Eksposisi 1 Korintus 15:11

Eksposisi 1 Korintus 15:11

Bagian ini merupakan kesimpulan dari ayat 1-11. Sebagai sebuah kesimpulan, ayat 11 memiliki dua fungsi. Yang pertama adalah menegaskan kembali apa yang sudah diuraikan di ayat 1-3. Hal terpenting dalam pemberitaan para rasul adalah kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Iman jemaat Korintus dilandaskan pada pondasi ini.

Fungsi yang kedua adalah mengingatkan jemaat Korintus tentang kesatuan seluruh orang percaya. Baik Paulus, semua rasul, maupun semua jemaat berbagi pondasi iman yang sama, yaitu kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Ketidakpercayaan sebagian jemaat Korintus terhadap kebangkitan orang mati (15:12) adalah hal yang aneh dan tidak dapat diterima.

Melalui ayat yang terlihat begitu singkat dan sederhana ini, Paulus ingin mengajarkan dua kebenaran theologis yang begitu penting. Keduanya berkaitan. Keduanya berpusat pada kebangkitan Yesus Kristus.

Kebangkitan merupakan esensi pemberitaan para rasul (ayat 11a)

Kata “mengajar” (kēryssō) secara hurufiah berarti “memberitakan” (NRSV). Apa yang diberitakan bisa apa saja. Dalam konteks kekristenan, objek pemberitaan ini adalah injil atau firman Tuhan, sehingga kata kēryssō seringkali mengandung arti “berkhotbah” (mayoritas versi Inggris “preach”).

Yang menarik dari kata ini adalah bentuk kekinian yang digunakan (kēryssomen). Hal ini menyiratkan sesuatu yang terjadi terus-menerus. Bukan hanya merujuk pada aktivitas di masa lampau. Artinya, semua rasul secara konsisten menjadikan kebangkitan Yesus Kristus sebagai esensi pemberitaan mereka.

Hal menarik lain adalah pemunculan “baik aku maupun mereka”. Yang dimaksud dengan “mereka” tidak lain adalah para rasul yang sudah disebutkan di ayat 5-7. Melalui penambahan “baik aku maupun mereka,” Paulus ingin menegaskan kesamaan antara dirinya dan semua rasul.

Mengapa hal ini perlu disampaikan oleh Paulus? Paulus ingin mendaratkan sebuah pesan penting bahwa perbedaan pengalaman para rasul bersama Tuhan tidak meniadakan kesatuan di antara mereka. Berbagai perbedaan di antara para rasul merupakan hal yang tidak dapat disangkal (ayat 5-8). Namun, hal-hal itu tetap tidak mengaburkan satu kesamaan yang penting: kebangkitan Yesus Kristus sebagai esensi berita injil.

Beberapa orang tergolong 12 murid Tuhan Yesus. Beberapa di luar kategori ini. Beberapa orang lebih ternama daripada yang lain (Petrus, Yakobus). Tempat, waktu, dan situasi pada waktu mereka menyaksikan kebangkitan Yesus Kristus juga berlainan. Jumlah penampakan yang dialami juga berbeda-beda. Beberapa orang melihat hal itu berkali-kali, sedangkan yang lain hanya sekali. Paulus bahkan baru berjumpa dengan Yesus Kristus sesudah Ia naik ke surga. Situasi pelayanan masing-masing orang pun tidak sama. Paulus harus mengalami begitu banyak kesusahan dibandingkan yang lain (ayat 10). Terlepas dari semua faktor pembeda ini, berita mereka tetap sama. Dan itulah yang terpenting. Satu kesamaan yang membuat begitu banyak perbedaan menjadi tidak berarti.

Selain ingin menyampaikan pesan seperti di atas, Paulus juga hendak memberikan kritikan terhadap sikap jemaat Korintus. Mereka telah terjebak pada pengultusan individu. Ada yang mengidolakan Paulus, Kefas, maupun Apolos (1:12). Sikap ini jelas tidak dapat dibenarkan. Ketiganya sama-sama membawa pesan yang seragam. Yang mengikat seluruh jemaat bukanlah hamba Tuhan, melainkan berita injil (15:11).

Kritikan lain berhubungan dengan kesombongan jemaat Korintus. Mereka merasa diri begitu rohani dan berbeda dengan gereja-gereja lokal yang lain. Dalam banyak hal mereka ingin terlihat berbeda. Hal inilah yang ditentang beberapa kali oleh Paulus (4:17; 7:17; 11:16; 14:33). Semua gereja di segala tempat patut memiliki beberapa kesamaan fundamental. Salah satunya yang tidak tergantikan adalah kebangkitan Yesus Kristus dan orang-orang percaya. Justru poin ini yang sedang diragukan oleh jemaat Korintus.

Kebangkitan merupakan esensi iman orang percaya (ayat 11b)

Di ayat 3-8 Paulus berfokus pada kebangkitan Yesus Kristus sebagai sebuah realita historis. Beragam saksi mata dengan beragam jumlah orang dan di beragam situasi cukup sebagai dukungan bahwa peristiwa itu sungguh-sungguh terjadi.

Walaupun demikian, berhenti pada kebangkitan sebagai sebuah fakta merupakan sebuah kekeliruan. Kebangkitan Yesus Kristus bukan hanya bersifat objektif (terjadi di dalam realita), tetapi juga subjektif (terjadi di dalam diri orang-orang percaya). Poin kedua inilah yang ingin dipertegas Paulus di ayat 11b.

Penegasan ini dilakukan melalui perubahan bentuk kata kerja dari kekinian (kēryssomen, lit. “demikian kami beritakan”) ke masa lampau (episteusate, lit. “demikianlah kamu telah percaya”). Maksudnya, Paulus sedang menyoroti dampak berita injil bagi iman mula-mula jemaat Korintus. Mereka telah mempercayai berita injil.

Berita injil bukan hanya bersifat informatif, melainkan juga transformatif. Lebih dari sekadar berita gembira, injil adalah berita yang berkuasa. Lebih dari sekadar kabar yang dikumandangkan, injil adalah kabar yang mengubahkan. Perkembangan injil dari Yerusalem sampai ke seluruh kekaisaran Romawi, termasuk di kota Korintus,  merupakan buktinya. Bagaimana sebuah berita yang dianggap batu sandungan oleh orang-orang Yahudi dan kebodohan oleh orang-orang Yahudi (1:22-23) justru telah memenangkan begitu banyak orang?

Kuasa injil bahkan tidak ditentukan oleh siapa yang memberitakannya. Paulus adalah yang terakhir dan terkecil di antara para rasul (ayat 8-9), tetapi pemberitaannya tidak menjadi sia-sia. Yang menentukan bukanlah pemberitanya. Berita kematian dan kebangkitan Yesus Kristus merupakan kuasa Allah (1:18, 24). Walaupun pemberitanya lemah, Roh Kudus akan tetap bekerja dengan penuh kuasa melalui injil (2:1-5).     

Apa yang ditandaskan Paulus di pasal 15:11b perlu dikumandangkan terus dengan lebih giat. Ada sebagian orang yang mengaku sebagai orang Kristen tetapi menolak historisitas kebangkitan Yesus Kristus. Golongan ini mencakup mereka yang mengadopsi theologi liberal. Bagi mereka kebangkitan hanyalah mitos belaka. Golongan lain yang termasuk di sini adalah orang-orang Kristen “spiritual” yang menilai historisitas kebangkitan sebagai hal yang tidak penting. Bagi mereka, yang penting Kristus bangkit dan hidup di dalam hati. Iman, bukan pengetahuan. Pengalaman, bukan kenyataan.

Ada yang mengaku sudah percaya kepada injil (kabar baik), tetapi esensi kabar itu justru adalah kemakmuran dan kesuksesan secara duniawi. Entah sudah berapa banyak gereja yang terjebak pada theologi kemakmuran. Salib sebagai tanda kehinaan dan penderitaan dikesampingkan, dan digantikan dengan berbagai janji tentang kekayaan, kesembuhan, dan kejayaan. Lagu-lagu yang bertutur tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus perlahan digantikan lagu-lagu yang menekankan berkat secara jasmani.

Ada pula yang menganggap kebangkitan Yesus Kristus sebagai sebuah kebenaran, namun tidak pernah sungguh-sungguh mengalami kuasa kebangkitan itu. Mereka mungkin sangat antusias terhadap seminar-seminar maupun tulisan-tulisan apologetis yang mengupas tentang historisitas kebangkitan Yesus Kristus, tetapi pengetahuan itu seolah tidak berdampak sama sekali dalam kehidupan mereka. Jika injil memang kuasa Allah, mengapa kuasa itu tidak tampak dalam diri mereka? Ini terjadi karena mereka hanya memberikan persetujuan intelektual terhadap kabar kebangkitan, tetapi tidak menjadikan kabar itu sebagai sandaran kehidupan, baik kehidupan sekarang maupun di kekekalan. Yang dikehendaki Allah bukanlah persetujuan, tetapi iman. Bukan sekadar pengetahuan, melainkan keyakinan. Bukan hanya pergulatan intelektual, namun penyerahan diri yang total. 

Bagi kita yang sudah meyakini kebenaran historis dari kebangkitan Yesus Kristus dan mengalami kuasa kebangkitan itu, baiklah kita semakin hidup berpadanan dengan injil. Biarlah orang-orang lain melihat dengan jelas kuasa injil yang bekerja di dalam diri kita. Sama seperti Paulus, kita terus-menerus berusaha menjadikan injil sebagai pusat dan tujuan kehidupan kita. Filipi 3:10-11 berkata “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati”. Soli Deo Gloria. 

Bagikan artikel ini :