Eksposisi 1 Korintus 15:3-5

Eksposisi 1 Korintus 15:3-5

Di ayat 1-2 Paulus menyinggung tentang bagaimana jemaat Korintus telah menerima injil dan berdiri teguh di dalamnya. Ia juga menegaskan kembali tentang kuasa injil yang menyelamatkan, asalkan jemaat benar-benar mempercayai dan berpegang teguh padanya. Namun, ia belum menerangkan isi injil. Hal ini baru dia lakukan di ayat 3-4. Sebelum mengupas tentang isi tersebut, kita perlu melihat beberapa karakteristik penting dari injil.

Karakteristik injil

Karakter pertama dari injil adalah kuno. Sebagian besar penafsir Alkitab meyakini bahwa peredaksian ayat 3-5 tidak murni buah pemikiran Paulus. Bagian ini kemungkinan besar merupakan sebuah pengakuan iman (kredo) kuno yang sudah beredar luas sejak kekristenan ada. Paulus sedang mengutip kredo tersebut sebagai sebuah strategi persuasi kepada jemaat di Korintus.

Ada beberapa alasan yang mengarah ke sana. Paulus sendiri menyatakan bahwa apa yang ia teruskan adalah apa yang ia terima (ayat 3). Kata kerja “menerima” (paralambanō) dan “menyampaikan” (paradidōmi) merupakan istilah teknis dalam tradisi Yahudi untuk penerusan sebuah tradisi. Di samping itu, setiap bagian di ayat 3b-5 dimulai dengan kata “bahwa” (hoti). Bahkan ayat 3a dan ayat 4b sama-sama ditutupi dengan kalimat “sesuai dengan kitab suci”. Ini sesuai dengan ciri-ciri sebuah kredo yang menekankan kesejajaran dan keteraturan supaya mudah dihafalkan.

Dengan merujuk balik pada tradisi awal kekristenan, Paulus ingin memperingatkan jemaat Korintus agar tidak lekas bergairah terhadap hal-hal baru yang ditawarkan oleh dunia (bdk. 15:33). Peringatan ini sangat relevan bagi jemaat Korintus. Mereka memang cenderung menggemari hal-hal baru sampai mengabaikan kesamaan esensial mereka dengan jemaat-jemaat lokal lainnya, sehingga Paulus berkali-kali perlu menegaskan bahwa apa yang ia ajarkan adalah ajaran umum di semua jemaat (4:17; 7:17; 11:16).

Penjelasan di atas bermanfaat untuk menjawab tuduhan sebagian orang yang mengatakan bahwa kekristenan (injil) dimulai dari Paulus. Mereka menganggap Paulus sebagai pendiri kekristenan, bukan Yesus Kristus. Pandangan semacam ini tidak didukung oleh bukti yang memadai. Sebaliknya, catatan Alkitab justru menampilkan Paulus sebagai orang yang berhutang pada tradisi. Termasuk di antaranya adalah tentang kematian dan kebangkitan Kristus.   

Karakteristik kedua dari injil adalah paling penting. Kata Yunani prōtos (lit. “pertama”) bisa menerangkan urutan waktu (KJV/ASV “first of all”) atau keutamaan (RSV/NASB/NIV/ESV “of first importance”). Sesuai dengan konteks yang ada, Paulus tampaknya memikirkan yang kedua. Ia tidak sedang menegaskan bahwa berita pertama yang ia sampaikan kepada jemaat Korintus dahulu adalah injil. Ia ingin menunjukkan bahwa di antara semua berita yang ia sampaikan, salah satu yang paling penting adalah injil (bdk. bentuk jamak prōtois). Penggunaan kata prōtos menyiratkan bahwa injil bukan hanya sangat penting (kontra LAI:TB), melainkan juga paling penting.

Isi injil

Salah satu situasi yang memprihatinkan di banyak gereja sekarang ini adalah khotbah yang berpusat pada injil yang benar. Banyak mimbar hanya memberi janji gombal tentang kemakmuran, kesuksesan, dan kesembuhan. Sebagian mimbar yang lain hanya terfokus pada nasihat-nasihat etika yang humanis. Esensi injil menjadi semakin pudar dan kabur.

Tidak demikian dengan Paulus. Di tengah bahaya ajaran sesat yang merasuk ke dalam jemaat (15:12, 33), ia berusaha untuk mengumandangkan isi injil yang murni. Injil yang benar berbicara tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Itu adalah kabar baik yang sungguh-sungguh baik!

Kematian Kristus

Kematian Kristus bagi orang-orang berdosa mengandung dua sisi: kesejarahan (historicity)  dan makna theologis (theological meaning). Kristus mati di atas kayu salib adalah fakta historis. Untuk menebus dosa-dosa kita merupakan makna theologis dari kematian tersebut. Dua sisi ini sama-sama penting.

Sebagian orang menyangkali kematian Kristus di atas kayu salib. Segelintir theolog liberal yang sangat skeptis mencoba meragukan peristiwa ini, walaupun jumlah mereka semakin lama semakin sedikit. Orang-orang Muslim juga membantah fakta salib. Sanggahan semacam ini sangat lemah. Sejumlah penulis sejarah kuno yang non-Kristen menyinggung peristiwa penyaliban Kristus pada zaman Pontius Pilatus. Lagipula sulit dipahami mengapa orang-orang Kristen awal perlu mengarang cerita palsu tentang seorang juruselamat yang mati secara terhina di atas kayu salib. Seandainya kisah ini adalah sebuah kebohongan, tidakkah mereka akan memilih kisah lain yang lebih spektakuler?

Mengakui historisitas penyaliban Kristus tidaklah cukup. Banyak orang mengakui hal itu, tetapi mereka menilai itu sebagai sebuah tragedi. Berbagai label menyedihkan pun disematkan pada Kristus, misalnya tokoh revolusioner yang gagal atau nabi yang keliru dalam menubuatkan akhir zaman.

Bagi kita, Kristus tidak hanya mati, namun mati karena dosa-dosa kita. Ini adalah pusat pengakuan iman kita (Rm 5:6, 8; 8:32; 1 Kor 8:11; 2 Kor 5:14-15; Ef 5:2; Tit 2:14). Jika Dia mati disalibkan karena kesalahan-Nya sendiri, maka kematian itu sama sekali tidak bermanfaat bagi kita. Puji Tuhan! Dia mati supaya kita tidak hidup di dalam dosa. 2 Korintus 5:21 mengatakan: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”.   

Frase “Ia telah dikuburkan” muncul secara singkat untuk menandaskan realitas dan finalitas dari kematian Kristus. Ia tidak hanya pingsan atau lemas di atas kayu salib. Ia benar-benar mati dan dikuburkan.

Kebangkitan Kristus

Penegasan tentang realitas kematian Kristus juga diteguhkan melalui pemunculan frase “pada hari ketiga” (ayat 4). Dalam tradisi Yahudi, seseorang dikatakan benar-benar sudah mati tanpa terbantahkan jika ia sudah berada dalam keadaan mati selama tiga hari. Kebangkitan pada hari ketiga menunjukkan bahwa orang yang bangkit itu sebelumnya benar-benar sudah mati.

Bentuk pasif “dibangkitkan” menyiratkan Allah sebagai subjek. Ini merupakan poin yang penting. Walaupun Kristus kadangkala dikatakan bangkit sendiri (Yoh 10:18) atau dibangkitkan oleh Roh (Rm 1:4), bentuk pasif “dibangkitkan” di 1 Korintus 15:4 bermanfaat untuk menegaskan perkenanan Allah atas Kristus. Ia bukanlah nabi palsu atau seorang penghujat. Allah tidak mungkin meninggikan seorang nabi palsu dan penghujat. Kebangkitan oleh Allah membuktikan bahwa kematian Kristus bukanlah hukuman ilahi atas dosa-dosa Kristus. Sebaliknya, hal itu justru menunjukkan bahwa Allah berkenan kepada karya penebusan Kristus.

Kematian dan kebangkitan Kristus tidak boleh dipisahkan. Tanpa kematian, tidak mungkin ada kebangkitan. Tanpa kebangkitan, kematian menjadi tanpa makna. Jika Kristus hanya mati saja, maka kita masih hidup di dalam dosa-dosa kita (15:17). Kematian-Nya menyelesaikan persoalan terbesar umat manusia, yaitu dosa. Kebangkitan mengalahkan ketakutan terbesar umat manusia, yaitu kematian atau maut. Kematian dan kebangkitan-Nya memberi kelepasan dan kemenangan sempurna dalam kehidupan kita.

Peneguhan injil

Karya penebusan Kristus dan maknanya bagi kita bukanlah sekadar konsep teoritis yang tidak berdasar. Bukan pula sekadar pokok iman yang buta tanpa realita. Iman pada kematian dan kebangkitan Kristus dilandaskan pada dasar yang kokoh.

Peneguhan pertama adalah kitab suci. Dua kali Paulus menyebutkan “sesuai dengan kitab suci”. Bentuk jamak “kitab-kitab suci” (kata tas graphas) dan ketidakadaan kutipan eksplisit di ayat 3-4 mengarhakan kita untuk memahami frase “sesuai kitab-kitab suci” secara lebih umum. Maksudnya, Paulus memang tidak sedang memikirkan sebuah ayat tertentu dalam Perjanjian Lama. Ia hanya merangkum seluruh isi kitab suci (bdk. Luk 24:25-27, 45-46). Kematian Kristus yang bersifat menebus (atoning death) diajarkan di berbagai teks, misalnya Yesaya 52:13-53:12 (lihat 1 Kor 11:25 “yang diserahkan bagi kamu”). Kebangkitan Kristus juga dinubuatkan di beberapa teks, misalnya Mazmur 16:8-11 (dikutip oleh Petrus di Kisah Rasul 2:25-36) atau Mazmur 110:1 (dikutip berkali-kali di Perjanjian Baru).

Peneguhan lain adalah para saksi mata. Kehadiran para saksi mata dimaksudkan sebagai penegasan bahwa kebangkitan Kristus terjadi secara tubuh. Paulus tidak sedang membicarakan tentang kebangkitan secara roh. Di samping itu, pemunculan saksi mata dalam beberapa peristiwa yang berbeda (“Ia menampakkan diri kepada Kefas, dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya”) juga menandaskan historisitas kebangkitan. Kisah ini bukanlah hasil halunisasi maupun wujud depresi para pengikut Yesus. Ini adalah peristiwa yang terulang pada beberapa kesempatan yang berbeda.

Penyebutan Kefas secara eksplisit mungkin didorong oleh pertimbangan bahwa Petrus memang salah satu murid Yesus yang paling menonjol. Alasan lain mungkin berkaitan dengan penyangkalan diri Petrus. Seorang yang dulu penakut dan menyangkali Tuhan, kita telah menjadi tokoh penting dalam kekristenan awal. Titik balik tersebut terjadi pada saat Kefas melihat Kristus yang bangkit. Kebangkitan Kristus menjadi sumber kekuatan dan keberanian bagi Petrus. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :