau, bahkan, kesalahpahaman, Paulus lantas menerangkan bahwa Allah tidak termasuk yang ditaklukkan oleh Kristus. Hal ini disebabkan Allah justru yang telah meletakkan segala sesuatu di bawah Kristus. Dengan kata lain, Allah menaklukkan segala sesuatu melalui Kristus. Tidak ada satu pun yang ditaklukkan oleh Allah tanpa melalui Kristus. Dengan cara yang sama, tidak ada satu pun yang ditaklukkan oleh Kristus tanpa sebelumnya diletakkan di bawah kaki-Nya oleh Bapa. Ada ketidakterpisahan antara Bapa dan Anak.

Sesudah segala sesuatu ditaklukkan oleh Kristus dan diserahkan kepada Bapa, Kristus sendiri takluk kepada Bapa-Nya (ayat 28). Hal ini sangat logis. Dalam karya penebusan, Bapa bertindak sebagai Pengutus dan Kristus sebagai Utusan. Sang Pengutus selalu lebih besar daripada yang diutus. Sesudah yang diutus menuntaskan tugasnya, dia harus mengembalikan semuanya kepada yang mengutus. Begitulah yang terjadi dalam diri Bapa dan Kristus. Bukan berarti ada dua Allah. Bukan berarti ada dua tingkatan keilahian. Kita hanya mempercayai satu Allah. Allah yang esa, yang menyatakan diri kepada manusia sebagai Allah Tritunggal.

Bapa adalah semua di dalam semua (ayat 28b). Lebih daripada sekadar antisipasi terhadap kebingungan dan kesalahpahaman, ayat 27b-28 juga berfungsi sebagai  peneguhan bagi totalitas pemerintahan Allah yang berdaulat. Segala sesuatu benar-benar di bawah otoritas-Nya. Bahkan Kristus yang menaklukkan segala sesuatu pun berada di bawah otoritas tersebut. Jika Sang Penakluk segala sesuatu saja berada di dalam otoritas-Nya, kita sangat meyakini bahwa tidak ada satu kuasa pun yang berada di luar otoritas itu. Tidak ada yang bisa merampas kita dari tangan Bapa (Yoh 10:28-29).

Ungkapan “Allah menjadi semua di dalam semua” bukanlah sebuah slogan filosofis yang abstrak (kontra filsafat Stoa/Epikurianisme). Ungkapan ini juga bukan sekadar permainan kata tanpa makna (kontra pakar retorika Yunani-Romawi). Bukan pula sebuah isyarat bagi sebuah relasi yang mistis antara Allah dan segala sesuatu (kontra pantheisme , Gerakan Zaman Baru, aliran kebatinan tertentu). Ini merupakan realita yang praktis. Allah lebih besar daripada segala sesuatu. Allah mengontrol segala sesuatu. Allah bekerja di dalam segala sesuatu. Tidak ada satu pun yang bisa mengagetkan Allah. Tidak ada satu pun yang berpotensi menggagalkan rencana Allah. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :