Eksposisi 1 Korintus 14:29-33

Eksposisi 1 Korintus 14:29-33

Dibandingkan dengan karunia berbahasa roh, Paulus lebih condong pada karunia bernubuat. Walaupun keduanya sama-sama dari Roh Kudus, tetapi yang terakhir lebih bermanfaat secara langsung bagi seluruh jemaat (14:5) atau orang luar (14:20-25). Karena itu, Paulus beberapa kali menasihati jemaat Korintus untuk menginginkan karunia bernubuat lebih daripada karunia berbahasa roh (14:1, 5).

Walaupun karunia ini mendapat penekanan khusus dari Paulus, tetapi penggunaan karunia bernubuat tetap ada aturannya. Sama seperti karunia berbahasa roh harus digunakan dengan aturan tertentu (14:26-28), demikian pula karunia bernubuat (14:29-33). Mereka yang memiliki karunia ini tidak boleh seenaknya sendiri memakainya. Sesuatu yang baik harus digunakan dengan cara yang baik pula.

Pembacaan yang cermat akan menunjukkan bahwa peraturan untuk penggunaan karunia bernubuat dalam ibadah sedikit berbeda dengan karunia berbahasa roh, walaupun esensi dalam nasihat tersebut tetap sama. Dalam kaitan dengan berbahasa roh, Paulus menggunakan kalimat: “Jika ada yang berkata-kata dalam bahasa roh” (14:27), sedangkan tentang bernubuat ia mengatakan: “Baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata” (14:29). Yang pertama hanya bersifat antisipasi, sedangkan yang terakhir lebih bersifat dorongan.

Apa saja aturan untuk penggunaan karunia nubuat? Nasihat Paulus tentang penggunaan karunia bernubuat dalam ibadah dapat diringkas ke dalam empat poin.

Keteraturan

Sama seperti penggunaan bahasa roh, penggunaan nubuat juga dibatasi pada tiga orang (14:29). Bedanya, kali ini Paulus tidak menambahkan “sebanyak-banyaknya” (bdk. 14:27). Beberapa penafsir Alkitab berpendapat bahwa dua atau tiga orang di sini hanya merujuk pada mereka yang memiliki karunia kenabian (14:29), sedangkan jemaat lain masih boleh menyampaikan nubuat tertentu dari Roh Kudus walaupun mereka tidak termasuk golongan nabi (14:30-31).

Keteraturan tidak hanya terlihat dari jumlah, melainkan juga pemberian kesempatan kepada orang lain. Jika seseorang mendapatkan penyataan, maka orang lain yang sedang berdiri dan menyampaikan penyataan harus duduk (14:30). Keterangan “seorang demi seorang” (14:31) juga menyiratkan keteraturan. Tidak ada seorang pun di dalam gereja yang berhak memonopoli waktu dan pelayanan.

Pengujian

Kata “menanggapi” (LAI:TB) di ayat 29b dalam teks Yunani berasal dari kata dasar diakrinō, yang berarti “menghakimi, menilai, atau meragukan.” Sesuai konteks di 14:29-33, kata diakrinō sebaiknya diterjemahkan “mengevaluasi dengan teliti.” Istilah lain yang lebih populer adalah menguji (bdk. RSV/NRSV/NIV/ESV “weigh”; ASV “discern”; KJV “judge”; NASB “pass judgment”).

Bentuk kata kerja imperatif present diakrinetōsan menyiratkan bahwa ini bukan sekadar opsi, melainkan perintah. Perintah ini harus dilakukan secara terus-menerus. Tiap kali ada orang yang bernubuat, jemaat lain tidak boleh serta-merta menerimanya, tetapi perlu menguji kebenaran dari nubuat tersebut. Orang Kristen tidak boleh menganggap remeh nubuat-nubuat, namun pada saat yang sama juga harus menguji setiap roh (1 Tesalonika 5:19-21). Setiap orang percaya memiliki kapasitas ini dalam taraf tertentu, sebab mereka memiliki Roh Kudus dalam hati mereka (1 Kor 2:12-16). Hanya saja, mereka yang memiliki karunia-karunia tertentu – misalnya membedakan roh, pengajaran, dsb. (12:10, 28) - pasti lebih cermat dalam pengujian mereka.

Pembangunan orang lain

Yang paling penting sebenarnya bukan siapa yang mengucapkan nubuat, melainkan apa dan untuk apa ia mengucapkan hal tersebut. Siapa saja bisa bernubuat, jika memang Roh menghendakinya (14:31a “sebab kamu semua boleh bernubuat”). Tidak ada batasan bahwa karunia bernubuat hanya diperuntukkan bagi para nabi. Setiap nabi (secara status/jabatan) pasti bernubuat, tetapi tidak semua yang bernubuat adalah nabi (secara fungsi).

Yang penting adalah manfaat bagi orang lain. Secara khusus Paulus menyinggung tentang pengajaran dan penguatan. Melalui nubuat yang diucapkan oleh siapa saja, semua orang dapat belajar dan semua orang dapat dikuatkan (14:31b), asalkan nubuat itu sudah teruji kebenarannya (14:29). Nubuat bukan hanya untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Nubuat bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu tentang hal-hal yang ada di depan. Nubuat justru lebih banyak dimaksudkan sebagai pengajaran tentang kehendak Allah bagi umat-Nya. Nubuat bersifat menguatkan seluruh jemaat.

Konsep ini perlu digarisbawahi dan didengungkan senantiasa. Sebagian orang Kristen malas bergumul mencari kehendak Allah. Yang mereka harapkan hanyalah petunjuk instan melalui nubuat atau bisikan roh. Ini konsep yang keliru. Ketidaktahuan tentang kehendak Allah harus dipenuhi melalui pengajaran. Kekuatiran tentang masa depan harus dilawan dengan kekuatan dari Allah, bukan pengetahuan tentang hal-hal yang akan terjadi. Mengetahui apa yang akan terjadi tidak akan memberikan penghiburan dan kekuatan. Hanya pengetahuan tentang kebenaran firman Tuhan dan kehendak Allah yang memberikan kekuatan sejati.

Pengendalian diri

Ayat 32 secara eksplisit menentang kesalahpahaman populer di kalangan gereja-gereja tertentu bahwa pekerjaan Roh bersifat spektakuler dan tidak terkontrol. Karya Roh dianggap tidak dapat dibatasi oleh apapun juga. Ini adalah konsep yang keliru.

Pekerjaan Roh dalam diri seseorang tidak meniadakan kesadaran orang tersebut. Semua terkendali. Jika sesuatu yang tak terkontrol muncul berarti ada kontribusi dari natur manusia yang berdosa atau, bisa jadi, tipu daya Iblis. Karunia nabi takluk (lit. “meletakkan diri di bawah”) kepada nabi-nabi. Pada gilirannya, para nabi tunduk kepada firman Tuhan (14:36-38).

Prinsip pengendalian diri ini bersumber dari sifat Allah (14:33). Terjemahan LAI:TB “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” kurang memberi penekanan yang memadai bagi sifat Allah. Yang ditekankan dalam terjemahan ini adalah kehendak atau tindakan Allah (“tidak menghendaki”). Dalam teks Yunani, penekanan justru ada pada sifat Allah. Berbagai versi Inggris dengan tepat memilih terjemahan: “For God is not a God of confusion/disorder but of peace.” Allah bukanlah Allah yang memiliki sifat kacau atau tidak teratur. Dia adalah Allah damai sejahtera. 

Mereka yang menganggap peristiwa-peristiwa yang kacau dan tak tekontrol dalam ibadah sebagai hasil dari pekerjaan Allah, orang itu telah melakukan kesalahan fatal. Apa yang Allah kerjakan pasti selaras dengan sifat-sifat-Nya. Sayangnya, tidak sedikit orag Kristen yang terjebak pada kesalahan tersebut. Penerima Surat Yakobus meyakini bahwa mereka memiliki hikmat dari atas, tetapi tindakan mereka justru membuktikan sebaliknya: “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran! Itu bukanlah hikmat yang datang dari atas, tetapi dari dunia, dari nafsu manusia, dari setan-setan. Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai” (Yak 3:14-18).

Jika kita mengamati gereja-gereja sekarang, tidak banyak yang memeprhatikan dan menuruti nasihat Paulus di 1 Korintus 14:29-33. Kekacauan dalam ibadah, pengabaian orang lain, penerimaan yang tidak kritis terhadap segala sesuatu yang mengatasnamakan roh, dan beragam tindakan yang tidak terkontrol lain sungguh-sungguh telah mencoreng nama baik Roh Kudus. Mungkinkah dari Pribadi yang memiliki sifat keteraturan dan kedamaian muncul segala sesuatu yang tampak liar? Bagaimana mungkin mereka yang terlihat sangat mengagungkan Roh Kudus ternyata adalah orang-orang yang meremehkan sifat Roh?

Bagi kita yang berasal dari gereja tertentu dengan liturgi ibadah yang teratur, belum tentu kita lebih baik daripada yang lain. Kadangkala pelayanan hanya dimonopoli oleh orang-orang tertentu. Kadangkala suasana ibadah dan komunikasi antar jemaat terlihat begitu kaku dan kering. Tidak ada perhatian antara satu dengan yang lainnya. Kadangkala tidak ada kesabaran dan pengendalian diri dalam mengatasi konflik.

Marilah bersama-sama dengan gereja-gereja lain, kita menangisi keberdosaan kita. Biarlah Roh yang lembut, teratur, dan penuh damai akan mereformasi diri kita, ibadah kita, dan gereja kita. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :