Pertanyaan seputar kitab Kejadian

Pertanyaan seputar kitab Kejadian

Apakah penciptaan dan Teori Ledakan Besar bersifat kontradiktif?

Pertanyaan ini layak untuk direnungkan. Di satu sisi, Kejadian 1:1 menyatakan secara eksplisit bahwa langit dan bumi diciptakan oleh Allah. Posisi ayat ini di bagian paling awal Alkitab menyiratkan betapa pentingnya kebenaran ini sebagai sebuah perspektif untuk memahami seluruh bagian Alkitab yang lain. Kebenaran ini juga diulang berkali-kali di sepanjang Alkitab (Kel 20:11; 31:17; 2 Raj 19:15; Kis 4:24; 14:15; Why 14:7).

Di sisi lain, sejumlah ilmuwan meyakini bahwa alam semesta dimulai dari sebuah ketunggalan yang sangat kecil (small singularity) pada 13,7 miliar tahun yang lalu. Istilah “ketunggalan” di sini tidak boleh dipahami sebagai sebuah zat seperti yang kita kenal di alam semesta, karena pada saat itu belum ada materi apapun. Ketunggalan ini kemudian mengalami proses pengembangan (big bang) hingga menjadi alam semesta seperti yang kita lihat dan diami sekarang.

Sekilas, dua pandangan di atas terkesan bertolak-belakang. Jika salah satu benar, maka yang lain pasti keliru. Namun, benarkah demikian?

Kesamaan antara penciptaan dan Teori Ledakan Besar

Baik penciptaan maupun Teori Ledakan Besar sama-sama dilandaskan pada suatu fakta bahwa alam semesta memiliki sebuah permulaan. Konsep filosofis kuno bahwa alam semesta bersifat kekal (dari kekekalan sudah ada, tidak memiliki permulaan) terbukti tidak sesuai dengan penemuan anstronomi maupun fisika. Dari sisi astronomi, para ilmuwan menemukan bahwa alam semesta terus mengalami pengembangan yang relatif cukup teratur. Apabila dihitung atau diukur mundur seturut pola pengembangan yang ada, kita akan menemukan sebuah permulaan sebelum proses pengembangan itu dimulai.

Sebagai ilustrasi yang baik adalah peniupan balon yang bulat. Apabila satu tiupan mengembangkan balon itu sebesar satu sentimeter (1 cm), kita dapat menebak berapa tiupan yang diperlukan untuk membuat balon dengan diameter 20 cm. Dengan cara yang sama kita dapat menebak awal dari alam semesta. Penghitungan mundur berdasarkan pola pengembangan yang ada membuktikan bahwa alam semesta tidak mungkin bersifat kekal.

Dari sisi fisika, hukum termodinamika kedua mengarahkan ilmuwan untuk mempercayai bahwa alam semesta memang memiliki permulaan. Hukum ini menandaskan bahwa energi yang ada cenderung mengalami perubahan dari “energi yang tersedia” ke arah “energi yang tidak tersedia.” Hukum ini juga dapat diungkapkan sebagai berikut: tatkala energi diubah atau dipindahkan, semakin banyak yang dibuang.

Ilustrasi yang baik adalah secangkir minuman kopi panas di sebuah ruangan yang dingin. Seiring dengan waktu, kopi yang panas akan menjadi sama dengan suhu ruangan. Pada waktu kopi masih panas, ada energi yang tersedia, karena perbedaan suhu antara kopi dan ruangan. Perlahan-lahan energi yang tersedia berubah menjadi energi yang tidak tersedia. Begitu pula dengan alam semesta. Keberadaan bintang-bintang yang panas di alam semesta yang dingin juga cenderung mengarah pada energi yang tidak tersedia. Suatu ketika alam semesta akan musnah karena tidak ada lagi energi yang tersedia. Nah, dengan menghitung mundur jumlah energi yang masih ada sekarang, para ilmuwan mampu memperkirakan kapan alam semesta dimulai. Alam semesta tidak mungkin sudah ada sejak kekal, karena jika demikian maka sekarang energi yang ada sudah pasti habis (berubah menjadi energi yang tidak tersedia).

Sikap yang obyektif terhadap Teori Ledakan Besar

Salah satu teori paling populer, baik di kalangan ilmuwan maupun orang awam,  untuk menerangkan permulaan alam semesta adalah Teori Ledakan Besar. Penjelasan ini diterima oleh banyak ilmuwan, baik yang percaya kepada Allah maupun yang tidak percaya kepada Allah. Sebagai orang-orang Kristen yang mempercayai kebenaran Alkitab (Yohanes 17:17) dan memandang penting akal budi (Roma 12:2), kita perlu menunjukkan respons yang tepat, dalam arti obyektif dan benar.

Yang pertama, Alkitab tidak menentang Teori Ledakan Besar. Teori ini hanya menandaskan bahwa alam semesta dimulai dari sebuah ketunggalan yang kecil. Ketunggalan ini pada fase berikutnya mengalami pengembangan seturut dengan proses tertentu.

Poin di atas sebenarnya tidak selalu kontradiktif dengan catatan Alkitab. Kejadian 1:1 menyatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Ayat berikutnya menunjukkan bahwa pada saat diciptakan, bumi masih belum berbentuk dan kosong serta diliputi oleh samudera raya. Kita tidak mengetahui secara pasti berapa durasi waktu yang ada antara Kejadian 1-2 dan proses penciptaan di Kejadian 1:3-31. Apakah terbentang waktu yang sangat panjang antara ayat 1-2 dengan ayat 3-31? Kita tidak bisa mengetahuinya secara pasti.

Lagipula Alkitab juga tidak menginformasikan bagaimana Allah pada mulanya menciptakan langit dan bumi. Yang sudah jelas dan pasti menurut perspektif Alkitab adalah penciptaan dari ketidakadaan (creatio ex nihilo). Namun, hal ini pada dirinya sendiri tidak selalu bertabrakan dengan Teori Ledakan Besar. Apa yang dimaksud dengan “ketunggalan yang kecil” dalam teori ini memang bukan sebuah materi seperti yang dipahami oleh manusia sekarang. Allah bisa saja menciptakan alam semesta melalui sebuah proses yang sama atau mirip dengan yang diajarkan dalam Teori Ledakan Besar.

Yang kedua, doktrin penciptaan lebih masuk akal dan memuaskan daripada Teori Ledakan Besar. Teori ini masih menyisakan banyak pertanyaan. Apakah bentuk konkrit dari ketunggalan itu? Tidak diketahui. Dari mana ketunggalan itu? Tidak diketahui. Mengapa ketunggalan itu ada? Tidak diketahui. Mengapa pengembangan awal dapat terjadi? Hanya dugaan belaka. Mengapa sebuah proses yang terjadi tanpa hukum alam (alam semesta belum ada, sehingga belum ada hukum alam) dapat menghasilkan sesuatu yang teratur? Tidak diketahui.

Di samping itu, seandainya teori ini benar, maka diperlukan suatu keadaan awal yang begitu kompleks yang memungkinkan proses pengembangan untuk terjadi. Keadaan sebelum alam semesta ada harus memiliki tingkat gravitasi dan tekanan tertentu. Sesudah proses awal terjadi pun, fase berikutnya tetap membutuhkan variabel-variabel tertentu yang kompleks. Tanpa keadaan yang kompleks tersebut, proses pengembangan tidak akan terjadi atau, paling tidak, tidak akan terjadi seperti sekarang. Persoalannya, bagaimana keadaan yang kompleks seperti itu bisa ada?

Cara yang paling masuk akal untuk menerangkan hal tersebut adalah mengasumsikan suatu keberadaan yang berpribadi sebagai penyebab pertama (Allah). Jika penyebab ketunggalan adalah sesuatu yang tidak bermateri dan sudah ada sebelum waktu ada, bukankah Allah dapat diajukan sebagai kandidat yang paling tepat? Jika keadaan yang dibutuhkan untuk terjadinya proses pengembangan ternyata begitu kompleks, bukankah lebih masuk akal apabila Allah dipikirkan sebagai penyedia dari keadaan yang kompleks itu?  

Bagikan artikel ini :