Eksposisi 1 Korintus 15:12

Eksposisi 1 Korintus 15:12

“Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?”

Inti persoalan

Ayat ini memberi petunjuk eksplisit tentang persoalan yang melanda jemaat Korintus: sebagian dari mereka berpendapat bahwa tidak ada kebangkitan orang mati. Sayangnya, teks tidak memberi petunjuk jelas tentang kebangkitan seperti apa yang ditolak oleh mereka. Juga tidak ada keterangan tentang seberapa luaskah pengaruh penolakan itu terhadap seluruh jemaat di Korintus.

Ungkapan “ada di antara kamu” (lit. “sebagian dari kalian”) memberitahu kita bahwa tidak seluruh jemaat di Korintus menganut pendapat di atas. Namun, seberapa banyakkah yang terpengaruh oleh pandangan tersebut? Berdasarkan cara Paulus menguraikan persoalan yang ada di seluruh pasal 15, “sebagian dari kalian” kemungkinan hanya merujuk pada sebagian kecil dari jemaat. Mereka pun tampaknya bukan tokoh-tokoh penting di jemaat Korintus.

  • Jika jumlah mereka cukup besar, Paulus bisa saja menggunakan kata “sebagian besar dari mereka” (bdk. 15:6 “kebanyakan dari mereka masih hidup”).
  • Jika jumlahnya cukup besar, Paulus mungkin akan merespons secara lebih keras. Kenyataannya, uraian Paulus di pasal 15 tidak banyak diwarnai dengan kecaman, kecuali “Janganlah kamu sesat” (15:33) dan “Hai orang bodoh” (15:36). Paulus lebih banyak meluruskan dan menasihati. Ini sangat berbeda dengan cara Paulus menyikapi perselisihan antara jemaat di pasal 1-3 atau percabulan di pasal 5.
  • Jika persoalan ini sangat meresahkan, Paulus mungkin akan menguraikannya di awal surat. Bukankah penolakan terhadap kebangkitan orang mati merupakan kesalahan doktrinal yang serius? Mengapa isu ini justru dibahas pada bagian akhir surat 1 Korintus?

Penjelasan di atas masih belum menerangkan kebangkitan seperti apa yang sedang dipersoalkan oleh sebagian kecil jemaat Korintus. Untuk mengetahui hal ini, kita bergantung sepenuhnya pada respons Paulus terhadap persoalan tersebut. Dari uraian yang ada kita mencoba menebak kira-kira apa yang menjadi inti persoalan seputar kebangkitan orang mati ini.

Beberapa penafsir Alkitab menduga bahwa jemaat Korintus mungkin menolak kekekalan jiwa/roh. Pada saat kematian, jiwa seseorang langsung raib. Kemanusiaan benar-benar berhenti secara total dalam kematian: tubuh mengalami pembusukan, jiwa tidak ada lagi. Jika dugaan ini benar, jemaat Korintus mungkin terpengaruh oleh filsafat Epikurian yang memang cukup populer pada waktu itu. Ajaran dalam filsafat ini dapat dirangkum sebagai berikut: “Kita tidak perlu takut dengan kematian. Pada saat kita hidup, kita tidak mati. Pada saat kita mati, kita tidak hidup”. Tidak mengherankan apabila ajaran ini diikuti oleh gaya hidup yang berfokus pada kekinian belaka: “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (15:32b). Hidup untuk dinikmati selagi ada, begitu kira-kira pendapat mereka.

Dugaan di atas mungkin kurang sesuai dengan seluruh uraian Paulus di pasal 15. Jemaat Korintus mempercayai pembaptisan untuk orang mati (15:29). Terlepas dari arti “baptisan bagi orang mati” ini, hal itu pasti mencakup kehidupan sesudah kematian.

Sebagian penafsir yang lain berpendapat bahwa sebagian jemaat Korintus telah terjebak pada eskhatologi kekinian (realized eschatology) yang ekstrim. Kebangkitan orang percaya sudah terjadi, sehingga kita tidak perlu menunggu kebangkitan di akhir zaman. Melalui sakramen baptisan, setiap orang percaya turut mati dan dibangkitkan bersama Kristus (Rm 6:4).

Dugaan di atas juga kurang tepat. Seandainya inti persoalan adalah eskhatologi kekinian yang ekstrim seperti itu, Paulus mungkin akan mengungkapkannya secara lebih jelas, seperti yang ia lakukan terhadap beberapa orang di jemaat Efesus. Di sana ia menyinggung tentang beberapa pengajar sesat “yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang” (2 Tim 2:18). Ungkapan “kebangkitan kita telah berlangsung” dengan “tidak ada kebangkitan” jelas dua hal yang sangat berbeda.

Inti penolakan terhadap kebangkitan di 15:12 sangat mungkin terletak pada aspek material dari kebangkitan itu. Maksudnya, jemaat Korintus memang mempercayai kehidupan sesudah kematian, tetapi hal itu hanya berkaitan dengan jiwa atau roh seseorang. Tubuh manusia benar-benar musnah dan tidak dibangkitkan.

Konsep semacam ini dipengaruhi oleh dualisme Yunani yang sudah sedemikian mengakar dalam budaya Yunani-Romawi. Tubuh (material) adalah jahat, dan menjadi penjara bagi jiwa (spiritual). Kematian adalah pembebasan jiwa dari tubuh.

Dengan kerangka berpikir yang sangat dualistik ini, mereka jelas sukar menerima konsep tentang kebangkitan tubuh. Bagaimana mungkin sesuatu yang jahat/buruk (tubuh/materi) bisa mendapat tempat di alam roh yang baik? Bagaimana mungkin jiwa manusia nantinya bersatu kembali dengan tubuh? Itulah sebabnya, di bagian akhir uraiannya, Paulus lebih banyak mengupas tentang tubuh kebangkitan (15:35-57).

Jadi, persoalan di 15:12 dapat diungkapkan sebagai berikut: sebagian kecil jemaat Korintus yang tidak memiliki posisi signifikan di jemaat telah terpengaruh oleh dualisme Yunani (tubuh versus jiwa) sehingga mereka menolak kebangkitan tubuh. Persoalan inilah yang akan dikupas tuntas oleh Paulus di ayat 13-58.

Kebangkitan Yesus Kristus

Jika inti persoalan adalah tubuh kebangkitan, mengapa Paulus lebih menyoroti kebangkitan Yesus Kristus? Mengapa kebangkitan Kristus diletakkan di awal pembahasan (15:1-11)? Mengapa Paulus tidak langsung memberikan kritikan terhadap dualisme Yunani dan mengajarkan konsep tubuh kebangkitan?

Kebangkitan Yesus Kristus memiliki dua peran dalam argumentasi Paulus di pasal 15. Yang pertama, sebagai pijakan bersama (common ground). Dalam semua diskusi, percakapan, atau perdebatan, adalah sangat penting untuk membangun pijakan bersama. Tanpa hal ini, pembicaraan akan menjadi liar dan percuma.

Strategi ini juga diterapkan oleh Paulus di pasal 15. Baik dia maupun jemaat Korintus sama-sama mempercayai kebangkitan Yesus Kristus. Fakta historis ini merupakan pengakuan iman fundamental dari seluruh gereja mula-mula (15:3-5). Ini adalah injil yang dipercayai oleh jemaat Korintus dan yang melaluinya mereka diselamatkan (15:1-2, 11).

Jika jemaat Korintus meyakini kebangkitan Yesus Kristus, sangat mengherankan apabila mereka menolak kebangkitan tubuh. Mengapa demikian? Kebangkitan Yesus Kristus tidak terjadi secara spiritual. Kebangkitan ini bukan hanya secara jiwa atau roh. Jika kebangkitan Kristus secara tubuh adalah sebuah fakta, tidak ada alasan untuk meragukan kebangkitan tubuh di akhir zaman.

Ada banyak data Alkitab yang mendukung kebangkitan Kristus secara tubuh.

  • Di awal pelayan-Nya Kristus sudah berkata kepada orang Yahudi: “Rombak bait Allah ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali…tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan bait Allah adalah tubuh-Nya sendiri” (Yoh 2:19, 21)
  • Para nabi menubuatkan bahwa tubuh Kristus tidak akan mengalami kebinasaan (baca: “pembusukan,” Kis 2:27-32; Mzm 16:10)
  • Tubuh kebangkitan Kristus dapat diraba (Mat 28:9; Luk 24:37-43)

Keyakinan gereja mula-mula terhadap kebangkitan Kristus secara tubuh merupakan hal yang patut digarisbawahi. Ini menambah bobot argumen untuk fakta kebangkitan Kristus. Seandainya kisah kebangkitan Kristus hanyalah karangan para rasul belaka, mereka mungkin lebih baik mengajarkan kebangkitan secara spiritual. Kebangkitan spiritual akan sukar untuk dilacak kebenarannya. Kenyataannya, semua rasul mengajarkan kebangkitan Kristus secara tubuh, dan untuk berita ini mereka harus kehilangan nyawa mereka.

Yang kedua, sebagai dasar kebangkitan orang percaya. Kristus menjadi pokok kebangkitan kita (15:22-23). Kebangkitan-Nya bukan hanya menjadi peneguhan bahwa kebangkitan tubuh adalah sesuatu yang tidak mustahil, namun sekaligus sebagai jaminan bagi kebangkitan tubuh di akhir zaman. Poin ini akan diuraikan secara lebih detil di khotbah-khotbah selanjutnya. Cukuplah bagi kita sekarang untuk mengetahui dan meyakini bahwa siapa saja yang ada di dalam Kristus akan menerima kebangkitan tubuh. Semua kecacatan, kelemahan, dan penyakit pada tubuh kita akan diganti dengan tubuh kemuliaan yang sempurna.

Setiap ibadah Minggu kita mengikrarkan poin keyakinan kita seturut Pengakuan Iman Rasuli: “[Aku percaya] kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal”. Sesuai hurufiah, poin ini berbunyi “kebangkitan tubuh” atau “kebangkitan daging”. Kita tidak hanya mempercayai kebangkitan orang mati, tetapi kebangkitan tubuh. Jangan sampai ada ajaran apapun yang menggoyahkan keyakinan ini. Sebaliknya, marilah kita lebih memperhatikan tubuh kita. Jikalau Allah saja menghargai tubuh kita dan akan membangkitkan di akhir zaman (15:38), tidak ada alasan untuk memandang rendah tubuh kita. Jikalau Roh Kudus saja berkenan menjadikan tubuh kita sebagai bait-Nya, tidak ada bagi kita untuk menggunakan tubuh ini bagi kepuasan dosa (6:19). Jikalau Kristus saja menebus tubuh kita (6:20), tidak ada alasan untuk menggunakan tubuh kita secara sembarangan. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :