Jangan Bersumpah (Matius 5:33-37)

Jangan Bersumpah (Matius 5:33-37)

Penempatan “jangan bersumpah” (5:33-37) sesudah “jangan bercerai” (5:31-32) mungkin didorong oleh beberapa pertimbangan. Sama seperti orang yang melanggar sumpahnya, demikian pula seorang yang menceraikan pasangannya. Perceraian merupakan sebuah bentuk ketidaksetiaan terhadap (per)janji(an) dengan pasangan (bdk. Mal 2:10, 14-15). Sama seperti perceraian bukanlah sebuah perintah, demikian pula dengan sumpah. Keduanya sama-sama opsional, tetapi bukan yang ideal maupun keharusan. Dua alasan ini cukup untuk melekatkan “jangan bersumpah” dengan “jangan bercerai”.

Apa yang diajarkan Tuhan Yesus di sini tidak mungkin dapat dipahami dengan baik tanpa mengetahui Hukum Taurat dan tradisi Yahudi tentang sumpah. Ia tidak sedang mengutip larangan/perintah dari Taurat, melainkan menyikapi penafsiran Farisi tentang hal itu.

Ajaran Taurat tentang sumpah (ayat 33)

Kutipan di bagian ini merupakan sebuah kutipan bebas. Walaupun demikian, apa yang dikutip merupakan rangkuman yang tepat dari berbagai ajaran Taurat tentang sumpah. TUHAN melarang bangsa Israel untuk menggunakan nama-Nya dengan sia-sia (Kel 20:7), termasuk pada saat mereka mengambil sumpah (Im 19:12). Pada saat seseorang mengambil sumpah (nazar) di hadapan TUHAN, orang itu tidak boleh melanggarnya (Bil 30:2), melainkan harus segera menepatinya (Ul 23:21). Poin yang sama juga diajarkan berulang-ulang di bagian lain Alkitab (Mzm 50:14; Zak 8:17). Dari semua penggunaan ini terlihat bahwa sumpah adalah sesuatu yang serius.

Bersumpah (epiorkeō) di sini tidak boleh dibatasi pada sekadar “janji” (kontra GNB). Epiorkeō juga tidak terbatas pada nazar (kontra LB). Sumpah adalah sebuah perkataan sungguh-sungguh tentang apa saja (tidak hanya janji atau nazar) yang diteguhkan sebagai kebenaran di hadapan Allah (Mat 5:33b “di depan TUHAN”). Sebagai tanda bahwa perkataan itu diucapkan di hadapan Allah, sebuah sumpah dilandaskan pada nama TUHAN. Sumpah yang tidak benar sama saja dengan mengundang kutuk ilahi atas orang yang mengucapkan sumpah itu.

Pemunculan “jangan bersumpah palsu” (negatif, larangan) dan “peganglah sumpahmu di depan Tuhan” (positif, perintah) berguna untuk memberikan penekanan terhadap keseriusan sebuah sumpah. Orang tidak boleh menganggap remeh sebuah sumpah. Yang ia ucapkan adalah “di depan TUHAN”.

Penafsiran legalistik menurut golongan Farisi

Di bagian ini Matius tidak menyediakan rujukan yang eksplisit tentang penafsiran Farisi terhadap ajaran sumpah di Taurat. Ia hanya mengasumsikan bahwa para pembacanya sudah mengenal tradisi Yahudi tersebut. Walaupun demikian, Matius tetap memberikan petunjuk penting tentang hal ini di pasal 23:16-22. Apa yang tertulis di bagian tersebut secara prinsip tercermin dalam pembahasan tentang sumpah di tulisan para rabi Yahudi (Mishnah, terutama Shebu’ot dan Nedarim).

Orang-orang Farisi berpendapat bahwa tidak semua sumpah adalah absah. Tidak semua sumpah bersifat mengikat. Tidak semua sumpah memiliki bobot yang sama. Semua bergantung pada tingkat kesakralan dari dasar sumpah yang diucapkan. Sebagai contoh, sumpah demi bait Allah tidaklah mengikat, kecuali demi emas yang ada di dalam bait Allah (23:16). Sumpah yang dilandaskan pada mezbah dinilai tidak mengikat, kecuali jika didasarkan pada kurban yang ada di atas mezbah itu (23:18). Daftar ini tentu saja masih bisa diperpanjang lagi. Penafsiran legalistik Farisi menyediakan detil aturan tentang sumpah yang sah dan tidak sah.

Dengan kata lain, golongan Farisi telah menggeser kekuatan sebuah sumpah. Dasar sebuah sumpah terletak pada formula atau peredaksian dalam sumpah itu. Apabila sebuah sumpah tidak menyebutkan secara eksplisit nama TUHAN atau benda sakral tertentu yang dianggap sah, sumpah itu dipandang tidak berbobot. Jadi, yang dipentingkan mereka bukan kebenaran suatu ucapan (sesuai realita atau tidak), melainkan konsekuensi dari ucapan itu (mengikat atau tidak).

Di tengah situasi budaya seperti inilah Tuhan Yesus mengajarkan tentang sumpah dalam konteks kerajaan Allah. Bagaimana para pengikut Kristus seharusnya menyikapi sumpah?

Penafsiran Tuhan Yesus (ayat 34-37)

Berbeda dengan golongan Farisi yang secara legalistik membuat kategori-kategori sumpah yang sebenarnya tidak diajarkan dalam Hukum Taurat, Tuhan Yesus memilih untuk melihat lebih dalam lagi. Yang Ia sorot adalah esensi dari sebuah sumpah. Untuk apa seseorang perlu mengambil sebuah sumpah? Bukankah tujuannya untuk meyakinkan orang lain bahwa apa yang diucapkan adalah benar? Jadi, inti dari sebuah sumpah sebenarnya terletak pada perkataan yang benar. Itulah yang dijadikan fokus dalam perkataan Tuhan Yesus.

Ada dua cara yang digunakan untuk mendaratkan poin inti ini. Keduanya saling berkaitan dan melengkapi. Yang satu secara negatif (larangan), yang satu positif (perintah).

Pertama, Tuhan Yesus melarang sumpah (ayat 34-36). Larangan ini diberi penegasan melalui kata “sekali-kali” (holōs, LAI:TB). Artinya, kita dilarang untuk mengucapkan sumpah sama sekali (versi Inggris “ at all”).

Berbeda dengan golongan Farisi yang hanya menganggap sumpah demi nama TUHAN yang mengikat, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa segala sesuatu tidak terpisahkan dengan Allah. Allah berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada satu hal terkecil pun di dunia ini yang tidak berada di bawah kekuasaan Allah. Karena itu, bersumpah demi apapun sebenarnya sama saja dengan bersumpah demi TUHAN yang menciptakan hal tersebut.

Kedaulatan ilahi yang komprehensif ini diungkapkan dengan cara yang menarik. TUHAN ditampilkan sebagai Raja alam semesta. Langit adalah tahta-Nya (ayat 34). Bumi adalah tumpuan kaki-Nya (ayat 35). Yerusalem adalah kota Raja Besar (ayat 36). Kekuasaan TUHAN mencakup langit dan bumi. Di mana Dia berada, di situ tempat itu menjadi sakral. Tidak ada suatu apapun yang lepas dari diri-Nya.

Kekuasaan yang begitu sempurna ini sangat kontras dengan kekuasaan manusia. Kita bahkan seringkali tidak berkuasa atas hal yang paling sepele di dalam hidup kita. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengingatkan keterbatasan kita dalam kaitan dengan rambut di kepala kita (ayat 37). Kita hanya bisa mengubah tampilan rambut kita dengan pewarna rambut, tetapi warna asli rambut tetap merupakan sebuah proses alamiah yang berada di luar kontrol kita. Jika hal sepele saja kita tidak mampu menguasai semau kita, kita juga tidak boleh menjadikan itu sebagai dasar sebuah sumpah.  

Pesan yang ingin disampaikan di ayat 34-37 sebetulnya cukup sederhana. Sumpah tetaplah mengikat, terlepas dari formula atau peredaksian yang digunakan dalam sumpah itu. Segala sesuatu bersentuhan dengan TUHAN. Sumpah demi apapun sama saja dengan bersumpah demi Dia. Karena itu, kita sebaiknya berhati-hati dengan sumpah kita. Kita tidak boleh bersumpah sama sekali.

Kedua, Tuhan Yesus mengajarkan integritas hidup (ayat 38). Karena esensi sebuah sumpah adalah meyakinkan orang lain tentang kebenaran perkataan kita, yang paling penting sebenarnya adalah kejujuran kita. Jika “ya,” kita katakan “ya,” demikian pula sebaliknya (lihat juga Yak 5:12). Jangan memutarbalikkan kebenaran. Jangan menambahi maupun mengurangi kebenaran.

Jika kita selalu mengucapkan segala sesuatu yang benar, kita tidak membutuhkan apapun untuk menguatkan ucapan kita. Integritas hidup kita adalah saksi yang tak terbantahkan. Integritas hidup kita adalah lebih kuat daripada formula sumpah apapun yang kita gunakan.

Sebaliknya, jika perkataan kita tidak benar (tidak sesuai kebenaran) maupun tidak tulus (tidak sesuai dengan hati kita), kita sudah diperdaya oleh si jahat. Bentuk tunggal disertai artikel pada kata “si jahat” (tou ponērou) menyiratkan bahwa si jahat di sini merujuk pada Iblis. Dialah bapa segala dusta (Yoh 8:44).

Sebagai anggota kerajaan Allah, kita wajib hidup berbeda dengan dunia yang dikuasai oleh si jahat. Perkataan mereka adalah dusta, perkataan kita selaras dengan realita. Kebohongan adalah kebiasaan mereka, ketulusan adalah kebanggaan kita. Sama seperti Allah yang janji-Nya selalu “ya dan amin,” demikian pula dengan anak-anak-Nya (2 Kor 1:17-20).

Beberapa pemikiran tambahan

Larangan untuk bersumpah di Matius 5:33-37 mungkin menyisakan dua pertanyaan di benak kita. Jika sumpah memang dilarang, mengapa Allah sendiri bersumpah demi diri-Nya (Kej 22:16; Kel 32:13)? Apakah Allah telah bertindak tidak konsisten? Tentu saja tidak! Tatkala Allah bersumpah, hal itu bukan dimaksudkan untuk meningkatkan kredibilitas perkataan-Nya, melainkan untuk meningkatkan iman kita. Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta (Bil 23:19 “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”). Kebenaran dan kesucian Allah membuat Dia tidak dapat berdusta.

Lagipula, Allah tidak bersumpah demi apapun. Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri. Artinya, sifat-sifat ilahi-Nya yang sempurna merupakan dasar dari perkataan-Nya. Integritas merupakan dasar kredibilitas. Hal ini jelas tidak bertentangan dengan ajaran Tuhan Yesus tentang sumpah.

Pertanyaan kedua yang mungkin terbersit di pikiran kita adalah sumpah resmi di pengadilan atau penahbisan jabatan. Beberapa aliran kekristenan tertentu benar-benar mengambil ajaran Tuhan Yesus secara hurufiah secara mutlak, sehingga mereka menolak untuk diambil sumpah di pengadilan maupun lembaga pemerintah manapun.

Sikap di atas tampaknya tidak terlalu tepat. Kita memang dilarang untuk secara aktif bersumpah demi menguatkan perkataan kita. Namun, kita kadangkala berada dalam sebuah situasi di mana orang lain mengharuskan kita untuk melakukannya (misalnya pada waktu menjadi saksi di pengadilan maupun memangku suatu jabatan tertentu di pemerintahan). Tuntutan ini tidak ada kaitannya dengan keraguan orang lain terhadap integritas kita. Baik orang jujur maupun pembohong sama-sama dituntut untuk bersumpah. Tuhan Yesus bahkan pernah berada di situasi yang sama. Pada waktu dituntut oleh imam besar untuk bersumpah tentang identitas-Nya, Tuhan Yesus mau memenuhi tuntutan itu (Mat 26:63-64).

Bagikan artikel ini :