Kasih Yang Tak Terpahami (Efesus 3:18-19)

Kasih Yang Tak Terpahami (Efesus 3:18-19)

Teks kita hari ini merupakan bagian dari doa Paulus di ayat 14-21. Secara keseluruhan bagian ini menerangkan bagaimana kita berdoa (ayat 14a), kepada siapa kita berdoa (ayat 14b-15), apa yang kita doakan (ayat 16-19), dan untuk siapa tujuan akhir dari doa-doa kita (ayat 20-21). Dalam ungkapan lain: sikap berdoa (ayat 14a), objek doa (ayat 14b-15), isi doa (ayat 16-19), dan doksologi (ayat 20-21).

Dalam khotbah kali ini kita hanya akan menyoroti salah satu isi permohonan dalam doa di atas, yaitu supaya kita memahami kasih Kristus yang tak terpahami (ayat 18-19a). Tentu saja permohonan ini tidak terpisahkan dari permohonan sebelum (ayat 16-17) dan sesudahnya (ayat 19b). Ibarat sebuah piramida, permohonan yang lebih awal memberi pondasi bagi permohonan berikutnya, dan permohonan terakhir menjadi puncak dari semuanya.

Mempertimbangkan struktur teks di atas, tidak mengherankan apabila banyak penafsir Alkitab menyebut Efesus 3:14-21 sebagai salah satu doa yang terindah. Di samping struktur yang istimewa, doa ini juga mengandung rangkaian permohonan yang mendalam dan permainan kata yang indah pula. Siapa saja yang membaca bagian ini dengan seksama pasti akan menemukan kedalaman makna dan keagungan sastra di dalamnya.

Sekarang, marilah kita menyelidiki kedalaman dan keindahan ini, tetapi dengan fokus yang lebih banyak diarahkan pada ayat 18-19: “supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan”. Inti dari doa ini adalah “memahami atau mengenal kasih Kristus”. Bagaimana kita dapat mengenal kasih Kristus? Apa tujuan akhir dari pengenalan ini?

Memahami kasih Kristus tidak terjadi secara alamiah

Pemahaman terhadap kasih Kristus di bagian ini tidak hanya mencakup aspek intelektual, sehingga tidak bisa dicapai dengan kekuatan sendiri melalui pembacaan buku-buku theologi maupun partisipasi dalam berbagai seminar. Bukan berarti buku dan seminar tidak berfaedah sama sekali. Namun, pemahaman yang dimaksud oleh Paulus tidak terbatas pada hal itu.

Untuk mencapai pemahaman yang benar tentang kasih Kristus diperlukan doa (ayat 18-19). Itulah yang sedang dilakukan Paulus dalam teks ini. Ini lebih merupakan sebuah pergumulan spiritual daripada intelektual.

Yang didoakan adalah supaya semua orang percaya dapat memahami (ayat 18). Kata “dapat” (exischyō) secara hurufiah berarti “memiliki kekuatan”. Kekuatan ini jelas bukan berasal dari diri sendiri. Ini adalah kekuatan ilahi, sebagaimana sudah disinggung di ayat 16: “Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan  kamu (lit. ‘kamu dikuatkan dengan kuasa’) oleh Roh-Nya di dalam batinmu”.

Di samping itu, doa untuk memahami kasih Kristus didahului dengan doa supaya Kristus berdiam di dalam hati kita melalui Roh Kudus (ayat 17a). Kasih Kristus bukan hanya sebuah kebenaran historis-theologis (historis: Dia mati di atas kayu salib; theologis: Dia mati bagi dosa-dosa kita), melainkan kebenaran praktis (Dia berdiam dalam hati kita). Kita memahami dengan cara mengalami. Hanya orang-orang yang hatinya didiami oleh Kristus yang dapat memahami kasih itu.

Memahami kasih Kristus terjadi secara terus-menerus

Kasih Kristus sudah menjadi pembicaraan yang terlalu biasa bagi orang-orang Kristen. Kita sudah mendengarkan puluhan ribuan khotbah tentang kasih ini. Kita pun sudah mengalami wujud kasih ini. Jika tidak diwaspadai, situasi ini bisa menjebak kita pada penipuan diri sendiri. Kita merasa diri sudah mengenal padahal tidak demikian.

Doa Paulus di ayat ini mengasumsikan bahwa semua orang belum mengenal kasih Kristus sebagaimana seharusnya. Berdoa supaya memahami sesuatu yang tak terpahami jelas merupakan sebuah paradoks yang disengaja. Paulus tahu benar bahwa sampai kapanpun - bahkan tatkala kita nanti berada di surga - kita tidak mungkin bisa sepenuhnya memahami kasih Kristus. Bagaimanapun, pemahaman tersebut pantas untuk diupayakan. Kekristenan lebih menekankan proses daripada hasil. Bukan legalistik (memenuhi aturan dan tuntutan tertentu), tetapi personal (menjadi seperti Kristus). Pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa kita akan terus-menerus berada dalam proses pengenalan tersebut.

Lebih jauh, Paulus sendiri tahu dan yakin bahwa dalam taraf tertentu jemaat di Efesus sudah mengenal kasih Kristus. Ayat 17b (“kamu berakar dan berdasar di dalam kasih”) menurut banyak penerjemah sebaiknya dikaitkan dengan ayat 18-19 (kontra LAI:TB). Bagian ini berbentuk partisip perfek pasif (errizōmenoi kai tethemeliōmenoi) yang menerangkan bahwa jemaat Efesus dari dulu sudah diakarkan dan dibangun di dalam kasih. Pada saat seseorang dilahirbarukan oleh Roh Kudus sehingga bisa percaya kepada Injil Yesus Kristus dan mempercayakan diri kepada-Nya, orang itu sudah diakarkan dan dibangun di dalam kasih Kristus. Namun, itu hanya permulaan belaka. Mereka tetap perlu semakin memahami kasih Kristus (ayat 18-19). Akar tidak akan banyak berguna apabila tanpa batang, ranting, dan daun. Pondasi tidak akan banyak bermanfaat tanpa bangunan dan ruang di atasnya.

Memahami kasih Kristus bersifat komunal

Komunal berarti “bersama-sama”, dalam sebuah komunitas. Pembacaan dalam teks Yunani menunjukkan bahwa doa Paulus di ayat 14-21 sarat dengan nuansa komunal. Kata ganti “kamu” (LAI:TB) berbentuk jamak (lit. “kalian”). Nuansa ini bahkan terlihat lebih kentara di ayat 18-19. Yang didoakan oleh Paulus bukan hanya jemaat Efesus, tetapi semua orang percaya (“supaya kamu, bersama-sama dengan segala orang kudus, dapat memahami”).

Istilah “orang-orang kudus” merujuk pada semua orang yang sudah dibenarkan melalui iman mereka kepada penebusan Kristus yang sempurna di kayu salib. Mereka masih bisa berbuat dosa, tetapi secara status di hadapan Allah mereka adalah orang-orang kudus. Kudus bukan karena berbuat kudus. Kudus karena dikuduskan.

Istilah di atas sekaligus menegaskan kesatuan dan kesetaraan semua orang Kristen. Tidak ada pembedaan antara rohaniwan dan jemaat, penatua dan jemaat, dsb. Tidak ada kelimpok yang superior dari yang lain. Semua perlu semakin memahami kasih Kristus.

Bukan bersama-sama memahami kasih Kristus, melainkan memahami kasih itu dalam kebersamaan. Maksudnya, pengenalan tentang kasih Kristus terjadi lebih efektif dalam konteks komunitas orang percaya. Kesaksian orang lain seringkali dipakai oleh Allah untuk mengingatkan kita tentang kasih-Nya. Kisah-kisah inspiratif dari para tokoh Alkitab maupun tokoh Kristen dalam sejarah menunjukkan betapa luar biasanya kasih Kristus.

Bukan sekadar belajar dari kisah orang lain. Kita juga seringkali merasakan kasih Kristus melalui kasih orang lain kepada kita. Ketika orang lain memberikan pertolongan di tengah keputusasaan, kita menyadari bahwa seperti itulah kasih Kristus bagi kita. Dalam keputusasaan kita melawan kuasa dosa, Kristus datang dan memberikan harapan. Begitu pula sebaliknya. Tatkala kita dikondisikan untuk mengampuni dan menerima orang lain apa adanya, kita sedang mempraktikkan kasih Kristus. Kita semakin menyadari betapa sukar dan besarnya kasih itu.

Salah satu sarana terbaik untuk memahami kasih Allah adalah anak-anak. Banyak orang tua Kristen yang semakin mengenal dan mengagumi kasih Allah sesudah mereka memiliki dan merawat anak-anak mereka. Entah berapa kali pengampunan perlu diberikan. Kesabaran seringkali harus menyentuh perbatasan. Di tengah semua kejengkelan dan kekecewaan terhadap anak-anak, orang tua tetap tidak pernah kehilangan harapan. Mereka bahkan tetap membanggakan anak-anak mereka. Bahkan untuk anak-anak yang tidak membanggakan sekalipun, orang tua tetap mencurahkan perhatian dan kasih sayang. Melalui pengalaman sebagai orang tua, kita semakin mengerti betapa agungnya kasih Bapa di surga yang merelakan Anak-Nya, Yesus Kristus, menjadi manusia dan mati di atas kayu salib bagi kita.

Apakah yang seharusnya menjadi respons kita terhadap kasih yang sedemikian besar itu? Sudahkah kita mensyukuri kasih itu? Sudahkah kita membagikannya pada orang lain? Sudahkah keluarga kita menjadi cerminan sempurna dari kasih itu? Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :