Kesabaran (Kolose 1:11)

Kesabaran (Kolose 1:11)

Semangat zaman yang serba spontan dan tempo hidup yang begitu tinggi telah menciptakan iklim yang kurang kondusif bagi kesabaran. “Menunggu” dianggap sebagai pekerjaan yang tidak berguna. Semua ingin dikendalikan sendiri: menurut kehendak sendiri, dengan kekuatan sendiri, dan sesuai waktu sendiri. Masih adakah ruang untuk kesabaran?

Teks hari ini akan menjelaskan bahwa kesabaran merupakan salah satu cara untuk memperkenankan hati Tuhan. Teks ini sekaligus menerangkan apa yang dimaksud dengan kesabaran dan bagaimana memperoleh kesabaran. Kita akan mulai dengan yang pertama.

Kesabaran dan perkenanan Allah

Dalam teks Yunani, ayat 11 merupakan salah satu anak kalimat, yang menerangkan ayat 10a (LAI:TB “sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal”). Secara lebih hurufiah, ayat 10a berbunyi “untuk berjalan/hidup layak bagi Tuhan menuju segala perkenanan.” Hidup yang layak dalam segala perkenanan ini selanjutnya diterangkan dalam tiga hal: (1) memberi buah (ayat 10b); (2) bertumbuh dalam pengetahuan (ayat 10c); (3) dikuatkan dalam ketekunan dan kesabaran (ayat 11). Jadi, teks kita hari ini adalah salah satu poin tentang bagaimana hidup yang memperkenankan Tuhan.

Hidup yang layak bagi Tuhan seharusnya menjadi kerinduan bagi setiap orang Kristen. Allah sudah membuka jalan melalui korban Kristus di kayu salib, sehingga hidup yang layak tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Kolose 1:21-22 mengatakan: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.”

Kristus sudah melakukan bagian-Nya. Jalan telah dibuka. Perubahan telah terjadi. Kini tugas kita adalah secara aktif melibatkan diri dalam proses pengudusan, sehingga mampu memberikan hidup yang layak bagi Tuhan. Salah satunya adalah melalui ketekunan dan kesabaran dalam menghadapi penderitaan maupun tantangan.

Penjelasan ini bermanfaat untuk memahami tujuan ilahi dalam kesabaran, yaitu untuk memperkenankan hati Tuhan melalui ketekunan dan kesabaran. Dengan kata lain, tujuan kesabaran bersifat Kristosentris (berpusat kepada Kristus). Walaupun kesabaran membawa banyak manfaat bagi kita sendiri maupun orang lain, tujuan tertinggi dalam kesabaran tetaplah Kristus.

Bukan hanya menerangkan tujuan kesabaran, penjelasan di atas juga berguna untuk memahami alasan kesabaran. Kita seringkali kehilangan kesabaran jika melihat keadaan kita atau orang lain. Tidak ada alasan untuk bersabar. Melalui teks ini Paulus mengingatkankan kita tentang suatu alasan yang pasti: panggilan Tuhan bagi kita. Allah memanggil kita untuk hidup layak bagi Dia. Apakah kita ingin dinilai “layak” bagi Dia? Bertekun dan bersabarlah!

Rahasia di balik kesabaran

Jika kita jujur dengan pengalaman hidup kita, kesabaran adalah barang yang mahal sekali. Hanya sedikit orang yang memilikinya. Kalau begitu, apa rahasia menjadi sabar dalam menghadapi segala sesuatu dalam hidup kita?

Jawabannya adalah kekuatan ilahi dalam diri kita (ayat 11a). Allah bukan hanya memberikan tuntutan. Ia juga menyediakan kekuatan untuk merealisasikan tuntutan tersebut. Dengan kata lain, Ia memberikan apa yang Ia tuntut dari kita.

Paulus berusaha mengungkapkan kekuatan ilahi di atas dengan cara yang terkesan berlebihan, tetapi memang itu tujuannya. Beberapa cara penekanan tersebut adalah:

Dua kata yang berbeda untuk kuat atau kuasa, yaitu dynamis (LAI:TB “kekuatan”) dan kratos (LAI:TB “kuasa”). Keduanya seringkali sulit dibedakan artinya.

Akar kata *dynam muncul dua kali: dynamis (“kekuatan”) dan “dikuatkan” (dynamoumenoi).

Di depan kata dynamis ditambahkan kata sifat “segala” (en pasē dynamei).

Kuasa (kratos) dikaitkan dengan kemuliaan (doxa).

Sesuai teks Yunani, bagian ini berbunyi: “dalam segala kekuatan terus-menerus dikuatkan menurut kuasa kemuliaan-Nya.” Saya tidak bisa memikirkan peredaksian lain yang lebih baik untuk menegaskan kelimpahan kekuatan ilahi di teks ini. Paulus telah memilih kosa kata dengan tepat dan mengaturnya ke dalam sebuah kalimat yang sangat luar biasa. Seorang penafsir Alkitab mencoba meringkaskan dan mengungkapkan kekuatan dari kalimat Paulus sebagai berikut: “dikuatkan oleh Tuhan dengan kekuatan terbesar yang dapat dibayangkan!” 

Peredaksian yang unik tersebut dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap kualitas kekuatan yang Tuhan sediakan. Kekuatan ilahi dalam diri kita bersifat terus-menerus. Hal ini tersirat dalam partisip “dikuatkan” (dynamoumenoi) yang berbentuk kekinian. Kekuatan ilahi ini juga bersifat melimpah. Penggunaan kata dynamis dan kratos yang hampir sinonim dan penambahan kata sifat “di dalam segala” (en pasē) sebelum kata dynamis menunjukkan kelimpahan. Kekuatan ilahi ini juga bersifat mulia. Dalam konteks Kolose 1, kemuliaan Tuhan ini sebaiknya dihubungkan dengan keutamaan Kristus atas segala sesuatu (1:15-19).

Dengan semua penjelasan di atas, tidak sepatutnya apabila kita menyerah dalam penderitaan. Tidak sewajarnya apabila kita kalah oleh kemarahan. Tidak masuk akal apabila kita gagal memiliki ketekunan dan kesabaran.

Jika kegagalan di atas tetap terjadi, kesalahan pasti terletak pada kita. Kita mungkin menolak untuk menggunakan kekuatan yang sudah disediakan oleh Tuhan. Kita mungkin memandang rendah ketekunan dan kesabaran. Kita mungkin menolak untuk berproses bersama dengan Tuhan.      

Ketekunan dan kesabaran

Kekuatan ilahi yang besar yang Tuhan sediakan bagi kita dimaksudkan untuk menghasilkan ketekunan dan kesabaran yang besar pula. Sumber yang berkualitas memberikan hasil yang berkualitas pula. Hal ini tampak dari cara Paulus membicarakan tentang ketekunan dan kesabaran di ayat 11c.

Penggunaan kata “semua” di depan “ketekunan dan kesabaran” (pasan hypomonēn kai makrothymian) menyiratkan kualitas atau ukuran dari ketekunan dan kesabaran yang dimaksud. Secara hurufiah bagian terakhir dari ayat 11 ini seharusnya diterjemahkan “untuk segala ketekunan dan kesabaran” (kontra LAI:TB “untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”). Penerjemah NIV secara tepat menerjemahkan bagian ini dengan “sehingga kalian dapat memiliki ketekunan dan kesabaran yang besar”. Memiliki ketekunan saja tidaklah cukup. Kita harus memiliki ketekunan yang besar. Memiliki kesabaran yang biasa juga tidak memadai. Kita harus memiliki kesabaran yang besar.

Apakah perbedaan antara ketekunan dan kesabaran? Dalam teks Yunani, kata “ketekunan” adalah hypomenē, sedangkan “kesabaran” adalah makrothymia. Hampir semua penerjemah dan penafsir sepakat bahwa kata pertama lebih mengarah pada ketabahan dalam menanggung situasi yang sulit, sedangkan kata yang kedua mengarah pada kesabaran dalam menghadapi orang lain. Atau, dengan kata lain, hypomenē berarti tidak gampang menyerah, sedangkan makrothymia berarti tidak gampang marah.

Baik ketabahan maupun kesabaran sama-sama diperlukan pada saat kita berada di tengah situasi yang tidak mengenakkan. Tidak banyak orang yang memilih untuk bersikap tabah menghadapi situasi hidup yang sulit. Sebagian memilih strategi penyangkalan (denial), yaitu berpura-pura tidak terjadi masalah. Sebagian lagi cenderung melarikan diri dari persoalan. Yang lain lagi berupaya melawan segala sesuatu agar terbebas dari semua kesulitan tersebut. Kekuatan ilahi dari Tuhan Yesus akan memampukan kita untuk menerima, menyadari, dan menanggung penderitaan.

Tidak banyak orang memilih untuk bersikap sabar di tengah keadaan yang sukar. Secara natur manusia cenderung untuk menyalahkan orang lain. Kalaupun tidak mencari kambing hitam, manusia terbiasa menumpahkan kekesalan pada orang-orang di sekitar kita. Itulah sebabnya antara stres dan kemarahan terdapat keterkaitan yang erat. Hanya dengan kekuatan ilahi dari Tuhan kita dapat mengekang kemarahan dan menolak untuk dikuasai oleh keadaan. Soli Deo Gloria.

Bagikan artikel ini :