Eksposisi 1 Korintus 15:6-9

Eksposisi 1 Korintus 15:6-9

Jikalau ayat 3-5 adalah kutipan dari sebuah pengakuan iman kuno, seperti sudah dijelaskan pada khotbah sebelumnya, maka ayat 6-11 merupakan tambahan dari Paulus yang sumbernya dia dapatkan dari tradisi lain (ayat 6-7) dan pengalaman pribadi (ayat 8-11). Penambahan ini bukan tanpa tujuan. Paulus ingin menegaskan bahwa kebangkitan Yesus Kristus seperti yang dipercayai dalam kredo kuno tersebut bukan sekadar mitos. Kebangkitan itu juga bukan terjadi secara imani di dunia roh. Kebangkitan adalah sebuah peristiwa sejarah yang konkrit. Kekristenan tidak mengajarkan iman yang buta, melainkan iman yang tertancapkan pada realita.

Untuk membuktikan karakteristik iman Kristiani ini, Paulus banyak berkutat pada keberadaan para saksi mata kebangkitan Yesus Kristus. Dalam konteks budaya kuno waktu itu, keberadaan saksi mata untuk meneguhkan suatu perkara atau peristiwa merupakan kebutuhan yang mutlak diperlukan. Pada zaman itu belum ada alat rekam visual (video). Berbagai teknologi mutakhir lainnya juga belum ditemukan. Saksi mata seringkali menjadi satu-satunya – paling tidak salah satu yang terpenting – dalam memperjelas suatu perkara.

Di tengah zaman yang seperti ini, orang perlu memperhatikan kualitas kesaksian dari para saksi. Benarkah mereka melihat langsung suatu peristiwa? Apakah pengalaman tersebut dapat dipercaya? Apakah argumen atau bukti dari semuanya itu? Dengan sangat cerdik dan persuasif Paulus memaparkan pengalaman dari para saksi mata kebangkitan Yesus Kristus. Ia menunjukkan bahwa kesaksian para saksi tersebut tidak mungkin hanya sekadar halusinasi atau kebohongan.

Saksi mata yang banyak

Kristus yang bangkit tidak hanya menampakkan diri pada segelintir orang. Ia memang menampakkan diri pada orang-orang yang dekat dengan Dia, yaitu murid-murid-Nya (15:5), tetapi mereka bukan saksi mata yang eksplisit. Masih banyak saksi mata yang lain.

Secara eksplisit Paulus menyatakan bahwa jumlah saksi mata melebihi 500 orang (15:6). Walaupun ada beberapa yang sudah meninggal dunia, sebagian besar masih hidup pada saat surat ini ditulis. Cara Paulus menyatakan hal ini merupakan sebuah undangan terbuka bagi jemaat Korintus untuk membuktikan sendiri.

Tidak ada nama tertentu yang disebut. Mungkin terlalu banyak untuk disebutkan. Mungkin sebagian jemaat Korintus bahkan sudah pernah mendengarkan secara langsung kesaksian dari beberapa di antara mereka. Ketidakadaan nama menyiratkan bahwa Paulus lebih menekankan pada jumlah yang besar. 

Saksi kebangkitan yang lain adalah Yakobus dan semua rasul (ayat 7). Nama “Yakobus” di sini bukan merujuk pada Yakobus, anak Zebedus, salah satu murid Tuhan Yesus. Yakobus saudara Yohanes ini sudah dihukum mati oleh Herodes (Kis 12:1-2). Yang dimaksud “Yakobus” oleh Paulus di 1 Korintus 15:7 adalah saudara Tuhan Yesus yang di kemudian hari menjadi salah satu rasul dan soko guru gereja mula-mula (Kis 12:17; 15:13; 21:18; Gal 1:19; 2:9, 12).

Penjelasan ini sekaligus bermanfaat untuk menafsirkan “semua rasul” di bagian selanjutnya (ayat 7b) secara lebih luas. Istilah “rasul-rasul” memang mencakup 12 murid Tuhan Yesus, tetapi tidak bisa dibatasi pada mereka saja. Sebagian orang lain di luar mereka juga mendapat sebutan rasul. Dalam daftar tersebut kita dapat menemukan Paulus dan Barnabas (9:1, 6; Kis 14:14-15) serta Matias (Kis 1:26). Mungkin masih ada nama rasul-rasul lain di luar 12 murid yang tidak pernah disebutkan di dalam Alkitab.   

Penyebutan jumlah saksi yang melimpah di luar 12 murid merupakan hal yang sangat penting. Jika saksi mata hanya terbatas pada 12 murid, orang luar mungkin akan mencurigai bahwa berita kebangkitan merupakan kisah fiktif hasil rekayasa 12 murid tersebut. Mereka mungkin merasa terpukul dengan kematian Yesus di kayu salib lalu berusaha menghibur diri dengan cara menciptakan kisah palsu tentang kebangkitan mesias. Mereka mungkin memiliki maksud-maksud terselubung lain yang ingin dicapai melalui kebohongan itu.

Dengan jumlah saksi yang begitu banyak, kecurigaan di atas tampaknya tidak beralasan. Secara logis, sebuah kebohongan lebih sukar diciptakan secara bersama-sama oleh jumlah orang yang banyak. Harus ada pemimpin-pemimpin tertentu yang mengadakan pertemuan dan mengatur kesepakatan cerita. Harus ada kesamaan kepentingan di antara semua yang terlibat dalam kebohongan itu.

Hal ini tidak berarti bahwa suatu berita yang dipercayai secara luas pasti adalah berita yang bisa dipercayai. Kita perlu mengingat bahwa kebohongan yang besar seringkali dapat dimulai dari segelintir pembohong. Yang lain-lain hanya mempercayai tanpa membuktikan.

Inti perbedaan dalam dua kasus di atas terletak pada sumber kisah. Adalah sukar menciptakan sebuah kebohongan secara bersama-sama dengan jumlah orang yang begitu banyak. Diperlukan upaya lebih banyak untuk menghasilkan kebohongan semacam itu.

Jumlah saksi yang banyak juga melemahkan teori halusinasi yang sering dituduhkan oleh pihak luar. Halusinasi biasanya terjadi pada segelintir orang saja. Yang mengalami berulang-ulang hanya orang-orang itu. Tidak pernah ada halusinasi yang melibatkan begitu banyak orang. 

Saksi mata pada momen yang berlainan

Jumlah saksi yang melimpah bukan satu-satunya argumentasi Paulus. Ia juga menerangkan bahwa pengalaman para saksi mata itu terjadi pada momen yang berbeda-beda. Paling tidak ia menyingung tentang 4 peristiwa yang berbeda-beda: dua belas murid (ayat 5), 500 orang (ayat 6), Yakobus dan semua rasul (ayat 7), dan Paulus (ayat 8). Empat momen ini tampaknya diatur secara kronologis: dari 12 murid sampai Paulus. Kronologi semacam ini juga bermanfaat untuk menegaskan rantai tradisi yang tak terputus: Kristus menampakkan diri kepada orang yang dekat dengan dia sampai kepada Paulus yang mungkin tidak pernah menjadi saksi kehidupan-Nya. 

Jumlah momen di atas jelas tidak lengkap. Paulus bisa saja memaparkan momen-momen lain di luar empat tadi. Sebagai contoh, ia tidak menyinggung tentang penampakan kebangkitan pada para perempuan di kubur Yesus (Mat 28:1-10). Penampakan pada dua orang murid di perjalanan menuju Emaus (Luk 24:13-32).   

Walaupun beberapa orang yang sama berada pada momen-momen yang berbeda ini, jumlah penampakannya sendiri tetap signifikan. Situasi yang berlainan tersebut sangat meruntuhkan teori halusinasi. Halusinasi biasanya terjadi pada situasi yang sama atau mirip. Itupun terjadi pada orang yang sama pula. Penampakan berulang kali pada momen yang berbeda kepada kelompok orang yang berlainan pula tidak selaras dengan pengalaman halusinasi.

Saksi mata yang mengalami sekaligus

Paulus tidak hanya menekankan jumlah yang banyak dan momen yang berbeda-beda. Ia pun tertarik dengan jumlah yang banyak pada momen tertentu. Di setiap kisah kebangkitan yang ia singgung, selalu terdapat unsur komunal. Ada dua belas murid (ayat 5). Bukan hanya Petrus yang menyaksikan, tetapi semua murid sekaligus. Ada 500 orang saksi mata yang lain (ayat 6). Mereka melihat secara “sekaligus” (ephapax). Ada semua rasul (ayat 7). Penambahan “semua” (pasin) di sini menyiratkan bahwa kisah di ayat 7 dialami oleh semua rasul secara sekaligus. Seandainya yang dimaksud adalah semua rasul tapi pada momen yang berlainan, Paulus pasti sudah menggunakan ungkapan “setiap rasul,” bukan “semua rasul”.

Keterangan ini, sekali lagi, melemahkan teori halusinasi. Tidak ada halusinasi yang dialami oleh sekelompok orang dalam jumlah besar dan pada momen tertentu yang sama. Halusinasi tejadi pada individu atau segelintir orang saja.

Saksi mata yang mengalami transformasi hidup

Pemunculan beberapa nama dalam daftar saksi mata kebangkitan Kristus merupakan hal yang menarik dan penting. Paulus menyebut Kefas (Petrus), Yakobus, dan dirinya sendiri. Mengapa di antara begitu banyak orang, ia hanya menyebut tiga orang ini? Kesamaan apa yang ada pada ketiganya?

Yang jelas, ketiganya sama-sama pemimpin penting dalam gereja mula-mula (Kis 15). Yakobus adalah soko guru gereja dan lebih banyak berada di Yerusalem. Petrus dan Paulus aktif memberitakan injil ke mana-mana.

Yang lebih penting lagi, ketiganya sama-sama mengalami transformasi hidup yang luar biasa. Petrus dikenal karena penyangkalannya pada saat Tuhan Yesus diadili oleh imam besar (Mat 26:74-75; Mrk 14:68; Yoh 18:27). Penyangkalan ini sangat ironis, karena dilakukan oleh pengikut yang paling berani. Petrus bukan hanya secara terbuka berjanji akan mengikut Yesus sampai kematian (Mat 26:33-35; Mrk 14:29-31), tetapi ia adalah murid yang berani mengikuti proses penangkapan dan pengadilan gurunya.

Murid yang penakut dan gagal ini di kemudian hari dengan penuh keberanian berkata di depan para pemimpin Yahudi yang menganiaya dan mengancam nyawanya: “Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar” (Kis 4:19-20). Apa yang menjadi titik balik dalam hidup Petrus? Kebangkitan Yesus Kristus!

Yakobus juga mengalami perubahan hidup yang ajaib (ayat 7). Ia termasuk salah satu saudara Tuhan Yesus yang sebelumnya tidak percaya kepada-Nya (Yoh 7:2-9). Ia bahkan mungkin termasuk yang menganggap Yesus sudah gila (Mrk 3:21). Sesuatu telah terjadi pada Yakobus sehingga dia termasuk ke dalam pengikut mula-mula yang menunggu janji kedatangan Roh Kudus di Yerusalem (Kis 1:13-14). Titik balik terjadi pada saat ia menyaksikan kebangkitan Yesus Kristus.

Transformasi hidup yang paling dramatis dialami oleh Paulus (ayat 8). Ia menyamakan kisah itu dengan ektrōma, yang biasanya merujuk pada kelahiran bayi yang prematur atau keguguran bayi. Tidak jelas poin analogi apa yang ingin disampaikan melalui metafora ini.

Sebagian penafsir lebih menyoroti dari sisi waktu. Pertobatan Paulus terjadi begitu tiba-tiba pada saat ia sedang bergiat menganiaya orang-orang Kristen (Kis 9). Seorang musuh Tuhan justru berubah menjadi anak Tuhan. Penganiaya jemaat menjadi pemberita injil yang teraniaya.

Sebagian penafsir yang lain lebih menekankan gambaran negatif dari seorang bayi yang lahir secara prematur. Menurut mereka, Paulus mungkin sedang membicarakan kelemahan fisik yang dia miliki, misalnya ia bertubuh kecil (diasumsikan dari nama “Paulus” yang berarti “si kecil”).

Terlepas dari pilihan mana yang lebih tepat, poin yang perlu digarisbawahi tetap sama: Paulus telah mengalami perubahan hidup yang drastis dan dramatis. Ini semua terjadi karena ia telah berjumpa dengan Tuhan yang bangkit. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :