Terlalu Baikkah Allah? (Yunus 4)

Terlalu Baikkah Allah? (Yunus 4)

Pertobatan penduduk Niniweh sampai sekarang tetap dipandang sebagai kebangunan rohani terbesar dalam sejarah. Semua orang, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah, datang kepada TUHAN. Pertobatan telah terjadi pada bangsa yang paling kejam, melalui khotbah yang paling singkat, dan oleh pengkhotbah yang paling enggan. Tidak sulit untuk melihat keajaiban anugerah ilahi bagi penduduk Niniwe.

Semua ini seyogyanya disyukuri oleh semua orang, terutama si pengkhotbah. Dalam kenyataannya, justru Yunus satu-satunya yang tidak bisa bersyukur. Bukan hanya tidak bersyukur, Yunus juga kesal dan marah kepada TUHAN.

Dalam teks Ibrani, perasaan Yunus diungkapkan dengan cara yang lebih menarik. Kata “kesal” di ayat ini adalah rā’â, yang bisa berarti “jahat” (1:2; 3:8, 10), “malapetaka” (1:7-8; 4:2), atau “kesal” (4:6). Kata ini muncul dua kali di 4:1. Jika diterjemahkan secara hurufiah, ayat ini berbunyi: “Ini sebuah kejahatan (atau kekesalan/malapetaka) bagi Yunus, sebuah kejahatan (atau kekesalan/malapetaka) yang besar, lalu ia marah tentang hal ini”.

Arti manapun yang diambil, pembaca tetap bisa menangkap inti pergumulan Yunus. Dia mengetahui kebaikan TUHAN, hanya saja dia tidak bisa menerima jangkauan dari kebaikan itu (ayat 2). Dia tidak bertanya: “Mengapa Allah yang baik membiarkan hal-hal yang buruk menimpa orang-orang yang baik?” (the problem of evil). Sebaliknya, dia sukar mencerna sebuah pertanyaan: “Mengapa Allah yang baik memberikan hal-hal yang baik kepada orang-orang yang jahat?” (the problem of good). Yunus gagal memahami kebaikan TUHAN bagi orang-orang yang tidak baik. Dia sama dengan anak sulung dalam perumpamaan Tuhan Yesus yang tidak bisa menerima kebaikan sang ayah terhadap adiknya yang jahat (Luk 15:29-30).

Dalam kemarahannya yang besar, Yunus meminta Allah untuk mencabut nyawanya (ayat 3). Kita langsung teringat pada kisah Nabi Elia yang memanjatkan doa yang sama (1 Raj 19:4). Kalau Elia berkata: “aku tidak lebih baik daripada nenek moyangku”, Yunus berkata: “aku lebih baik mati daripada hidup”. Dalam hal ini kita dapat memaklumi Elia, karena perjuangannya melawan Baal tidak kunjung usai. Dia tidak yakin bahwa akhir dari pelayanannya akan lebih baik daripada para pendahulunya. Tidak demikian dengan Yunus. Tugas yang ia emban sudah usai. Keberhasilan yang menakjubkan pun didapatkan. Keinginan Yunus untuk mati mengungkapkan isi hatinya: ia lebih rela menutup mata selamanya daripada menyaksikan pertobatan dan keselamatan orang-orang jahat.

Walaupun dia tahu bahwa pertobatan selalu direspons TUHAN dengan penyesalan, Yunus tidak pernah “pupus harap”. Dia sengaja menunggu di luar kota sampai durasi 40 hari terlampaui (ayat 5). Siapa tahu malapetaka masih bisa menimpa kota itu. Pilihan untuk tinggal di luar tembok kota mungkin dimaksudkan sebagai upaya menyelamatkan diri apabila hukuman benar-benar tertimpa atas kota itu. Pengharapan yang luar biasa (keliru)!

Penjelasan di atas menunjukkan betapa tidak lazimnya respons Yunus terhadap pertobatan penduduk Niniweh. Dilihat dari ukuran apapun, Yunus tampaknya sudah melewati semua batasan. Keterlaluan. Tidak masuk akal. Gerhard von Rad, salah seorang theolog PL ternama, bahkan sampai memberi sebuah julukan bagi Yunus: “seorang monster relijius-psikologis”.

Mengapa Yunus dapat menjadi seperti ini? Penjelasan berikut ini akan menunjukkan bahwa kita pun kadangkala menjadi monster relijius-psikologis yang menakutkan. Ada beberapa faktor yang kita perlu cermati dan waspadai.

Pertama, karena melupakan anugerah TUHAN. Keyakinan Yunus bahwa orang jahat harus dihukum oleh TUHAN tidak selaras dengan pengalaman hidupnya sendiri. Pelariannya dari panggilan mengungkapkan keburukannya. Bahkan di mata orang-orang asing di kapal, sikap Yunus tersebut sama sekali tidak bisa diterima (1:10). Jika TUHAN selalu menghukum orang jahat, bukankah Yunus seharusnya menjadi objek pertama dari murka Allah? Bagaimana mungkin seorang yang baru saja bersyukur atas kasih karunia TUHAN (2:8-9) kini justru mempersoalkan kasih karunia itu?

Dalam banyak hal, anugerah Allah atas Yunus bahkan jauh lebih besar dan kentara daripada atas penduduk Niniwe. Yunus tidak menunjukkan pertobatan selama berada di atas kapal. Tidak ada ketakutan terhadap hukuman Allah dalam dirinya. Dia bahkan sama sekali tidak berdoa kepada TUHAN. Penduduk Niniwe jelas lebih baik daripada dia, karena mereka takut dengan ancaman hukuman, bertobat, dan berdoa kepada TUHAN. Yunus menjadi contoh konkrit dari orang yang menerima pembebasan hutang sebesar 10 ribu talenta, namun tidak mau berbelas-kasihan atas temannya yang hanya berhutang 100 dinar (Mat 18:23-35).

Kedua, karena berpusat pada diri sendiri. Doa Yunus di ayat 2-3 dalam teks Ibrani memuat tidak kurang dari sembilan kali kata ganti “aku”. Di antara semua pemunculan ini, kata “telah kukatakan” perlu digarisbawahi. Di teks Ibrani, kata ini muncul dalam bentuk kata benda, sehingga secara hurufiah seharusnya diterjemahkan “perkataanku”. Dari terjemahan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa pada awalnya Yunus sempat berdebat dengan TUHAN. “Perkataan TUHAN” datang kepada Yunus (1:1), namun Yunus pun mengutarakan perkataannya kepada TUHAN (4:2). Perkataan TUHAN versus perkataan Yunus. Dia merasa berhak untuk berdebat dengan TUHAN! Dia merasa berhak untuk menjadikan perkataannya sebagai standar kebenaran.

Perkataan Yunus “lebih baik aku mati daripada hidup” (4:3) semakin mempertegas egoismenya. Ukuran baik atau tidaknya sesuatu ditentukan oleh dirinya sendiri. Bagi dia kematian lebih nyaman daripada kehidupan yang tidak sesuai harapan (4:3, 8). Pendeknya, kenyamanan telah diletakkan di atas kebenaran. Itulah ciri-ciri orang yang berpusat pada dirinya sendiri.

Ketiga, karena gagal memahami nilai manusia. Kesalahan utama dalam diri Yunus adalah konsepnya yang rendah tentang penduduk Niniwe. Bagi dia, mereka tidak lebih daripada sampah dunia yang perlu dimusnahkan. Tidak ada yang baik dalam diri mereka. Tidak ada alasan rasional untuk mempertahankan kehidupan mereka. Kesalahan inilah yang hendak dikoreksi oleh TUHAN di ayat 6-11.

Beberapa tindakan yang TUHAN lakukan di ayat 6-8 dimaksudkan sebagai alat peraga untuk menyiapkan Yunus memberikan jawaban yang lebih baik. Sebagaimana TUHAN menjadikan laut (1:10) dan mengontrol segala makhluk di dalamnya (1:17; 2:10), Dia juga menjadikan daratan (1:10) dan berdaulat penuh atas segala makhluk di atasnya (4:6-8). TUHAN menentukan apa yang harus dilakukan oleh tanaman, ulat, maupun angin (4:6, 7, 8 “atas penentuan Allah”). Fakta bahwa Yunus sangat bersukacita atas perteduhan yang disediakan oleh TUHAN melalui pohon jarak menunjukkan bahwa terjemahan “pondok” (LAI:TB) di ayat 5 tidak terlalu tepat. Yunus hanya sekadar merangkai tangkai-tangkai tanaman sebagai tempat berteduh seadanya. TUHAN lalu menyediakan sesuatu yang lebih baik melalui pohon jarak. Yunus sangat terhibur dan bersukacita dengan hal ini. Sengat sinar mentari tidak lagi membakar kepala dan tubuhnya.

 Situasi ini hanya bertahan sehari saja. TUHAN mengirim ulat untuk menggerogoti tanaman jarak tersebut. Tanaman ini sama sekali tidak berdaya terhadap serangan seekor ulat kecil. Dalam sekejap tanaman itu pun layu.

Untuk memperparah keadaan, TUHAN mengirim angin timur yang panas. Kini situasi Yunus malah lebih parah daripada sebelumnya. Tidak ada perteduhan dari tanaman jarak. Ada masalah baru muncul: angin timur yang terkenal cukup kencang dan sangat panas. Di tengah situasi seperti ini, Yunus benar-benar menyadari betapa berartinya tanaman jarak tersebut bagi dirinya. Kematian tanaman ini bahkan mendorong dia untuk mati juga. Dia sangat mengasihi tanaman ini.

Pada momen inilah TUHAN mengulang pertanyaan-Nya (bdk. ayat 4, 9). Kalau sebelumnya pertanyaan yang hampir sama pernah diutarakan oleh TUHAN tetapi tidak digubris oleh Yunus, kini dia terpaksa menjawabnya. Sekali lagi, egoisme Yunus muncul ke permukaan. Dia merasa berhak untuk marah (ayat 9b). Dia cenderung menjadikan perasaannya sebagai ukuran kebenaran.

Tanpa disadari oleh Yunus, pertanyaan tersebut dimaksudkan oleh TUHAN sebagai sebuah strategi rhetoris yang tak terbantahkan. Kemarahan dalam jawaban Yunus hanya mempertegas poin yang ingin diajarkan oleh TUHAN. Intinya terletak pada perbandingan nilai antara pohon jarak (di mata Yunus) dan penduduk Niniwe (di mata TUHAN).

Yunus tidak dapat menerima kematian tanaman jarak yang dia sendiri tidak berkontribusi apapun (ayat 10a). Dia “mengasihi” tanaman itu hanya karena dia mendapatkan keuntungan, bukan karena dia benar-benar merawat tanaman itu. Dia tidak melakukan apapun bagi tanaman itu. Dia sebenarnya bukan pecinta tanaman.

Di samping itu, tanaman jarak tersebut juga hanya bertahan sehari. Itu hanyalah sebuah tanaman liar dengan masa hidup yang sementara. Kalaupun tanaman ini mati, tidak ada orang lain akan peduli. Apakah Yunus peduli? Tidak! Dia hanya peduli karena dia kehilangan keuntungan dari tanaman itu.

Dari perspektif Allah, “kecintaan” Yunus terhadap pohon jarak ini terlihat aneh, terutama jika dikontraskan dengan keinginan Yunus agar kota Niniwe ditunggangbalikkan oleh Allah. Bukankah seandainya penghukuman itu dilakukan, akan ada jauh lebih banyak kematian daripada kematian tanaman jarak itu? Bukankah kerugian yang ditimbulkan jauh lebih banyak (ayat 11)? 120 ribu orang akan mati. Jutaan binatang akan menjadi bangkai. Begitu banyak tanaman akan musnah. Yunus tidak peduli dengan semua ini, tetapi ia justru mempersoalkan kematian sebuah tanaman liar. Betapa aneh pemikiran Yunus! Egoisme seringkali membuat banyak orang memandang rendah sesamanya.

Keempat, karena kurang berbelas-kasihan. Ungkapan “tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri” (ayat 11) menyiratkan pengetahuan moral yang sangat rendah dari penduduk Niniwe. Mereka dapat diumpamakan seperti anak-anak kecil yang tidak mampu membedakan yang baik dan yang jahat (bdk. Ul 1:39; Yes 7:16). Dengan kata lain, mereka tidak seberuntung bangsa Yehuda maupun Israel. Tidak ada Hukum Taurat di Niniwe. Kejahatan bagi mereka sudah menjadi begitu lazim. Mereka bahkan mungkin tidak tahu alternatif lain dalam memperlakukan musuh-musuh mereka.

Mempertimbangkan faktor ini, Yunus seyogyanya tidak bersikap terlalu keras terhadap mereka. Mereka memang layak menerima pukulan, tetapi tidak terlalu banyak, sebab mereka tidak benar-benar mengetahui apa yang mereka perbuat (bdk. Luk 12:48). Seperti Tuhan Yesus di atas kayu salib, Yunus seharusnya berdoa: “Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24). Keinginan Yunus untuk menyaksikan kehancuran Niniwe menunjukkan isi hatinya. Tidak ada belas kasihan. Hanya ada kesombongan, egoisme, dan kemarahan.

Kitab Yunus sengaja ditutup dengan sebuah pertanyaan. Lebih tepatnya, kitab ini sengaja dibiarkan terbuka. Yang harus menjawab pertanyaan ini bukan hanya Yunus, melainkan semua pembaca. Seberapa berhargakah jiwa-jiwa yang terhilang di mata Anda? Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :