Darimanakah Kain Mendapatkan Istri?

Darimanakah Kain Mendapatkan Istri?

Kejadian 4:17 menyatakan, “Kain bersetubuh dengan isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan Henokh.” Salah satu pertanyaan yang sering diajukan sehubungan dengan ayat ini adalah “darimana Kain mendapatkan isteri?”. Bukankah hanya ada satu wanita saat itu, yaitu Hawa, ibunya?

Ini sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dijawab apabila kita menyadari bahwa keturunan Adam tidak terbatas pada Kain, Habel, dan Set. Adam masih memiliki beberapa anak laki-laki dan perempuan,”Umur Adam, setelah memperanakkan Set, delapan ratus tahun, dan ia memperanakkan anak-anak lelaki dan perempuan (Kej. 5:4). Hanya saja nama-nama anak laki-laki dan perempuan lain yang dimiliki Adam dan Hawa tidak disebutkan namanya maupun jumlah pastinya. Anak-anak perempuan itulah yang menjadi isteri bagi saudara mereka laki-laki. Terkait dengan jarak usia Kain dengan adiknya perempuannya (isterinya) yang kemungkinan cukup jauh, hal ini juga tidak terlalu sulit untuk dijelaskan. Pada jaman itu manusia dapat hidup begitu lama (5:5, 8, 11, 14, 17, 20, 23, 27; bdk. 6:3; Mzm 90:10), sehingga jarak yang jauh ini menjadi tidak terlalu penting. Tatkala salah seorang adik perempuannya beranjak dewasa, Kain tetap belum tua menurut ukuran waktu itu.

Penjelasan di atas akan membawa kita pada pertanyaan umum lainnya, yaitu “apakah perkawinan antara anggota keluarga (incest) yang dilakukan Kain diperbolehkan?”. Untuk menjawabnya kita perlu pemahaman yang lebih komprehensif dengan memperhatikan beragam faktor di dalamnya.

  1. Seandainya kita menerima catatan Alkitab bahwa semua umat manusia berasal dari satu pasangan (1:26-28; Kis 17:26), maka menuntut manusia waktu itu untuk tidak kawin dengan saudara saudarinya merupakan harapan yang berlebihan dan tidak masuk akal. Perkawinan Kain dengan saudara perempuannya merupakan sesuatu yang tidak terhindarkan, walaupun hal itu pada dirinya sendiri tidak bisa dijadikan alasan (ketidakadaan pilihan bukan pembenaran).
  2. Hakekat dari dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah (1 Yoh 3:4). Perkawinan antar anggota keluarga baru menjadi dosa setelah Allah menyatakan bahwa hal itu adalah dosa (Im 18:7-17; 20:11-12, 14, 17, 20-21; Ul 22:30; 27:20, 22, 23). Dengan kata lain, perkawinan antar keluarga pada dirinya sendiri bukanlah dosa, sampai pada suatu saat Allah menyatakan sebaliknya.
  3. Pada jaman sebelum Musa memberikan larangan terhadap perkawinan antar anggota keluarga, Alkitab mencatat beberapa orang yang melakukannya, namun tindakan itu tidak dipandang sebagai dosa. Abraham menikah dengan saudara tirinya (20:12). Amran, ayah kandung Musa, menikah dengan bibinya (Kel 6:20).
  4. Larangan untuk melakukan perkawinan antar anggota keluarga mula-mula harus dilihat sebagai perintah yang baru dari TUHAN untuk membedakan gaya hidup umat Israel dengan bangsa lain. Larangan ini sangat kontras dengan budaya Mesir, terutama kebiasaan perkawinan antar keluarga dalam keturunan Firaun.
  5. Kecacatan biologis yang biasanya menyertai perkawinan ini harus dipandang sebagai bentuk hukuman Allah, bukan akibat otomatis yang alamiah dari setiap perkawinan antar keluarga. Maksudnya, ketika Allah sudah memberikan larangan perkawinan antar keluarga dan manusia tetap melanggarnya, maka Allah menghukum tindakan tersebut. Salah satunya melalui kecacatan biologis pada anak yang dihasilkan. Mengingat pada jaman sebelum Musa perkawinan antar anggota keluarga tidak dilarang, maka kecacatan fisik menjadi isu yang kurang relevan.

Cara 4:17 ditulis mirip dengan 4:1. Perbedaan terletak pada ketidakadaan nama perempuan yang melahirkan dan siapa yang memberi nama. Penulis tampaknya tidak menganggap keberadaan isteri Kain sebagai sesuatu yang penting. Ini jelas berbeda dengan peranan Hawa di 4:1, 25. Begitu pula yang terjadi pada Set, ketika dia kawin, tidak disebutkan nama istrinya, asal usul atau apapun (Kej. 5:6-7).

NK_P

Bagikan artikel ini :