Jangan Berzinah (Matius 5:27-30)

Jangan Berzinah (Matius 5:27-30)

Sama seperti larangan untuk membunuh di 5:21-26, Tuhan Yesus di sini juga lebih menyoroti esensi dari suatu tindakan. Bukan apa yang terlihat saja, melainkan apa yang tidak terlihat. Suatu tindakan adalah suatu produk dari sebuah kualitas hati (15:19). Itulah yang disoroti dalam bagian ini.

Perintah: Jangan berzinah (ayat 27)

Cara pengutipan di sini sangat mirip dengan ayat 21. Perbedaannya hanya terletak pada dua hal. Di ayat ini tidak ada tambahan “kepada nenek moyangmu” (tois archaiois). Ketidakadaan tambahan ini tidak perlu dibesar-besarkan. Hal yang sama ditemukan juga di ayat 31, 38, dan 43. 

Ayat ini juga tidak disertai dengan penafsiran menurut tradisi Yahudi (bdk. 5:21, 43). Tuhan Yesus hanya mengutip: “Jangan berzinah”. Tidak ada tambahan apapun. Kutipan dalam ayat ini bahkan sama persis dengan Keluaran 20:14 atau Ulangan 5:17 (LXX ou moicheuseis).

Dalam konteks budaya patriakhal kuno yang poligamis, diskriminasi gender ada di mana-mana, termasuk dalam konsep perzinahan. Seorang laki-laki “diberi” kelonggaran dalam eksplorasi seksual dengan siapa saja, sejauh perempuan yang terlibat di situ bukanlah isteri orang lain. Jika perempuan itu adalah isteri orang lain, maka laki-laki itu dianggap telah merampas hak orang lain (suami dari perempuan itu). Jadi, perzinahan lebih dilihat sebagai pelanggaran terhadap hak orang lain daripada kebejatan moral.

Contoh yang paling jelas adalah perlakukan laki-laki terhadap budak perempuan. Apabila seorang laki-laki Yahudi bersetubuh dengan budak perempuan, hal itu tidak terlalu dipersoalkan, karena budak dianggap milik dari tuannya, sehingga tidak ada hak orang lain yang dilanggar. Situasi ini bahkan tampaknya menjadi fenomena umum di Timur Tengah Kuno.

Lagipula, perzinahan biasanya (tidak selalu) hanya dibatasi pada kontak secara fisik (persetubuhan). Selama tidak ada kontak fisik, hal itu belum dikategorikan sebagai perzinahan. Perzinahan adalah persetubuhan dengan isteri orang lain.

Penafsiran ulang terhadap perintah (ayat 28)

Sama seperti di ayat 21b, di sini Tuhan Yesus juga mengungkapkan penafsiran-Nya dengan penuh otoritas. Dalam teks Yunani kata “Aku” muncul dua kali sebagai penekanan. Kata sambung “tetapi” di awal ayat ini menyiratkan sebuah kontras. Cara pandang Tuhan Yesus terhadap larangan untuk berzinah berbeda dengan budaya pada waktu itu.

Tuhan Yesus tidak memberi hak istimewa bagi laki-laki. Larangan yang Ia berikan bahkan ditujukan lebih kepada laki-laki (walaupun maknanya berlaku untuk perempuan juga). Kata ganti “setiap orang” (pas) berbentuk maskulin. Pemunculan “perempuan” (gynē) sebagai objek perzinahan menyiratkan bahwa subjeknya adalah laki-laki.

Batasan perzinahan juga telah diperluas oleh Tuhan Yesus. Kata gynē (bisa berarti “perempuan” atau “isteri”) tidak disertai dengan tambahan “milik orang lain”. Semua perempuan diperlakukan sama, baik isteri orang lain, budak perempuan, maupun siapa saja. Ini menunjukkan bahwa bagi Allah perzinahan adalah perzinahan, terlepas dari status pernikahan dari perempuan yang dijadikan pasangan zinah.

Yang lebih penting, perzinahan di mata Tuhan Yesus bukan hanya masalah tindakan (bersetubuh). Perzinahan dimulai dari mata yang tidak kudus. Allah menciptakan mata supaya kita dapat menikmati keindahan ciptaan, tetapi manusia berdosa seringkali menggunakan kapasitas ini secara keliru. Begitu pula dengan kita yang memandang orang lain dan menginginkannya (LAI:TB, pros to epithymesai autēn). Ungkapan Yunani digunakan mengarah pada hawa nafsu (epithymeō = bernafsu). Hampir semua versi Inggris memilih terjemahan “melihat dengan dengan hawa nafsu”. Ini lebih tegas dan sesuai dengan teks Yunani daripada “menginginkan”.

Perzinahan tidak hanya melibatkan mata, melainkan juga hati. Melihat perempuan tentu saja tidak berdosa selama hati seseorang tetap terjaga. Persoalannya, hati manusia seringkali justru menjadi gudang kejahatan (15:19). Perpaduan antara mata yang najis dengan hati yang cemar melahirkan sebuah dosa yang serius: perzinahan di dalam hati.

Apa yang disampaikan di sini sebetulnya bukan sesuatu yang benar-benar baru. Ayub dari dahulu sudah menyadari betapa pentingnya menjaga mata dan hati supaya tidak jatuh ke dalam perzinahan. Ia sudah menentukan batas pandangannya (Ay 30:1 “Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara?”). Dia menyadari bahwa hati bisa mengikuti pandangan (Ay 30:7), sehingga pada akhirnya hati yang tercemar itu akan menghasilkan perbuatan yang najis pula (Ay 30:9). Beberapa tulisan para rabi Yahudi juga memperingatkan tentang bahaya mata. Apa saja dalam diri perempuan, bahkan suara atau bagian tubuh yang terkecil sekalipun, dapat menjadi umpan dosa seksual (Shab. 64b; Ber. 24a). Sebuah kitab kuno Yahudi di luar Alkitab juga memberikan nasihat untuk menghindari perzinahan dengan cara menjaga mata dan hati (Yobel 20:3-4).

Matius 5:28 bermanfaat dalam menyikapi persoalan penampilan. Tampil secara atraktif tidaklah keliru. Kecantikan adalah ciptaan Tuhan yang perlu dipelihara. Kecantikan dan pakaian tidak terpisahkan. Namun, kita perlu benar-benar berhati-hati. Ada perbedaan yang besar antara penampilan yang atraktif dan yang seduktif (berpotensi memberi rangsangan seksual). Segala sesuatu yang bisa membuat orang lain tersandung dan terjatuh harus dihindari. Perzinahan memang masalah hati, tetapi mata juga turut berperan. Dengan menjaga penampilan kita, kita turut menjaga orang lain dari dosa perzinahan. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang didominasi oleh orang-orang Muslim, kesopanan dalam berpakaian sangat dijunjung tinggi. Jika kekristenan ingin mendapatkan respek dari mereka, penampilan para wanita Kristen tampaknya perlu dikaji ulang dan diubah. Hal yang sama berlaku untuk para pria Kristen.

Aplikasi (ayat 29-30)

Jika perzinahan di dalam hati dimulai dari mata, kita sebaiknya menjaga mata kita dengan serius. Jika mata dan hati pada akhirnya menuntun pada tindakan (diwakili oleh tangan), kita juga harus menjaga tangan kita dengan serius. Keseriusan ini diungkapkan melalui majas hiperbola dalam bentuk amputasi fisik.

Ungkapan hiperbolis tentang amputasi fisik ini juga muncul lagi di 18:8-9. Konteks pemunculan di pasal 18 tidak secara khusus berhubungan dengan dosa seksual. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa aplikasi dari ungkapan hiperbolis ini bersifat umum (dapat diterapkan pada kasus apapun). Pesan yang mau disampaikan tetap sama, yaitu kerelaan untuk kehilangan bagian fisik yang paling penting asalkan keselamatan rohani tidak dalam bahaya. 

Beberapa orang telah mencoba menafsirkan dan mempraktikkan ayat 29-30 secara hurufiah. Mereka benar-benar mencungkil mata mereka dan memotong tangan mereka. Sebuah peninggalan kuno menunjukkan sebuah gambar yang menarik. Seorang imam sedang membakar tangannya di atas api sambil memalingkan muka dari seorang perempuan. Catatan menarik lain adalah sejumlah orang Kristen pada sekitar abad ke-4 sampai ke-7 yang mengebiri diri mereka supaya tidak jatuh ke dalam perzinahan.

Semua upaya ini tidak akan berhasil. Mutilasi hanya akan mencegah tindakan perzinahan, tetapi tidak pernah mampu memadamkan hawa nafsu. Perzinahan terjadi dalam hati. Pikiran cabul melampaui batasan indera. Mata hanyalah salah satu jalan masuk pada perzinahan. Telinga, sentuhan, dan berbagai tangkapan indera dapat menjerumuskan kita pada perzinahan dalam hati.

Untuk menambah keseriusan dari nasihat ini, Tuhan Yesus secara spesifik menyebutkan mata kanan. Dalam tradisi kuno, mata kanan lebih penting dan dibutuhkan daripada mata kiri, terutama dalam konteks peperangan. Josephus, seorang sejarahwan Yahudi di abad ke-1 Masehi, pernah mengisahkan tentang seorang raja yang mencungkil mata kanan dari para prajurit musuh yang ia kalahkan. Karena mata kiri prajurit selalu tertutup perisai wajah, pencungkilan mata ini membuat para prajurit tersebut tidak lagi berguna dalam peperangan (Ant. 6.69-70).

Hal yang sama berlaku pada tangan kanan. Dalam budaya Timur tangan kiri hanya diperuntukkan bagi aktivitas-aktivitas tertentu yang rendah atau kotor, misalnya mengutuk atau membersihkan diri sesudah buang air besar. Aktivitas-aktivitas lain yang lebih terhormat, misalnya berjabat tangan, makan, dsb., sepatutnya dilakukan dengan tangan kanan. Kehilangan tangan kanan berarti kehilangan kemampuan untuk melakukan hal-hal penting dan mulia dalam kehidupan.

Pesan yang hendak diungkapkan melalui dua gambaran hiperbolis ini cukup jelas. Keselamatan rohani lebih penting daripada keselamatan fisik. Keutuhan hidup di hadapan Allah lebih penting daripada keutuhan hidup di depan manusia. Kehidupan dalam kekekalan lebih penting daripada kehidupan yang sementara di dunia. Kita harus rela kehilangan apapun dalam kehidupan kita, bahkan yang kita anggap begitu penting, asalkan kita dapat menang melawan godaan.

Berangkat dari pesan di atas, sudah sewajarnya apabila orang-orang Kristen berjuang sedemikian rupa untuk menolak sumber-sumber pencobaan. Apa saja yang dapat menyebabkan kita berdosa harus dicegah dengan harga apapun. Kemenangan melawan dosa tidak diraih dengan bayaran yang murah maupun upaya yang asal-asalan. Kita mungkin akan kehilangan sesuatu yang berharga supaya kita mendapatkan yang lebih bernilai. Bagi sebagian dari kita, ini mungkin berarti harus kehilangan pergaulan lama yang buruk (komunitas yang kompromi terhadap dosa). Bagi yang lain harga yang dibayar adalah perubahan rutinitas hidup yang selama ini membuat kita rentan terhadap dosa (misalnya penggunaan internet). Bagi yang lain lagi ini mungkin berarti pembuangan benda-benda atau hal-hal tertentu yang sering menjadi sumber godaan (misalnya DVD porno, kebiasaan ke klub malam, dsb.).

Ingatlah, lebih baik masuk ke dalam surga sambil meraba-raba dalam kebutaan daripada berlari kencang dengan mata terbuka menuju neraka. Lebih baik berjalan sempoyongan tanpa lengan menuju ke surga daripada berjalan tegap dengan penuh keseimbangan menuju neraka. Lebih baik masuk ke dalam surga sambil tertatih-tatih karena timpang daripada melompat tinggi dengan dua kaki menuju neraka. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :